
Suasana panti pada malam hari ini terlihat begitu ramai, terlihat beberapa tetangga yang membantu, semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Anak-anak panti hanya duduk melihat kesibukan orang dewasa di sekitar mereka.
Bunda Lastri dan bunda Naya di bantu beberapa ibu-ibu sedang menyiapkan hidangan yang akan disuguhkan untuk acara akad nikah besok pagi.
Sebenarnya akad nikah akan dilakukan secara sederhana, tetapi para tetangga begitu antusias untuk membantu kesiapan acara.
Nadhifa sedang berada didalam kamar di temani oleh Zahra, jari-jari Nadhifa sudah terlihat indah dihiasi dengan Henna, ada seorang kenalan Zahra yang membantu menghias tangan Nadhifa.
"Tangan kamu terlihat indah Dhifa, aku juga mau dihias" ucap Zahra.
"Kalau kamu mau, ya gak apa, siapa tahu sebentar lagi kamu nikah juga" sahut Nadhifa.
Setelah selesai menghias tangan Nadhifa, Sekarang gadis kenalan Zahra sedang menghias tangan Zahra.
...
Terlihat beberapa orang suruhan Bu Rahma datang, mereka di perintahkan untuk menghias tempat akad nikah yang akan dilaksanakan di mushola panti.
Mereka mengerjakan tugas mereka dengan sangat baik, terlihat sekali jika mereka sudah profesional.
Mushola sudah mereka hias menjadi tempat yang indah, sudah terdapat meja akad yang terletak di tengah mushola, di lengkapi dengan beberapa bunga yang menambah keindahan di mushola itu.
Dan di depan rumah panti, sudah mereka hias sedemikian rupa, spot itu akan digunakan sebagai tempat foto.
Terdapat tirai putih yang menjadi background, rangkaian bunga yang bermacam warna yang sudah terpasang menambah keindahan di tempat itu.
Nadhifa hanya melihat kesibukan yang dilakukan oleh orang-orang melalui jendela kamarnya, dia tidak di perbolehkan untuk keluar rumah.
Gadis cantik itu tak menyangka jika besok statusnya akan berubah menjadi seorang istri.
Ia merasa sedikit sedih karena acara akad nikahnya tidak dihadiri oleh keluarga kandungnya, karena tidak ada yang tahu siapa keluarga Nadhifa sebenarnya.
Tapi Nadhifa harus menerima kenyataan ini dengan lapang dada, inilah kenyataan yang harus dihadapinya.
Zahra yang sudah selesai membasuh tangannya menghampiri Nadhifa yang berdiri di depan jendela kamarnya.
__ADS_1
Terlihat wajah Nadhifa yang menunjukkan kesedihan.
"Kamu kenapa Dhifa?" tanya Zahra.
"Aku tidak apa-apa, Zahra" jawab Nadhifa dengan memaksakan senyum di bibirnya.
Zahra sebenarnya ingin bertanya lebih jauh, tapi diurungkan karena ingin membiarkan Nadhifa sendiri dulu.
Nadhifa tidak bisa berbohong di hadapan Zahra, karna mereka sudah bersahabat lama, jadi Zahra tahu jika ada yang dipikirkan oleh sahabatnya itu.
"Kalau kamu mau bercerita, aku siap untuk mendengarkan ceritamu" ucap Zahra menyentuh bahu Nadhifa dengan lembut.
Nadhifa menjawab ucapan Zahra dengan anggukan kepala.
"Ya sudah, kalau gitu pengantin baru harus beristirahat untuk menghadapi hidup baru besok" goda Zahra dengan mengedipkan matanya.
Nadhifa tertawa kecil mendengar godaan dari sahabat baiknya itu, membuat Zahra ikut tertawa.
"Baiklah sahabatku yang paling cantik, aku mau tidur dulu ya" tutur Nadhifa lembut.
Nadhifa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, memejamkan matanya yang sudah mengantuk karna waktu yang sudah cukup malam, tak lama terdengar dengkuran halus yang keluar dari mulut Nadhifa.
