
Entah apa yang Nadhifa rasakan saat ini, ia harus sedih atau bahagia mendengar kabar yang baru saja ia dapatkan.
Usai mendapatkan kabar mengejutkan mengenai Zahra, mereka bertiga bergegas menuju rumah sakit yang dimaksud ibu angkat Raihan.
Mereka pergi menggunakan mobil Revan karna mengkhawatirkan Raihan yang terlihat sangat panik setelah mendengar kabar jika Zahra sedang berada di rumah sakit.
Revan melihat istrinya yang terdiam, ada rasa bahagia dan sedih yang terlihat jelas di mata indah istrinya itu.
" Sayang" ucap Revan seketika menyadarkan Nadhifa dari lamunannya.
" Ada apa mas?" Sahut Nadhifa.
" Kamu kenapa?" Tanya Revan khawatir.
Nadhifa mengelus punggung tangan suaminya
" Tidak ada apa-apa mas"
" Kamu yakin?"
" Iya mas"
Nadhifa mengajak Revan untuk menemui Zahra yang sedang terbaring lemah di salah satu ruangan di rumah sakit itu.
" Dhifa" ucap Zahra lemah.
" Zahra" sahut Nadhifa, wanita itu bergegas menghampiri Sahabatnya.
" Gimana keadaan kamu? Sudah lebih baik?" Tanya Nadhifa usai duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Raihan, pria itu menghampiri Revan yang baru masuk.
" Alhamdulillah sudah mendingan" sahut Zahra.
" Kenapa bisa Sampai masuk rumah sakit?" Tanya Nadhifa.
" Aku juga tidak tahu, tiba-tiba kepalaku pusing" jawab Zahra.
" Selamat ya" ucap Nadhifa tersenyum senang.
" Iya, terimakasih" sahut Zahra.
" Kamu harus jaga kandungan kamu dengan baik Zahra"
" Iya Dhifa"
Nadhifa dan Zahra melanjutkan perbincangan mereka mengenai beberapa hal seperti yang biasa mereka lakukan, begitupula Revan dan Raihan yang juga sibuk membicarakan urusan kantor.
" Kalau begitu aku pamit pulang ya, jangan lupa Istirahat yang cukup" pesan Nadhifa sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan rawat inap Zahra.
...
" Kamu kenapa?" Ucap Revan setelah melihat istrinya hanya diam saja, biasanya wanita itu akan mengajaknya berbicara.
" Tidak apa-apa mas" sahut Nadhifa menampilkan senyum palsunya.
Revan menghela nafasnya saat tahu jika Nadhifa sedang berbohong, sebagai seorang suami yang sudah menemani kehidupannya selama satu tahun Revan sangat tahu jika istrinya sedang berbohong, namun ia tidak bisa mendesak Nadhifa untuk bercerita.
" Mau mampir?"
" Tidak usah mas, kita pulang saja, mas Re pasti capek" sahut wanita itu dengan lembut.
Revan menuruti permintaan istrinya, ia mengemudikan mobilnya menuju rumahnya.
__ADS_1
" Kok sudah pulang nak?" Sapa Bu Rahma.
" Iya ma, urusan kantor sudah selesai" sahut Revan.
Keduanya berpamitan untuk pergi ke kamar, dan membersihkan diri sekalian bersiap untuk sholat.
" Kalau sudah, ayo turun" ucap Revan pada istrinya.
" Iya mas" sahut Nadhifa.
Di mushola sudah ada Bu Rahma dan bik Minah yang sudah menunggu, tidak ada si Kembar karna mereka belum pulang kuliah, tanpa membuang waktu mereka melaksanakan sholat berjamaah setelah adzan berkumandang.
Usai sholat mereka kembali ke kamar masing-masing dan kembali berkumpul untuk makan siang bersama.
" Ma, kami pamit ke atas ya" ucap Revan.
" Iya nak" sahut Bu Rahma.
" Sayang ayo kita ke atas" ajak Revan.
" Pergilah nak, biar mama sama bik minah yang beresin semuanya" ucap Bu Rahma setelah melihat Nadhifa yang ragu-ragu.
Nadhifa mengangguk dan mengikuti langkah kaki Revan menuju kamar mereka.
" Ayo mas Re istirahat, pasti mas Re capek" ucap Nadhifa yang sudah membuka hijabnya, wanita itu sudah menyiapkan bantal untuk Revan gunakan.
Tanpa menjawab pria itu mengikuti perintah istrinya, ia membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.
" Mau Dhifa pijatin lagi?" Tawar Nadhifa.
" Tidak perlu, seperti saja sudah cukup" sahut Revan yang sudah menarik Nadhifa dalam pelukannya.
" Tidak ada apa-apa mas"
" Beneran?" Revan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Nadhifa dengan intens untuk melihat ekspresi wanita itu.
" Iya mas Re gak perlu khawatir, Dhifa baik-baik saja, mas Re fokus saja pada perusahaan Dhifa percaya mas Re bisa" ucap Nadhifa menampilkan senyuman manisnya, meyakinkan suaminya jika ia baik-baik saja.
" Mas Re adalah pria yang hebat, dengan kerja keras mas Re sudah berhasil membangun perusahaan sendiri, jika sekarang perusahaan ini goyah aku yakin mas Re pasti bisa mengatasinya" imbuhnya menerbitkan senyuman di bibir pria dihadapannya.
