Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
46. PESTA


__ADS_3

usai berpamitan pada Zahra dan orang-orang panti, keesokan paginya Nadhifa dan Revan pulang ke rumah Bu Rahma.


sepanjang perjalanan Revan sibuk mengemudikan mobilnya, namun ia selalu melirik Nadhifa yang duduk disampingnya.


jalanan mulai padat, terlihat beberapa polisi melakukan tugasnya dengan baik untuk mengatur lalu lalang kendaraan.


begitu pula lampu lalu lintas yang terpasang di beberapa sudut jalan.


" mas Re, kenapa lihatin Dhifa terus?" ucap Nadhifa saat lampu merah menghalangi laju kendaraan itu.


" gak apa-apa, maafkan aku ya" sahut Revan penuh sesal, ia masih ingat bagaimana ia mengacuhkan Nadhifa.


" udah, gak usah di bahas lagi" ucap Nadhifa mengelus punggung tangan Revan.


Revan mengangguk dan mengelus puncak kepala istrinya dengan sayang.


" terimakasih" ucapnya tulus.


" iya" sahut Nadhifa.


tak ada percakapan diantara mereka, kendaraan kemudian melaju membelah jalan raya yang selalu padat.


" Revan, kok udah pulang? katanya tiga hari?" ucap Bu Rahma yang melihat kedatangan Revan dan Nadhifa.


" iya ma, Revan mau cepat pulang soalnya kangen banget sama istri Revan yang cantik ini" sahut Revan seraya menggoda Nadhifa yang berdiri di sebelahnya.


Nadhifa menghadiahkan cubitan kecil di perut suaminya membuat Revan meringis.


" sakit sayang" ucap Revan memelas.


Nadhifa tak menjawab namun Revan dapat melihat wajah Nadhifa yang merona, Bu Rahma tersenyum melihat tingkah mereka.


" kalian masuklah dulu" titah Bu Rahma.


Revan dan Nadhifa mengangguk, keduanya memasuki rumah Bu Rahma dengan koper kecil yang Revan bawa.


...


seharian Revan dan Nadhifa menghabiskan waktu untuk berbaring di atas tempat tidur dengan lengan Revan dijadikan bantal oleh Nadhifa.


Nadhifa memejamkan matanya, sudah dua hari ia tidak tidur nyenyak karna memikirkan keadaan suaminya, namun sekarang ia sangat bersyukur Revan sudah ada disampingnya bahkan ia dapat memeluk tubuh Revan yang selalu ia rindukan.


" kamu masih ngantuk?" ucap Revan, pria itu hanya sibuk memandangi wajah cantik Nadhifa, dua hari ia lalui begitu lama karna ia tak mendapatkan kabar dari Nadhifa.


" iya mas, aku di sana gak bisa tidur nyenyak" sahut Nadhifa, ia membenamkan wajahnya di dada bidang Revan yang dibalut kaos rumahan.


" kenapa?" ucap Revan.


" aku kepikiran mas Re" jawab Nadhifa.


" maaf ya" ucap Revan.


" udah, jangan minta maaf terus, aku juga salah, aku ceroboh karna ninggalin ponsel di sini" ucap Nadhifa


" maafin aku juga mas" imbuhnya.


" iya sayang" sahut Revan, ia juga memejamkan matanya yang terasa begitu lelah hingga ia terlelap menyusul Nadhifa terbang ke alam mimpi.

__ADS_1


...


" ada apa bro?" ucap Revan, ia sedang berdiri di balkon kamar untuk menerimanya panggilan di ponselnya.


" kapan?"


" baiklah akan aku usahakan, kirimkan alamatnya"


Nadhifa datang, membawakan teh hangat dan beberapa makanan ringan yang dibuat oleh bik Minah.


" ini mas minumnya" ucap Nadhifa.


" terimakasih" sahut Revan, pria itu meneguk perlahan teh hangat yang Nadhifa buatkan untuknya.


" Minggu depan kita tidak bisa ke panti dulu, soalnya ada acara nikahan salah satu teman sekelas ku"ucap Revan.


" aku dan sahabatku yang lain juga diundang" imbuhnya.


" iya, aku ngerti mas, gak apa-apa aku di rumah saja sama mama dan si kembar" sahut Nadhifa.


" tidak sayang, kamu harus ikut" ucap Revan.


" gak ada yang aku kenal di sana mas" sahut Nadhifa.


" nanti istri dari sahabat aku ikut semua" ucap Revan.


" beneran?" tanya Nadhifa.


Revan mengangguk, ia kemudian mengajak Nadhifa untuk turun ke bawah karena waktu sholat akan segera tiba.


...


Revan dan Nadhifa sudah tiba di alamat yang dikirimkan Danu, ternyata sebuah gedung besar yang menjadi tempat resepsi pernikahan.


keduanya terlihat begitu serasi dengan setelan berwarna senada, navy dan abu-abu.


