Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
49. PERNIKAHAN ZAHRA RAIHAN.


__ADS_3

Revan dan Nadhifa sudah tiba di rumah Zahra, namun ada yang berbeda karena terdapat beberapa hiasan dan dekorasi yang memperindah rumah itu.


sebuah pelaminan yang tidak terlalu besar dipilih Zahra untuk melangsungkan resepsi pernikahan, pagi ini ia akan menikah dengan kekasihnya, Raihan.


sudah tersedia meja yang akan digunakan untuk akad nikah, terlihat beberapa tetangga yang ikut membantu tuan rumah untuk menyuguhkan hidangan.


Revan dan Nadhifa berjalan mendekati rumah itu, keduanya terpisah setelah Revan pamit ingin menemui ayah Rahman dan yang lain.


Nadhifa melangkahkan kakinya menuju kamar pengantin wanita usai menyapa bibi dan paman Zahra.


tok...tok...tok...


Nadhifa mengetuk pintu kamar Zahra agak keras hingga nampak seorang wanita yang tidak Nadhifa kenal membuka pintu itu.


Nadhifa sedikit canggung dan merasa tak enak hati, namun wanita itu mempersilahkan Nadhifa untuk segera masuk.


" Dhifa?" ucap Zahra, ia berdiri untuk menyambut kedatangan sahabatnya namun Nadhifa melarangnya.


" kamu duduk aja, selesaikan makeup mu dulu" ujar Nadhifa.


Zahra mengangguk dan membiarkan perias wanita itu kembali memoles wajahnya dengan peralatan makeup.


tak butuh waktu lama Zahra sudah terlihat cantik, Perias itu membantunya memakai kebaya berwarna putih yang sudah disiapkan Zahra.


" duh, cantik banget, sahabatku" ucap Nadhifa setengah menggoda Zahra yang saat ini tersipu malu.


" udah, jangan godain aku " sahut Zahra seraya tertawa kecil.


" biarkan saja, aku mau balas dendam karna kamu juga pernah kayak gitu kan?" ucap Nadhifa.


" ya, ya terserah kamu saja"


keduanya kembali diam karna saat ini kepala Zahra sudah dihias dengan hijab dan mahkota kecil yang menambah keindahan di atas kepala Zahra.


usai dengan pekerjaannya, kedua perias itu berpamitan keluar.


" kayaknya kak Raihan dan rombongan sudah tiba" ucap Nadhifa.


" iya, Dhifa aku deg degan banget tau" sahut Zahra.


Nadhifa menghampiri sahabatnya dan menyentuh kedua tangan Zahra yang terasa basah.


" kamu gugup ?" ucap Nadhifa.


" iya, apa kamu dulu kayak gini juga?" sahut Zahra yang dibalas anggukan oleh Nadhifa.


" kamu tenang saja, perbanyak baca do'a supaya kak Raihan bisa lancar ngucapin ijab kabulnya" ucap Nadhifa.


" iya"


" foto dulu ya, buat kenang-kenangan" ucap Nadhifa.


" baiklah, ambil fotoku yang banyak, aku tahu kamu pasti selalu merindukanku" sahut Zahra tertawa kecil.


...


Air mata kebahagiaan menetes di wajah cantik Zahra saat Raihan dengan lancarnya mengucapakan lafal ijab Kabulnya.


saat ini statusnya sudah berubah menjadi istri seorang Raihan, lelaki yang tanpa sadar bertakhta di hatinya.


" selamat Zahra, semoga sakinah mawadah warahmah yaaa" ucap Nadhifa memeluk tubuh Zahra.


" terimakasih" sahut Zahra.


" udah jangan nangis nanti makeup nya luntur" hibur Nadhifa.


" kayaknya aku harus keluar dari sini, sebentar lagi suamimu pasti akan segara datang" ucap Nadhifa menggoda.

__ADS_1


pipi Zahra merona mendengar ucapan sahabatnya, ia sungguh malu untuk berhadapan dengan Raihan.


Nadhifa terkekeh melihat wajah cantik Zahra yang sudah memerah ia segera keluar untuk mempersilahkan sang pengantin pria menghampiri wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.


seperti dugaan Nadhifa, di depan pintu sudah ada Raihan yang berdiri tak kalah gugup, di belakang pria itu ada Revan yang sengaja mengantarkan Raihan menemui istrinya.


" Baiklah sayang, sebaiknya kita segera tinggalkan pengantin baru ini" ucap Revan melirik Raihan, ia mendekati Nadhifa seraya menarik tangan Nadhifa dengan lembut.


" kak Raihan, selamat ya" ucap Nadhifa.


" di dalam sudah ada bidadari yang sudah menunggumu kak" lanjutnya membuat Raihan semakin gugup.


" udah, jangan di goda terus, lebih baik kamu goda Aku aja" ucap Revan menggoda.


" ih, mas Revan" sahut Nadhifa mencubit kecil perut keras suaminya.


" jangan di cubit sayang" ucap Revan mengelus perutnya yang terasa sedikit sakit.


" biarin aja" sahut Nadhifa malu, wanita itu bergegas meninggalkan Revan yang sedang tertawa.


" masuklah Rey, istrimu sudah menunggu"ucap Revan menepuk pundak Raihan.


" terimakasih pak" sahut Raihan.


...


" ternyata istri cantikku ada disini" ucap Revan setelah mendudukkan tubuhnya disamping Nadhifa.


Nadhifa diam tak membalas ucapan suaminya.


" jangan marah sayang" ucap Revan.


