Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
10. MENGENAL LEBIH DEKAT


__ADS_3

Setelah menyantap menu yang sudah disiapkan, Para tamu satu persatu berpamitan pulang, tak lupa Bunda Lastri dan bunda Naya memberikan beberapa bingkisan berisi makanan ringan yang bisa disantap ditengah perjalanan pulang.


Di panti hanya tersisa keluarga inti Bu Rahma, begitu pula para tetangga yang membantu satu persatu juga pamit pulang.


Airin sudah selesai makan kue, bocah kecil yang belum genap berusia lima tahun itu beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil tisu untuk membersihkan mulut yang belepotan.


Setelah mengambil tisu Airin menoleh ke kanan dan ke kiri mencari mamanya yang tidak terlihat, pandangannya tertuju pada Nadhifa yang duduk di salah satu sudut ruangan dan sedang menikmati minuman di tangannya.


"Assalamualaikum Tante cantik" ucap Airin diiringi dengan senyuman.


"Waalaikum salam sayang, apa kamu juga mau minum?"tanya Nadhifa karna mengira Airin sedang haus.


"Aku tidak mau minum Tante" jawab Airin polos.


Nadhifa masih melanjutkan minumnya, menaruh gelas kosong di meja didepan dan melihat Airin yang masih menatap wajahnya.


Nadhifa kemudian mendekat duduk disamping Airin, mungkin ada sesuatu yang diinginkan gadis kecil ini.


"Tante cantik... Namaku Airin"ujar Airin setelah Nadhifa duduk disampingnya.


Nadhifa tersenyum mendengar ucapan Airin, kemudian mengangkat tubuh Airin dan mendudukkan di pangkuannya.


"Nama kamu cantik sayang sama seperti orangnya" ucap Nadhifa jujur karna memang wajah Airin terlihat cantik meskipun Airin masih kecil.


"Iya Tante cantik... terimakasih, Airin memang cantik dari dulu" Airin terkekeh mendengar ucapannya sendiri sambil menutup mulutnya.


Nadhifa hanya menanggapi ucapan lucu Airin dengan senyuman yang manis, Nadhifa yang sudah terbiasa berinteraksi dengan anak kecil bisa dengan mudah membuat Airin merasa nyaman didekatnya, sehingga membuat mereka berbicara lebih banyak dan sesekali tertawa mendengar ucapan Airin yang lucu.

__ADS_1


Ranti yang baru saja dari kamar mandi, melihat Nadhifa yang sedang memangku Airin, merasa senang sehingga bibirnya tersenyum lebar, ternyata benar kata sang mama bahwa gadis pilihannya adalah gadis yang penyayang.


Ranti menghampiri Bu Rahma dan kedua adik kembarnya, mengajak mereka untuk bergabung bersama Nadhifa dan Airin.


Anak anak panti sedang makan di belakang rumah panti, ditemani oleh bunda Lastri dan bunda Naya, sedangkan Zahra sudah pamit pulang.


Revan,Reno dan ayah Rahman sedang membahas rencana pernikahan yang akan dilaksanakan tidak lama lagi, ayah Rahman meminta supaya Revan dan Nadhifa cepat menikah, karena niat baik tidak baik jika ditunda-tunda.


Revan memberikan pernyataan bahwa siap menikahi Nadhifa kapan saja, mereka bertiga terus berdiskusi sehingga mendapatkan kesepakatan bahwa acara pernikahan akan dilakukan satu bulan lagi.


Mereka beranjak dari mushola menuju ke dalam rumah panti, untuk menyampaikan rencana pernikahan untuk meminta persetujuan dari para wanita didalam.


Saat kaki Revan telah sampai didepan pintu, mata teduhnya melihat dengan jelas bagaimana Nadhifa bisa bercengkrama dengan keluarga tercinta, apalagi saat melihat keponakan yang disayangi terlihat Sangat nyaman berada didekat Nadhifa.


Revan tersenyum tipis melihat pemandangan tersebut, kemudian melanjutkan kakinya menyusul ayah Rahman dan Reno yang sudah terlebih dahulu masuk menghampiri para wanita yang ada di sana .


Nadhifa mendekati bunda Lastri dan bunda Naya dan mengajak keduanya untuk bergabung kedalam.


Setelah semua sudah siap ayah Rahman mengucapkan rencana pernikahan pada Nadhifa, meminta persetujuan gadis itu. Nadhifa setuju saja dan hanya meminta supaya acara akad nikah dilakukan di panti.


Semua orangpun setuju, karena mereka mengerti keadaan Nadhifa yang tidak terlalu suka dengan kemewahan.


Begitupun Revan yang menyetujui permintaan dari calon istrinya.


Setelah pembahasan serius sudah usai, Airin mengajak Nadhifa untuk foto bersama, Nadhifa hanya mengiyakan dan memasang wajah dengan senyuman manis.


Tak mau kalah dengan keponakan cantiknya,kedua adik kembar Revan juga meminta Nadhifa untuk foto bersama, mereka berdua akan memamerkan calon kakak iparnya di media sosialnya.

__ADS_1


Nadhifa hanya tersenyum mengiyakan ajakan kedua anak kembar itu. Mereka membidikkan kamera berkali-kali.


Revan juga terlihat mencuri pandang pada wajah ayu Nadhifa, membuat Reno yang berada disampingnya mendekat dan berbisik pelan.


"Sabar bang,Kurang sebulan lagi" Ucap Reno dengan terkekeh pelan.


Revan hanya tersenyum menanggapi ucapan adik ipar sekaligus teman sekelasnya itu, hanya saja mereka dulu tidak terlalu dekat.


Reno yang tak banyak bicara begitu pula Revan,Revan hanya tahu jika Reno adalah anak yang baik, tak ada yang tahu takdir yang kuasa bahwa Reno menyukai Ranti dan melamarnya untuk menjadi istrinya.


Tentu saja Bu Rahma senang karena Bu Rahma ingin anaknya menjalin hubungan cinta dalam pernikahan sehingga semua yang dilakukan dapat bernilai pahala.


Revan menerima lamaran Reno karena menilai Reno bisa menjadi imam yang baik untuk adiknya, Revan juga tak masalah saat Ranti harus menikah terlebih dahulu.


Setelah itu mereka bersiap melakukan sholat dhuhur berjamaah di musholla sebelum keluarga Revan kembali pulang.


Sebelum pulang Airin memeluk erat tubuh Nadhifa, seakan tak mau berpisah dengan Tante barunya, Nadhifa hanya mengelus rambut Airin dengan lembut.


"Tante Airin pulang dulu ya" ucapnya.


"Iya, hati-hati ya" sahut Nadhifa dan mengecup pipi gembul Airin.


Nadhifa, bunda Lastri, bunda Naya dan ayah Rahman mengantarkan keluarga Bu Rahma sampai di depan jalan, saat kendaraan roda empat itu akan melaju, Reno menekan klakson untuk berpamitan diiringi Airin yang membuka jendela mobil, kemudian melambaikan tangannya pada Nadhifa.


Nadhifa tersenyum dan melambaikan tangannya, agak canggung saat mata indahnya tak sengaja menatap mata teduh Revan yang sedang memangku Airin.


Revan tersenyum dan menganggukkan kepala pada Nadhifa, Reno mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2