Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
26. TERIMA KASIH SAYANG


__ADS_3

Revan masih sibuk di ruang kerjanya, melihat laporan perusahaan yang dikirimkan oleh Rey, sesekali menyesap teh hangat yang disiapkan oleh istri tercinta, tak lupa ada sepiring kue brownies yang terhidang di atas meja.


Saat dirasa pekerjaan sudah selesai, Revan mematikan laptop dan berjalan menuruni tangga, melihat di ruang tamu, tak ada siapapun di sana.


Sayup-sayup terdengar tawa Bu Rahma, membuat Revan keheranan pasalnya Bu Rahma jarang tertawa seperti ini.


"Sepertinya mama ada di kamar" ucap Revan seraya melangkahkan kakinya menuju salah satu kamar yang ada di lantai satu rumah itu.


Pintu kamar Bu Rahma yang terbuka, membuat Revan yakin jika Bu Rahma memang ada di sana.


"Ma" seru Revan saat berada di depan mamanya.


Bu Rahma dan Nadhifa yang asyik bercerita tidak menyadari Revan yang sudah berdiri di depan mereka.


"Iya Revan, ada apa?" sahut Bu Rahma.


"Maaf mas, Dhifa gak bilang kalau mau kesini" sesal Nadhifa.


"Tak apa Dhifa, aku hanya penasaran karena mama tertawa lepas seperti itu" ucap Revan setelah duduk di samping Bu Rahma.


"Oh, ini tadi mama cuma kasih lihat Dhifa foto kamu waktu kecil" tutur Bu Rahma sambil menyodorkan sebuah album foto yang sedang dia pegang.


"Anak mama waktu kecil lucu kan Dhifa?" tanya Bu Rahma pada Nadhifa yang duduk disamping kanannya.


"Iya ma, mas Revan lucu" jawab Nadhifa seraya tersenyum.


"Mama jangan cerita yang aneh-aneh sama Dhifa" ucap Revan.


"Biarin aja, Dhifa itu istri kamu, dia berhak tau kebiasaan kamu waktu kecil" sahut Bu Rahma.


Revan mengangguk pasrah saat sang mama melanjutkan ceritanya, tak hanya itu Bu Rahma menunjukkan foto Revan waktu kecil sambil menceritakan kenangan saat foto itu di ambil, membuat Nadhifa tertawa kecil.


Revan memperhatikan interaksi diantara mereka, dalam hati Revan bersyukur karena Bu Rahma memilihkan istri yang baik untuknya, tak hanya itu Nadhifa juga memperlakukan Bu Rahma dan adik-adiknya dengan baik.


Revan sesekali tersenyum saat mendengar Bu Rahma menceritakan kejadian lucu saat Revan masih duduk di bangku taman kanak-kanak.


"Revan tak sengaja pernah memakan biji jeruk, waktu itu Revan sampai nangis tersedu-sedu membuat mama kebingungan, mama memeriksa tubuhnya takut ada luka, ternyata tak ada apa-apa"


"Papa Revan yang mendengar Revan menangis langsung mendatangi kami, dia menanyakan alasan Revan menangis, kamu tau apa yang dia katakan, Dhifa?" tanya Bu Rahma melihat Nadhifa yang masih penasaran kelanjutan ceritanya.


"Revan bilang seperti ini, pa tadi biji jeluknya levan makan, levan takut nanti buah jeluknya tumbuh di perut levan" ucap Bu Rahma sambil menirukan ucapan Revan yang masih cadel.


Nadhifa tertawa kecil saat mendengar cerita itu, tak menyangka jika Revan pernah selucu itu.


Revan hanya menggaruk tengkuknya yang gatal, tak menyangka jika mamanya masih ingat kejadian itu, padahal Revan sendiri lupa.


"Ydah ma, jangan cerita lagi, Revan malu" ucap Revan.


Bu Rahma tertawa melihat Revan yang terlihat salah tingkah.


"Baiklah,mama mau ke dapur dulu" ucap Bu Rahma meninggalkan keduanya.


Pria yang saat ini menggunakan kaos pendek berwarna navy mengajak istrinya untuk menghabiskan waktu di taman yang ada di depan rumah Revan, mereka duduk di bawah pohon rindang.

__ADS_1


"Nas Revan gak kerja?" tanya Nadhifa.


"Aku sudah lihat laporan yang dikirim sekertaris aku, tak ada yang penting" jawab Revan.


Nadhifa mengangguk, sesekali Nadhifa tersenyum membuat Revan keheranan.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Revan.


"Aku ingat cerita mama tadi" ucap Nadhifa.


"Dhifa jangan dibahas lagi, aku malu" ucap Revan.


"Maaf mas, habisnya mas Revan lucu" kekeh Nadhifa.


Ucapan Nadhifa membuat Revan tersenyum malu, usai menyelesaikan tawanya, Nadhifa terdiam.


"Maaf mas" ucap Nadhifa.


"Tak apa Dhifa" jawab Revan.


...


Revan sudah terduduk di atas ranjangnya, menanti Nadhifa yang sedang menyiapkan baju kerja untuknya.


"Mas Revan, mau pakai dasi yang mana?" tanya Nadhifa memperlihatkan dua dasi yang berbeda.


