
" tuan Revan"
panggilan itu membuat Revan dan Nadhifa berhenti dan berbalik.
Revan dapat melihat seorang pria yang ia kenal sedang melihatnya dengan tatapan sinis.
" maaf, tuan Dirga ada apa?" sahut Revan sopan.
Nadhifa hanya diam, ia baru sadar jika dua orang yang berdiri dihadapannya adalah sepasang manusia yang menjadi pusat perhatian tamu undangan tadi.
" tidak ada apa-apa, hanya ingin melihat bagaimana keadaan pria pecundang sepertimu?" ucap Dirga.
" seperti yang anda lihat, saya baik-baik saja" ucap Revan tenang.
Revan tahu jika saat ini Dirga sedang memancing amarahnya, namun Revan tidak akan mudah terprovokasi oleh tindakan pria itu.
" jadi ini istrimu?" ucap wanita bergaun merah menyala yang sejak tadi bergelayut manja di lengan Dirga.
" iya, dia istriku" sahut Revan, ia menarik pinggang Nadhifa hingga keduanya cukup dekat.
" aku tidak percaya kamu bisa melanjutkan hidupmu " ucap wanita itu dengan nada mengejek.
" aku pikir kamu trauma untuk memulai hubungan dengan seorang wanita" imbuhnya tersenyum miring.
" saya tidak pernah mempermasalahkan apa yang yang terjadi di masa lalu, namun saya sangat beruntung bisa mendapatkan wanita yang sangat baik seperti istri saya" ucap Revan tenang, ia memandang wajah Nadhifa dengan tersenyum.
Nadhifa yang tak mengerti apa-apa, hanya membalas senyuman Revan.
" baiklah, tuan dan nona saya akan pulang terlebih dahulu, permisi" ucap Revan, ia menggandeng mesra tangan Nadhifa untuk meninggalkan kedua manusia yang selalu menghinanya.
...
di dalam mobil Revan dan Nadhifa hanya diam, Nadhifa melirik Revan yang sedang terlihat sibuk mengemudikan mobilnya menuju rumah, wajah Revan terlihat dingin membuat Nadhifa sedikit takut.
" mas" ucap Nadhifa pelan.
" ada apa sayang?" sahut Revan, ia melihat sekilas ke arah Nadhifa.
" aku mau tanya sesuatu, boleh?" tanya Nadhifa penuh hati-hati.
" kita bahas di rumah saja ya" jawab Revan, ia mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut.
...
__ADS_1
" mas" ucap Nadhifa.
" apa yang mau kamu tanyakan?" Revan mendudukkan tubuhnya disamping Nadhifa yang saat ini berada di pinggir ranjang.
Nadhifa terlihat ragu, ia merubah posisi duduknya untuk menghadap Revan.
" jangan marah ya" ucap Nadhifa dengan mimik yang menurut Revan begitu menggemaskan.
" iya sayang, mau tanya apa sih?" sahut Revan menarik pelan hidung Nadhifa membuat Nadhifa cemberut.
" dua orang tadi itu siapa?" ucap Nadhifa.
" akan aku jelaskan, tapi kita rebahan saja" sahut Revan, ia menyuruh istrinya untuk berbaring disampingnya.
" mereka itu teman aku waktu kuliah" ucap Revan memulai ceritanya.
" tapi aku lihat sepertinya mereka tidak suka padamu mas, kenapa?" timpal Nadhifa.
" sebenarnya perempuan tadi adalah mantan pacarku" ucap Revan hati-hati.
" apa?" ucap Nadhifa terbelalak, ia tak menyangka perempuan itu adalah mantan pacar suaminya.
" mas Re udah ngapain aja sama perempuan itu?" ucap Nadhifa cemberut, ia tak bisa membayangkan apa yang pernah terjadi diantara mereka berdua.
" udah jangan diteruskan lagi ceritanya" ucap Nadhifa yang merasa kesal, ia dengan cepat membalik tubuhnya untuk membelakanginya Revan.
Revan tertawa kecil melihat respon istrinya, ia Segera memeluk tubuh istrinya dengan erat.
" jangan marah dulu sayang" ucap Revan setengah berbisik.
namun Nadhifa hanya diam, membuat Revan tersenyum semakin lebar.
" dengarkan cerita aku dulu, oke" ucap Revan sambil mencium rambut istrinya yang selalu wangi.
