
"Siapa mereka, aku belum pernah melihat mobil itu sebelumnya. Apa mungkin itu Hilya dan Zidan? " tanya Abian yang kebingungan.
"Gak, gak mungkin mending aku kejar mereka juga" ucap Abian yang ingin menuju ke mobilnya.
"Abian" panggil Tamara
"Ada apa? " tanya Abian
"Siapa mereka? " tanya Tamara.
"Gue juga belum tau, makanya ini gue mau ngejar mereka" ucap Abian.
"Gue ikut" ucap Tamara.
"Ya ampun mending lo gak usah ikut deh" ucap Abian yang kesal.
"Gue harus ikutlah, gue juga harus tau siapa yang udah ngerekam gue" ucap Tamara.
"Serah lo dah" ucap Abian yang kemudian menuju mobilnya.
"Pokoknya gue gak mau kalau itu Zidan maupun si cewek ja.. lang itu" ucap Tamara yang mengikuti Abian menuju ke mobil.
"Heh sadar diri yang ja.. lang itu lo, bukan Hilya" ucap Abian sambil masuk ke mobilnya.
Tamara kesal mendengar ucapan Abian, namun dia memilih untuk diam dan tak mau berdebat dengan Abian lagi. Di sisi lain dengan perasaan panik Fia sesekali melihat ke belakang untuk memastikan anak buah Abian tak mengikuti mereka lagi.
"Mereka masih mengejar kita kak" ucap Fia yang panik.
"Kami tenang dulu ya, kita pasti bisa menghindar dari kejaran mereka" ucap Rifi yang menggenggam erat tangan Fia yang memang masih terikat dengan tangannya.
"Tapi kak gimana kalau mereka berhasil nangkap kita? " tanya Fia khawatir.
"Mereka tidak akan berhasil melakukan itu" ucap Rifi yang menatap Fia dengan tulus.
Aksi kejar-kejaran masih terjadi, Rifi terus menambah kecepatan untuk menghindari anak buah Abian, namun anak buah Abian jug atau kalah cepat mengejar mobil Rifi terus menerus.
"Sepertinya gue harus ngehadapi mereka" ucap Rifi yang melihat kebelakang melalui kaca spion mobilnya.
"Ngehadapi mereka? " tanya Fia.
"Eummm, kita gak bisa terus-terusan lari begini" ucap Rifi.
"Sebaiknya aku beri mereka pelajaran" ucap Rifi lagi.
"Kak Rifi gila ya" ucap Fia marah yang membuat Rifi terkejut.
"Mereka banyak kak, dan kak Rifi sendiri. Yang ada mereka yang ngasih pelajaran buat kak Rifi bukan kak Rifi yang kasih mereka pelajaran" ucap Fia yang tambah khawatir.
"Mending kita menghindar saja dulu" ucap Fia.
"Mau sampai kapan Fia?, kita gak mungkin menuju ke rumah Hilya sekarang, mereka pasti bakal tau kita teman ataupun orang terdekat Hilya" ucap Rifi.
"Kita gak akan ke sana" ucap Fia.
"Aku percaya sama kak Rifi, kak Rifi pasti akan melakukan yang terbaik untuk keselamatan aku dan juga kak Rifi sendiri" ucap Fia yang menggenggam tangan Rifi.
__ADS_1
"Kak, aku mohon, kakak jangan hadapin mereka sendiri, aku gak mau kakak kenapa-kenapa" ucap Fia dengan mata yang berkaca-kaca.
Mendengar hal tersebut dan melihat Fia yang berkaca-kaca Rifi memilih untuk menambah kecepatan mobilnya. Di sisi lain Hilya dan Abian sudah sampai ke Jakarta, setelah makan malam mereka berdua langsung langsung pergi menuju ke Jakarta. Mereka berdua pun langsung menuju ke rumah Hilya setelah mendengar kabar dari Alan bahwa semua orang berkumpul di rumah Hilya.
"Kita masuk sekarang? " tanya Zidan yang memang sudah berada di depan rumah Hilya.
"Iya kak" ucap Hilya yang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mendengar hal tersebut Zidan langsung masuk ke pekarangan rumah Hilya, Zidan langsung membawa Hilya masuk ke dalam rumahnya.
"Hilya" ucap Kia yang melihat kedatangan Hilya dan membuat semua orang menoleh kearah Hilya.
