Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
27. ITU SUDAH KEWAJIBANKU


__ADS_3

Nadhifa masih sibuk merapikan hijab yang di pakainya, sehingga tak menyadari Revan yang terus memperhatikan gerak geriknya.


"Kamu beneran udah gak sakit?" tanya Revan dengan wajah cemasnya menghampiri Nadhifa.


Wajah Nadhifa memerah mendengar pertanyaan suaminya, pasalnya sudah beberapa kali Revan menanyakan sesuatu yang membuat Nadhifa begitu malu.


"Udah mendingan mas, gak perlu khawatir" jawab Nadhifa menenangkan suaminya.


"Maaf membuatmu kesakitan" sesal Revan mengelus puncak kepala istrinya.


"Tak apa mas, hal seperti ini normal karna baru pertama kali" sahut Nadhifa dengan wajah menunduk malu.


"Bantu aku pakai ini ya" memberikan dasi pada Nadhifa, Revan tersenyum melihat istrinya yang mengangguk.


Nadhifa memasangkan dasi dengan sedikit menjinjit karna tubuh Revan yang lebih tinggi darinya, sesekali Revan membantu Nadhifa yang kesulitan.


Revan memperhatikan Nadhifa yang masih merapikan dasi dan kerah kemejanya dengan senyum mengembang.


Saat dirasa sudah rapi, Nadhifa membantu memasangkan jas di tubuh gagah Revan.


"Kamu jangan banyak gerak dulu ya, istirahat saja" pesan Revan yang masih mengkhawatirkan istrinya.


"Iya mas, tenang saja" ucap Nadhifa yang terus berjalan mengantar Revan berangkat kerja.


Sebenarnya bagian inti Nadhifa masih terasa nyeri, tapi Nadhifa berusaha berjalan seperti biasa, supaya Revan tidak terlalu khawatir.


Usai berpamitan pada Bu Rahma, pasangan yang baru saja mereguk manisnya surga dunia itu berjalan sampai di depan rumah, di sana sudah ada mobil yang biasa digunakan Revan.


Revan berbalik menatap Nadhifa yang masih menanti keberangkatannya, terlihat senyuman tulus yang menghiasi bibir istrinya.


"Aku berangkat dulu ya, ingat pesanku tadi" ucap Revan.


"Iya mas" sahut Nadhifa dan meraih tangan suaminya dan menciumnya.


"Hati-hati di jalan" ucap Nadhifa yang mengundang senyum di wajah tampan Revan.


Revan mengangguk dan mengecup kening istrinya yang sudah menjadi kebiasaan favoritnya.


Nadhifa melambaikan tangan ketika suara klakson mobil terdengar, secara perlahan kendaraan roda empat yang dikendarai Revan berlalu di pandangannya.


Kemudian berbalik untuk menemani Bu Rahma yang masih duduk santai di kursi depan televisi.


"Kalau tubuh kamu kurang sehat, istirahat saja di kamar" ucap Bu Rahma yang melihat ada yang berbeda dari cara berjalan Nadhifa.


"Aku baik-baik saja ma" sahut Nadhifa yang sudah duduk di samping Bu Rahma.


"Mama hari ini ada janji sama teman mama, di tetangga sebelah" ucap Bu Rahma.


"Kamu istirahat saja, sepertinya kamu kurang sehat" lanjut Bu Rahma dengan senyuman penuh arti yang membuat wajah Nadhifa memerah, seperti ibu mertuanya sudah mengetahui ada yang terjadi dengan mereka berdua.


Nadhifa mengangguk malu, dan meminta izin untuk istirahat di kamar membuat Bu Rahma tersenyum.


...


Nadhifa membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang menjadi saksi penyatuan mereka semalam.


Nadhifa menggeleng-gelengkan kepala, saat kepalanya dipenuhi dengan kegiatan mereka, membuat pipi Nadhifa menjadi merona.


"Ya ampun Dhifa, apa yang kamu pikirkan?" ucap Nadhifa pelan.


Mengeluarkan ponsel baru yang diberikan Revan, Nadhifa mencari kontak Bu Lastri.

