
Disa pun masuk ke rumahnya, dan Zidan langsung menancap gas mobilnya lagi.
"kak boleh gak kita makan sesuatu dulu, sebelum pulang" ucap Hilya
"Udah jam segini lo mau makan" tanya Zidan
"Habisnya aku laper, tadi makannya dikit doang karena gak enak sama Disa" ucap Hilya
"Lah kenapa lo gak enak sama dia" ucap Zidan
"Ya kan dia mesan makannya tadi dikit doang, masa ia aku pesan banyak" ucap Hilya
"Hahahaha, kocak lo, yang makan lo yang bayar gue kenapa malah jadi gak enak sama dia, harusnya lo gak enak sama gue kalau pesan banyak takut uang gue habis" ucap Zidan sambil tertawa.
"Udah deh pulang aja gak jadi laper" ucap Hilya yang kesal
"Dih ngambek, cepat tua nanti lo baru tau rasa" ucap Zidan yang tak di gubris oleh Hilya
Melihat Hilya yang tak merespon, Zidan paham bahwa Hilya benar-benar ngambek. Zidan pun mulai membujuk Hilya.
"Jadi makan gak?" tanya Zidan
"Gak, pulang aja" ucap Hilya judes
"Beneran... padahal di daerah sini tuh ada yang jual sate, enak banget" ucap Zidan yang terus membujuk sekaligus menggoda Hilya.
"Gak tergiur sama sekali" ucap Hilya yang masih nyolot.
"Ya udah kalau lo gak mau makan, gue mau makan dulu laper" ucap Zidan yang kemudian berhenti di depan orang jualan satu di pinggir jalan.
"Ihhhh aku mau pulang singa resek" ucap Hilya yang kesal
"Aku mau makan dulu, rugi tau gak nyobain sate ini" ucap Zidan.
"Mang pesan satu ya, taruh di piring aja tapi saya makan di sini" ucap Zidan pada tukang jalan sate.
"Baik mas tunggu sebentar" ucap tukang jualan sate tersebut.
Hilya membuang wajahnya karena kesal dengan Zidan, sedangkan Zidan terus menggoda Hilya.
"Wah satenya balik datang baunya udah ke sini aja" ucap Zidan
"Emang paling best sih di sini" ucap Zidan lagi
"Ihhh bisa diam gak sih, berisik banget" ucap Hilya yang kesal
"Apaan sih marah-marah mulu, orang gue ngomong sendiri" ucap Zidan
"Gila ya ngomong sendiri" ucap Hilya.
"Dih biarin, gue yang gila ngapain lo repot" ucap Zidan
"Mas ini satenya" ucap penjual sate yang mengantarkan sepiring sate ke mobil Zidan.
"Makasih pak" ucap Zidan yang mengambil sate tersebut.
__ADS_1
"Wihh enak banget nih" ucap Zidan yang membuat Hilya melirik kearah sate yang di pegang oleh Zidan.
Zidan memakan setusuk sate tersebut dan memakannya dengan cara yang terus menggoda Hilya.
"Wah sih gila enak banget ini" ucap Zidan.
"Buhhkkk, sengaja kan gitu biar aku ngiler" ucap Hilya yang memukul lengan Zidan
"Apaan sih orang lagi makan" ucap Zidan.
Hilya mengambil sate yang di pegang oleh Zidan dan langit membalikkan badannya membelakangi Zidan.
"Lah kok di ambil sih" ucap Zidan
"Tadi katanya gak laper lagi" ucap Zidan lagi
"Ihhh bisa dim gak si, ini tuh gara-gara kak Zidan" ucap Hilya yang menyantap sate tersebut
"Gara-gara gue, bilang aja kali cacing lo itu lagi pada demo di dalam perut lo" ucap Zidan
"Diam" Sahut Hilya yang kesal dan terus memakan sate itu
Zidan tersenyum melihat tingkah lucu dari Hilya, dia kembali memesan sepiring lagi sate. Mereka berdua menyantap sate tersebut dan sesekali Zidan masih menggoda Hilya.
Setelah mereka makan sate, Zidan membayarnya. Lalu Zidan langsung mengantar Hilya ke rumahnya.
Mereka benar-benar sampai ke rumah Hilya saat tenga malam. Di dalam rumahHilya sudah di tunggu oleh ayah Dion dan bunda Lola.