"Sayang... " ucap bunda Lola yang langsung berlari kearah Hilya dan memeluknya sambil menangis.
"Kamu kemana saja?, tolong jangan tinggalin bunda lagi kak" ucap bunda Lola.
"Maafin Hilya udah buat bunda sedih, udah buat bunda khawatir" ucap Hilya.
"Gak, kamu gak perlu minta maaf sayang, yang terpenting sekarang anak bunda kembali lagi, anak bunda ada di sini lagi" ucap bunda Lola dengan tulus sambil melepaskan pelukannya.
"Ayah" ucap Hilya yang langsung memeluk ayah Dion.
"Ayah pikir kamu membenci ayah mu ini kak, sehingga kamu pergi menjauh dari kami" ucap ayah Dion yang langsung memeluk Hilya dan membelai rambut Hilya.
"Maafkan aku ayah, aku tidak mungkin membenci ayah, pelukan ayah begitu hangat bahkan lebih hangat dari pada pelukan ayah kandung ku sendiri" ucap Hilya yang menangis di pelukan ayah Dion.
"Ayah maafkan Hilya ya sudah buat ayah dan bunda khawatir" ucap Hilya.
"Tidak nak tidak, kamu tidak perlu minta maaf, kamu pulang sekarang, itu membuat ayah sangat senang" ucap ayah Dion yang memegang kedua pipi Hilya.
"Kamu jangan pergi lagi ya, jangan tinggalin ayah dan bunda lagi" ucap Ayah Dion dan mendapat anggukan dari Hilya.
"Kami khawatir banget sama kamu" ucap Syifa yang memeluk Hilya.
"Aku juga tau" ucap Kia yang juga memeluk Hilya.
"Maaf udah buat kalian khawatir" ucap Hilya.
"Kamu harus janji sama kita untuk tidak menghilang lagi" ucap Syifa.
"Iya aku janji" sahut Hilya.
Hilya juga berpelukan dengan mama Rena dan dia juga minta maaf sama semua orang yang ada di sana karena telah membuat mereka khawatir. Namun Hilya juga menanyakan soal Disa dan juga Fia yang tak ada di rumahnya.
"Dimana Disa dan Fia? " tanya Hilya.
"Fia dan Rifi tadi pergi entah kemana, sepertinya ada sesuatu yang penting" ucap Alan.
"Kalau Disa di kamar" ucap Nando lesuh.
"Disa baik-baik saja kan? " tanya Hilya.
"Ya, dia baik-baik saja, tapi... " ucap Syifa yang tak sanggup mengatakannya.
"Tapi apa? " tanya Hilya yang penasaran.
__ADS_1
"Tapi... " ucap Syifa lagi.
"Dia keguguran" ucap Nando.
"Apa" ucap Hilya dan Zidan.
"Disa keguguran? " tanya Hilya.
"Iya, dokter bilang karena dia terlalu stress sehingga membuat kandungan dia lemah dan sampai keguguran" ucap Syifa.
"Ya ampun Disa" ucap Hilya yang sedih.
"Dimana sekarang Disa, bagaimana kondisi dia? " tanya Hilya.
"Dia sudah membaik, sekarang dia lagi istirahat nak" ucap mama Rena.
"Kamu sekarang mandi dulu ya, kamu juga pasti sangat lelah hari ini" ucap bunda Lola.
"Iya bunda" ucap Hilya.
"Ayo Hil, kita ke atas" ucap Syifa dan mendapatkan anggukan dari Hilya.
Syifa pun membawa Hilya menuju ke kamar Hilya sendiri.
"Saya harus segera menyelesaikan masalah ini"ucap papa Dika.
"Saya gak mau karena masalah ini, ada banyak orang yang terseret" sambung papa Dika.
"Pa, aku minta maaf karena aku kalian semua terseret ke dalam masalah ini" ucap Zidan.
"Ini bukan salah kamu nak, kamu juga korbannya" ucap papa Dika.
"Kami tenang aja, kami akan membantu kamu dalam menyelesaikan masalah ini" ucap papa Niko.
"Iya, kami gak akan membiarkan masalah ini semakin membesar" sahut daddy Leon.
"Oh ya pa, kenapa dari tadi Rifi belum ke sini ya? " tanya mama Sarah tak ang membuat orang sadar bahwa Dia dan Rifi sudah pergi lama.
"Oh ya....
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...****************...
__ADS_1
...****************...
...****************...