Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
59. KELAHIRAN.


__ADS_3

Dengan sedikit berlari Raihan memasuki rumah sakit tempat istrinya akan melahirkan, karna rasa panik yang menderanya dia sampai lupa meninggalkan Revan yang sedang memarkirkan mobil.


Revan memaklumi perbuatan Raihan, ia akan melakukan hal yang sama jika Nadhifa melahirkan.


Untung saja tidak ada pekerjaan penting, jadi ia bisa ikut mengantarkan Raihan dan melihat bayi yang akan segera lahir.


Raihan berjalan menuju ruangan bersalin, keringat yang membasahi dahinya tak ia hiraukan, saat ini yang terpenting adalah keselamatan istrinya.


" apa Zahra sudah melahirkan?" tanya Raihan setelah ia sampai di hadapan Nadhifa.


" belum kak" sahut Nadhifa.


Tak lama seorang perawat keluar untuk memanggil suami Zahra karna wanita itu ingin ditemani.


" saya suaminya"


" baiklah pak, ikuti saya" pinta perawat itu.


Revan berjalan mencari ruang bersalin, ia melihat ada Nadhifa dan bibi Zahra yang sedang duduk di dekat ruangan.


" mas Re ikut kesini?" tanya Nadhifa usai mencium punggung tangan suaminya.


" iya, aku takut ada apa-apa karna wajah Rey tiba-tiba pucat" sahut Revan usai duduk di samping Nadhifa.


" mama mana?" tanya Revan setelah mendapati Bu Rahma yang tidak ada di sana.


" mama masih ke toilet" sahut Nadhifa.


tak lama Bu Rahma datang dan duduk di samping bibi Zahra.


" ibu yang tenang ya, insyaallah Zahra dan bayinya pasti baik-baik saja" ucap Bu Rahma.


" terimakasih" sahut bibi Zahra.


Dering ponsel bibi Zahra terdengar dari saku gamisnya, dengan cepat ia mengangkatnya.


" ibu ada di rumah sakit pak, Zahra mau melahirkan, bapak langsung kesini saja" ucap bibi Zahra.


Hampir satu jam mereka menunggu tapi belum terlihat seorangpun yang keluar dari ruangan itu membuat Nadhifa takut.


" mas, apa Zahra akan baik-baik saja?"


" kamu tenang saja, Zahra pasti baik-baik saja" sahut Revan, mengelus pundak Nadhifa dengan lembut.


terlihat paman Zahra dan kedua orangtua angkat Raihan datang dengan tergesa-gesa, sebelumnya mereka berpapasan di pelataran rumah sakit.


" Bu, gimana keadaan Zahra?" ucap paman Zahra.


" sepertinya Zahra sudah mau melahirkan, tadi perawat panggil Raihan" sahut bibi Zahra.


" semoga Zahra dan bayinya selamat ya" ucap ibu Raihan.


" Amin" sahut mereka serempak.


pintu ruangan terbuka, mereka semua melihat Raihan yang keluar dari ruangan itu dengan wajah berurai air mata.

__ADS_1


" apa Zahra, baik-baik saja?" tanya bibi Zahra usai mendekati Raihan.


" Alhamdulillah, mereka berdua selamat" sahut Raihan membuat mereka berucap syukur.


...


Saat ini Zahra dan bayinya sudah ditempatkan di ruang inap, ia harus menginap di rumah sakit selama satu hari untuk memulihkan kondisinya usai melahirkan.


semua orang sudah ada di ruangan itu, mereka tidak sabar untuk melihat keadaan Zahra dan bayinya.


terlihat bayi kecil yang tertidur lelap di gendongan Raihan.


mereka mengucapkan selamat untuk Zahra dan Raihan secara bergantian, tak lupa mendoakan bayi tampan Zahra dengan doa-doa yang baik.


" selamat ya Zahra" ucap Nadhifa dan Revan tersenyum.


" terimakasih ya" Sahut Zahra, yang terlihat masih lemas.


bayi mungil di gendongan Raihan menangis dengan keras, dengan segera ayah baru itu memberikan bayi tampan itu untuk di gendong Zahra.


Dokter mendatangi mereka, dan mempersilahkan Zahra untuk menyusui bayinya, tanpa diminta mereka keluar dari ruangan itu menyisakan Zahra, Raihan dan dokter wanita itu.


Dengan sabar, dokter mengajarkan Zahra cara memberikan ASI yang benar, apalagi ini adalah pengalaman pertama bagi pasangan muda itu.


...


Usai memastikan keadaan Zahra dan bayinya baik-baik saja, kini Revan, Nadhifa dan Bu Rahma pamit untuk pulang, hanya ada bibi dan paman Zahra yang menemani Zahra di rumah sakit.