__ADS_1


"Assalamualaikum bunda" sapa Nadhifa saat panggilan sudah tersambung.


"Waalaikum salam, sayang" jawab bunda Lastri.


"Apa kabar bunda?" tanya Nadhifa.


"Alhamdulillah bunda baik, kamu sendiri gimana?" sahut bunda Lastri.


"Alhamdulillah Dhifa juga baik Bun"


Melanjutkan perbincangan, Nadhifa juga tak lupa menanyakan keadaan orang-orang panti, tak dipungkiri Nadhifa merindukan mereka meski sudah pergi berkunjung kesana.


Meletakkan ponsel di meja setelah panggilan berakhir, Nadhifa memejamkan matanya.


Memilih untuk bangun terlebih dahulu, Nadhifa mengambil seprai yang sudah Revan letakkan di keranjang baju kotor, melangkah menuju kamar mandi dengan sabar Nadhifa menghilangkan bekas darah yang ada pada seprai itu.


"Udah selesai" ucap Nadhifa mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.


Nadhifa memandang foto pernikahan yang terpajang indah di salah satu dinding kamarnya, kemarin siang Revan meletakkannya dengan bantuan Reno karna ukurannya yang cukup besar.


Tersenyum kecil saat melihat wajah mereka yang begitu canggung dengan posisi yang begitu dekat, ia mengalihkan pandangannya pada figora lain yang menampakkan foto mereka bersama orang panti, suaminya sangat pengertian tanpa Nadhifa minta dia mencetak foto itu dengan ukuran yang cukup besar.


Nadhifa mengambil buku yang diberikan Zahra, membuka halaman yang sudah di tandai dan mulai melanjutkan bacaan.


Merasa bosan, Nadhifa berjalan menuju meja rias, melihat peralatan makeup yang sama sekali belum di sentuhnya.


"Banyak sekali, aku pakai yang mana ya?" Nadhifa memilih lipstik dengan warna yang tidak terlalu mencolok.


Mengambil salah satu lipstik dan mengaplikasikan pada bibirnya secara perlahan, Nadhifa benar-benar kaku.


Pantulan di cermin menampakkan wajah cantik Nadhifa dengan warna lipstik yang tidak begitu mencolok, membuat Nadhifa tersenyum senang.


...


Revan memanggil Rey untuk membantunya meneliti berkas yang ada di hadapannya, berharap pekerjaannya cepat selesai, tak dapat Revan pungkiri jika dirinya sudah merindukan istrinya padahal beberapa jam saja mereka berpisah.


Terlalu larut dengan berkas dihadapannya membuat Revan tersentak kala Rey berpamitan untuk menyiapkan makan siang Revan seperti biasa.


Menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, Revan membuka ponselnya, dan terlihat pesan yang masuk di salah satu aplikasi miliknya.


***My wife**


jangan lupa sholat dan makan siang mas* 🤗.


Senyuman Revan merekah saat melihat pengirim pesan itu.


***Me**


kamu juga* 😘


Meletakkan ponsel di sofa, Revan membereskan berkas yang sudah dikerjakan dan meletakkan di tempat yang berbeda dengan berkas yang lain.


Tak lama Rey datang dengan membawa bungkusan plastik di tangannya, dengan segera ia membuka menu makanan yang sudah biasa disantap Revan waktu makan siang.


"Terima kasih Rey" ucap Revan.


"Sama-sama pak" jawab Raihan.


Melihat Revan melahap makanannya, Rey berpamitan untuk keluar, berkali-kali Revan mengajaknya makan siang bersama tapi Rey merasa sungkan, pasalnya dia masih belum lama bekerja di sana.


...

__ADS_1


Nadhifa sudah rapi dengan baju gamis dan hijab panjangnya, bibir yang sudah dipoles dengan sedikit sentuhan lipstik itu tak henti menampilkan senyumnya.


Nelangkahkan kaki menuju dapur untuk membuat minuman hangat untuk suaminya, Nadhifa mulai berkutat dengan peralatan dapur yang dibutuhkannya, tak butuh waktu lama teh hangat kesukaan suaminya sudah terhidang di meja makan.


