
Selama perjalanan pulang Nadhifa hanya terdiam membuat Revan bertanya-tanya, ia ingin bertanya namun urung ia lakukan.
" mau mampir ke mana?" ucap Revan lembut.
" langsung ke rumah aja mas" sahut Nadhifa pelan.
Revan tahu ada sesuatu yang istrinya pikirkan, namun ia tidak bisa menebaknya.
" kamu mau nginap di panti? kita bisa putar balik sayang" tawar Revan.
" nggak mas, lagi pula tadi kita sudah ke panti" sahut Nadhifa tersenyum, Revan dapat melihat ada kesedihan yang Nadhifa sembunyikan.
" baiklah, kalau mau cerita aku siap mendengarkannya, oke" ucap Revan lembut.
Nadhifa mengangguk, ia mengarahkan pandangannya pada kaca jendela mobil memperhatikan anak-anak kecil yang mencari uang, saat lampu merah menyala, mereka mendekati mobil-mobil untuk menjajakan dagangannya, ada juga yang menyanyikan sebuah lagu berharap ada orang baik yang mau memberi mereka uang.
Nadhifa membuka kaca mobilnya saat gadis kecil mendekatinya dan menawari tisu yang ia jual, dengan tersenyum Nadhifa mengambil uang di dalam tasnya dan memberikannya pada gadis kecil itu.
" tunggu kak, aku mau cari kembaliannya" ucap gadis kecil itu.
" tidak usah, kembaliannya buat kamu saja" sahut Nadhifa mengelus rambut gadis kecil itu.
" wah, terimakasih kak" ucap gadis kecil itu senang, ia segera berlari mendekati teman-temannya.
" kasihan mereka" ucap Nadhifa lirih, namun masih dapat didengar Revan.
" iya sayang, banyak sekali anak jalanan di kota ini" sahut Revan, yang setuju dengan ucapan istrinya.
Anak-anak seusia mereka seharusnya menghabiskan waktu untuk belajar dan bermain, bukan disibukkan dengan pekerjaan yang membebani mereka.
" semoga ada yang membantu mereka" ucap Revan.
" Amin"
...
Seperti biasa, Revan dan Nadhifa akan melakukan sholat tahajjud bersama, namun kali ini Nadhifa yang lebih dahulu bangun.
Usai membaca doa Revan berbalik untuk melihat wajah cantik istrinya, namun yang ia lihat wajah cantik itu sudah dipenuhi dengan air mata.
" sayang, kamu kenapa? ada yang sakit?" tanya Revan khawatir.
mendengar ucapan suaminya membuat Nadhifa semakin terisak, Revan menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya, dengan lembut Revan mengelus puncak kepala Nadhifa dan memberikan ciuman kecil di kening istrinya itu.
__ADS_1
hati Revan ikut sakit saat mendengar tangisan istrinya, tanpa terasa air mata juga menetes di pipinya seakan merasakan apa yang istrinya rasakan, namun dengan cepat Revan menghapusnya saat ini istrinya sedang sedih dan ia harus menguatkannya.
Revan mengelus punggung istrinya dengan pelan, berharap apa yang dia lakukan dapat membuat istrinya sedikit tenang.
" katakan sayang, ada apa?" ucap Revan setelah Nadhifa sudah lebih tenang.
Nadhifa melepaskan pelukannya, ia melihat wajah tampan suaminya yang sudah menemaninya dua tahun ini.
Dengan lembut Nadhifa menyentuh wajah itu dan mengelusnya, dapat ia lihat tatapan mata Revan masih tetap sama sejak mereka bertemu, teduh dan menenangkan.
" mau cerita sesuatu?" ucap Revan.
" maafkan aku mas" sahut Nadhifa, air mata kembali menetes di pipinya, dengan cepat Revan menghapusnya dengan ibu jarinya.
" jangan menangis sayang, hatiku sakit melihatmu seperti ini" tutur Revan lembut.
" katakan, apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Revan hati-hati.
Nadhifa mengangguk, memang ada hal yang selalu mengganggu pikirannya.
" ayo katakan, aku akan mendengarkannya" ucap Revan.
Nadhifa menghela nafasnya, ia memandang suaminya dengan penuh cinta.
" Selama ini mas Re sudah menjadi suami yang sangat baik, selalu memberikan semua yang aku harapkan, namun sebagai istri aku tidak bisa memberikanmu apa-apa mas, bahkan aku... aku..."
" aku bahkan tidak bisa menjadikanmu seorang ayah" lanjut Nadhifa membuat Revan ikut sedih, ia dapat merasakan kesedihan yang istrinya rasakan.
