CINTA UNTUK HILYA

CINTA UNTUK HILYA
JULIAN


__ADS_3

"Apa aku akan seberuntung kamu nanti?, memiliki keluarga yang mau mengangkat aku menjadi anak mereka" ucap Julian


"Pasti ada, dan untuk sementara kamu boleh menganggap aku kakak mu" ucap Hilya sambil tersenyum dan membuat Julian juga ikut tersenyum.


"Hilya" Ucap Zidan yang melihat kearah Julian, karena Julian memang hampir tak pernah mau berbicara dengan siapapun.


"Eh ada apa?" tanya Hilya


"Kita balik sekarang yok" ucap Zidan yang masih menatap Julian


"Baiklah duluan saja, aku akan menyusul" ucap Hilya


"Ba..baiklah aku akan menunggu di mobil" ucap Zidan yang kemudian pergi.


"Kakak akan pulang" ucap Julian yang membuat Hilya terkejut, karena dari tadi Julian tidak memanggilnya kakak


"Iya, aku harus pulang. besok hari pertama aku masuk kuliah jadi aku harus mempersiapkan beberapa alat" ucap Hilya


"Kamu tenang aja, aku akan datang lagi" ucap Hilya yang melihat Julian kembali membuang wajahnya.


"Jika kakak punya waktu?, lalu bagaimana jika kakak sibuk, maka aku hanya akan sendiri" ucap Julian


"Kamu punya banyak teman di sini" ucap Hilya


"Pulanglah sana" ucap Julian


"Ya sudah aku pulang dulu" ucap Hilya dan kemudian pergi.


Julian menatap kepergian Hilya dengan raut wajah sendu, Hilya juga merasakan bahwa Julian terus menatapnya. Hilya berpamitan pada ibu Minah dan langsung masuk ke mobil.


"Kenapa lama sekali?" tanya Zidan di dalam mobil


"Kak, kenapa Julian sering menyendiri?" tanya Hilya yang tak menjawab pertanyaan Zidan


"Dia begini dalam beberapa bulan ini, dulu dia periang dan juga anak yang aktif" ucap Zidan sambil menyetir


"Kenapa?" tanya Hilya lagi


"Dulu dia mempunyai teman akrab, namanya Ivan. kemana-mana mereka selalu bersama, tapi suatu hari ada satu keluarga yang ingin mengadopsi anak dan mereka memilih Julian" ucap Zidan yang bercerita.


"Tapi gak tau kenapa pada hari penjemputan Julian, keluarga itu tidak jadi mengadopsi Julian dan mereka malah mengadopsi Ivan" ucap Zidan lagi.


"Hah kok bisa?, kan kasian Julian dia udah berharap, gimana sih orang itu" ucap Hilya yang kesal


"Kata Syila juga Ivan jahat makanya Julian menjadi seperti sekarang" ucap Zidan.


"Kasian Julian, pasti dia ingin memiliki keluarga yang lengkap" ucap Hilya yang sedih.


"Tapi tadi aku terkejut saat melihat kamu berbicara dengan Julian, bagaimana bisa kalian bisa seakrab itu" ucap Zidan yang kebingungan.


"Kami tidak akrab, tapi kami berbicara banyak tadi" ucap Hilya


"Kasian Julian, pasti dia ingin merasakan kehidupan punya keluarga" ucap Hilya.

__ADS_1


"Sudahlah kita akan sering berkunjung ke sana nanti" ucap Zidan yang membuat Hilya menganggukkan kepalanya.


Waktu sudah sore, Hilya sudah sampai di rumahnya.


"Besok mau aku jemput?" tanya Zidan


"Tidak perlu" Sahut Hilya


"Oke sampai ketemu besok, aku bakal jemput besok pagi" ucap Zidan dan menancapkan gas mobilnya


"Dih kan aku udah bilang tidak perlu" teriak Hilya.


"Ada apa sih pulang-pulang langsung teriak gitu" ucap Syifa yang keluar.


"Kak Zidan itu resek banget" ucap Hilya


"Kenapa lagi sih Hil, dari pergi sampai pulang kamu gitu" ucap Syifa


"Gak boleh gitu Hil sama calon suami" ucap Syifa lagi


"Apaan sih Syifa" ucap Hilya yang masuk ke rumah.


