
Seperti biasa, hari Minggu Nadhifa dan suaminya mengunjungi panti, tak lupa dengan barang bawaan mereka berupa makanan dan baju untuk anak panti.
Usai dengan kegiatannya, Nadhifa mengajak Zahra untuk jalan-jalan seperti Minggu kemarin, gadis seusia Nadhifa itu sangat bersemangat untuk menghabiskan banyak waktu dengan sahabatnya.
Perjalanan menuju mall terasa singkat bagi kedua wanita yang tak henti bercerita, mereka terlalu asyik hingga tak menyadari saat kendaraan yang mereka tumpangi sudah terparkir di tempat yang seharusnya.
Revan membiarkan istrinya jalan bersama Zahra, ia meminta izin untuk menelpon seseorang, ia tersenyum saat panggilan telepon sudah diangkat apalagi orang itu bersedia untuk menyusul mereka kesana.
"Semoga semua berhasil" ucap Revan pelan, ia kembali mendekati kedua wanita yang saat ini sibuk memilih buku-buku yang akan mereka bawa.
"Mas Revan mau beli juga?" ucap Nadhifa saat melihat suaminya juga ikut memilah buku yang tersusun rapi.
"Aku bantu pilih buku bagus buat kamu" sahut Revan yang masih sibuk mencari bacaan yang bagus dan sesuai dengan keinginan istrinya.
Ia tahu jika istrinya lebih suka bacaan yang romantis, maka ia memilih novel yang menurutnya bagus.
Nadhifa tersenyum melihat suaminya yang selalu mendukung hobinya, wanita itu kembali berkutat dengan buku-buku di tangannya.
Zahra juga asyik memilih bacaan yang sama dengan Nadhifa, mereka punya hobi membaca novel.
...
Mereka bertiga kini sudah ada di white cafe, usai berburu buku yang mereka inginkan Revan mengajak kedua wanita itu untuk menghilangkan dahaga dan mengisi perut yang sudah keroncongan.
"Maaf pak, saya terlambat" terdengar suara laki-laki membuat ketiganya menoleh.
Revan dan Nadhifa bersikap biasa, pasangan suami istri itu menyuruh Rey untuk duduk di kursi yang masih kosong.
Namun berbeda dengan Zahra, gadis itu menjadi sangat canggung saat Rey duduk di kursi yang berada tepat di sampingnya.
"Kita makan dulu Rey" ucap Revan dan memanggil pelayan untuk mencatat makanan yang mereka pesan.
Rey hanya mengangguk, ia sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi situasi seperti ini, kesempatan ini sudah ia nantikan sejak dulu.
Pelayan datang dan menata hidangan di atas meja, Revan mempersilahkan semuanya untuk menyantap makanan yang ada di hadapan mereka.
...
"Mas Re punya rencana apa?" ucap Nadhifa saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
Usai makan, keduanya meninggalkan Zahra dan Raihan berdua dengan alasan ada acara mendadak.
"Sebenarnya aku menyuruh Rey datang supaya ia mengatakan kembali perasaannya pada Zahra, ia juga harus menjelaskan alasan dia menjauh supaya Zahra bisa mengerti jika perasaan Rey tidak main-main, aku melihat cinta yang tulus saat Rey menceritakan semuanya padaku" jelas Revan panjang lebar.
__ADS_1
Nadhifa mengangguk setuju, ia sangat mendukung jika ada hubungan serius yang terjalin di antara mereka, terlebih keduanya terlihat sangat cocok.
"Semoga saja berhasil mas" ucap Nadhifa.
...
Usia pernikahan Revan dan Nadhifa sudah memasuki usia lima bulan, banyak hal yang sudah terjadi diantara mereka, mereka sudah mengenal kepribadian masing-masing, namun yang maha kuasa masih belum percayakan hadirnya buah hati diantara mereka.
Pagi ini Bu Rahma mengajak Nadhifa untuk berbelanja, dengan senang hati Nadhifa mengiyakan permintaan mertuanya.
Nadhifa merasa keheranan karena biasanya Bu Rahma akan berbelanja bersama bik Minah, baru kali ini ia diajak berbelanja kebutuhan dapur.
"Kamu tau, kenapa mama ngajak kamu?" ucap Bu Rahma saat keduanya sudah tiba di pasar tradisional, memang Bu Rahma lebih suka berbelanja di pasar karna menurutnya bahan yang ada di tempat itu selalu segar.
"Gak tau ma" sahut Nadhifa yang masih mengikuti langkah kaki ibu mertuanya.
" Revan kan besok ulang tahun, jadi mama mau buatin tumpeng dan kue seperti biasa" sahut Bu Rahma yang membuat Nadhifa terkesiap.
