
Mendengar ucapan Syifa, Hilya langsung keluar menuju ke mobil Zidan. Hilya masuk ke mobil Zidan dan kemudian di ikuti oleh Zidan.
"Udah jangan cemberut dong, masa iya gue bawa lo dengan muka kusut gini" ucap Zidan yang memasang seat belt dan tersenyum kearah Hilya.
"eummm"Hilya yang membuat senyum paksa di wajahnya.
Melihat hal tersebut Zidan hanya tersenyum dan langsung menancap gas mobilnya. Selama di perjalanan Hilya hanya menatap keluar dan Zidan terus fokus menyetir dengan sesekali tersenyum saat melirik Hilya.
"Kak Zidan kenapa sih suka banget ganggu aku" ucap Hilya tiba-tiba yang memutarkan badannya kearah Zidan yang menyetir.
"Perasaan gie gak ganggu lo deh" ucap Zidan yang fokus menyetir
"Kenapa lo bilang gue ganggu lo?, lo pengen ya gue ganggu?" tanya Zidan bertubi-tubi sambil tersenyum.
"Dih siapa juga yang mau di ganggu sama kakak. Lagian kakak sering tau gangguin aku" ucap Hilya dengan wajah cemberutnya.
"Udah, tuh wajahnya jangan suka cemberut-cemberut, ntar lu cepat tua" ucap Zidan
"Masa iya gue punya istri wajahnya udah tua" sambung Zidan lagi
"Bagus dong kalau gitu, jadi gak usah nikah" ucap Hilya
Saat Zidan menghentikan mobilnya, Hilya baru sadar bahwa Zidan tidak membawanya ke rumah.
"Kakak ini di mana?, kok bukan rumah kakak?" tanya Hilya yang kebingungan
"Hehehe, tadi gue bohong. Sorry ya, habisnya kalau gue jujur li pasti gak bakalan mau" ucap Zidan
"Ihhh kakak, kenapa sih" teriak Hilya
"Aku mau pulang" Teriak Hilya lagi
"Suara lo cempreng banget sih" ucap Zidan yang mengusap telinganya.
"Lagian gue cuma bohongnya pas gue bilang ke rumah gue aja, sisanya gue jujur, gue udah minta izin sama om dan tante" ucap Zidan
"Lagian kita ngapain sih ke sini, ini rumah siapa lagi" ucap Hilya
"Udah turun aja dulu, gue gak bakal ngapa-ngapain lo kok" ucap Zidan yang turun dari mobil.
Dengan wajah kesel Hilya pun turun dari mobil.
"Ayok masuk" ucap Zidan
"Mau pulang aja deh" ucap Hilya
"Udah ayok, bentar doang" sahut Zidan yang menarik tangan Hilya.
Saat Zidan membuka pintu pagar banyak anak-anak yang berlari kearah Zidan dan memeluknya.
"Kak Zidannnn" teriak anak-anak tersebut dan memeluk pinggang Zidan
"Hey" sapa Zidan yang membalas pelukan dari anak-anak itu.
"Gimana kabar kalian?" tanya Zidan sambil tersenyum
"Baik kak" sahut mereka barengan.
"Wah bagus dong" sahut Zidan.
"Kakak cantik ini pacarnya kak Zidan ya?" tanya salah satu anak kecil yang bernama Syila
__ADS_1
"Iya, cantik kan" ucap Zidan yang langsung di anggukin oleh anak-anak tersebut.
"Hai kakak" sapa anak tersebut yang bernama Rama
"Hai" Sahut Hilya sambil tersenyum ramah.
"Kenalin nama kakak Hilya" ucap Hilya dengan ramah
"Hai kak Hilya" ucap mereka semua.
"Eh, Zidan kapan datang" Ucap seorang ibu yang baru datang
"Eh ibu, baru aja tadi" sahut Zidan sopan
"Ya udah masuk ngapain di depan pagar gitu" ucap Ibu tadi.
Zidan pun menggandeng tangan Hilya untuk masuk ke dalam.
"Duduk dulu ya, biar ibu bikinin minuman" ucap Ibu Minah
"Tidak usah bu, Zidan kesini cuma mau bawa calon istri Zidan buat main sama Syila, Anto, Sofi, Novi, Arfan dan Julian" Ucap Zidan sambil tersenyum.
"Oh jadi ini yang namanya Hilya, yang kamu ceritain sama ibu" ucap ibu Minah tersenyum
"Iya bu" sahut Zidan
"Sayang kenalin ini bu Minah, beliau yang merawat anak-anak yatim piatu" ucap Zidan
"Hai saya Hilya" ucap Hilya sambil bersalaman dengan ibu Minah
"Hai Hilya, MasyaAllah kamu cantik banget" ucap ibu Minah
"Hahah terimakasih bu" Sahut Hilya.
