CINTA UNTUK HILYA

CINTA UNTUK HILYA
KEKELUARGAAN


__ADS_3

POV OFF


Semua orang menangis melihat isi rekaman itu, bunda Lola yang berada di pelukan ayah Dion tak kuasa menahan tangisnya.


"Dia benar-benar keterlaluan" ucap ayah Dion sambil memeluk bunda Lola.


"Bagaimana kalau Hilya tau ini, dia pasti merasa hancur saat mengetahui jika ayahnya, cinta pertamanya yang telah membunuh bundanya dan juga telah menghancurkan keluarganya sendiri" ucap bunda Lola.


Ayah Dion yang emosi ingin pergi menemui Irwanto, namun di tahan oleh papa Dika, papa Artur dan daddy Leon.


"Dion kau mau kemana? " tanya papa Artur yang menahan ayah Dion.


"Jangan melakukan hal yang akan merugikan kamu dan keluarga mu" ucap papa Dika.


"Aku ingin menemui Irwan, aku akan menghabisi dia" ucap ayah Dion yang emosi.


"Dion jangan ambil keputusan saat emosi" ucap daddy Leon.


"Ini akan menghancurkan kamu dan keluarga kamu Dion" ucap papa Dika.


"Ini keputusan yang terbaik, kalau dia mati maka Hilya akan bahagia dan hidup tenang" ucap ayah Dion yang masih sangat emosi.


"Lalu bagaimana dengan nasib mu setelah itu? " tanya papa Dika.


"Kau akan masuk ke penjara" sahut papa Artur.


"Aku tidak peduli, yang terpenting aku sudah puas melihat Irwan habis di tangan ku" ucap ayah Dion.


"Kau tak peduli, tapi Hilya?, apa kau pikir Hilya akan senang melihat kamu di penjara? " tanya papa Artur lagi.


"Dion kebahagiaan istri mu dan kedua putri mu ad di tangan mu" ucap papa Dika.


"Aku tau, tapi aku tidak bisa tinggal diam setelah melihat rekaman itu" ucap ayah Dion.


"Dion sudahlah, sebaiknya kamu tenang dulu" ucap daddy Leon.


"Bagaimana aku bisa tenang?, Hilya keponakan kesayangan kami dari dulu sehingga aku begitu senang saat Hilya mau menjadi anak kami, aku sangat bahagia dan hati aku begitu hancur saat mengetahui fakta tentang anak ku, dia di hancurkan oleh ayah kandungnya" bentak ayah Dion yang sudah sangat emosi.


"Karena dia sudah dihancurkan oleh ayah kandungnya, maka kamu ayah angkatnya yang akan membahagiakan dia" bentak papa Dika yang sudah kesal.


"Jika kamu menghabisi Irwan sekarang, kamu yang akan masuk penjara maka Hilya, Syifa, dan Lola yang akan menderita" bentak daddy Leon yang juga ikut kesal.


"Dad, jangan membentak Dion" ucap mommy Maira yang mendekati daddy Leon.


"Pa jangan begini kasian Dion" ucap mama Rena.


"Tapi pikiran dia harus di buka sekarang, jangan sampai dia salah mengambil langkah" ucap papa Dika


"Kita akan mencari bukti kejahatan-kejahatan yanga dilakukan Irwanto dan setelah itu kita akan menjebloskan dia ke penjara" ucap daddy Leon.


"Leon benar, kita juga tidak boleh gegabah dengan masalah ini" ucap papa Artur.


"Ya aku setuju, kita akan menjebloskan Irwan ke penjara dan hukum akan membuat dia menderita" ucap papa Dika.

__ADS_1


"Yah benar kata mereka semua, sebaiknya kita cari bukti kejahatan Dia, setelah itu kita baru akan menghukum dia ke penjara" ucap bunda Lola pada ayah Dion.


"Dan aku mohon sama kalian semua untuk merahasiakan masalah ini pada Hilya, aku tidak mau melihat anak ku hancur setelah mengetahui fakta ini" ucap bunda Lola.


"Lola kami akan menjaga rahasia ini semua, kami juga akan membantu kamu sebisa kami" ucap mama Sarah.


"Iya Sarah benar, kita ini keluarga dan tak ada orang yang bisa menyentuh salah satu keluarga kita" ucap mommy Maira.


"Bik, tolong sembunyikan masalah ini pada Hilya" ucap bunda Lola pada bik Murni.


"Saya akan merahasiakan ini, saya juga tak akan sanggup melihat neng Hilya menangis lagi, saya tau tuan dan nyonya akan menghukum penjahat itu dengan hukuman yang terberat" ucap bik murni yang ikut menangis.


"Sudah sebaiknya kita istirahat saja di sini malam ini, aku akan menelpon Niko untuk memberitahukan bahwa kita akan menginap di rumah Dion dan aku akan meminta Dion umur menjaga anak-anak di rumah sakit" ucap papa Artur.