" Terimakasih" ucap Revan, pria itu menghadirkan ciuman berkali-kali di kening istrinya.
" Sama-sama" sahut Nadhifa.
" Mas Re"
" Apa?"
" Rumah ini tidak dijual mas?" Tanya Nadhifa.
" Tidak perlu, semua kerugian sudah aku ganti" sahut Revan tenang.
" Dapat uang dari mana?" Sahut Nadhifa penasaran.
" Aku punya tabungan, sejak perusahaan ini berdiri aku selalu menyimpan sebagian penghasilanku, untuk berjaga-jaga jika hal ini terjadi" jelas Revan.
" Aku juga lebih suka menginvestasikan uang yang aku punya untuk membeli tanah daripada membeli sesuatu yang tidak penting" imbuhnya membuat Nadhifa semakin kagum pada suaminya.
" Jangan menatapku seperti itu, nanti kamu semakin jatuh cinta" ucap Revan menggoda istrinya.
" Aku memang selalu jatuh cinta padamu mas, bahkan setiap hari rasa cinta itu semakin bertambah" sahut Nadhifa jujur dengan wajah yang sudah merah merona.
__ADS_1
" Istriku ternyata juga pintar menggombal ya" ucap Revan terkekeh.
" Biarin, Dhifa gombalnya sama mas Re aja" sahut Nadhifa cemberut.
" Maafkan aku istriku"
" Sudah dimaafkan" sahut Nadhifa yang membuat mereka tertawa bersama.
Revan kembali menarik tubuh istrinya dalam pelukannya, ia menghirup aroma tubuh yang selalu membuatnya candu.
Ia sangat bahagia mendapatkan istri sebaik Nadhifa, istrinya itu selalu mendukung semua keputusannya bahkan Nadhifa selalu punya cara untuk menghiburnya.
Nadhifa menikmati pelukan hangat Revan, dada bidang itu selalu bisa membuatnya tenang bahkan rasa sedih yang tadi sempat dirasakan secara perlahan menghilang.
"Aku tidak boleh seperti ini, mas Revan sedang butuh dukungan dariku, aku tidak boleh menambah beban pikirannya" ucap Nadhifa dalam hati, wanita itu sudah bertekad akan selalu membuat suaminya bahagia.
...
Mendapatkan pasangan yang selalu mendukung semua keputusannya dan menjadi obat segala duka lara adalah hal yang sangat disyukuri Revan.
Pria itu sedang ada di sebuah rumah makan, hari ini ia akan bertemu dengan orang yang rencananya akan melakukan kerjasama, Revan sangat berharap jika orang itu akan bersedia menyetujui kerjasama yang ia ajukan.
Tak lama Raihan datang duduk di samping Revan, di tangan pria itu sudah ada berkas yang akan digunakan untuk pertemuan kali ini.
" Maaf pak, saya terlambat" ucap Raihan penuh sesal, wajah pria itu terlihat berkeringat mungkin ia berlari untuk segera sampai di sana.
" Tidak apa Rey, kenapa kamu berkeringat seperti itu?" Tanya Revan.
Raihan menjelaskan jika ia masih harus membujuk Zahra untuk makan, karna wanita itu tidak mau makan jika bukan suapan dari tangan Raihan.
Revan memakluminya, ia tahu jika wanita hamil akan lebih sensitif bahkan mereka bisa melakukan sesuatu yang tidak terduga.
" Tidak apa" sahut Revan santai, ia menepuk pundak sekertarisnya itu.
" Terimakasih pak" sahut Raihan.
Tak lama orang yang ditunggu Revan akhirnya datang, mereka melakukan pembicaraan mengenai kerjasama yang ditawari Revan.
Orang itu setuju dengan kerjasama yang Revan tawarkan karna menurutnya hal itu akan sangat menguntungkan bagi perusahaannya, namun saat hendak menandatangani kontrak terdengar bunyi ponsel dari saku jasnya.
Mendadak wajah orang itu menjadi pucat pasi hingga membuat Revan dan Raihan berpandangan.
" Maaf pak Revan, saya tidak bisa bekerjasama dengan anda" ucap pria itu.
Revan menghela nafas berat, ia sangat kecewa karna hal ini tidak terjadi hanya satu kali.
Beberapa perusahaan yang Revan ajak kerjasama mendadak membatalkan niatnya usai mendapatkan telpon dari seseorang yang tak Revan tahu.
" Tidak apa pak, terimakasih sudah bersedia menemui saya" ucap Revan sopan tak sungkan ia menjabat tangan pria dihadapannya dengan senyum tulusnya membuat pria itu merasa bersalah, namun ia harus melakukan hal itu karna jika tidak perusahaannya akan dalam masalah.
" Sekali lagi maafkan saya pak Revan" ucap pria itu tulus, Revan dapat melihat penyesalan yang terpancar dari wajah pria itu, ia jadi yakin jika ada yang mengancam pria itu.
" Tidak apa pak" sahut Revan tenang.
" Rey, kita gagal lagi" ucap Revan lirih pada Raihan yang duduk disampingnya.
" Tidak masalah pak, kita hanya perlu lebih kerja keras lagi" sahut Raihan menghibur atasannya itu.
" Kamu benar Rey, aku tidak boleh menyerah" ucap Revan, ia tidak akan menyerah begitu saja, ada banyak orang yang bergantung padanya.
" Tetap semangat pak" ucap raihan tulus.
__ADS_1