
Setelah lama merasa berada di dalam mobil, ia kembali merasa bahwa tubuhnya kembali di angkat oleh seseorang.
Keesokan harinya Disa terbangun di sebuah kamar yang tak ia ketahui milik siapa.
"Awwww, di mana ini? " tanya Disa pada dirinya sendiri.
"A.... apa" ucap Disa yang terkejut melihat bajunya yang sudah berserakan di pantai.
"A.... apa ini.. siapa yang melakukannya" teriak Disa sendiri di kamar itu.
"Da... darah" ucap Disa yang melihat darah di kasurnya.
"Tidak..... haaaaaa, siapa yang melakukan ini pada ku, Tuhannn apa ini, apa yang terjadi" teriak Disa yang menangis histeris.
"Gak mungkin,,,, gak mungkin begini, kenapa begini,,,, aku sudah kotor.. haaaaaa" ucap Disa yang menangis.
Dengan perasaan dan hati yang hancur dan
mengutip pakaiannya dan kembali mengenakan pakaian tersebut. Dia keluar dari kamar itu dengan tatapan kosong. Disa kembali dikejutkan saat mengetahui bahwa kamar tersebut merupakan salah satu kamar yang di tempat clubbing. Dengan hati yang hancur Disa berjalan ke luar Club tersebut.
Disa memesan taksi untuk pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan di dalam taksi Disa yang bisa menangis dalam diam.
"Tuhan apa lagi ini, ujian apa lagi ini" ucap Disa dalam hatinya sambil menangis .
"Kenapa hidup aku jadi begini Tuhan" batin Disa lagi.
Sesampainya di rumah Disa langsung masuk ke kamarnya dan masuk ke kamar mandi. Dia menyalahkan shower untuk menguyur seluruh tubuhnya.
"Aghhhh,,,, kotor... kotor... bagaimana aku bisa kehilangan kewanitaan aku bahkan pada orang yang tidak ku ketahui siapa" ucap Disa yang menangis di bawah shower dan mengusap tubuhnya dengan keras.
Di sisi lain Fia dan Kia berada di rumah Hilya. Di rumah, Hilya terus menghubungi Disa namun tak bisa.
"Disa kok gak bisa di hubungi ya" ucap Hilya
"Iya, aku juga semalam nelpon dia terus gak bisa" ucap Fis.
"Apa Disa masih malu ya" sambung Disa.
"Tapi kan sama kita kemarin fine-fine aja" sambung Syifa.
"Neng diluar ada den Zidan dan teman-temannya" ucap bik Murni
"Suruh ke sini aja bik" ucap Hilya
"Baik neng" sahut bik Murni.
Zidan, Akan, Fajar, Rifii dan Nando langsung masuk dan menuju halaman belakang rumah tempat Hilya dan yang lainnya ngumpul.
"Guys kalian bisa hubungi Disa gak" ucap Nando yang langsung berlari kearah Hilya.
"Kamu nelpon Disa juga? " tanya Hilya dan di anggukin oleh Nando.
"Dia gak bisa hubungi dari semalam" ucap Nando.
"Lo nganterin dia sampe rumahnya kan" ucap Alan.
"Iya bang, gue anterin dia pas di depan rumah dia" ucap Nando.
"Dan setelah gue sampe ke rumah, gue hubungi dia udah gak bisa" ucap Nando lagi
__ADS_1
"Kenapa ya, kok aku jadi khawatir ya" ucap Hilya.
"Mau nyusul ke rumah dia? " tanya Zidan
"Mau" sahut Hilya dengan cepat
"Kak, kita ke sana ya, aku khawatir sama dia" ucap Hilya.
"Ya udah ayo" ucap Zidan.
"Eh neng mau kemana, bibi udah siapin minuman" ucap bik Murni.
"Aduh bik makasih ya, tapi Hilya buru-buru" ucap Hilya.
"Mau kemana neng? " tanya bik Murni
"Nanti Hilya ceritain, makasih ya bik untuk minumannya, tapi kasih buat mang Firman aja. Hilya pergi dulu bik, byeee muuuachh" ucap Hilya yang mencium pipi bim Murni dan membuat bik Murni tersenyum.
Mereka pun berangkat menggunakan dua mobil. Zidan, Hilya, Alan, dan Syifa satu mobil, sedangkan, Fajar, Kia, Rifi, Fia dan Nando satu mobil.