"Baiklah" sahut ayah Dion yang akhirnya mendengarkan semua perkataan sahabat-sahabatnya.


"Bik tolong siapkan makan malam" ucap bunda Lola.


"Baik nyonya" sahut bik murni.


Semuanya pun berkumpul di meja makan, setelah melakukan makan malam mereka pun memilih untuk tidur. Sebelum tidur bunda Lola, mama Sarah, mama Rena dan mommy Maira memiliki untuk melihat kondisi Disa dulu yang berada di kamar yang sudah di sediakan untuk Disa. Setelah melihat kondisi Disa yang masih tertidur dengan nyenyak mereka pun pergi dan masuk ke kamar masing-masing.


Pagi pun tiba setelah drama besar yang terjadi semalam, mereka pun harus berpura-pura tidak terjadi apa-apa di hadapan Disa dan di depan anak-anak yang lain nanti.


"Om, tante aku boleh gak ikut ke rumah sakit?" tanya Disa.


"Tentu saja boleh Disa, kami tak akan meninggalkan kamu sendiri" sahut bunda Lola yang tersenyum ramah.


"Kami senang melihat kamu sudah bisa senyum seperti ini" ucap mama Sarah yang mengusap kepala Disa.


"Ini semua berkat kasih sayang yang kalian semua berikan, yang membuat aku tidak merasa kesepian" ucap Disa.


"Setelah kamu mengenal kami semua, maka tidak ada kesepian lagi yang akan datang di hidup kamu" ucap mommy Maira.


"Disa sekarang habisi dulu makanan dan minum susunya, itu bagus untuk kondisi kamu dan janin kamu" ucap mama Rena yang membuat ekspresi wajah Disa berubah.


"Disa, jangan hukum anak yang tak bersalah, kamu tidak akan sendiri merawatnya, kami semua akan membantu kamu" ucap mama Rena yang membuat Disa tersenyum.


"Sudah kita akan berangkat sekarang? " tanya papa Dika.


"Kita jemput Julian dulu pa, mama juga sangat merindukan dia" ucap mama Rena.


"Baiklah kita akan sekalian menjemput Julian, kita akan barengan ke rumah sakit" ucap papa Artur.


"Baiklah" ucap papa Dika.


"Bik, mana sarapan pagi untuk anak-anak? " tanya bunda Lola.


"Ini nyonya" ucap bik murni yang menyerahkan bekal untuk Hilya dan yang lainnya.


"Terimakasih ya bik" ucap bunda Lola.


"Iya nyonya" sahut bik murni.

__ADS_1


Mereka pun berangkat untuk menjemput Julian terlebih dahulu, baru setelah itu mereka akan ke rumah sakit. Mereka hanya berangkat menggunakan dua mobil, yaitu dengan mobil papa Dika dan mobil papa Artur.


Tak lama setelah itu mereka pun sampai di rumah tante Soni, Julian yang sudah mengetahui mamanya akan menjemputnya dengan senang menunggu di depan teras.


"Mama" ucap Julian yang berlari kearah mam Rena dan memeluknya.


"Sayang, gimana kabar anak mama ini, mama kangen tau gak" ucap mama Rena yang gemes melihat Julian dan mencubit pipi Julian.


"Ihhh mama jangan cubit pipi Julian dong, Julian bukan anak kecil lagi, Julian sudah besar" ucap Julian yang cemberut dan membuat semuanya gemas melihatnya.


"Soni terimakasih ya sudah mau menjaga Julian" ucap mama Rena.


"Iya mbak santai saja, lagian Julian juga anak yang pintar dan baik, jadi aku suka ngejagain dia" ucap tante Soni yang tersenyum.


"Oh ya mbak gimana kondisi Nando dan Zidan?, maaf ya aku belum bisa jenguk mereka" ucap tante Soni.


"Tidak masalah kok, keadaan mereka berdua sesudah mendingan" ucap mama Rena.


"Syukurlah mbak" sahut tante Soni.


"Kalau gitu kami pamit dulu ya, Zidan kangen sama Julian" ucap mama Rena.


"Kok kak Zidan sih yang kangen sama Julian, bukannya kak Hilya" ucap Julian yang cemberut dan membuat semua orang kembali tersenyum.


"Kak Hilya juga kangen sama kamu" sahut mama Rena.


"Soni kami jalan dulu" ucap mama Rena.


"Iya mbak" sahut tante Soni.


Mereka pun pergi menuju ke rumah sakit dan tak lama kemudian mereka pun sampai ke rumah sakitsakit dan langsung menuju ke ruangan Zidan dan Nando.


"Kak Hilya.....


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


Hai guys dukung terus author ya


jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.


maaf jika ada kata-kata yang typo


byebye....


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2