
Pelayan itu pun pergi menuju tempat pesan air.
"Berdiri sebentar lagi aja di sini udah aku colok tuh matanya" ucap Zidan kesal.
"Udah namanya orang kerja, gak boleh gitu dong, kan dia pelayan di sini" ucap Hilya.
"Terus sekali pelayan natapnya cuma kamu doang gitu" ucap Zidan yang cemberut.
"Kan udah dibilangin calon suami tadi" ucap Hilya.
"Nah itu kamu udah bilang akunya calon suami kamu, masih aja matanya gitu" ucap Zidan.
"Mbak... mbak.. mbak" ucap Zidan dengan menirukan pelayan tadi dengan nada ejekan.
"Sudah dong" ucap Hilya yang tersenyum tak habis pikir dengan pacarnya.
"Huhffff,,, " Zidan menghembus nafasnya dengan kasar.
"Udah jangan marah-marah lagi, kita kan ke sini mau nenangin pikiran kakak bukannya malah marah-marah lagi" ucap Hilya yang mengelus tangan Zidan.
"Aku khawatir dengan kondisi Nando" ucap Zidan yang suaranya melemah.
"Sayang, kita berdoa aja biar Nando bisa melewatkan masa kritisnya" ucap Hilya dengan lembut.
"Aku gak mau kak Zidan marah-marah kayak tadi lagi, oke" ucap Hilya lagi dan mendapatkan anggukan dari Zidan.
Tak lama kemudian pelayan tadi mengantarkan air pesanan Hilya dan Zidan.
"Ini mbak pesanannya" ucap pelayan tersebut dengan kembali menatap Hilya.
"Terimakasih" ucap Hilya yang tersenyum.
"Kalau mau pesan atau butuh sesuatu panggil saya aja mbak" ucap pelayan itu.
"Kita udah gak butuh apa-apa" ucap Zaman Zidan dengan tatapan yang sangat tajam dan membuat si pelayan tersebut langsung pergi.
"Ini minum dulu" ucap Hilya yang tersenyum.
"Sayang aku gak suka... " ucap Zidan.
"Cobain dulu" ucap Hilya yang kekeh.
"Gak bisa sayang, aku paling gak suka makanan yang ada jahe nya, apalagi minuman kek gini" ucap Zidan.
"Heumm, ya udah deh. Nih kak Zidan minum coklat hangat punya aku aja, sini jahe hangat buat aku" ucap Hilya yang mendorong gelas coklat hangat ke depan Zidan dengan wajah memelas.
"Hufffffh padahal aku suka banget sama coklat hangat tapi yaudah deh" ucap Hilya lagi yang membuat Zidan mengusap wajahnya dengan kasar dan mengambil jahe hangat tersebut dan meminumnya dengan sekali tegukan.
"Kak Zidan" ucak Hilya yang terkejut dan juga senang melihat Zidan yang meminum air jahe.
"Sudah, sudah habis, sekarang kalau cepat minum coklat kamu" ucap Zidan yang menaruh gelas kosong di meja dengan wajah yang merah.
"Enak kan kak" ucap Hilya yang tersenyum.
"Ya enak, enak banget" ucap Zidan dengan menahan wajahnya.
"Sekarang kamu minum coklat hangat kamu" ucap Zidan.
"Ini buat kak Zidan juga" ucap Hilya yang tersenyum dan menyodorkan gelas coklat hangat ke Zidan.
"Sayang... " ucap Zidan.
"Apa? " tanya Hilya dengan polosnya.
"Kmau ngerjain aku? " tanya Zidan lagi.
"Enggak" sahut Hilya dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Kak Zidan minum air jahe hangat itu bisa buat kita lebih tenang, di tambah lagi dengan meminum coklat hangat, itu bakal buat pikiran dan hati kak Zidan lebih baik" ucap Hilya yang tersenyum lembut.
"Aduh lembut bet lagi senyuman cewek gue" batin Zidan.
"Dulu aku juga pernah di buat sama bik Murni, saat aku sedih di tinggalin oleh... " ucap Hilya yang terhenti.
"Sini aku minum" ucap Zidan yang tau bahwa Hilya tak akan bisa melanjutkan omongannya lagi.
Zidan mengambil coklat hangat tersebut dan meminumnya, rasa jahe di mulutnya mulai hilang dan benar saja dia mulai lebih nyaman sekarang.
"Gimana? " tanya Hilya yang eksaited.
"Eummm aku jadi lebih baik sekarang" ucap Zidan yang tersenyum.