Wajah Nadhifa terlihat begitu bahagia, saat ini ia sedang berada di mobil Revan, sedangkan Bu Rahma pulang bersama pak Ratno.


" sepertinya kamu senang sekali?" tanya Revan.


Revan mengelus puncak kepala istrinya dengan tangan kirinya, satu tangan yang lain masih sibuk mengemudikan kendaraan dengan baik.


" mau beli hadiah sekarang?" tawar Revan.


" boleh, mas Re gak capek?" sahut Nadhifa.


" tidak, mau ke mall yang biasanya?" tanya Revan yang mendapat persetujuan dari Nadhifa.


Keesokan harinya, Revan dan Nadhifa sudah bersiap mengunjungi Zahra karena tadi pagi Zahra sudah pulang.


Revan dengan senang hati mengantarkan istrinya, apalagi ia dapat melihat wajah Nadhifa yang terlihat sangat bahagia.


Usai memasukkan hadiah yang sudah mereka beli, Revan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Lalu lintas di siang hari tidak begitu padat hingga tak butuh waktu lama keduanya sudah sampai di rumah Zahra.


" assalamualaikum" ucap Nadhifa.


" waalaikum salam" sahut bibi Zahra yang baru membuka pintu rumahnya.


" silahkan masuk Dhifa, nak Revan" ucap bibi Zahra.


Revan membawa kantong plastik berisikan kebutuhan bayi, sedangkan Nadhifa membawa baju-baju bayi.

__ADS_1


Nadhifa memasuki kamar Zahra, sedangkan Revan duduk di ruang tamu bersama Raihan.


" assalamualaikum keponakan Tante" sapa Nadhifa.


Zahra yang baru menyadari kedatangan Nadhifa tersenyum, ia terlalu sibuk mengajak bayinya bercanda.


" waalaikum salam Tante Dhifa" ucap Zahra menirukan suara anak kecil membuat Nadhifa tertawa.


" dia belum tidur?" tanya Nadhifa pelan, ia duduk di samping Zahra.


" belum, dia baru saja pipis makanya bangun" sahut Zahra.


Nadhifa melihat bayi kecil itu sedang bergerak dan mengerjapkan matanya membuat Nadhifa begitu gemas.


" dia lucu sekali" ucap Nadhifa.


" iya, Alhamdulillah" sahut Zahra.


" keadaan kamu gimana? udah baikan?" tanya Nadhifa.


" iya Dhifa, sudah mendingan" sahut Zahra.


tak lupa Nadhifa menyerahkan dua kantong plastik yang sudah ia bawa.


" ini hadiah dari kami"


" tidak perlu repot Dhifa, kamu datang aku sudah senang sekali" sahut Zahra.


" kalau begitu, aku bawa si kecil keluar ya? soalnya mas Revan juga mau lihat" ucap Nadhifa.


Dengan senang hati Zahra mengangguk, tanpa buang waktu Nadhifa mendekati Revan yang sedang berbicara dengan Raihan.


" assalamualaikum om Revan" ucap Nadhifa menirukan suara anak kecil.


" waalaikum salam, keponakan om yang tampan" sahut Revan tersenyum, pria itu mengelus kepala si kecil yang masih belum ditumbuhi rambut.


" lucu ya, gak ada rambutnya" ucap Revan membuat Raihan tertawa.


" dia mirip seperti saya pak, waktu kecil bunda Lastri bilang kalau rambut saya belum tumbuh" sahut Raihan.


" pantas saja"


tak lama bayi kecil itu menangis kencang membuat Revan dan Raihan panik tapi tidak dengan Nadhifa, wanita itu menidurkan bayi kecil itu dan memeriksa popoknya.


" sepertinya keponakan Tante sudah pup ya?" ucap Nadhifa bermonolog.


Benar saja popok bayi itu sudah kotor, dengan segera Raihan mengambil tisu basah untuk membersihkan kotoran anaknya.


" biar Dhifa aja kak" ucap Nadhifa saat Raihan akan mengambil alih bayi itu.


Raihan menurut saat Nadhifa memintanya untuk mengambil kaos kaki baru untuk bayinya.


Revan memperhatikan Nadhifa yang terlihat begitu cekatan membersikan kotoran bayi itu tanpa jijik.


" sepertinya kamu mahir sekali" ucap Revan.

__ADS_1


" iya mas, waktu di panti aku kan sering bantu bunda buat ngurus adik-adik" sahut Nadhifa yang masih sibuk memasangkan popok bayi.


Revan mengangguk mengerti, istrinya sudah sangat mahir untuk mengurus bayi namun Allah masih ingin menguji rumah tangga mereka, ia dan sang istri harus bersabar menanti takdir yang sangat mereka harapkan.


__ADS_2