" waktu aku kuliah semester empat aku bertemu dengan wanita itu, dia termasuk salah satu mahasiswa baru di kampus, secara tak sengaja aku membantunya yang sedang terjatuh hingga pada akhirnya hubungan kita semakin dekat" ucap Revan.
Nadhifa hanya bergeming, tak berniat mengatakan apapun sebelum suaminya selesai bercerita.
" aku lanjut ya" ucap Revan pelan, ia membelai rambut istrinya dengan lembut.
" tak butuh waktu lama, aku mulai berpacaran dengannya setelah aku yakin jika dia wanita baik-baik, aku selalu membantunya membuat tugas disela-sela kesibukanku bekerja"
" Dion, Danu dan Rio selalu mengatakan jika dia bukan wanita baik, aku tidak percaya begitu saja sampai akhirnya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika dia juga menjalin hubungan dengan mahasiswa idola di kampus"
__ADS_1
" saat aku meminta penjelasannya, ia mengatakan jika ia tak ingin melanjutkan hubungan dengan pria miskin sepertiku, ia lebih memilih Dirga yang memang mempunyai segalanya" ucap Revan lirih, ia mengingat perlakuan mereka yang menghinanya di depan umum.
Nadhifa berbalik untuk melihat wajah suaminya, ia dapat melihat kesedihan di mata teduh suaminya itu.
" bukan hanya itu, mereka juga menghinaku di depan umum, wanita itu berkata jika dia mau berpacaran denganku hanya karna aku bodoh, aku hanya dimanfaatkan olehnya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya, aku selalu percaya pada kebohongan yang dikatakan wanita itu, bahkan aku membantunya dengan senang hati" lanjut Revan.
" mas" ucap Nadhifa lirih, ia mengelus pipi Revan dengan lembut.
" sejak saat itu aku selalu bersikap dingin pada semua wanita, aku tak ingin mereka berkata jika aku laki-laki bodoh, aku selalu memasang wajah dingin agar tidak ada yang memanfaatkanku lagi" imbuh Revan mencium tangan Nadhifa yang sejak tadi mengelus pipinya.
Nadhifa memeluk tubuh suaminya dengan erat, kini ia tahu alasan Revan bersikap dingin dengan karyawannya.
" maafkan aku ya" ucap Nadhifa.
" kenapa minta maaf? kamu gak salah" sahut Revan, ia membalas pelukan Nadhifa tak kalah erat.
" kamu jangan salah paham, selama aku menjalin hubungan dengannya aku tidak pernah menyentuhnya, aku sangat menghargai seorang wanita, semua yang aku lakukan denganmu adalah yang pertama untukku" ucap Revan.
" dan sekarang aku sangat bersyukur, akhirnya aku bertemu dengan wanita sebaik kamu, terimakasih sudah menerima semua kekuranganku" ucap Revan memberikan ciuman di seluruh wajah istrinya membuat Nadhifa geli.
" udah mas, geli" ucap Nadhifa, karna merasa geli saat bulu-bulu halus yang tumbuh di rahang suaminya mengenai wajahnya.
Revan berhenti dan menatap mesra wajah istrinya.
" I love you sayang"
ucapan Revan membuat Nadhifa tersipu.
" I love you too, my husband" sahut Nadhifa malu-malu, ia menyembunyikan wajahnya yang sudah Semerah tomat dalam pelukan hangat Revan.
Revan terkekeh melihat reaksi istrinya, sudah hampir setahun Nadhifa menjadi istrinya namun wanita itu masih merasa malu jika menjawab ungkapan cinta Revan.
...
Revan sudah siap berangkat ke kantor, jas dan dasi sudah terpasang dengan rapi di tubuhnya namun ia masih menantikan istrinya yang masih berada di kamar mandi.
pintu kamar mandi terbuka menampilkan sesosok wanita yang begitu Revan cintai, Namun ada yang berbeda dari wanita itu.
wajah ceria yang biasa Revan lihat kini terlihat murung, nampak ada kesedihan di kedua manik hitam istrinya itu.
dengan perlahan Revan mendekati wanita itu hingga ia dapat melihat dengan jelas mata istrinya yang berkaca-kaca.
tak perlu waktu lama Nadhifa menyandarkan tubuh pada dada bidangnya.
__ADS_1
" maafkan aku mas" ucap Nadhifa lirih seiring dengan jatuhnya bulir air mata yang menetes di pipinya.