
Syifa yang melihat foto tersebut sangat syok, lalu dia sempat memotret foto dan hasil kehamilan tersebut. Kia membawa Hilya menjauh dari mading.
"Hilya" teriak Disa yang berlari kearahnya.
"Hilya please dengerin penjelasan aku dulu" ucap Disa pad Hilya.
"Hilya lagi pengen sendiri" ucap Kia yang menatap Disa dengan marah.
"Hilya dengerin aku dulu, itu semua bohong, itu semua gak bener" ucap Disa yang menatap Hilya dengan penuh harapan.
Hilya menatap Disa dengan air mata terus mengalir di pipinya. Dia membayangkan kejadian dulu yang di mana Disa juga berlari padanya untuk menjelaskan tentang Abian, bayangan itu muncul lagi di kepala Hilya.
"Hilya aku gak pernah ada hubungan apapun sama kak Zidan, bahkan kami gak pernah ketemu, kami... " ucap Disa yang berusaha menjelaskan pada Hilya namun langsung disela oleh Hilya
"Kamu hamil? " tanya Hilya singkat.
Disa terdiam sejenak sampai akhirnya dia pun menjawabnya.
"Iya, aku hamil" ucap Disa yang membuat Hilya membuang wajahnya dengan air mata yang sudah sangat membasahi pipinya.
Hilya memejamkan matanya sejenak.
"Aku salah apa sama kamu?" tanya Hilya yang membuat Disa terdiam.
"Aku salah apa kamu Disa, kamu selalu merebut hal yang membuat aku bahagia, dulu Abian sekarang kak Zidan, sampai kapan kamu rebut kebahagiaan aku" bentak Hilya dengan air mata terus mengalir.
"Hilya aku gak rebut kak Zidan, aku gak pernah melakukan itu dengan kak Zidan" ucap Disa dengan jujur.
"Lalu itu apa?, itu bukan editan Disa" teriak Hilya lagi.
"Aku juga gak tau, aku gak ngerti kenapa ada foto aku dan kak Zidan seperti itu. Hilya aku yakin pasti ada yang mau jebak kak Zidan dan aku supaya kamu benci sama aku dan juga kak Zidan" ucap Disa yang membuat Syifa yang sedari tadi menyimak menatap Disa.
"Hahahha murahan" ucap Tamara yang baru datang.
"Gue udah bilangkan sama lo, cewek ini gak pantes ditemani, munafik" ucap Tamara.
"Kamu gak usah jadi kompor ya" ucap Disa.
"Ehhh bumil jangan marah-marah dong" ucap Rosa.
"Lo tega banget ya, ngerebut Zidan dari teman lo sendiri. Gue aja yang suka sama Zidan dari dulu sportif gak ngelakuin hal-hal seperti itu" ucap Tamara yang terus memanasi Hilya.
Hilya yang tak mai mendengar perdebatan orang itu lagi memilih untuk pergi dari kampus.
"Hilya tunggu" teriak Disa.
"Kamu jauhi Hilya" ucap Kia yang mengejar Hilya.
"Hilya" teriak Disa yang juga menangis.
"Biarin Hilya tenang dulu" ucap Syifa.
"Syif please percaya sama aku" ucap Disa pada Syifa.
"Kalau gue sih gak bakal percaya" ucap Tamara.
"Eh mak lampir gak usah ikut nimbrung deh" ucap Syifa pada Tamara dan kemudian pergi meninggalkan Disa.
Hilya berlari dan menghentikan taksi, dia meninggalkan Kia dan Fia begitu saja.
"Hilya mana? " tanya Syifa.
__ADS_1
"Dia udah naik taksi" ucap Kia.
"Ya aku susul dia dulu, palingan dia juga pulang ke rumah" ucap Syifa.
"Oke hati-hati ya, nanti kabarin kita" ucap Fia.
Syifa langsung menghentikan taksi untuk mengejar Hilya. Sedangkan Hilya di dalam taksi hanya bisa menangis, dia terus membayangkan bahwa hatinya kembali di sakit oleh cinta dan temannya. Dan benar saja ucapan Syifa, Hilya pulang ke rumah, setelah membayar taksi dia langsung masuk ke rumah dan menuju ke kamarnya.
Hilya masuk ke kamar mandi di kamarnya dan menyalahkan air kemudian menangis sejadi-jadinya, dia membiarkan air itu terus mengalir sehingga tumpah supaya suara tangisnya tak terdengar keluar.
"Tokk..... tok.... Hilya" teriK Syifa yang panik.
"Hilya buka biarin aku masuk" teriak Syifa lagi.
"Neng Syifa ada apa ini" tanya bik Murni.
"Bik telpon bunda sama ayah ya, suruh pulang cepat" ucap Syifa.
"Baik neng" sahut bik Murni yang langsung pergi menelpon bunda Lola.
Syifa terus memanggil Hilya dia terus mengetuk pintu Hilya. Setelah lama Syifa berdiri di depan kamar Hilya dan memanggil Hilya, namun Hilya masih belum membuka pintu kamarnya.