"Iya silakan" ucap Ibu Minah.
Zidan membawa Hilya ke halaman belakang.
"Kak Zidan" teriak anak-anak tersebut kecuali satu anak cowok yang hanya duduk di bawah pohon besar.
"Kak main yuk" ajak Syila
"Ayok" sahut Zidan dan berlari bermain bersama mereka.
Hilya hanya berdiri dan melihat Zidan yang main dengan anak-anak. Lalu mata Hilya kembali fokus ke salah satu anak yang duduk di bawah pohon tadi.
("*Ternyata di balik sikap reseknya kak Zidan baik juga ya, dia juga penyayang"batin Hilya yang terus menatap Zidan sambil tersenyum.
"Tapi siapa anak itu kenapa dia tak ikut main" batin Hilya yang beralih pandangan kearah anak tadi*).
Hilya pun menghampiri anak yang duduk di bawah pohon tersebut.
"Hai" sapa Hilya sambil tersenyum dan duduk dan samping anak tersebut.
"Kenalin nama aku Hilya" ucap Hilya pada anak tersebut
"Julian" ucap anak tersebut yang bernama Julian dengan nada cuek.
("Dih cuek banget sih ni bocah "batin Hilya)
"Kamu kenapa gak ikut main di sana?"tanya Hilya yang mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
"Gak" Sahut Julian.
Hilya tak menanyakan apapun lagi, dia takut akan membuat anak berumur 11 tahun itu risih.
"Kenapa diam?, tersinggung ya sama sikap cuek aku" tanya Julian yang membuat Hilya gelagapan.
"Hah.. eng...engg" ucap Hilya gugup dan langsung di sela oleh Julian
"Kalau kamu tersinggung dengan sikap cuek aku, maka pergilah. Aku sudah terbiasa sendiri" ucap Julian yang membuat pandangan kearah lainnya.
Hilya menatap Julian sejenak
"Engga, aku gak akan pergi" ucap Hilya
"Aku mau berteman dengan kamu" sambung Hilya
"Kamu sudah dewasa,ngapain berteman dengan anak kecil seperti ku" ucap Julian yang masih cuek
"Apa kamu gak punya teman?, heh kasian sekali" Sambung Julian yang meremehkan Hilya
"Aku punya kok teman, bahkan sahabat" sahut Hilya sambil tersenyum
"Kamu tau,melihat tingkah kamu seperti ini, aku jadi teringat saat pertama kali ketemu sama kak Zidan di kampus" ucap Hilya yang membuat Zidan beroleh pandangan kearah nya.
"Dia itu aslinya cuek, resek. aku aja terkejut melihat dia hari ini, dia begitu menikmati waktu bersama anak-anak itu" ucap Hilya yang sedikit berbisik.
"Kak Zidan selama di sini baik kok, dia sering bawakan kamu makanan" ucap Julian
"Lalu kenapa kamu tidak main dengan kak Zidan?" tanya Hilya
"Kamu tau rasanya kesepian?" tanya Julian yang membuat Hilya terdiam karena jelas dia tau bagaimana rasa kesepian.
"Aku penasaran kenapa orang tua ku membuang aku di sini, ibu Minah tidak pernah memberitahukannya pada ku, tapi aku sudah besar, jadi aku tau bahwa aku adalah anak yang tak di inginkan" ucap Julian
"Kamu tak boleh berbicara seperti itu" ucap Hilya
"Aku tau kamu akan berbicara seperti itu, karena kamu miliki orang tua yang sangat mencintai kamu" ucap Julian dengan tatapan kosong.
"Hey kamu tau, bunda kandung aku sudah meninggal, ayah ku menikah lagi. Aku sengat bersyukur karena om dan tante mengangkat aku jadi anaknya, jadi aku punya orang tua sekarang" ucap Hilya
"Aku tau rasanya kesepian, aku saja tak sanggup merasakan kesepian. Aku merasa bangga pada ku" ucap Hilya yang membuat Julian menatapnya.
"Apa aku akan seberuntung kamu nanti?, memiliki keluarga yang mau mengangkat aku menjadi anak mereka" ucap Julian
"Pasti ada, dan untuk sementara kamu boleh menganggap aku kakak mu" ucap Hilya sambil tersenyum dan membuat Julian juga ikut tersenyum.
"Hilya.....
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
__ADS_1
...----------------...
...----------------...