Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
58. PANIK.


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, kini perusahaan Revan sudah semakin berkembang berkat kerjasama dengan perusahaan besar seperti VAROSKI GROUP bahkan ada banyak perusahaan yang ingin bekerjasama dengannya.


Revan sudah semakin sibuk, ia dan Raihan berusaha dengan sebaik mungkin untuk mengembangkan perusahaannya, usaha keduanya tidak sia-sia, perusahaan Revan sudah semakin besar, Revan juga sudah membeli gedung yang lebih besar dari gedung yang pernah dimilikinya.


Hubungan Revan dan keluarganya masih tetap sama, tapi akhir-akhir ini Revan selalu pulang larut malam sehingga membuat Nadhifa khawatir, namun pria itu mengatakan jika ia baik-baik saja.


Revan membuka pintu rumahnya, ia melihat ada seseorang yang sedang sibuk di dapur, ia dapat menebak jika orang itu adalah istrinya.


" kamu belum tidur?" tanya Revan saat tiba di belakang istrinya.


Nadhifa tersentak, ia menyentuh dadanya yang berdetak kencang karna kaget.


" ya ampun mas, aku kaget tahu" ucap Nadhifa.


" kenapa belum tidur?" tanya Revan lagi, ia mengecup kening istrinya.


" aku nungguin kamu mas" sahut Nadhifa usai mencium punggung tangan suaminya.


tanpa diminta Revan menyesap sedikit demi sedikit minuman yang buatkan istrinya, tubuhnya terasa lebih segar setelah meneguk minuman hangat di tangannya.


" ayo ke atas"


keduanya berjalan menuju kamar, Revan membuka kemejanya dibantu Nadhifa, seperti biasa pria itu akan mandi setelah Nadhifa menyiapkan air hangat untuknya.


Nadhifa meraih handuk yang ada di tangan Revan, dengan sigap wanita itu membantu Revan menggosok rambutnya.


" maaf ya, akhir-akhir ini aku selalu pulang malam" ucap Revan penuh sesal.


" tidak perlu minta maaf mas, aku mengerti" sahut Nadhifa tersenyum.


Nadhifa beranjak, ia meletakkan handuk dan kembali menghampiri Revan yang sedang berbaring.


" mas Re ngantuk?" tanya Nadhifa setelah Revan masuk dalam pelukannya.


Revan mengangguk, tanpa diminta Nadhifa mengelus rambut suaminya yang masih lembab itu dengan lembut hingga ia tanpa sadar ikut terlelap.


Revan mengerjapkan matanya saat ia baru saja bangun, wajahnya terasa hangat saat nafas Istrinya membelai lembut wajahnya membuat Revan tersenyum kecil, ia mengarahkan pandangannya pada jam dinding yang ada di dinding kamarnya.


" sayang, ayo bangun" ucap Revan seraya mengelus pipi Nadhifa dengan lembut membuat Nadhifa semakin mengeratkan pelukannya.


Revan terkekeh melihat respon istrinya, dengan perlahan ia mendekati telinga Nadhifa dan berbisik.


" ayo sayang bangun, kalau tidak aku akan memakanmu sekarang"


Nadhifa membuka matanya saat mendengar bisikan Revan, ia dapat melihat wajah suaminya yang tersenyum tepat dihadapannya.


" mau bangun atau..." ucap Revan dengan menggantung ucapannya, ia sengaja ingin menggoda istrinya itu


Nadhifa segera duduk membuat Revan terkekeh geli.


" kenapa kamu langsung duduk? aku belum selesai melanjutkan perkataan ku" ucap Revan tertawa kecil.

__ADS_1


" aku sudah tahu apa yang mau mas Re katakan" sahut Nadhifa pelan.


" memangnya apa?" tanya Revan menggoda istrinya yang sedang menunduk.


" mas Re udah tahu, gak usah tanya" ucap Nadhifa lirih.


" ayo katakan" goda Revan menarik dagu istrinya supaya ia dapat melihat wajah Nadhifa yang pastinya sudah memerah.


Nadhifa mencubit pelan perut suaminya hingga membuat Revan meringis kecil.


" kenapa dicubit sayang?" tanya Revan.


" maunya gimana? digigit?" sahut Nadhifa kesal sekaligus malu.


Revan tertawa mendengar ucapan istrinya, ia mendekat dan mencium puncak kepala Nadhifa cukup lama.


" ayo sholat dulu" ucap Revan yang mendapat anggukan dari Nadhifa.


keduanya sholat tahajud seperti biasa dan dilanjutkan mengaji Alquran, Nadhifa akan membaca dan Revan yang akan menyimak bacaannya, sesekali membetulkan jika ada bacaan yang keliru. Setelah itu mereka akan turun ke bawah untuk melaksanakan sholat berjamaah di Mushola.


...


Saat ini Nadhifa dan Bu Rahma sedang berada didalam mobil, mereka berdua akan mengunjungi Zahra, usia kandungan Zahra sudah memasuki usia sembilan bulan, hanya menunggu beberapa hari bayi yang mereka nantikan akan segera lahir.


