
Tante Soni pun membawa Julian pulang ke rumahnya. Semuanya kembali menunggu kabar dari dokter, dengan perasaan panik dan khawatir mereka terus berdoa dan menunggu dokter keluarga dari dalam ruangan.
Klekk dokter keluar dari ruangan Disa.
"Dokter bagaimana dengan sahabat kita? " tanya Syifa namun dokter hanya terdiam.
"Iya dik, dia baik-baik saja kan? " tanya Fia lagi masih terdiam.
"Dok, kenapa diam aja?, gimana kondisi Disa?" tanya Nando.
"Dia baik-baik aja kak?, tidak masalahkan dengan kondisi dia? " tanya Nando terus yang khawatir dengan Disa.
"Nando tenang dulu, biar dokter yang ngejelasin dulu nak" ucap mama Rena.
"Tapi dokter gak jawab apa-apa tan" ucap Nando.
"Dok, bagaimana kondisi Disa? " tanya ayah Dion.
"Hamil di usia muda apalagi dalam kondisi tekanan pasti tidak mudah" ucap dokter yang memang sudah mendengar berita Disa di media.
"Langsung jelaskan ke intinya gak usah basa basi" ucap papa Niko.
"Bagaimana dengan kondisi pasien dia dalam dokter? " tanya mama Maira.
"Seperti yang saya jelaskan tak mudah hamil muda, pasien mengalami keguguran" ucap dokter yang membuat semuanya terkejut.
"Mungkin ini di sebabkan oleh stress dan traumatis yang ia alami membuat janinnya melemahkan sehingga keguguran" ucap dokter lagi.
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, semuanya terkejut air mata tanpa mereka sadari telah jatuh ke pipi mereka masing-masing.
"Pasien masih sangat lemah, sebaiknya jaga kondisinya. Dan satu lagi, jangan membiarkan pasien dalam keadaan stress maupun berlarut dalam traumatis yang dia alami karena hal itu bisa membuat pasien depresi" ucap dokter dan kemudian pergi.
"Ya Tuhan apa lagi ini, belum juga Hilya ketemu, sekarang kita mendengar berita buruk pada Disa, anak malang itu benar-benar hidup dalam kondisi gelap sekarang" ucap mommy Sarah.
"Aku mau lihat Disa" ucap Nando dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Nan, gue bakal temani lo" ucap Rifi.
"Biarkan gue berdua sama Disa dulu bang" ucap Nando yang kemudian menjalankan kursi rodanya sendiri.
"Hikksss..... " tangisan Fia pecah di pelukan Kia.
"Fia.. " ucap Syifa yang menghampiri Fia.
"Kenapa semuanya begini?, kenapa persahabatan kita di uji seperti ini hiksss...? " tanya Fia.
"Fia, kita sempat memiliki konflik dulu, mungkin ini cara Tuhan untuk memperkuat persahabatan kita kembali" ucap Syifa.
"Aku gak tau Syif, aku benar-benar gak tau harus senang ataupun sedih atas keguguran bayi yang ada di kandungan Disa, aku gak tau harus mengekspresikannya gimana" ucap Fia sambil menangis dan melepaskan diri dari pelukan Kia.
"Ya jelas sekarang perasaan aku sedih, hancur dan juga takut saat mendengar kondisi Disa. Disa dalam kondisi stress dan traumatis dan jika berlarut kondisi dia akan berlanjut ke fase depresi, dan kamu hal yang aku takutkan Syif, bahkan seperti yang kita ketahui dia pernah, dia pernah ingin melakukan hal itu"ucap Fia yang khawatir dengan Disa.
"Bagaimana jika dia ingin melakukan... " ucap Fia yang langsung disela oleh Syifa.
"Cukup Fia cukup, aku tau kamu khawatir, aku tau kamu takut Disa melakukan hal itu lagi, tapi kamu harus ingat satu hal, ada kita, ada kita sekarang di samping Disa. Kita gak akan membiarkan Disa melakukan perencanaan bunuh diri, kita akan menjaga dia bersama" ucap Syifa dengan tegas.
__ADS_1
"Kita ini.... " ucap Syifa lagi yang terhenti karena nada dering ponsel HP Fia yang berbunyi.
"Halo" ucap Fia sambil menghapus air matanya.
"Apa serius?" tanya Fia di ponselnya yang membuat semua orang kebingungan.
"Oke aku ke sana sekarang" ucap Fia yang langsung mematikan panggilannya.
"Aku harus pergi, kabarin aku tentang kondisi Disa" ucap Fia yang buru-buru.
"Fia, kamu mau kemana? " tanya Kia yang panik.
"Nanti aku kasih tau" ucap Fia yang ingin pergi namun ditahan oleh Syifa.