Revan menggunakan pakaian formal dengan jas berwarna navy dan kemeja abu-abu muda.


sedangkan Nadhifa menggunakan gaun berwarna abu-abu muda dan hijab warna navy.


Revan dan Nadhifa sudah sampai di sebuah ruangan yang dijadikan tempat pelaminan, keduanya berjalan beriringan dengan tangan Nadhifa yang memegang lengan Revan.


warna biru dan putih mendominasi ruangan itu, terdapat beberapa bunga mawar putih yang tertata dengan cantik, ada juga beberapa hiasan yang menambah keindahan ruangan itu.


mereka berjalan percaya diri dengan senyum berkembang saat ada teman Revan yang menyapa mereka.


" ayo kita kesana" ucap Revan menunjuk para sahabatnya yang sedang menikmati hidangan pembuka di salah satu meja bundar yang tersedia.


Nadhifa menoleh, ia dapat melihat wajah-wajah yang ia kenal, setidaknya ada yang Nadhifa kenal di tempat itu.


" ayo mas" ucap Nadhifa.


kedatangan mereka disambut dengan hangat oleh Rio dan yang lain, hampir satu bulan mereka tidak dapat berkumpul karena sibuk dengan urusan masing-masing.


begitu pula para wanita yang menyambute Nadhifa dengan cipika cipiki, tak hanya itu pujian juga mereka berikan pada istri Revan yang terlihat begitu anggun.


Nadhifa sudah terlihat tidak canggung lagi karna ada beberapa orang yang ia kenal.

__ADS_1


usai bercengkrama mereka memutuskan untuk memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai yang sedang berbahagia.


" selamat ya, semoga langgeng" ucap Revan.


" thanks Van, dia siapa?" ucap sang pengantin pria.


" dia Nadhifa istriku" jelas Revan.


Nadhifa mengangguk tersenyum, ia mengatupkan kedua tangannya.


" saya Nadhifa, istrinya mas Revan" ucapnya.


" jadi kamu udah nikah? kok gak ngundang aku?" ucap pengantin pria itu lagi.


" istriku hanya mau acara sederhana" sahut Revan.


sahabat Revan yang lain juga memberikan selamat pada pasangan pengantin baru itu, setelahnya mereka turun dari atas pelaminan.


mereka kembali duduk di tempat semula, berbincang ringan membahas masa-masa saat mereka kuliah, Nadhifa hanya mendengarkan dan tersenyum saat mereka membahas sesuatu yang sedikit lucu.


Nadhifa beruntung karna istri dari para sahabat suaminya adalah wanita-wanita yang baik.


perhatian semua undangan tertuju pada pasangan yang baru saja tiba, seorang pria terlihat tampan dengan pakaian formal yang berkelas begitu pula sang wanita yang berjalan anggun di sampingnya, gaun berwarna merah menyala menambah kesan seksi wanita itu.


Revan melihat sekilas kemudian kembali menyantap hidangan yang ada di hadapannya.


para sahabat Revan berpandangan, mereka tak menyangka akan bertemu dengan wanita itu disini, tapi melihat respon Revan yang seakan tak peduli membuat mereka sedikit lega.


" siapa mereka ?" ucap Nadhifa dalam hati karna melihat tatapan semua tamu undangan berpusat pada kedua insan yang baru saja tiba.


kedua orang itu berjalan menghampiri pasangan pengantin baru yang sedang duduk di pelaminan.


Revan melihat Nadhifa yang sedang memperhatikan pasangan yang baru datang itu.


" kenapa gak dimakan?" ucap Revan.


" gak apa-apa mas" sahut Nadhifa.


" mereka siapa mas?" ucap Nadhifa menunjuk pasangan yang baru saja datang itu dengan dagunya.


" teman kuliah" sahut Revan datar, sejujurnya ia sudah tak ingin melihat dua orang itu lagi.


" mas Revan kenapa? sepertinya gak suka aku bahas mereka" ucap Nadhifa dalam hati.


Nadhifa melanjutkan makannya, ia melihat Revan yang seperti ingin pergi dari acara ini.


" mas ayo pulang" ucap Nadhifa.


" kenapa? acaranya belum selesai" sahut Revan mengernyitkan dahinya.


" aku ngantuk" ucap Nadhifa berbohong.


Revan menuruti permintaan istrinya walaupun merasa agak aneh karna ini masih belum jam tidur Nadhifa.


" baiklah, kita pamit dulu" ucap Revan.


mereka berdua berjalan menuju pintu keluar usai berpamitan pada sahabat Revan dan kedua mempelai namun suara Bariton menghentikan langkah keduanya.

__ADS_1


" tuan Revan"


__ADS_2