" habisnya ma Re godain aku terus, aku malu mas" ucap Nadhifa mendengus.


" baiklah, istriku sayang maafkan suamimu yang tampan ini ya" ucap Revan memasang wajah memelas membuat Nadhifa tertawa.


" aku tuh gak bisa marah lama-lama sama kamu mas" ucap Nadhifa saat membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


untung saja saat ini tidak ada orang lain di sana karna mereka sedang berada di halaman belakang panti.


" sekarang kita samperin pengantin baru itu" ajak Revan menarik tangan Nadhifa untuk berdiri disampingnya.


" jangan lupa hadiahnya mas" ucap Nadhifa.


Revan mengangguk, keduanya berjalan menuju rumah Zahra dengan kotak kado yang sudah Revan ambil di bagasi mobilnya.


" mas Re yakin jika mereka suka hadiah ini?" ucap Nadhifa.


" aku sangat yakin sayang, karna aku juga menyukainya" sahut Revan tersenyum mesum.


" dasar suami mesum" ucap Nadhifa menyembunyikan rona merah di wajahnya.


" mesumnya cuma sama kamu doang" sahut Revan cuek.


tak butuh waktu lama keduanya sudah berdiri di atas pelaminan, terlihat pengantin baru itu malu-malu.


" selamat sahabatku sayang" ucap Nadhifa memeluk tubuh Zahra.


" terimakasih" ucap Zahra.


" selamat Rey, semoga kalian selalu bahagia" ucap Revan.


" terimakasih pak" sahut Raihan.


" kak Raihan tolong jaga sahabatku ya" ucap Nadhifa serius.


" tenang saja, kebahagiaan Zahra adalah tujuanku saat ini" sahut Raihan tersenyum seraya menatap wajah Zahra yang sudah merona mendengar ucapannya.

__ADS_1


" duh, pipi sahabatku jadi tambah merona" ucap Nadhifa menggoda.


" Dhifa" sahut Zahra merajuk, ia sungguh malu saat ini.


" baiklah, sekarang kita foto bersama" ucap Revan yang sudah mengeluarkan ponselnya.


mereka berempat foto bersama dengan pengantin baru yang berada di tengah dengan wajah malu-malu.


" hadiah dari kami udah ada di kamarmu Zahra, semoga kalian suka" ucap Nadhifa.


" terimakasih Dhifa" ucap Zahra dan Raihan bersamaan.


" Baiklah, kami harus turun sekarang" ajak Nadhifa menarik tangan Revan untuk segera turun dari pelaminan karna melihat beberapa tamu undangan menaiki pelaminan.


...


" mas Re mau makan apa?" ucap Nadhifa, saat keduanya duduk di kursi yang tersedia di halaman rumah Zahra.


" apa aja" sahut Revan.


" tunggu dulu mas, aku akan ambilkan dulu" ucap Nadhifa meninggalkan Revan.


Nadhifa sudah datang membawa dua piring berisi makanan dan memberikan salah satunya pada Revan, keduanya makan tanpa berbicara seperti yang biasa mereka lakukan.


" tunggulah disini, aku yang akan mengambilkan minuman" ucap Revan saat Nadhifa belum menghabiskan makanannya.


" iya mas" Nadhifa kembali menyendok makanan kedalam mulutnya.


tak lama seorang pria datang menghampirinya, hingga membuat Nadhifa seketika berhenti.


" apa kabar Dhifa?" ucap pria itu.


" Alhamdulillah baik mas" sahut Nadhifa ramah.


" kamu sama siapa?" ucap pria itu.


" sama suamiku, dia masih mengambil minuman" sahut Nadhifa.


" kamu sudah menikah?"


" iya kak, istri kak Alif mana?" tanya Nadhifa saat melihat pria itu sendirian.


" dia masih ke kamar mandi" sahut Alif.


" ini sayang minumnya" ucap Revan yang seketika duduk disamping Nadhifa, pria itu menyodorkan segelas air putih pada Nadhifa.


" terimakasih mas" sahut Nadhifa, ia Segera meneguk air itu hingga tandas.


" ini suami kamu?" ucap pria yang bernama Alif.


" iya mas, mas Re kenalkan dia kak Alif" ucap Nadhifa pada Revan yang saat ini melihat pria yang duduk di depan Nadhifa.


" saya Revan, suami Nadhifa" ucap Revan tegas mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Alif.


" saya Alif teman Nadhifa waktu SD, senang bertemu denganmu" ucap Alif ramah.


seorang wanita menghampiri mereka bertiga dengan perut buncitnya yang nampak meskipun sudah memakai baju yang tertutup sempurna.


" Dhifa, apa kabar?" sapa wanita itu dengan ramah.


" Dhifa baik kak, wah kak Tasya sudah hamil berapa bulan?" ucap Nadhifa antusias.


" sudah memasuki bulan ke sembilan jadi sering bolak-balik ke kamar mandi" sahut wanita itu dengan senyum yang pudar di bibirnya.


" boleh aku pegang" ucap Nadhifa.


" boleh" ucap wanita itu, ia membiarkan Nadhifa mengelus perutnya walaupun sedikit terasa geli.

__ADS_1


Revan menatap wajah cantik istrinya yang sedang tersenyum lebar kala merasakan pergerakan dari dalam perut Tasya.


ia tahu jika istrinya sangat menginginkan seorang bayi, namun yang maha kuasa masih belum mempercayai mereka hingga mereka harus menunggu waktu yang tepat.


__ADS_2