
Di sebuah rumah terlihat Sekelompok anak perempuan sedang bermain boneka, mereka berbicara seakan-akan boneka itu mengerti apa yang mereka katakan.
" Kak, aku mau minum dulu ya" ucap salah satu gadis kecil diantara mereka.
" Iya, kamu hati-hati ya" sahut gadis yang terlihat paling besar.
Sedangkan di sudut yang lain, sekelompok anak laki-laki bermain mobil-mobilan, terlihat wajah mereka serius saat menjalankan mobil mainan itu supaya sampai di tempat yang dituju.
Tiba-tiba terdengar suara orang menangis, dengan cepat salah satu bocah laki-laki itu mendekati gadis kecil yang terjatuh, tanpa basa-basi dia langsung membantu gadis kecil itu untuk berdiri.
" Sakit ya?" Tanya bocah laki-laki itu khawatir.
" Iya kak" sahut gadis kecil itu dengan wajah yang sudah memerah.
" Ayo aku bantu, jangan nangis lagi ya" ucap bocah kecil itu, menghapus air mata gadis kecil itu dan membantu memapah sampai keluar rumah.
Mereka berjalan menghampiri sekelompok orang dewasa yang sedang berbincang di Mushola.
" Mama" ucap gadis kecil tiba-tiba menangis.
" Jangan menangis, ayo kita kesana dulu" ajak bocah laki-laki itu.
Kedatangan mereka mengundang perhatian orang-orang dewasa itu.
" Sayang kamu kenapa?" Ucap seorang wanita diantara mereka dengan khawatir.
" Mama" sahut gadis kecil itu dan kembali menangis tersedu-sedu.
" Ayo duduk dulu, ada apa?"
" Kaki Nana sakit" sahut gadis kecil dengan suara bergetar.
" Tadi Nana jatuh ma" jelas bocah laki-laki itu.
" Sudah jangan nangis lagi ya, bentar lagi mama obatin" ucap wanita itu yang ternyata adalah Nadhifa.
" Kakak, tolong minta papa ambilkan kotak obat di dalam" pinta Nadhifa pada anak sulungnya, Vandi.
" Papa mana?" Sahut Vandi.
" Ada di dalam, tadi papa ke kamar mandi" sahut Nadhifa yang kembali membujuk anak perempuannya supaya berhenti menangis.
Dengan segera Vandi mencari Revan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
" Papa"
" Ada apa sayang?" Sahut Revan lembut.
" Mama minta tolong ambilkan kotak obat" sahut Vandi.
__ADS_1
Tanpa menyahut Revan mengambil sekotak obat yang berada tak jauh dari jangkauannya.
" Siapa yang sakit?" Tanya Revan.
" Nana tadi jatuh pa, lututnya luka" jelas Vandi.
Revan mengangguk mengerti dan mengajak putra sulungnya keluar.
" Anak papa kenapa?" Ucap Revan saat duduk disamping Nana, tak lupa ia juga memangku Vandi.
" Kaki Nana sakit pa" sahut gadis kecil itu.
" Sudah jangan nangis, setelah mama obatin pasti gak sakit lagi" ucap Nadhifa yang masih sibuk membersihkan darah yang menetes tak lupa ia juga membalutkan plester di lutut yang luka.
" Nah sekarang lukanya sudah sembuh, Nana mau main lagi?" Tanya Nadhifa yang mendapatkan anggukan dari gadis kecil itu.
" Biar Vandi yang antar kesana ma, takutnya Nana jatuh lagi" sahut Vandi yang sudah berdiri dari pangkuan Revan dan menuntun adik kembarnya masuk kedalam rumah.
" Vandi itu mirip sekali sama Revan waktu kecil" ucap Bu Rahma yang sejak tadi diam saja.
" Benarkah?" Tanya bunda Lastri.
" Iya bunda, dulu kalau adik-adiknya nangis Revan selalu menghibur mereka, waktu mereka masih kecil Ranti pernah jatuh dari sepeda, Revan menggendong Ranti sampai ke rumah, padahal tempat mereka bermain jauh dari rumah" Jelas Bu Rahma membuat Revan malu, pasalnya semua orang menatapnya.
" Kenapa lihatin Revan kayak gitu? Revan jadi grogi tau" ucap Revan membuat mereka semua tertawa.
" Amiiiin"
...
Hari ini adalah hari kelahiran Vandi dan Nana, mereka akan genap berusia enam tahun, saat ini di rumah Bu Rahma sudah terlihat banyak sekali anak kecil.
Mereka adalah teman sekolah Vandi dan Nana yang sengaja diundang untuk memeriahkan acara, bahkan adik-adik panti juga sudah berada disana bersama Akbar.