Revan menarik tubuh istrinya dalam pelukannya, tubuh Nadhifa masih bergetar saat tangis kembali menguasainya.
" jangan berkata seperti itu lagi sayang, kamu sudah melakukan yang terbaik untukku" ucap Revan.
" kamu adalah istri yang terbaik, kamu selalu mendukung semua keputusanku, menghiburku, kamu juga melakukan tugas seorang istri dengan sangat baik" imbuh Revan.
" berhentilah menangis sayang, dadaku sesak melihatmu seperti ini" ucap Revan dengan suara bergetar.
Nadhifa menatap wajah tampan suaminya, terlihat mata teduh itu sudah berkaca-kaca membuat Nadhifa merasa bersalah.
" maaf, mas Re sedih gara-gara Dhifa" ucap Nadhifa pelan.
Revan menggeleng, ia menarik tangan istrinya untuk dia genggam.
" tidak sayang, ini bukan salah kamu"
__ADS_1
" kamu tahu sayang? hidup kita sudah dipenuhi dengan banyak nikmat yang Allah berikan" tutur Revan lembut.
Nadhifa mengangguk karna memang benar banyak nikmat yang sudah ia rasakan.
" jika kita disuruh menghitung nikmat itu maka tidak akan bisa, anggota tubuh kita lengkap, dikelilingi oleh orang-orang yang baik, kita juga diberi rejeki yang cukup"
" jangan hanya karna satu nikmat yang belum kita dapatkan, kita melupakan nikmat yang sudah kita rasakan sebelumnya"
Nadhifa terdiam, mencoba mencerna ucapan suaminya hingga ia mengerti maksud revan, seketika ia merasa berdosa karna melupakan nikmat yang sudah Allah berikan.
" ya Allah, ampuni aku" ucap Nadhifa dengan air mata mengalir dari kedua sudut matanya.
" sudah sayang, jangan menangis lagi, ini adalah jalan takdir kita, kita harus melewatinya dengan sabar dan ikhlas" ucap Revan yang kembali memeluk Nadhifa.
Nadhifa mengangguk, ia bersyukur dipertemukan dengan pria seperti Revan, Revan tidak pernah membahas soal keturunan karna hal itu pasti membuat Nadhifa sedih.
begitu pula dengan keluarga Revan, tidak ada yang menyinggung soal anak, namun sebagai seorang istri hal itu membuat Nadhifa sedih, ia ingin sekali memberikan cucu untuk Bu Rahma.
bahkan bunda Lastri, bunda Naya, dan bunda Sari tidak pernah bertanya tentang kehamilannya, mereka selalu membuat Nadhifa senang saat berkunjung ke panti.
Nadhifa baru sadar, ia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat baik dan pengertian. ucapan Revan memang benar, Nadhifa sudah melupakan nikmat yang sudah Allah berikan padanya hanya karna satu harapan yang belum ia dapatkan.
" terimakasih mas Re, sudah mengingatkan kesalahanku" ucap Nadhifa.
" sama-sama sayang" sahut Revan.
" percayalah sayang, Allah sudah merencanakan yang terbaik untuk kita, kita hanya harus menunggu dengan sabar" imbuh Revan membuat Nadhifa mengangguk.
Nadhifa melepaskan pelukannya dan menatap wajah Revan.
" jika aku tidak juga hamil, apa mas Re akan meninggalkanku?"
" aku tidak akan meninggalkanmu sayang, aku akan setia bersamamu, menanti kehadiran buah cinta kita di rahimmu, tidak peduli harus menunggu berapa lama, aku akan tetap di sisimu, kau percaya padaku?"
Nadhifa mengangguk membuat Revan senang, Revan mendekati Nadhifa dan mengecup kening Nadhifa dengan lembut membuat Nadhifa tenang.
" Sekarang kamu harus tersenyum seperti ini" ucap Revan yang menarik kedua sudut bibir istrinya, Nadhifa tertawa kecil melihat apa yang dilakukan Revan.
setelah itu Revan menatap Nadhifa dengan senyum menyeringai membuat Nadhifa mundur.
" kenapa mas Re menatapku seperti itu?" tanya Nadhifa.
" memangnya kenapa? tidak boleh?" sahut Revan.
__ADS_1
" mas Re mau apa? sudah mau subuh" ucap Nadhifa membuat Revan tersenyum mesum.
" tidak sayang, kita masih punya banyak waktu" sahut Revan dan menarik Nadhifa masuk dalam pelukannya.