Nadhifa dan Bu Rahma sering mengunjungi Zahra, tak lupa membawa beberapa makanan yang mereka masak.


tak butuh waktu lama keduanya sudah sampai di depan rumah Zahra, dengan menenteng rantang di tangan kirinya Nadhifa menggandeng tangan Bu Rahma.


" assalamualaikum" ucap Bu Rahma dan Nadhifa.


" loh ada tamu, ayo masuk Bu" ucap bibi Zahra ramah, ia mempersilakan Bu Rahma dan Nadhifa duduk di kursi kayu yang ada di rumahnya, sementara ia ke dapur membuat hidangan untuk tamunya.


" Zahra ada bik?" tanya Nadhifa.


" ada di dalam" sahut bibi Zahra setelah meletakkan minuman dan makanan ringan di atas meja.


" kalau begitu Dhifa pergi kesana dulu ya" ucap Nadhifa.


" iya Dhifa" sahut bibi Zahra dan Bu Rahma.


Nadhifa membuka pintu kamar Zahra hingga ia dapat melihat Zahra yang sedang menata pakaian untuk bayinya, Nadhifa mendekat dan duduk disamping Zahra.


" Dhifa, kamu kesini?" ucap Zahra.


" iya Zahra, aku kangen banget sama kamu" sahut Nadhifa.


" Halah lebay" sahut Zahra tertawa.


Nadhifa ikut tertawa, ia membantu memasukkan pakaian bayi dan beberapa barang lain yang akan Zahra bawa saat ia melahirkan nanti, dengan senang hati Nadhifa mengemasnya dan menatanya dengan rapi.


setelah semuanya siap, Nadhifa duduk di samping Zahra yang sedang memijat pinggangnya.

__ADS_1


" kamu kenapa? apa ada yang sakit?" tanya Nadhifa khawatir.


" tidak apa-apa Dhifa, ini sudah biasa" sahut Zahra.


" boleh aku pegang perut kamu?" pinta Nadhifa, dengan senang hati Zahra mengangguk.


Nadhifa menyentuh perut Zahra dan mengelusnya dengan lembut, ia dapat merasakan pergerakan yang dilakukan bayi itu didalam rahim Zahra.


" Zahra, bayimu gerak-gerak" sahut Nadhifa antusias.


" iya Dhifa, apalagi kalau malam, aku sampai sulit tidur" sahut Zahra yang ikut mengelus perut buncitnya.


" tidak apa-apa, nikmati saja" sahut Nadhifa tersenyum.


" ya Allah, hamba juga ingin merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu yang mengandung dan melahirkan anaknya, namun semuanya ada dalam kuasa-Mu, berikanlah hamba kesabaran dan ketabahan untuk menerima semua takdir yang engkau berikan" ucap Nadhifa dalam hati, tak terasa ia meneteskan air mata mengenai punggung tangan Zahra membuat Zahra bertanya-tanya.


" Dhifa, kamu kenapa nangis?" tanya Zahra.


Nadhifa tersenyum dan menggeleng, ia memeluk sahabatnya itu dari samping.


" aku tidak apa-apa, aku tak menyangka sahabatku akan menjadi seorang ibu" tutur Nadhifa.


Zahra meringis saat perutnya terasa sangat sakit, tanpa sengaja ia mencengkram lengan Nadhifa membuat Nadhifa terbelalak.


" Zahra, kamu kenapa?" tanya Nadhifa panik.


" perutku sakit sekali Dhifa" sahut Zahra.


" bibi, mama, tolong Dhifa" ucap Nadhifa setengah berteriak.


bibi Zahra dan Bu Rahma memasuki kamar itu dengan sedikit berlari setelah mendengar teriakan Nadhifa.


" ya Allah, Zahra kenapa?" tanya bibi Zahra yang juga terlihat panik, wanita paruh baya itu bergegas menghampiri Zahra yang sedang kesakitan.


" sakit...bik" sahut Zahra di tengah-tengah rasa sakit yang menderanya.


" sebaiknya kita langsung ke rumah sakit saja" ucap Bu Rahma.


bibi Zahra mengangguk, ia dan Nadhifa memapah tubuh Zahra masuk kedalam mobil, sementara Bu Rahma mengambil tas yang sudah Zahra siapkan, Bu Rahma meminta pak Ratno untuk melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


" Dhifa, kamu hubungi Revan sekarang, beritahu Raihan jika Zahra akan melahirkan" tutur Bu Rahma.


Nadhifa mengangguk dan menghubungi Revan, dua kali ia mencoba namun Revan tidak mengangkatnya.


" mas Re, aku mohon angkatlah telponnya" ucap Nadhifa lirih.


pada panggilan ketiga akhirnya Revan mengangkat telponnya membuat Nadhifa lega.


" halo mas, ada dimana sekarang?" ucap Nadhifa.


" ada di kantor, baru saja selesai rapat, ada apa sayang?" sahut Revan keheranan, pasalnya Nadhifa sepertinya sedang panik.

__ADS_1


" tolong kasih tahu kak Raihan, Zahra sepertinya mau melahirkan, sekarang aku dan yang lain sudah ada dijalan, kami akan ke rumah sakit terdekat" ucap Nadhifa.


" baiklah, aku dan Raihan akan segera menyusul, kirimkan alamatnya ya" sahut Revan.


__ADS_2