
Nadhifa masih terduduk di atas ranjang memandangi beberapa bingkisan kado yang ia dapat sebagai hadiah pernikahannya, di sampingnya ada Revan yang juga duduk bersila melihat ada cukup banyak hadiah yang didapat istrinya.
"Kenapa banyak sekali hadiah ?" tanya Revan.
"Iya mas, tadi pagi aku dapat hadiah dari mama sama si kembar, kemarin juga dapat dari kak Ranti"
"Oh begitu" Revan manggut-manggut mendengar jawaban istrinya.
Nadhifa meraih salah satu bingkisan kado yang terbungkus kertas berwarna biru bermotifkan bunga-bunga, yang Nadhifa tau hadiah itu adalah pemberian sahabat terbaiknya.
"Aku buka yang ini dulu ya mas" tanya Nadhifa.
"Iya" jawab Revan singkat.
Perlahan Nadhifa merobek bungkusan kado itu sehingga nampak dua buku yang masih terbungkus rapi dengan plastik.
"Buku apa ini ya?" tanya Nadhifa penasaran.
Revan hanya memperhatikan gerak-gerik gadis cantik di depannya, ya istrinya masih gadis karna Revan belum pernah menyentuh istrinya lebih jauh.
Nadhifa tersenyum setelah membaca judul buku di tangannya, ternyata sahabatnya itu sangat mengerti apa yang dibutuhkannya.
"Buku apa ?" tanya Revan penasaran.
"Ini buku yang aku butuhkan mas" jawab Nadhifa.
"Coba lihat" ucap Revan.
Nadhifa memperhatikan dua buku yang ada dalam genggamannya pada Revan membuat Revan tersenyum simpul.
"Aku yakin kamu akan jadi istri yang Sholehah untukku" ucap Revan mengelus kepala Nadhifa dengan lembut, tak ada hijab yang menghalanginya karna Revan meminta Nadhifa untuk membuka penutup kepala jika hanya berdua dengan Revan.
Nadhifa membuka hadiah yang lainnya atas perintah suaminya, Nadhifa mengambil bungkusan warna pink yang cukup besar.
"Ini dari mama mas" ucap Nadhifa memberi tahu Revan.
"Ayo dibuka aku penasaran mama kasih apa sama menantunya yang cantik ini" goda Revan yang membuat pipi Nadhifa bersemu merah.
Revan sangat menyukai warna merah yang muncul di pipi istrinya saat malu, membuat Revan gemas ingin mencium pipi istrinya itu,
Setelah bungkusan terbuka, terlihat gamis berwarna navy kombinasi abu yang merupakan warna kesukaan Nadhifa, tak lupa hijab senada yang menjadi pelengkapnya.
"Wah, bagus banget mas" ucap Nadhifa.
"Kamu suka?" tanya Revan.
__ADS_1
Nadhifa mengangguk antusias membuat Revan tersenyum.
Nadhifa juga membuka kado yang diberikan si kembar yang berisi dua hijab instan yang cantik, dan sepaket peralatan makeup yang cukup lengkap.
"Alhamdulillah mas, aku udah punya peralatan makeup yang lengkap, jadi aku hanya tinggal belajar saja" tutur Nadhifa dengan senyuman yang tak pudar di wajahnya.
Revan mengangguk membiarkan Nadhifa membuka hadiah yang diberikan Ranti, adiknya, bingkisan kado berwarna hijau muda dengan motif bunga mawar yang bermekaran indah.
Saat bungkusan sudah terbuka, Nadhifa mengucek matanya berkali-kali, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah, di hadapannya ada sebuah baju yang seperti kekurangan bahan, terbuat dari bahan yang sangat tipis, terdapat renda-renda yang menghiasi bagian dada.
Secara perlahan Nadhifa membeberkan baju kekurangan bahan di depannya, matanya melotot melihat desain baju itu, Nadhifa membayangkan jika dirinya memakainya pasti lekuk tubuhnya akan terlihat sangat jelas, apalagi dengan warna merah menyala yang kontras dengan warna kulitnya.
Nadhifa meraih sebuah kartu ucapan yang terjatuh saat membeberkan baju itu.
Happy Wedding kakak ipar
jangan lupa pakai lingerie ini ya
Abang tersayang ku pasti suka
ucapan Ranti sukses membuat wajah Nadhifa memerah, Nadhifa membayangkan dirinya memakai lingerie itu di hadapan Revan, membuat Nadhifa menggelengkan kepalanya.