"Makasih ya" ucap Hilya yang turun dari mobil
"Iya, gue pulang dulu, dah calon istri" ucap Zidan yang langsung menancap gas mobilnya.
Hilya langsung masuk ke rumahnya dan melihat ayah dan bundanya yang menunggu kepulangannya.
"Assalamu'alaikum bunda, ayah" ucap Hilya
"Wa'alaikum salam" ucap Bunda dan Ayah.
"Kenapa kamu baru sampai jam segini Hilya?, Syifa udah dari tadi, malahan udah bunda suruh tidur duluan" ucap bunda Lola
"Bunda boleh gak Hilya ceritanya besok aja, Hilya pengen istirahat dulu" ucap Hilya
"Boleh sayang, sekarang kamu bersihkan dulu tubuh kamu dan langsung tidur" ucap ayah Dion.
"Baik yah" ucap Hilya yang kemudian masuk ke kamarnya
Hilya maupun bunda dan ayah pun masuk ke kamar untuk tidur. Sesampainya di kamar Hilya langsung membersihkan tubuhnya dan kemudian mengenakan baju tidurnya. Saat Hilya sudah berbagi di kasur, ia kembali mengingat Disa. Hilya benar-benar kasian melihat Disa.
Keesokan harinya semuanya sudah berada di meja makan. Ayah dan bunda sudah rapi dengan pakaian kantor mereka, sedangkan Hilya dan Syifa masih dengan muka bantalnya.
"Hilya kenapa nak kamu telat banget sampai semalam?" tanya bunda Lola
"Jadi gini bun, Hilya sama kak Zidan bujukin Disa dulu"ucap Hilya sambil makan
"Bujukin Disa?, emang dia kenapa" tanya Bunda Lola
__ADS_1
"Pokoknya tante aceh kemah kacau, kita aja mendadak pulangnya, karena kak Zidan udah marah. Ini semua gara-gara kating cewek resek itu" ucap Syifa
"Kamu tau gak Syif, kemarin Disa di turunin dari bis jurusannya, aku yakin sih ini pasti gara-gara Tamara geng itu. Makan kami telat sampai soalnya bujuk Disa dulu biar pulang bareng kami" ucap Hilya
"Gak boleh gitu dong harusnya, nyuruh anak orang pulang jalan kaki, kalau misalnya ada yang jahat terus Disa di apa-apain gimana?" tanya bunda Lola
"Tamara geng itu memang jahat tante, suka bully orang" sahut Syifa
"Kalian berdua, kalau mendapatkan pembullyan di sekolah langsung lapor sama ayah, ayah biayain kalian buat belajar di sana bukan buat di bully" ucap Ayah Dion
"Iya ayah, iya om" ucap Hilya dan Syifa barengan.
Setelah berbicara dan sambil makan, akhirnya mereka pun menyelesaikan kegiatan sarapan mereka.
"Ayah berangkat kerja dulu ya kalian baik-naik di rumah" ucap ayah Dion
"Iya yah" sahut Hilya sambil bersalaman dan memeluk ayah Dion
"Iya om" ucap Syifa yang bersalaman
"Langsung mandi, jangan nanti-nanti lagi" ucap bunda Lola
"Iya bunda, iya tante" ucap Hilya dam Syifa yang kemudian memeluk dan mencium bunda Lola.
Ayah Dion dan bunda Lola pun berangkat ke kantor, sedangkan Hilya dan Syifa langsung masuk ke kamar masing-masing dan mandi.
Di mobil bunda Lola dan ayah Dion.
"Mas, aku khawatir kalau Hilya dan Syifa menjadi korban bullyan kating mereka" ucap bunda Lola
"Jangan khawatir sayang, mas kan udah bilang sama mereka, kalau misalnya mereka di bully langsung kabarin, nanti mask bakal bilang juga Dika" ucap ayah Dion
"Lagian kita gak perlu khawatir sayang, calon suami anak kitalah pemilik kampus itu" sahut ayah Dion lagi sambil tersenyum.
Mereka pun menuju ke kantor untuk meeting dengan klien-klien penting termasuk dengan orang tua Zidan yang memang merupakan rekam kerja mereka juga.
Di rumah Hilya dan Syifa sudah rapi dengan pakai bisa mereka.
"Hilya,,, duduk di halaman belakang yok" ajak Syifa
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...