
Aroma makanan yang sudah berpindah ke dalam sebuah rantang terasa begitu menggoda, seorang wanita sesekali mengelap keringat yang membasahi dahinya, senyumnya berkembang usai memastikan makanan yang dibawanya sudah siap.
Tersenyum senang, ia melangkahkan kaki menuju kamar untuk membersihkan diri usai kurang lebih satu jam ia berkutat di dapur.
Tanpa bantuan siapapun, ia memasak khusus untuk suami tercinta, tak lupa brownies rasa pandan kesukaan suaminya sudah berbaris rapi di salah satu rantang yang ia bawa.
Meraih gamis berwarna cokelat tua, ia bergegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan keringat yang menempel di tubuhnya.
Menghabiskan waktu beberapa menit, ia keluar bersamaan dengan dering ponsel yang terletak di salah satu sudut meja rias.
Dengan senyum berkembang, ia mengangkat video call yang saat ini terhubung dengan seorang pria yang terduduk di kursi kerjanya.
"Kamu udah siap?'' ucap pria itu usai menjawab ucapan salam yang terlontar dari wanita cantik di hadapannya.
"Udah mas, mau pakai hijab dulu" sahut wanita itu yang masih sibuk mengambil hijab dan mulai memakainya setelah mengikat rambutnya.
"Baiklah, aku tunggu disini, kabari aku jika sudah sampai" ucap pria itu.
"Iya mas Re, tenang saja" sahut wanita yang sudah terlihat anggun dengan pakaian tertutup yang membalut tubuhnya.
Melangkahkan kaki untuk menuruni tangga, senyuman yang membingkai wajahnya membuat paras ayu itu semakin menawan.
"Bik, aku mau ke kantor mas Revan ya" pamit Nadhifa usai mengambil rantang makanan yang sudah ia siapkan.
"Iya non, hati-hati" sahut bik Minah yang masih sibuk membersihkan buah dan sayur yang baru saja ia beli di pasar.
mengangguk pasti, wanita itu berjalan dengan anggunnya menghampiri sang mama mertua yang sedang asyik menyiram bunga mawar, tak hanya itu, wanita paruh baya itu juga dengan telaten membersihkan daun kering yang berjatuhan.
"Ma, Dhifa pamit pergi ke kantor mas Revan ya" ucap wanita itu ketika berdiri di samping mama mertuanya.
"Iya, hati-hati, kamu minta antar pak Ratno kan?" ucap wanita paruh baya seraya menampilkan senyum manisnya.
"Iya ma, kalau begitu Dhifa pamit dulu ya" meraih tangan ibu mertua, dan mengucapkan salam.
melanjutkan pekerjaannya, Bu Rahma masih setia merawat bunga mawar yang sudah beberapa tahun menemani harinya, saat anak-anaknya sibuk dengan urusan mereka, hanya di tempat inilah Bu Rahma bisa menghabiskan waktu berjam-jam.
Ia bisa merasa tenang, sebab udara sejuk yang berhembus di tempat itu dapat membuat hatinya bahagia, entah karena apa, yang pasti merawat bunga mawar adalah hobinya.
...
Nadhifa sudah berdiri di depan gedung, yang pernah ia singgahi sebelumnya, usai meminta pak Ratno menunggu, ia meraih ponsel untuk menghubungi suaminya, namun tak ada jawaban membuatnya berjalan dengan perlahan untuk menghampiri resepsionis yang sedang melaksanakan tugasnya.
"Maaf, bisa saya bertemu dengan pak Revan" tutur Nadhifa dengan sopan.
"Tunggu sebentar Bu, sepertinya pak Revan tadi masih keluar" sahut wanita itu tak kalah sopan, tak lupa senyum yang harus selalu tersungging di bibirnya.
"Baiklah" Nadhifa menurut dan berjalan untuk menunggu di kursi panjang yang sudah tersedia.
Ketika hendak duduk, ada seorang wanita yang dengan sengaja menyenggol tubuhnya, hampir saja Nadhifa terjatuh, namun ia bisa masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Maaf, saya tidak sengaja" ucap Nadhifa, wanita itu berinisiatif untuk meminta maaf terlebih dahulu, karna merasa mungkin memang ia yang salah.
__ADS_1
"Jalan itu pakai mata" ucap wanita itu dengan pandangan tajam, seakan ingin menerkam Nadhifa hidup-hidup.
"Maaf" ucap Nadhifa pelan,ia tak ingin menjadi pusat perhatian karyawan yang berlalu lalang di sana, karna saat itu adalah jam istirahat makan siang.
Wanita cantik yang menggunakan lipstik berwarna merah menyala melengos dan berjalan dengan berlenggak lenggok meninggalkan Nadhifa yang masih terduduk di kursi tunggu.
Tak lama terdengar derap langkah kaki yang mendekat membuat Nadhifa yang masih sibuk menelepon suaminya menoleh, terlihat pria tampan yang dirindukannya sudah berdiri di hadapannya.
"Kamu sudah lama?" ucap Revan.
"Tidak mas, baru saja" sahut Nadhifa dan mulai berdiri di samping pria yang saat ini terlihat tampan dengan jas hitam yang membalut tubuhnya.
"Ayo kita ke atas" ajak Revan yang langsung menggandeng mesra tangan istrinya.
Resepsionis yang melihat interaksi keduanya cukup kaget, padahal yang mereka tahu jika bos mereka anti dengan wanita.
