
Alan membawa Zidan pergi dari kampus, begitu pun dengan Hilya, Syifa Fia dan Kia yang ikut bolos dari kampus.
"Kita ketempat Disa sekarang" ucap Syifa dan mendapatkan anggukan dari Alan.
"Gue mau ke rumah sakit aja" ucap Zidan.
"Kenapa, takut ketemu sama Disa? " tanya Hilya.
"Kenapa gue harus takut? " tanya Zidan yang sudah sangat muak.
"Takut ketemu Disa kalau ada aku, kenapa?, sungkan karena sudah ketahuan? " tanya Hilya lagi.
"Gue gak ngelakuin hal sehina itu" ucap Zidan dengan tatapan tajam.
"Makanya besok-besok kalau mau ngelakuin hak kayak gitu gak usah di foto, udan nikmati saja buat kalian berdua, gak perlu pamer udah ngelakuin hal seperti itu" ucap Hilya yang berhasil memancing marah Zidan.
"Lo bodoh hah" bentak Zidan yang sudah tak tahan dengan tuduhan Hilya.
"Dan udah" ucap Alan.
"Kalau kalian semua di posisi gue dituduh atas hal yang gak pernah lo lakuin, apa lagi dituduh sama orang yang lo sayang, yang lo cinta gimana perasaan lo? " tanya Zidan dengan wajah yang merah.
"Gue mikirin sepupu gue yang terbaring di rumah sakit, gue pusing nyariin si pelaku sialan itu. Sekarang gue mikirin masalah ini yang berimbas ke hidup gue, nyokap bokap gue marah sama gue, bahkan mereka menutup semua akses untuk gue. Ini, ini semua di blokir sama orang tua gue, gue gak punya apa-apa lagi sekarang, gue dapat imbas dari hal yang gak pernah gue lakuin"ucap Zidan yang melempar dompetnya ke Alan.
Mendengar hal tersebut Hilya terdiam dan menundukkan kepalanya, ia merasa bersalah saat mendengar ucapan dari Zidan.
"Dan lo, gue lagi butuh banget lo saat ini, gue lagi kacau tapi lo terus nuduh gue atas hal yang gak pernah gue lakuin, lo gak ngizinin gue buat dapatin bukti untuk mengungkapkan kebenarannya. Lo langsung bilang untuk menjauh dan memutuskan hubungan kita sepihak" ucap Zidan yang air matanya mulai mengalir.
"Dan sudah" ucap Rifi.
"Sebaiknya kita selidiki masalah ini" ucap Fajar.
"Please kalau kalian masih anggap gue teman kalian, jangan tahan gue sekarang. Gue capek, gue pengen ngeluarin unek-unek gue sekarang" ucap Zidan yang benar-benar sudah putus asa.
"Lo, sebodoh itu lo percaya sama foto sialan itu hah, lo mikir apa mungkin gue ngelakuin itu dan bawa orang ke dalamnya untuk mengambil gambar. Lo lihat foto itu baik-baik, itu foto yang dia ambil oleh orang lain saat gue maupun cewek itu gak sadarkan diri" bentak Zidan yang sudah mengeluarkan air mata lelahnya dan begitupun Hilya yang juga mengeluarkan air matanya.
"Dan... " ucap Alan yang tau betul posisi Zidan sekarang.
"Udahlah gue capek, dan lo kalau lo mau nerima perjodohan lo dengan si brengsek itu silahkan gue gak bisa nahan lo lagi, gue capek sekarang, gue lelah untuk ini semua" ucap Zidan yang membuat Hilya dan semua yang ada di sana capek.
"Dan lo jangan gini" ucap Alan.
"Gue cabut dulu" ucap Zidan yang pergi meninggalkan mereka semua termasuk Hilya yang membeku di sana.
"Lo mau kemana? " teriak Zidan.
"Mau nenangin diri gue sejenak" ucap Zidan yang pergi menuju mobilnya.
__ADS_1
"Dan lo jangan aneh-aneh" ucap Fajar yang mencegah Zidan pergi.
"Dan... Dan jangan pergi" ucap Fajar namun tak digubris oleh Zidan yang langsung menancap gas mobilnya.
"Hilya kamu gak apa-apa kan? " tanya Kia dan Fia.
"Sekarang apa?, hah apa? " bentak Fajar.
"Kalau saja lo ngasih sedikit saja kepercayaan pada Zidan, mungkin ini semua gak akan terjadi" ucap Fajar yang sangat marah.