"Gue salut deh sama Hilya" ucap Fajar
"Kenapa bang ? " tanya Nando
"Lo gak lihat tadi, sedekat itu dia sama pembantu di rumah dia, sampai pergi pun pamit dan cium pipi bibik tadi" ucap Fajar.
"Benar banget, ya kalau di kota mah jarang ada cewek yang begitu" sambung Nando.
"Hilya dari dulu itu emang baik banget orangnya" ucap Kia.
"Dia berteman gak pernah lihat status miskin atau kayanya seseorang" ucap Kia.
Tak lama kemudian mereka pun sampai ke rumah Disa.
Ting... tong... Hilya memencet bel rumah Disa.
kleeeekk Disa membuka pintu rumah dan terkejut melihat Hilya dan yang lainnya yang datang.
"Disa kam.... " ucap Hilya yang langsung disela oleh Disa.
"Pergi" ucap Disa judes.
"Hah?, Disa kamu kenapa? " tanya Hilya yang memegang pundak Disa
"Pergi" teriak Disa yang mendorong Hilya
"Hilya" ucap Syifa, Kia dan Fia.
"Disa kamu kenapa sih? " tanya Syifa
"Pergi kalian semua dan jangan ganggu aku lagi" ucap Disa.
"Disa lo kenapa lagi sih, dan semalam lo kemana aja" tanya Nando
"Kamu gak usah ikut campur masalah aku, dan jangan pernah temui aku lagi" teriak Disa.
"Eh lo bisa nyantai gak" ucap Alan yang terbawa emosi
"Bawa mereka semua pergi di rumah aku" ucap Disa pada Alan
__ADS_1
"Ayo kita pergi" ucap Zidan yang menarik tangan Hilya.
"Gak mau" ucap Hilya yang melepaskan tangannya dari genggaman Zidan.
"Disa kamu kenapa, kalau ada masalah cerita sama kita" ucap Hilya yang memegang kedua pundak Disa.
"Aku bilang pergi ya pergi, kamu tuli ya" bentak Disa yang kembali mendorong Hilya.
"Hilya, kita pergi aja dari sini" ucap Syifa yang marah.
"Ya Hil, ngapain kita datangin orang yang sama sekali gak ngehargai kita" ucap Kia yang melirik sinis kearah Disa.
"Benar, kita pergi aja" sambung Fia.
"Gak, aku gak mau pergi, kita harus tau alasannya dulu dong, kenapa Disa begini, dan kalaupun dia dalam masalah kita bisa bantuin dia. Kita juga...."ucap Hilya yang langsung disela oleh Disa yang masih berdiri di ambang pintu.
"Masalah terbesar aku itu kamu" Bentak Disa yang membuat Hilya membeku dan air matanya mengalir.
"Kamu yang menjadi masalah terbesar aku selama ini, Seandainya aku tidak bertemu lagi dengan kamu, mungkin aku gak akan berada dalam masalah. Jadi kalau kamu mau aku jauh dari masalah, maka menjauhlah dari aku" teriak Disa.
"Menjauh sejauh mungkin dari kehidupan aku Hilya... Blammmmm" teriak Disa lagi dan langsung membanting pintu yang membuat semua orang yang ada di sana terkejut.
"Heh,,, kamu... " ucap Syifa yang marah dan ingin mengetuk pintu rumah Disa lagi namun di tahan oleh Hilya.
"Kita pergi aja" ucap Hilya yang air matanya sudah mengalir.
"Tapi Hil,,,, " ucap Syifa lagi
"Aku ke mobil duluan" ucap Hilya dan pergi.
"Kita balik aja, ngapain ngadepin cewek yang gak tau terimakasih kayak dia" ucap Nando
Mereka pun pergi dari rumah Disa.
Didalam rumah Disa mendengar ucapan dari Hilya maupun Nando. Disa hanya bisa terduduk dan menangis, mengingat setiap perkataan kasar yang ia keluarkan untuk orang-orang yang telah membantu dia terutama pada Hilya.
"Maafkan aku Hil, maafkan aku semuanya. Aku malu berteman dengan kalian, aku malu jika suatu saat kelian mengetahui aku sudah menjadi perempuan kotor. Aku gak mau kalian terseret dalam masalah besar ini" batin Disa sambil menangis.
"Aku harap kalian semua bisa selalu bahagia tanpa harus masuk dalam masalah aku, maafkan aku, hikssss... hikss... " sambung Disa.
Di mobil....
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...