Airin juga sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, saat ini ia sudah kelas enam sekolah dasar, beberapa bulan lagi ia akan melaksanakan ujian nasional.
Di dalam kamar Nadhifa masih sibuk merapikan pakaian kedua buah hatinya, setelah mereka siap, ia meminta keduanya untuk turun ke bawah terlebih dahulu.
Revan memasuki kamar dan mendapati Nadhifa yang sedang duduk bersandar di atas ranjang, dan itu sungguh membuatnya khawatir.
" Sayang, kamu gak apa-apa?" Ucap Revan setelah duduk disamping Nadhifa.
" Dhifa gak apa-apa mas, cuma agak pusing" sahut Nadhifa tersenyum kecil untuk menyembunyikan rasa sakitnya.
" Kita ke rumah sakit ya" ucap Revan karna mendapati wajah istrinya semakin pucat, sudah tiga hari Nadhifa merasa tidak enak badan namun hari ini wajah Nadhifa terlihat begitu pucat.
" Tapi sayang..." Ucapan Revan terputus saat Nadhifa menggeleng.
" Hari ini hari ulang tahun si kembar mas, aku gak mau bikin acara mereka gagal, setelah acara ini selesai baru aku bisa ke rumah sakit".
__ADS_1
Revan hanya pasrah, ia membantu istrinya berdiri dan merapikan pakaian keduanya.
" ayo kita turun, kalau kamu sudah gak kuat bilang saja ya"
" Iya mas, jangan terlalu khawatir" sahut Nadhifa.
Mereka berdua menghampiri tamu-tamu yang sudah hadir, ada anak-anak sahabat Revan yang juga mereka undang.
Acara di mulai dengan meriah, ada banyak kado yang Vandi dan Nana dapatkan, sebuah kue ulangtahun sudah berada di hadapan si kembar, anak-anak yang diundang menyanyikan lagu selamat ulangtahun dengan kompak.
setelah itu Vandi dan Nana meniup lilin, keduanya memotong kue dan menyuapkannya pada Nadhifa dan Revan.
Anak-anak yang ada disana juga sudah mendapatkan potongan kuenya, dengan senang hati mereka melahap kue berbahan dasar cokelat yang mereka sukai.
Kini rumah Bu Rahma sudah sepi, teman-teman sekelas Vandi dan Nana sudah pulang ke rumah masing-masing, begitu pula anak-anak panti yang juga sudah diantarkan pulang dengan mobil yang Revan sewa dengan membawa bingkisan yang sudah disiapkan.
Zahra, Raihan dan Akbar juga sudah pulang bersama para sahabat Revan yang lain setelah mereka berbincang ringan beberapa waktu.
Revan dan Nadhifa masih setia menunggu si kembar membuka hadiah yang mereka dapatkan.
" Ma, Nana dapat tas baru" seru Nana girang.
" Iya sayang, tapi Nana harus rajin sekolah ya" sahut Nadhifa tersenyum.
" Kakak dapat apa?" Tanya Revan pada Vandi.
" Vandi dapat sepatu baru pa" sahut Vandi tersenyum.
" Wah bagus sekali, pasti nanti sekolahnya tambah semangat" ucap Revan.
Si kembar kembali membuka kado itu dengan semangat, mereka sangat senang karna ini adalah kali pertama ulang tahun mereka dirayakan.
" Mas, aku ke kamar dulu ya" ucap Nadhifa yang sudah berdiri dari duduknya.
" Sayang, wajah kamu pucat banget, aku antar ya" sahut Revan khawatir, ia mendekati Nadhifa.
" Tidak apa-apa mas, mas Re disini saja temani si kembar" tolak Nadhifa halus.
" Baiklah, tapi kamu harus istirahat ya" ucap Revan.
" Iya mas"
Nadhifa mendekati si kembar dan berpamitan untuk kembali ke kamarnya karna sudah mengantuk, itulah alasan yang ia katakan.
Mendapatkan anggukan dari kedua anaknya Nadhifa bergegas keluar, saat ia sudah sampai di depan pintu, kepalanya tiba-tiba pusing, semua yang ia lihat seakan berputar-putar, ia mencari pegangan supaya tidak terjatuh namun tubuhnya terasa semakin lemas.
Revan yang tak sengaja melihat ke arah Nadhifa langsung berlari saat mendapati tubuh Nadhifa yang nyaris pingsan.
" Sayang" ucap Revan panik, ia menepuk pipi Nadhifa dengan lembut kala Nadhifa sudah terpejam.
__ADS_1