Namun yang kini mereka lihat, bosnya bahkan memperlakukan wanita itu dengan lembut, dan senyuman ia tampakkan kala berbicara dengan wanita itu.
"Apa benar yang aku lihat ?" ucap resepsionis yang berambut pendek.
"Iya, kemarin juga ada yang kasih tau aku, kalau ada wanita cantik yang nyari pak Revan" jelas resepsionis yang lain.
"Apa mungkin pacar pak Revan?" ucap mereka serentak.
"Entahlah, kita tunggu saja "
...
Revan dan Nadhifa berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke ruangan kerja Revan.
berbanding terbalik dengan Nadhifa yang tak sungkan untuk menampilkan senyuman saat berpapasan dengan mereka.
"Mas Re dari mana?" ucap wanita itu ketika keduanya sudah memasuki lift.
"Tadi aku nyari minuman yang segar buat kita, soalnya aku lagi pengen minum jus" jelas Revan seraya memamerkan dua porsi minuman yang sejak tadi ia bawa.
Nadhifa mengangguk dan membiarkan Revan menuntunnya untuk memasuki ruang kerjanya.
"Kamu bawa apa hari ini?" ucap Revan sesaat setelah keduanya duduk di atas sofa.
"Aku tadi buat ayam rica-rica, mas" jelas Nadhifa dan mulai mengeluarkan satu persatu susunan rantang yang ia bawa.
"Aromanya menggoda, aku jadi gak sabar mau malam" ucap Revan mengundang senyum kecil di bibir istrinya.
"Baiklah, suamiku yang tampan, ini makan siang untuk hari ini" tutur Nadhifa menyodorkan sebuah sendok di tangan Revan.
"Tidak mau" ucap Revan.
"Kenapa? apa mas Re tidak suka?" ucap Nadhifa dengan wajah yang mendadak sedih.
"Bukan sayang, aku mau hari ini kau menyuapiku" ucap Revan sambil mengelus pipi istrinya dengan lembut.
__ADS_1
Wajah cantik Nadhifa kembali ceria saat mendengar ucapan suaminya, senyum Revan juga terbit saat istrinya kembali ceria.
Mengambil sendok yang tersedia, Nadhifa mulai menyendok nasi dan ayam rica-rica yang ia bawa
"Ayo Aaa..." ucap Nadhifa dengan menyodorkan sendok itu ke hadapan Revan.
Dengan semangat Revan menerima suapan itu, mengunyah secara perlahan, menikmati nikmatnya ayam rica-rica yang dimasak istrinya.
"Gimana mas? enak apa nggak?" tanya Nadhifa yang masih khawatir mengecewakan suaminya.
"Enak sekali, ayo kamu juga harus makan" ucap Revan dan mengambil alih sendok di tangan istrinya, dan mulai menyuapi wanita di hadapannya itu.
Mereka melanjutkan makan sampai nasi yang dibawa Nadhifa sudah habis.
Revan meminum jus jeruk yang sudah ia buka, dan menyodorkan jus sirsak saat istrinya sudah meminum air mineral.
"Kamu bawa brownies pandan juga?" tanya Revan yang tak percaya jika istrinya masih sempat membuatkan cemilan untuknya.
"Kalau brownies pandan nya, aku minta tolong bik Minah mas" jelas Nadhifa.
"Jadi kamu masak ayam rica-rica ini sendiri?" ucap Revan yang mengundang anggukan dari wanita di hadapannya.
"Di panti, kami jarang makan ayam mas, tapi kalau ada rejeki, pasti bunda buat ayam rica-rica, soalnya adik-adik suka" jelas Nadhifa.
Revan mengangguk dan mulai melahap brownies pandan yang ada di hadapannya, aromanya begitu menggoda indera penciuman pria itu.
Merapikan rantang yang sudah kosong, Nadhifa bersiap pulang, usai membersihkan tangan ia menghampiri suaminya untuk bersalaman.
"Mas Re, aku pulang dulu ya" ucap Nadhifa setelah mendudukkan diri di samping Revan.
"Kasih aku semangat dong" pinta Revan, mengernyitkan dahi mendengar ucapan suaminya, Nadhifa tak sadar jika wajah Revan berada cukup dekat dengannya.
"A..apa?" ucap Nadhifa yang tiba-tiba tergagap.
Menyodorkan pipi kanannya, Revan seakan memberi perintah untuk istrinya itu.
"Ayo sayang, biar aku semangat kerjanya" ucap Revan.
"Mas Re merem dulu ya" sahut Nadhifa malu-malu.
Menuruti perkataan istrinya, Revan menutup mata dan merasakan ciuman singkat istrinya pada pipinya.
"Yang satunya juga sayang" ucap Revan kembali membuat wajah Nadhifa merona.
Mendekati wajah suaminya, Nadhifa kembali memberikan ciuman singkat di pipi suaminya.
"Terima kasih" ucap Revan menampilkan senyum manis yang jarang ia tujukan pada orang asing hingga membuat istrinya semakin berdebar.
Mendaratkan ciuman hangat di kening istrinya, Revan merasa begitu tenang saat wanita itu bersamanya.
"Ayo, aku antar kamu ke bawah" ucap Revan dan memulai langkah untuk mengantar istri tercinta ke bawah.
__ADS_1
Nadhifa hanya mengangguk pasrah, dan mengikuti langkah kaki suaminya.
"Dhifa" ucap seseorang yang baru saja datang, membuat kedua orang itu berhenti.