"Tuh kan apa kata aku" ucap Hilya dengan bangga.
"Hey,, aku menjadi lebih baik karena ada kamu di sisi aku, ada kamu yang selalu menemani aku, bukan karena minuman ini" ucap Zidan yang memegang kedua tangan pacarnya.
"Makasih ya sayang, aku mau kamu selalu di sisi aku dan jangan pernah tinggalin aku" ucap Zidan yang tersenyum
"Iya kak, aku gak bakalan pernah ninggalin kakak sampai kapanpun" ucap Hilya yang membalas senyum.
"Kita balik ke rumah sakit sekarang? " tanya Hilya dan mendapatkan anggukan dari Zidan.
"Aku bayar dulu" ucap Zidan yang pergi menuju ke kasir untuk membayar.
"Mbak boleh minta nomornya" tanya pelayan tadi yang melihat Hilya sendiri.
"Nomor apa ya?"tanya Hilya
"Nomor whatsapp mbak"sambung pelayan tadi.
"Mintanya sama calon suami saja aja ya, kalau dia kasih maka ambilah" ucap Hilya yang meninggalkan pelayan itu dan menyusul Zidan.
"Sayang udah? " tanya Hilya.
"Besok kita gak udah ke sini lagi deh" ucap Hilya yang melihat sekelilingnya.
"Kenapa? " tanya Zidan yang kebingungan.
"Gak ada" ucap Hilya cuek.
"Lah kenapa sih? " tanya Zidan yang tambak kebingungan.
"Tuh lihat cewek-cewek pada lihatin kamu terus, tau gini aku aja tadi yang ke kasir buat bayar" ucap Hilya dengan kesal.
"Kamu cemburu? " tanya Zidan.
"Menurut anda" ucap Hilya yang menambah kecepatan berjalan meninggalkan Zidan.
"Lah gue yang dilihat aja dia cemburu, gimana gue tadi" ucap Zidan yang kebingungan.
"Gemes bet calon bini gue" ucap Zidan yang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mereka pun kembali ke rumah sakit. Zidan dan Hilya melihat mama Rena yang terus menangis.
"Ma pulanglah untuk beristirahat, kami akan menjaga Nando" ucap Zidan.
"Tidak mama tidak mau pulang haaa" ucap mama Rena yang terus menangis.
"Mama jangan menangis" ucap Julian yang sedih.
"Julian sini sama papa nak" ucap papa Dika.
"Ma benar kata Zidan, sebaik mama istirahat di rumah" ucap papa Dika.
"Besok kita kembali lagi ke sini" ucap papa Dika lagi.
__ADS_1
"Ren, aku setuju dengan pendapat Zidan. Zidan gak mau kalau kamu sakit, nanti siapa yang akan menjaga Nando jika kamu sakit juga" ucap bunda Lola yang akhirnya meluluhkan hati mama Rena.
"Baiklah, tapi langsung kabarin pada mama jika terjadi sesuatu pada Nando" ucap mama Rena.
"Baik ma" ucap Zidan.
"Bunda, Hilya mau di sini aja ya" ucap Hilya.
"Sayang... " ucap Bunda.
"Hilya sama Syifa kok bun" Sahut Syifa.
"Hufhhhh, baiklah sayang" ucap bunda Lola.
"kalian hati-hati di sini" ucap ayah Dion
"Iya yah" sahut Hilya dan Syifa.
Merekapun pulang semua, hanya tersisa Hilya, Zidan, Alan, Syifa, Fajar dan Rifi.
Zidan terus menatap Nando melalui kaca kecil yang ada di pintu ICU.
"Lo percaya sama gue, gue gak bakal tinggal diam" ucap Alan yang memegang pundak Zidan.
"Ya, gue minta bantuan kalian semua ya" ucap Zidan.
"Aku juga mau bantuin" ucap Hilya yang berdiri di samping Zidan.
"Kamu cukup bantuin aku dengan selalu berada di dekat aku" ucap Zidan lembut dan membuat Hilya tersenyum.
"Gue bakal tanya ke perawat di sini siapa yang membawa Nando ke sini" ucap Fajar.
"Gue ikut, kita cari sama-sama" ucap Rifi.
"Baiklah, kita cabut sekarang" ucap Fajar.
"Gue pergi dulu" ucap Fajar.
"Lo sabar dan tunggu aja kabar baik dari kita" ucap Rifi dan pergi.
Di depan ICU hanya tersisa Hilya, Zidan, Alan dan Syifa.
"Lo laper?...
...****************...
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...****************...
...****************...
...****************...
__ADS_1