...
Keadaan Di rumah Bu Rahma seperti biasa, tak ada kesibukan seperti di panti, hanya saja terlihat beberapa orang suruhan Bu Rahma yang bertugas menghias kamar Revan.
Di ruang tamu, sudah ada sahabat Revan yang sudah berkumpul, begitu pula dengan Reno yang ikut bergabung dengan mereka, terdengar beberapa percakapan mereka yang mendominasi suasana di malam hari ini.
Bu Rahma dan adik kembar Revan sedang menyiapkan keperluan Revan yang akan digunakan untuk acara akad nikah besok, mulai dari baju sampai alas kaki yang akan dipakai tak luput dari perhatian mereka.
Sedangkan Ranti ada di dalam kamarnya menemani Airin yang sudah terlelap.
Sahabat Revan tak henti-hentinya menggoda Revan, membuat Revan tertawa kecil mendengar ocehan dari para sahabatnya itu.
"Yang besok mau nikah, wajahnya bahagia banget" ucap Rio.
"Ya iyalah, sudah gak sabar dia" tambah Dion
__ADS_1
"Memang kenapa? Apa kalian mau nikah lagi?" Tanya Revan pada sahabatnya itu.
"Ya nggaklah, kita kan pria sejati, Tak akan mengkhianati kepercayaan pasangan kita" jawab Rio dengan menepuk dadanya.
Danu dan Reno hanya mendengarkan percakapan diantara mereka Karena memang mereka berdua tak banyak bicara.
Semua sahabat Revan sudah menikah, karna usia mereka yang sudah memasuki kepala tiga, hanya Revan yang belum pernah dekat dengan seorang gadis setelah kejadian menyakitkan itu.
Mereka terus saja menggoda Revan, tapi Revan hanya mendengarkan ucapan mereka tanpa mengatakan apapun, karna apapun yang dikatakan oleh Revan pasti membuat mereka semangat menggoda Revan.
Revan hanya sibuk memandangi wajah cantik Nadhifa dari layar ponselnya dengan tersenyum tipis, karna setiap bertemu Nadhifa selalu menunduk, seperti menghindari bertatapan mata dengannya.
Sahabat Revan yang melihat kelakuan Revan hanya saling pandang.
"Bro, gimana perasaanmu pada gadis itu?" Tanya Danu dengan menepuk pundak Revan membuat Revan menghentikan kegiatannya.
"Entahlah, aku tidak tau, yang pasti aku merasa nyaman saat berada di sampingnya" sahut Revan jujur.
Mendengar ucapan jujur Revan membuat sahabatnya senang, karna itu merupakan permulaan yang bagus, mengingat mereka akan menikah Karena perjodohan.
"Kayaknya ada yang lagi jatuh cinta nih"goda Rio melihat Revan, tak lupa ia menaikturunkan alisnya.
"Sepertinya sih iya, soalnya dari tadi senyum-senyum sendiri " tambah Dion.
"Terserah kalian saja" timpal Revan.
Bu Rahma menghampiri mereka dan menyuruh Revan untuk beristirahat di kamar tamu, Reno melangkahkan kakinya menuju kamar Ranti, sedangkan sahabat Revan sudah pulang ke rumah masing-masing setelah berpamitan pada Bu Rahma.
Revan menurut saja perkataan mamanya, dan mulai merebahkan tubuh kekarnya di atas tempat tidur, di tangannya masih menggenggam ponsel yang menampilkan wajah cantik Nadhifa.
Banyak gadis yang sudah dikenalkan Bu Rahma pada Revan, mereka tak kalah cantik dari Nadhifa tapi hanya pada Nadhifa Revan merasakan nyaman.
Revan merasa begitu tenang saat melihat wajah cantik Nadhifa, apalagi saat Nadhifa berada di dekatnya.
"Selamat malam Nadhifa, sampai bertemu besok" gumam Revan pelan.
Revan meletakkan ponselnya di atas meja, tak lama dirinya sudah tertidur pulas.
__ADS_1