Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
52. AKU GAGAL.


__ADS_3

" Kamu sama Revan ada masalah?" Tanya Bu Rahma sesaat setelah Revan berangkat kerja padahal putranya itu belum sarapan.


" Tidak ada ma, mas Revan ada urusan penting di kantor" sahut Nadhifa.


Bu Rahma menganggukkan kepalanya


" Pasti ada masalah serius soalnya mama perhatikan sudah seminggu dia berangkat kerja pagi-pagi sekali" ucapnya.


" Iya ma, Dhifa yakin juga kayak gitu, tapi mas Revan belum cerita masalahnya" sahut Nadhifa.


" Kamu jangan tersinggung ya, Revan orangnya memang kayak gitu nanti kalau pikirannya udah lebih tenang pasti dia cerita sama kamu" nasehat Bu Rahma pada menantunya.


" Iya ma, Dhifa mengerti" sahut Nadhifa.


Keduanya membereskan meja makan dibantu bik Minah sedangkan si kembar juga buru-buru berangkat kuliah karna ada tugas penting.


...


Setibanya di kantor, Raihan langsung menghampiri Revan, ia memberitahukan jika ada beberapa pemegang saham yang ingin bertemu dengannya.


Dengan langkah tergesa Revan memasuki ruang rapat dan ia dapat melihat empat orang penting sudah menunggunya di dalam.


" Maaf saya terlambat" ucap Revan sopan.


" Tidak apa, duduklah pak Revan" ucap seseorang yang terlihat seumuran dengan Revan.


Tak butuh waktu lama Revan duduk dan memulai perbincangan.


" Saya tidak mengerti apa yang terjadi pak Revan, ada masalah apa sebenarnya?"ucap seorang pria tambun yang duduk paling dekat dengan Revan.


" Maafkan saya sebelumnya, saya juga tidak tahu masalah yang terjadi namun saya pastikan saya sudah melakukan tugas saya dengan sebaik-baiknya" sahut Revan tenang.


" Apa anda yakin pak? kenapa saya mendapat kabar jika banyak perusahaan yang memutuskan kerja sama?" Ucap seorang pria yang terlihat paling tua diantara mereka.


" Saya juga tidak tahu alasannya pak, saya sudah pastikan semua berjalan lancar sebagaimana mestinya" jelas Revan.


" Baiklah pak Revan, kami berikan anda waktu tiga hari untuk mengembalikan semua seperti sedia kala jika tidak maka maaf kami akan menarik saham kami" pungkas seorang pria berkacamata.


" Baik pak, terimakasih atas waktu yang anda semua berikan" ucap Revan sopan.


Keempat orang itu keluar meninggalkan Revan yang sedang memijit pelipisnya, dalam waktu tiga hari ia harus mengembalikan keadaan seperti sediakala, namun ia sungguh bingung langkah apa yang harus dilakukannya.


" Apa anda perlu minum pak?" Tanya Raihan.


" Tolong buatkan kopi, antarkan ke ruanganku" sahut Revan.


" Baik pak"


Usai Raihan pergi, Revan bergegas menuju ruangannya dan duduk di kursi kerjanya.


" Sebenarnya ada apa? Kenapa kerjasama yang bahkan sudah disepakati bisa dibatalkan begitu saja?" ucap Revan lirih.


Terdengar dering ponsel di saku celananya, dengan cepat Revan mengangkatnya.


" Waalaikum salam sayang" sahut Revan usai mendengar ucapan salam istrinya.


" Mas Re udah sarapan?" Tanya Nadhifa.


" Sudah sayang, kamu jangan khawatir" sahut Revan berbohong.


" Baiklah, mas Re kerjanya yang semangat ya" ucap Nadhifa membuat Revan tersenyum.


" Iya sayang, do'akan aku ya" ucapnya.


" Pasti, jangan terlalu lelah mas, istirahatlah jika dibutuhkan" pesan Nadhifa.


" Iya sayang" sahut Revan.


" Kalau begitu aku mau ke kamar dulu mas" ucap Nadhifa.


" Iya, assalamualaikum"


Revan mematikan ponselnya setelah Nadhifa menjawab salamnya.


Pintu ruangannya terbuka nampak Rey membawa nampan di tangannya.


" Saya juga membawa makanan untuk anda pak, anda pasti belum sarapan" ucapnya seraya meletakkan kopi pesanan Revan dan menu sarapan di atas meja.


" Terimakasih Rey"


Sahut Revan tulus, ia segera melahap makanan yang Rey bawakan karna tak ingin istrinya khawatir.


...


Tiga hari berlalu namun Revan belum bisa menemukan solusi untuk permasalahan yang dihadapinya padahal segala cara sudah ia lakukan, mulai dari mencari perusahaan lain untuk kerjasama dan melakukan penawaran yang menarik namun tak ada satupun perusahaan yang berminat.

__ADS_1


Wajah Revan terlihat begitu lelah, tiga hari sudah ia gunakan dengan sebaik mungkin namun ia tidak mendapatkan hasil yang diharapkan.