"Mandi gih sana, habis itu siapin peralatan buat ngampus besok" ucap Syifa


"Oke Cipa" ucap Hilya yang membuat Syifa tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Hilya masuk ke kamar dan mulai mandi kemudian langsung menyiapkan perlengkapan untuk besok. Malam pun tiba semuanya berkumpul di meja makan.


"Sudah Bun, sudah tan" ucap Hilya dan Syifa barengan.


"Pokoknya kuliah yang bener" ucap ayah Dion


"Pastilah Yah, Hilya mau banggain ayah, makanya Hilya pengen kuliah yang benar" ucap Hilya


"Buat ayah aja nih, buat bunda engga?" tanya bunda yang hanya bercanda


"Buat bunda juga lah" sahut Hilya yang tersenyum.


"Syifa juga mau kuliah yang benar, Syifa juga mau banggain tante dan om" sahut Syifa


"Bunda senang deh, punya satu putri yang cantik dan teman putri bunda yang ini juga cantik" ucap bunda Lola yang tersenyum


"Sekarang habiskan makanan kalian dan masuk kek kamar untuk tidur" ucap Ayah Dion


"Baiklah ayah, baiklah om" ucap Hilya dan Syifa.


Hilya dan Syifa langsung menghabiskan makan malam mereka dan setelah itu langsung kembali ke kamar.


"Ayah, bunda, Hilya duluan ya" ucap Hilya yang di anggukan oleh ayah dan bunda.


"Om, tante, Syifa juga ke kamar duluan ya" ucap Syifa yang juga di anggukan oleh keduanya.


"Hilya kamu mau ngapain?, ini kan masih awal banget" ucap Syifa yang berdiri di pintu kamar Hilya.

__ADS_1


"Masuk sini, aku mau cerita sesuatu" ucap Hilya.


"Apaan?" tanya Syifa yang masuk ke kamar Hilya.


"Kamu tau gak tadi kak Zidan bawa aku kemana?" tanya Hilya


"Ke rumahnya kan?, kan tadi kak Zidan bilang mau bawa kamu ke rumahnya karena mamanya yang nyuruh" ucap Syifa


"Dan kak Zidan gak bawa aku ke rumahnya" sahut Hilya cepat


"Serius Hil, terus kak Zidan bawa kamu kemana?, kami gak di apa-apain kan?" tanya Syifa yang panik dan memeriksa tubuh Hilya


"Ihh apaan sih, aku gak di apa-apain kok, kak Zidan bawa aku ke rumah penampungan anak yatim piatu gitu" ucap Hilya


"Jadi sebenarnya kaka Zidan dari dulu tuh sering ngabisin waktu sama anak-anak di sana, ya walaupun aslinya nyebelin tapi dia punya pikiran yang positif sih" ucap Hilya


"Yeeee udah jatuh cinta kan kamu, makanya jangan nikah orang dari luarnya" ucap Syifa yang mengejek Hilya.


"Apaan sih Syifa gak jelas banget" ucap Hilya.


"Apaan-apaan, makanya kamu teh jangan cuek-cuek sama calon suami. Ingan calon suami kamu banyak yang naksir, salah satunya si Tamara itu" ucap Syifa


"Udah ah aku mau masuk kamar, gak telat besok" ucap Syifa dan pergi dari kamar Hilya.


"Eh kok pergi sih, kan aku belum habis cerita Syifa" teriak Hilya


"Tadi bukan inti dari ceritanya" ucap Hilya.


Melihat Syifa yang memang sudah menghilang dari ambang pintu kamarnya, Hilya memilih untuk menutup pintu kamar dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.


Hilya masih belum bisa tidur, dia masih kepikiran tentang Julian. Ingin sekali rasa Hilya membawa Julian bersamanya, namun ia tak mungkin melakukannya karena melihat posisi bunda Lola dan ayah Dion.


Lama berpikir Hilya pun akhirnya tertidur dengan pulas. Keesokan harinya....


...****************...


...****************...


...****************...


Hai guys dukung terus author ya


jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.


maaf jika ada kata-kata yang typo


byebye....


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2