"Aku pakai apa saja yang kamu siapkan" jawab Revan tersenyum.


Usai meletakkan perlengkapan kerja Revan, Nadhifa menghampiri Revan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang cukup lelah.


"Udah?" tanya Revan.


Nadhifa mengangguk dan mulai merebahkan tubuhnya di samping Revan.


Revan mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur untuk menerangi malam mereka.


"Aku senang sekali mas" ucap Nadhifa tiba-tiba.


"Kenapa?" tanya Revan menolehkan kepalanya melihat Nadhifa yang berada di sampingnya.


"Karena di panti sudah ada yang menemani bunda Lastri" jawab Nadhifa seraya memiringkan tubuhnya melihat Revan sedang menatapnya.


"Aku lega, setidaknya Bunda Lastri ada yang menjaga" tutur Nadhifa.


"Kamu bisa kesana kapanpun kamu mau" ucap Revan mengusap lembut kepala Nadhifa.


"Terima kasih, mas" ucap Nadhifa tulus.


Revan mengangguk dan menatap wajah Nadhifa yang selalu terlihat cantik walaupun tanpa makeup membuat Revan takjub.


Revan memangkas jarak di antara mereka, mengusap pipi Nadhifa dengan lembut, membuat semburat merah menghiasi wajah cantik Nadhifa.


Kini ia mengecup kening Nadhifa cukup lama, mengalihkan kecupannya pada kedua mata indah istrinya, hidung mancung dan yang terakhir bibir manis Nadhifa yang sudah menjadi candu untuknya.

__ADS_1


Revan melakukan dengan sangat lembut, membuat Nadhifa secara refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Revan.


Tersenyum kecil saat melihat respon istrinya, ia mengulang kecupannya menikmati manis bibir Nadhifa, melakukannya berkali-kali membuat hawa tubuh Nadhifa semakin memanas lalu mengalihkan kecupannya pada leher jenjang Nadhifa, Revan melakukannya dengan sangat lembut.


Berhenti sejenak dan memandang wajah istrinya yang masih terpejam, Revan membelai lembut wajah cantik Nadhifa, membuat gadis itu membuka perlahan kedua matanya.


"Apa sekarang boleh?" tanya Revan saat tak bisa menahan dirinya lagi, tapi dia tak ingin memaksa Nadhifa.


Nadhifa mengangguk malu, membiarkan Revan mengambil haknya, toh ini memang sudah kewajibannya, Nadhifa memejamkan mata menikmati sentuhan lembut Revan di tubuhnya.


Untaian doa mengiringi kegiatan mereka berdua untuk menggapai indahnya surga dunia.


...


Revan memandangi wajah cantik wanita yang berada dalam dekapannya, terlihat sekali jika wajah itu begitu kelelahan, Revan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.


Nadhifa begitu cantik,wajah mulus dengan bulu mata lentik, hidung mancung dan bibir merah alami yang dimilikinya, membuat semua pria pasti akan tergoda, Revan bersyukur setidaknya istrinya menggunakan pakaian yang tertutup yang menyembunyikan tubuh indah di balik pakaian itu.


"Terima kasih sayang" ucap Revan mengecup puncak kepala istrinya.


Mengeratkan pelukannya, Revan memejamkan mata, tak lama diapun terlelap di samping istrinya.


Nadhifa membuka perlahan kedua matanya, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah dada bidang suaminya, membuat Nadhifa menampilkan senyum manisnya.


Nengelus wajah suaminya yang memang tampan, tak ada noda yang menghiasi wajah Revan, di tambah bulu-bulu halus yang menghiasi rahang kokohnya, tak hanya itu hidung mancung dan bibir merah juga menambah kadar ketampanan suaminya.


Wajah Nadhifa tiba-tiba merona saat mengingat kejadian beberapa jam lalu yang terjadi antara dirinya dan Revan.


Saat melihat jam yang akan mendekati waktu sholat subuh, Nadhifa memindahkan tangan Revan yang melingkari tubuhnya, membuat Revan terbangun.


"Mau kemana?" tanya Revan yang masih setengah sadar.


"Mau mandi mas, bentar lagi subuh" jawab Nadhifa.


"Tunggu di sini dulu" titah Revan.


Revan berjalan menuju kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk mengurangi nyeri yang pasti akan di rasakan oleh istrinya.


setelah semua siap, Revan mendekati Nadhifa yang masih melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Nau aku gendong?" tanya Revan.


"Tidak, mas. Aku bisa sendiri" jawab Nadhifa malu.


Nadhifa mulai berjalan pelan, bagian inti tubuhnya terasa begitu nyeri, membuat Nadhifa meringis kesakitan.


"Aku gendong saja ya, aku gak mau kamu kesakitan" ucap Revan yang tiba-tiba sudah menggendong tubuh Nadhifa, dapat Nadhifa lihat jika suaminya ini begitu cemas.


Nadhifa mengangguk malu, menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya, karna saat itu tak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.


Revan menurunkan Nadhifa dalam bathtub yang sudah ia siapkan.


"Mandilah, aku akan menyiapkan baju untukmu" titah Revan yang dibalas anggukan Nadhifa.

__ADS_1


__ADS_2