Hari ini ia harus menemui semua pemilik saham untuk mendengar keputusan mereka, ia pasrah jika pada akhirnya mereka menarik kembali saham mereka.


Revan datang terlebih dahulu memasuki ruangan rapat untuk menunggu lima orang pemilik saham itu.


Tak lama pintu terbuka terlihat satu persatu orang yang Revan nanti memasuki ruangan itu.


" Selamat pagi pak" ucap Revan sopan.


" Selamat pagi" sahut mereka singkat.


Usai berbasa-basi akhirnya Revan mengatakan hal yang sebenarnya hingga membuat mereka naik pitam.


" Untuk itu saya akan menarik saham ini" ucap pria tambun berapi-api.


" Saya juga akan melakukan hal yang sama, apa yang bisa diharapkan dari perusahaan seperti ini?" sambung pria berkacamata.


" Sangat disayangkan jika hal itu terjadi, namun saya juga tidak bisa mengambil resiko pak Revan" sahut pria seusia Revan.


Revan mengangguk mendengar ucapan pria itu, ia setuju karna seorang pengusaha dituntut untuk selalu menghindar dari kemungkinan buruk yang bisa kapan saja terjadi.


" Jika tidak ada kemajuan, terpaksa saya juga harus menarik saham saya" ucap pria yang paling tua.


" Baiklah, saya akan mengganti semua kerugiannya" ucap Revan tenang.


" Bagaimana dengan anda Bu Nina?" Tanya pria berkacamata pada wanita yang sejak tadi diam.


" Saya tidak akan menarik saham saya, asalkan pak Revan setuju dengan permintaan saya" sahut Nina.


" Apa permintaan anda Bu Nina?" Ucap Revan.


" Saya butuh berbicara empat mata dengan anda pak Revan" sahut Nina.


" Baiklah, untuk anda semua secepatnya saya akan mengganti kerugiannya" ucap Revan tegas pada keempat pria yang ada di dalam ruangan itu.


Usai bersalaman keempat orang itu keluar hanya menyisakan tiga orang di ruangan itu.


Revan meminta Raihan yang sejak tadi duduk di sampingnya untuk keluar.


" Apa yang anda inginkan Bu Nina?" Ucap Revan dingin.


" Santai saja pak Revan, kita masih punya banyak waktu untuk berbincang-bincang" sahut wanita itu santai.


" Maaf Bu Nina, masih ada banyak hal yang harus saya selesaikan" ucap Revan penuh penekanan, ia sungguh muak berbicara dengan wanita itu.


" Apa anda dalang di balik semua ini Bu Nina?" Tanya Revan curiga.


" Jangan bicara sembarangan pak Revan, saya bisa tuntut anda" sahut Nina marah.


" Jika anda tidak bersalah seharusnya anda tenang" ucap Revan tersenyum sinis.


" Bagaimana keputusanmu? Jika aku masih mempertahankan sahamku maka perusahaanmu masih bisa diselamatkan karna tiga puluh persen saham itu adalah milikku" ucap wanita itu menyeringai.


" Tawaran yang sangat menarik" ucap Revan.


Wanita itu tersenyum senang karena rencana akan berhasil, namun senyumnya seketika pudar saat Revan melanjutkan perkataannya.


" Tapi saya tidak tertarik, lebih baik saya miskin daripada menduakan cinta suci istri saya" pungkas Revan tegas.


" Lihat saja, wanita mana yang mau bertahan dengan pria miskin sepertimu Revan" ucap wanita itu setengah berteriak bahkan wajahnya sudah merah padam.


" Kita lihat saja nanti" sahut Revan tenang.


Penawaran yang ia ajukan pada Revan ditolak mentah-mentah, ia merasa sangat terhina hingga ia memutuskan untuk segera pergi.


Tanpa pamit wanita itu keluar dan membanting pintu dengan keras.


Raihan yang hendak memasuki ruangan itu hanya mengelus dada melihat kelakuan wanita yang baru saja keluar.


Ia mengetuk pintu dan memasuki ruangan itu usai mendapatkan izin.


" Maaf pak, menurut saya sepertinya ada seseorang yang sengaja melakukan hal ini" ucap Raihan.


" Saya juga berpikiran seperti itu Rey, untuk saat ini saya mencurigai Nina" sahut Revan.


" Kamu tahu apa yang dia katakan tadi?" Ucap Revan.


" Memangnya apa yang Bu Nina katakan pak?" Tanya Raihan penasaran.


Revan menjelaskan semua percakapannya dengan Nina hingga membuat Raihan geleng-geleng kepala, ia tak menyangka jika wanita terhormat seperti Nina akan melakukan hal rendahan seperti itu.


" Saya tidak menyangka jika Bu Nina seperti itu"


" Entahlah Rey, sebaiknya kita kembali bekerja ada banyak hal yang harus kita lakukan hari ini" ucap Revan.

__ADS_1


...


Tepat pukul sembilan malam Revan sudah tiba di rumah, ia mendapati istrinya yang sedang membuat minuman.