Terdengar suara deru kendaraan berhenti di depan rumahnya itu membuat jantung Nadhifa berdegup kencang, melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu menyambut kedatangan suaminya yang lelah seharian bekerja.


"Assalamualaikum" ucap Revan yang langsung dijawab oleh Nadhifa.


"Kamu belum tidur?" tanya Revan saat menemukan istrinya yang menyambut kedatangannya.


"Belum mas, aku menunggumu" jawab Nadhifa malu-malu, mengambil tas kerja Revan dan menuntun Revan untuk duduk di meja makan.


"Minum dulu mas" ucap Nadhifa.


"Terima kasih" sahut Revan tersenyum senang dan meneguk teh hangat kesukaannya.


"Kemana yang lain?" tanya Revan.


"Aku menyuruh mereka istirahat mas, karna sudah malam" jawab Nadhifa.


"Ayo kita ke kamar, aku lelah sekali" ajak Revan dengan menggandeng mesra tangan Nadhifa.


Memandang wajah Revan yang nampak begitu kelelahan,Nadhifa mengangguk dan mensejajarkan langkah kaki di samping Revan.


Usai meletakkan tas kerja Revan, Nadhifa bergegas membantu Revan membuka jas dan dasi yang dipakainya.


Revan tersenyum melihat perhatian yang diberikan istrinya, merasa sangat beruntung menikahi gadis Sholehah seperti Nadhifa.


"Mas tunggu disini ya, aku siapkan air hangat dulu" pinta Nadhifa dan berlalu meninggalkan Revan yang membuka kemeja dan celana kerjanya.


Tak lupa Nadhifa mengambil baju tidur suaminya dan memberikannya saat akan memasuki kamar mandi.


Menanti Revan yang masih sibuk membersihkan diri, Nadhifa mengeluarkan piyama tidur yang akan digunakannya.


Melihat Revan yang sudah selesai mandi, Nadhifa pun beranjak ke kamar mandi dengan piyama yang sudah disiapkannya.


Revan menepuk kasur meminta Nadhifa untuk mendekat padanya, sebenarnya Revan sudah tak sabar untuk memeluk istrinya, tapi


karna tubuhnya masih terasa gerah, jadi Revan memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Menarik Nadhifa ke dalam dekapannya, Revan mengecup kening istrinya dan meletakkan kepalanya di leher istrinya untuk menghirup aroma tubuh Nadhifa yang sudah menjadi candunya.


"Terima kasih sudah menungguku" ucap Revan tepat di telinga Nadhifa membuat Nadhifa geli.


"Iya mas, sama-sama" jawab Nadhifa malu-malu.


"Lihat aku, Dhifa" titah Revan.


Menatap wajah istrinya dalam jarak sedekat itu membuat jantung Revan berdetak begitu kencang, Nadhifa juga merasakan hal yang sama.


Merapatkan tubuhnya, Revan mulai mendekat membuat Nadhifa memejamkan matanya dan membiarkan Revan mencium bibirnya dengan lembut.


Bukan hanya sekali, Revan melakukannya berkali-kali dan hanya berhenti saat Nadhifa mulai kehabisan nafas.


Membuka mata, Nadhifa mendapati Revan yang memandangnya penuh damba membuat Nadhifa tersipu malu.


Seakan mengerti yang di inginkan Revan, Nadhifa mengangguk membuat Revan tersenyum senang, dan melanjutkan kegiatan yang sepertinya sudah menjadi candu untuknya.


"Terima kasih, sayang" ucap Revan setelah penyatuan mereka, mengelus kepala Nadhifa dengan sayang.


Mendengar ucapan sayang dari Revan membuat wajah Nadhifa begitu malu.

__ADS_1


"Iya mas, itu sudah kewajibanku" sahut Nadhifa dan mulai merapatkan tubuhnya memeluk Revan lebih erat, menyembunyikan rona merah yang menghiasi pipinya.


__ADS_2