Revan yang baru keluar dari kamar mandi mengamati tingkah laku Nadhifa yang menurutnya sedikit aneh.
Nadhifa refleks menyembunyikan hadiah dari Ranti di belakang tubuhnya.
Nadhifa menggeleng, bingung ingin mengatakan apa, ingin berkata jujur tapi dia malu.
"Kamu menyembunyikan apa Dhifa?" tanya Revan penasaran saat sudah duduk di tempat semula.
Tak ada jawaban dari Nadhifa, hanya saja wajah Nadhifa yang memerah membuat Revan semakin penasaran.
"Dhifa" ucap Revan penuh penekanan membuat Nadhifa semakin gugup.
"Ayo, beri tahu aku apa yang kamu sembunyikan" titah Revan sedikit memaksa membuat Nadhifa secara pasrah memperlihatkan lingerie berwarna merah menyala di hadapan Revan.
Saat menyadari sesuatu yang di sembunyikan istrinya adalah sebuah lingerie, membuat Revan salah tingkah, tapi sebisa mungkin Revan mencoba untuk biasa saja, secara perlahan Revan menghela nafas.
"Ini dari Ranti?" tanya Revan setelah berhasil menguasai diri.
Nadhifa hanya mengangguk, menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Tidak perlu kamu pakai jika tak suka" ucap Revan.
Nadhifa mengangguk patuh, dan mulai menyimpan hadiah itu di tempatnya.
__ADS_1
sementara Revan sudah berbaring di atas ranjang menanti istrinya yang masih terlihat sibuk.
Usai dengan pekerjaannya, Nadhifa menaiki ranjang dan memposisikan diri di samping Revan, saat merasakan ada pergerakan disampingnya, Revan yang sedang memejamkan mata kembali membuka kedua matanya.
"Mendekat lah" titah Revan yang langsung di turuti Nadhifa.
Secara perlahan Nadhifa mendekati tubuh gagah suaminya itu, meskipun masih terasa malu, tapi Nadhifa harus terbiasa dengan kedekatan mereka.
Revan merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan, menghirup aroma shampoo yang dikenakan Nadhifa, entah mengapa Revan sangat suka tidur dengan posisi seperti ini.
Nadhifa tersenyum dalam dekapan Revan, ada sesuatu yang ingin dia katakan tapi Nadhifa masih merasa sungkan.
"Mas Revan" ucap Nadhifa pelan.
"Ada apa? katakan saja!" sahut Revan yang kembali membuka matanya yang tak sengaja bertatapan dengan mata indah istrinya, bulu mata lentik Nadhifa membuat Revan betah memandang wajah cantik istrinya.
"Apa aku boleh main ke panti?" tanya Nadhifa hati-hati.
"Kamu mau main kesana?" tanpa menjawab pertanyaan Nadhifa ,Revan kembali bertanya.
Nadhifa mengangguk, membernarkan ucapan suaminya.
"Aku kangen sama anak panti mas, bunda Naya, bunda Lastri, ayah Rahman dan sahabatku Zahra, aku kangen sama mereka semua" ucap Nadhifa dengan mata yang berbinar cerah.
"Baiklah, besok aku antar kamu kesana" ucap Revan yang membuat Nadhifa refleks memeluk erat tubuh Revan.
Revan yang mendapat pelukan dari Nadhifa tersenyum senang, Revan pun membalas pelukan Nadhifa lebih erat.
"Tapi ada syaratnya" ucap Revan tiba-tiba.
Nadhifa melonggarkan pelukannya, menatap Revan dengan dahi berkerut membuat Revan semakin gemas melihat tingkah istrinya itu.
"Apa syaratnya? " tanya Nadhifa polos.
Revan tak menjawab pertanyaan Nadhifa, secara perlahan Revan mendekati wajah Nadhifa.
"Mas Revan, ada a.."
ucapan Nadhifa terhenti kala Revan menyatukan bibir mereka, Revan mengecup lembut bibir istrinya, merasakan rasa manis yang menjadi candu untuknya, merasa terbuai dengan ciuman suaminya, Nadhifa memejamkan mata dan menikmati sapuan lembut bibir Revan.
Cukup lama mereka berciuman, setelah merasa kehabisan oksigen Revan menjauhkan wajah untuk melihat wajah istrinya yang selalu saja memerah.
Revan mengelus lembut bibir istrinya yang terlihat agak bengkak akibat ulahnya, membuat Nadhifa semakin malu.
"Bibirmu selalu manis " bisik Revan di telinga Nadhifa membuat Nadhifa menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya.
__ADS_1