"Syifa ada apa? " tanya bunda Lola yang sudah pulang.
"Bunda Hilya ngunciin diri di kamar" ucap Syifa yang panik.
"Kok bisa, ada masalah apa? " tanya ayah Dion.
Syifa menceritakan semua kejadiannya pada bunda dan ayah. Bunda dan Ayah hanya terdiam mendengar cerita dari Syifa.
"Tok.... tok... Hilya, sayang ini bunda, buka nak" teriak bunda
"Hilya sayang buka" ucap ayah lagi.
"Bik ambil kunci cadangan" ucap ayah pada bik Murni.
"Baik tuan" ucap bik Murni.
"Tuan ini kuncinya" ucap bik Murni yang menyerahkan kuncinya.
"Yah cepat buka yah" ucap bunda yang khawatir.
Sedangkan Hilya terus menangis di kamar mandi, lagi dan lagi hatinya di hancurkan oleh orang yang masih ia anggap teman.
"Haaaaaa..... ha...... hikssss jahat kalian jahat" teriak Hilya sambil menangis di kamar mandinya.
"Aku salah apa sih kakkkkk, aku salah apa sama kamuuuuuu, kamu yang udah yakinin aku, kamu yang membuat aku cinta sama kamu dan sekarang kamu juga yang menghancurkan akuuuuuu" teriak Hilya habis-habisan.
Setelah membuka pintu kamar Hilya, Ayah, Bunda dan Syifa langsung mendorong pintu kamar mandi Hilya dan melihat Hilya yang duduk di lantai kamar mandi dengan air yang menyala.
"Hilya" ucap Bunda dan Syifa yang langsung memeluk Hilya.
"Sayang kamu gak boleh begini" ucap Bunda lagi.
"Bun, bawa Hilya buat ganti pakaiannya" ucap Ayah dan dianggukin oleh bunda.
"Ayo sayang bangun" ucap Bunda yang membantu Hilya bangun.
"Ayo Hilya" ucap Syifa lagi.
Mata Hilya sudah sembab, dia di bawa ke kamar, ayah Dion keluar dari kamar Hilya supaya Hilya bisa menganti pakaiannya yang basah.
__ADS_1
Setelah mengganti pakaiannya, Hilya yang duduk di kasur kembali menangis sambil memeluk Bunda nya.
"Bunda... haaaaaa" ucap Hilya yang menangis di pelukan Bunda.
"Kamu tenangin diri kamu dulu ya, jangan pikirin apapun dulu" ucap Bunda yang mengelus rambut Hilya.
"Bunda Hilya mau perjodohan Hilya dan kak Zidan di batalkan
"Hilya kamu jangan ambil keputusan disaat kamu sedang emosi" ucap Bunda lembut.
"Iya Hilya bener kata Bunda, kita juga gak tau itu beneran atau hanya jebakan dari orang yang mau buat kak Zidan malu" ucap Syifa.
"Tapi itu jelas-jelas foto mereka berdua, mereka tidur satu kasur dalam keadaan telanjang" ucap Hilya.
"Sudah-sudah sekarang kamu tenangin diri kamu dulu" ucap Bunda.
"Sekarang kamu istirahat, Bunda harus ke rumah sakit sebentar" ucap Bunda Lola.
"Syifa ayo sayang, kita biarkan dulu Hilya sendiri" ucap Bunda.
"Ayo bun" ucap Syifa
"Kamu istirahat ya sayang" ucap Bunda dan mendapatkan anggukan dari Hilya.
"Bagaimana keadaan Hilya bun?" tanya ayah yang melihat Bunda dan Syifa sudah keluar dari kamar Hilya.
"Dia udah istirahat sebentar" ucap Bunda.
"Yah kita ke rumah sakit yok, masalah anak-anak biarkan mereka dulu yang menyelesaikannya" ucap Bunda Lola.
"Iya bun, ayah setuju" ucap Ayah.
"Ayah, Bunda. Syifa boleh gak ikut ayah dan bunda ke rumah sakit? " tanya Syifa.
"Untuk apa sayang, kamu mau jenguk Nando?" tanya Bunda.
"Syifa mau ketemu sama kak Akan bun Syifa mau minta bantuan kak Akan buat selidiki masalah foto ini, soalnya entah kenapa firasat sama hati Syifa lebih percaya sama Disa ketimbang sama foto itu" ucap Syifa dengan yakin.
"Ayah senang sekali punya putri yang bijak seperti kamu" ucap Ayah yang mengusap rambut Syifa.
"Bunda juga senang, kalian harus saling jaga dan saling bantu ya sayang" ucap Bunda yang juga mengusap rambut Syifa.
"Ya udah kita berangkat sekarang yok" ucap Bunda dan dianggukin oleh ayah dan Syifa.
Mereka bertiga pun langsung berangkat ke rumah sakit, sedangkan Hilya memilih untuk mematikan ponselnya dan tidur sejenak. Ayah, Bunda dan Syifa pun sampai ke rumah sakit.
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...