" Mas Re sudah pulang" sapa Nadhifa, ia mendekati suaminya dan mengecup punggung tangannya seperti biasa.


Revan mengangguk dan mengikuti Nadhifa yang mengajaknya untuk duduk di meja makan.


" Sekarang mas Re minum dulu, biar badan lebih segar" ucap Nadhifa tersenyum menyodorkan jahe hangat pada suaminya.


" Terimakasih sayang" ucap Revan, tak membuang waktu ia menyesap minuman hangat itu sedikit demi sedikit.


" Ayo kita ke atas, aku mau istirahat" ajak Revan menarik lembut tangan istrinya.


Tidak membantah ucapan Revan, Nadhifa menuruti ajakan suaminya dan berjalan beriringan menaiki tangga.


Seperti yang biasa Nadhifa lakukan, wanita itu membantu membuka kemeja dan menyiapkan air hangat untuk suaminya.


Tidak lupa baju ganti yang akan dikenakan suaminya sudah ia letakkan diatas ranjang.


Melihat Revan menghampirinya, Nadhifa bergegas mengambil handuk yang Revan pegang dengan senang hati menggosok rambut Revan.


Saat rambut Revan sudah agak kering, ia menyuruh Revan untuk segera memakai baju yang ia siapkan.


" Mas Re pasti capek, Dhifa pijatin ya" tawarnya.


" Emang kamu bisa?" Sahut Revan.


" Dicoba dulu mas" ucap Nadhifa dan mulai memijat bahu Revan.


" Udah, nanti kamu capek" ucap Revan setelah cukup lama Nadhifa memijatnya, pijatan Nadhifa membuat tubuhnya lebih nyaman tapi ia juga tak tega membiarkan istrinya memijat terlalu lama.


" Beneran mas? Dhifa masih sanggup" sahut Nadhifa yang masih semangat memijat suaminya.


" Kamu yakin?" Ucap Revan menyeringai.


Nadhifa yang tak tahu maksud suaminya hanya mengangguk


"Iya" ucapnya.


" Baiklah jika itu yang kamu mau" ucap Revan dan menarik tubuh Nadhifa hingga jatuh dalam pelukannya.


" Katanya mau dipijat, kok kayak gini" ucap Nadhifa meronta-ronta.


" Aku sudah tak mau pijat, aku mau hal lain" sahut Revan yang tak mengalihkan pandangannya pada bibir merah merekah milik istrinya.


" Apa?" Tanya Nadhifa penasaran.


Tanpa menjawab, Revan mendekati wajah Nadhifa dan menyentuh bibir merah istrinya dengan lembut hingga membuat istrinya terbuai.


" Malam ini boleh?" Tanya Revan mengelus pipi Nadhifa dengan lembut.


Nadhifa mengangguk dan mengalungkan kedua tangannya leher Revan dan membiarkan pria itu menuntaskan hasratnya, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menghibur suaminya.


...


Revan dan Nadhifa sudah berada didalam selimut yang menutupi tubuh polos keduanya usai membersihkan diri.


Saat ini keduanya berbaring dengan Nadhifa yang meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya.


" Mas Re gak mau cerita sesuatu?" pancing Nadhifa.


" Aku akan menceritakan semuanya, maaf ya baru cerita sekarang" sahut Revan mengelus rambut istrinya dengan lembut.


" Tidak apa mas, Dhifa ngerti mas Revan pasti butuh waktu" ucap Nadhifa.


Revan akhirnya menjelaskan keadaan perusahaan yang jauh dari kata baik hingga keputusan pemilik saham yang menarik sahamnya.


" Mas Re, sabar ya" ucap Nadhifa setelah mendengar penjelasan suaminya, wanita itu menatap wajah suaminya yang terlihat begitu kelelahan.


" Iya sayang" sahut Revan.


" Apa kamu akan meninggalkan aku?" Tanya Revan.


" Aku cinta mas Re bukan karna harta mas, kalaupun mas Re gak punya apa-apa perasaanku tidak akan berubah" jelas Nadhifa tersenyum lembut.


" Terimakasih sayang, sudah mencintai pecundang sepertiku, aku..."ucap Revan tulus.


Nadhifa menghentikan ucapan Revan dengan jari telunjuknya.


" Jangan pernah bilang seperti itu lagi mas, kamu adalah suaminya yang baik, anak yang berbakti dan kakak yang sangat menyayangi semua adiknya, kamu adalah pria terbaik yang aku temui" ucap Nadhifa membuat Revan terharu.


" Tapi aku sudah gagal Dhifa, aku tidak bisa mempertahankan perusahaan yang sudah aku bangun " ucap Revan, dapat Nadhifa lihat tatapan sendu yang terpancar di kedua manik hitam suaminya.


" Jangan menyalahkan diri sendiri seperti itu mas, aku yakin mas Re sudah melakukan yang terbaik untuk perusahaan" hibur Nadhifa.

__ADS_1


" Terimakasih sayang" ucap Revan tulus.


__ADS_2