"Eehhh tunggu, kamu gak bisa pergi sendiri, aku ikut kamu deh" ucap Syifa.
"Syif, kamu di sini aja jagain Disa" ucap Fia.
"Tapi... ucap Syifa yang disela oleh Rifi.
"Gue bakal temenin dia" ucap Rifi.
"Ayo" ucap Rifi yang menarik Fia pergi.
"Gak apa-apa ini lebih baik, kemanapun dia pergi Rifi akan menemani dia" ucap mama Maira.
Disisi lain Zidan sudah mencari Hilya di beberapa tempat namun belum ia temui.
"Sayang kamu di mana sih" ucap Zidan yang khawatir.
" Kamu tau gak sih semua orang sedang khawatirin kamu"ucap Zidan lagi di mobil.
"Kenapa lagu akau harus cariin Hilya" ucap Zidan yang frustasi.
"Apa om Irwan yang ngebawa Hilya " ucap Zidan yang menerka-nerka.
"Tidak, sepertinya tidak mungkin, aku juga melihatnya saat papa ngusir dia" ucap Zidan lagi.
Saat sedang kebingungan Zidan mengambil ponselnya dan melihat wallpaper di HP nya yaitu foto Hilya duduk di taman saat masalah ini belum terjadi. Saat melihat foto itu Zidan teringat akan satu hal.
FLASHBACK TO TAMAN
"kamu senang gak di sini? " tanya Zidan
"Senang banget, aku suka suasana taman" ucap Hilya yang tersenyum.
"Berarti kamu paling suka di tama" tanya Zidan.
"Bukan paling suka sih, cuma suka aja, karena bisa bikin aku bahagia tapi gak bisa bikin aku tenang" ucap Hilya yang membuat Zidan kebingungan.
"Maksudnya? " tanya Zidan.
"Di taman aku merasa bahagia saat melihat banyak orang, banyak bunga dan banyak hal lainnya. Tapi di taman gak bakal bisa bikin aku tenang jika aku sedih" ucap Hilya yang tersenyum.
"Lalu jika kamu sedih, kamu akan kemana supaya bisa bikin kamu tenang? " tanya Zidan.
__ADS_1
"Jika aku hanya dalam keadaan sedih bisa, aku akan berlari ke arah bunda dan ayah kemudian menangis di pelukan mereka, karena hanya mereka sekarang teman ternyaman dan teraman untuk aku" ucap Hilya sambil tersenyum.
"Namun jika aku benar-benar sedih yang membuat aku gelisah dan takut, aku akan pergi ke bunda kandung aku, aku akan ke makamnya, di sana aku akan menumpahkan semua isi hati aku, kekhawatiran aku dan juga ketakutan aku sehingga aku kembali merasa tenang" ucap Hilya yang tersenyum.
"Itu yang selalu aku dulu" sambung Hilya.
THROWBACK PADA ZIDAN
"Iya gue yakin, Hilya melarikan diri ke Bandung" ucap Zidan.
"Dia pasti ingin menenangkan dirinya dimakan bundanya" ucap Zidan lagi.
"Gue akan ke sana sekarang, gue akan menyusul Hilya" ucap Zidan lagi.
"Tapi di mana gue bisa tau alam dia di sana" ucap Zidan lagi.
"Oh ya gue bakal telpon Syifa" ucap Zidan yang menjadi ponselnya.
"Oh gak-gak, kalau gue telpon Syifa dia pasti akan heboh, dan belum tentu juga Hilya di sana" ucap Zidan yang mengurungkan niatnya.
"Oh ya gue tau" ucap Zidan yang menelpon seseorang.
"Lo di man" tanya Zidan di ponselnya.
("Dan lo kemana aja, kondisi kuis lagi kacau, wartawan banyak nyariin lo ke kampus "ucap Gio yang merupakan anggota BEM di kampus).
" Jangan bahas itu deh, mending sekarang lo ambil data Hilya Aska li kirim ke gue, sekarang "ucap Zidan.
(" Untuk apa? "tanya Gio).
"Gio please banget jangan banyak tanya, lo kirim aja sekarang" ucap Zidan.
("Oke-oke"sahut Gio).
"Mending gue langsung berangkat sekarang" ucap Zidan yang menancap gas mobilnya.
Tak lama setelah itu ponselnya Zidan mengeluarkan notifikasi dan itu dari Gio, Zidan langsung membuka WA dari Gio dan melihat data Hilya.
"Gue yakin makam bunda kandung Hilya pasti dekat daerah ini" ucap Zidan yang kembali melajukan perjalanan.
...****************...
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
__ADS_1
...****************...
...****************...