"Baru kali ini gue lihat Zidan hancur gini, baru kali ini gue lihat Zidan yang menangis" ucap Fajar.
"Kak Fajar jangan nyalahin Hilya juga dong" ucap Kia.
"Lo diam" ucap Fajar.
Syifa hanya menatap Hilya dia merasa kasian pada Hilya, namun dia lebih kasian pada Zidan yang benar-benar kehilangan kepercayaan dari keluarganya.
"Sebaiknya kita ke tempat Disa" ucap Syifa yang langsung naik ke mobil tanpa menunggu Hilya.
Hilya kembali merasa sedih saat melihat Syifa tak seperti biasanya.
Mereka pun berangkat ke kontrak milik tante Meli, tak lama kemudian mereka pun sampai.
"Eh tante" ucap Syifa.
"Kalian datang juga" ucap tante Meli.
"Disa bengong terus, makanya gak pernah habis, dia seperti orang yang kehilangan semangat hidup" ucap tante Meli yang merasa kasian pada Disa.
"Sebaiknya kalian selalu semangatin dia ya" ucap tante Meli.
"Iya tan, kalau begitu kota masuk dulu ya" ucap Syifa yang tersenyum.
"Iya Syif, Disa si kamarnya masuk aja" ucap tante Meli.
Syifa pun masuk begitu pun dengan lainnya yang juga ikut masuk. Syifa melihat Disa yang duduk di ranjang kecil dengan posisi memeluk lututnya sedangkan matanya menatap kosong ke luar jendela.
Bahkan Hilya, Fia dan Kia juga menyaksikan kondisi Disa yang benar-benar tak memiliki semangat hidup.
"Kita tak Disa kan dari dulu, kalau memang Zidan yang melakukan itu semua dia akan pergi minta tanggung jawab pada Zidan" ucap Syifa yang membuat Hilya hanya terdiam.
"Sa" ucap Syifa yang memegang bagi Disa dan membuat Disa terkejut.
"Hah, Syifa" ucap Disa.
"Kamu kenapa gak duduk di luar aja, ngapain di kamar? " tanya Syifa yang membuat Disa langsung panik.
__ADS_1
"Shuttttt, aku gak mau duduk di luar, nanti kakau, kalau orang-orang itu menemui aku dan melakukannya lagi gimana?, aku gak mau Syif" ucap Disa yang mengeluarkan air matanya dan sukses membuat Syifa, Hilya, Fia dan Kia sedih dengan kondisi Disa.
Pandangan Disa beralih ke arah Hilya, Fa dan Kia. Dia tersenyum tipis dan melambaikan tangannya pada mereka bertiga. Namun wajah Disa kembali ketakutan saat melihat Alan, Fajar dan Rifi di sana.
"Jangan.... jangan.. tolong jangan bawa aku lagi, tolong jangan" ucap Disa yang menangis.
"Sa.. Disa" ucap Syifa yang panik melihat Disa.
"Syifa tolong usir mereka dari sini, tolong aku mohon" ucap Disa sambil menangis ketakutan.
"Disa mereka bukan penjaga mereka orang baik" ucap Syifa yang meyakinkan Disa.
Rifi terbayang almarhumah adiknya saat melihat Disa, bahkan kisah Disa lebih tragis dari kisah almarhumah adiknya.
"Aku mohon sudah cukup, aku kesakitan jangan lagi bawa aku" ucap Disa yang terus memohon.
Melihat hal tersebut Hilya langsung memeluk Disa.
"Disa kamu tenang ya, gak akan ada yang nyakitin kamu lagi, kita ada di sini buat kamu" ucap Hilya yang juga menangis.
"Mereka bertiga orang baik, itu kak Alan, kak Fajar, dan kak Rifi" ucap Disa yang memeluk Disa dan mengusap rambut Disa.
Mendengar masukan dari Hilya, Disa menjadi lebih tenang, Kemudian Disa melepaskan pelakunya dari Hilya.
"Aku minta maaf ya, kak Zidan gak salah percaya sama aku" ucap Disa yang membuat Hilya terdiam.
"Aku mau kok di periksa, aku gak pernah berhubungan intim dengan kak Zidan, bukan kak Zidan pelakunya" ucap Disa lagi.
"Aku percaya kok sama kamu, aku juga minta maaf udah sempat marah sama kamu" ucap Hilya.
"Hubungan kamu sama kak Zidan baik-baik saja kan? " tanya Disa yang membuat Hilya kembali terdiam.
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...****************...
__ADS_1
...****************...
...****************...