"Iya ma" ucap Nadhifa gugup, ia merasa tak enak hati karena melupakan hari kelahiran suaminya.
Mereka berkeliling membeli bahan yang dibutuhkan hingga menghabiskan waktu hampir dua jam, tak lupa membeli kebutuhan dapur yang kebetulan banyak yang kosong.
Suara dering ponsel terdengar saat Nadhifa masih sibuk membuat adonan kue di dapur, di sana juga ada Bu Rahma dan bik Minah yang sibuk meracik bumbu.
"Waalaikum salam mas" ucap Nadhifa saat mendengar ucapan salam.
Bu Rahma tersenyum, melihat Nadhifa melakukan perintahnya, ia kembali mengiris bahan makanan yang di perlukan untuk mempercantik tumpeng buatannya.
Nadhifa kembali meletakkan ponselnya di saku gamisnya, ia kembali membuat adonan kue black forest untuk suaminya.
...
Revan merasa sangat lelah hari ini, banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, ia tiba di rumah hampir tengah malam.
Membuka pintu utama, Revan mengernyit heran karna semua lampu di rumahnya padam, ia juga tak mendapati sang istri menyambut kedatangannya.
Lampu menyala usai Revan menyalakan saklar, bersamaan dengan ucapan selamat ulang tahun yang diucapkan semua penghuni rumah itu.
Revan menatap tak percaya pada istrinya yang sedang membawakan kue black forest di tangannya dengan lilin bertuliskan angka 31.
Lalu Bu Rahma, si kembar, Ranti dan suami, serta bik Minah dan pak Ratno datang menyanyikan lagu ulang tahun.
Revan tersenyum haru, ia sangat bahagia saat seluruh keluarganya berkumpul untuk mendoakan yang terbaik untuknya.
__ADS_1
Perlahan ia mendekati istrinya, ia sudah di kelilingi oleh orang-orang terdekatnya, ia pun meniup lilin usai membuat permintaan sesuai perintah Bu Rahma.
Mereka satu persatu mendekati Revan dan mengucapkan selamat ulang tahun, tak lupa doa terbaik mereka panjatkan untuk pria yang sudah memasuki usai kepala tiga.
"Terima kasih semua" ucap Revan tulus, iapun memotong kue itu usai Bu Rahma menyodorkan sebuah pisau kue untuknya.
Potongan pertama ia berikan pada Bu Rahma, lalu untuk potongan kedua ia berikan kepada istrinya.
semua orang sudah mendapatkan kue mereka, lalu Bu Rahma mengajak mereka untuk makan bersama.
Di atas meja sudah ada tumpeng dengan berbagai macam lauk yang berada di pinggirnya.
Bu Rahma memberikannya puncak tumpeng itu pada Revan, dan mempersilahkan semua orang yang ada di sana untuk menyantap hidangan yang sudah tersedia.
...
Revan baru saja berbaring di ranjang, tubuhnya sangat lelah, Nadhifa duduk dan membuka sepatu serta kaos kaki yang masih dipakai Revan.
Wanita itu mengeluarkan baju tidur suaminya dan meletakkannya di atas ranjang, ia beranjak menuju kamar mandi dan menyiapkan air hangat.
"Mas Re, air hangatnya sudah aku siapkan" ucap Nadhifa usai duduk di samping suaminya yang masih berbaring.
"Mana kado untukku?" ucap Revan, pria itu meletakkan kepalanya di atas paha istrinya.
"Maaf mas, aku lupa gak beli kado" sahut Nadhifa sedih, ia mengelus rambut suaminya.
"Tak usah sedih, kamu tahu adanya kamu di hidupku sudah menjadi kado terindah untukku" ucap Revan, ia mengelus puncak kepala istrinya.
"Tapi aku gak enak mas, seharusnya aku beri kado yang spesial buat mas Re" sahut Nadhifa.
"Ada satu hal yang bisa kamu lakukan untukku, aku akan sangat senang jika kamu mau melakukannya" ucap Revan membuat Nadhifa tersenyum senang.
"Baiklah, untuk suamiku yang tampan, istrimu ini akan Melakukan yang kamu inginkan sebagai kado ulang tahun" sahut Nadhifa mantap.
ia tak melihat senyum misterius yang di tampakkan suaminya.
"Beneran?" ucap Revan.
"Iya mas, ayo katakan padaku" ucap Nadhifa yang bersemangat.
"Janji, ya"
"Iya, Mas," sahut Nadhifa mantap.
__ADS_1
Revan berdiri dan membuka salah satu pintu lemari, ia mengeluarkan sebuah baju yang membuat istrinya terbelalak.
"Ini?" tanya Nadhifa tak percaya melihat apa yang disodorkan oleh suaminya.