
Nadhifa sibuk mempersiapkan pakaian yang akan digunakan suaminya, sedangkan pria itu masih belum kembali ke kamarnya.
Ia tersenyum kecil saat mengingat kejadian semalam, saat ia berusaha membujuk suaminya yang tengah cemburu.
Usahanya berhasil, saat suaminya membalikkan badan dan mau mendengarkan penjelasannya tentang Raihan.
Sejak kejadian itu, ia jadi tau jika suaminya juga mempunyai sifat manja, terbukti saat Revan memintanya untuk memeluk pria itu terlebih dahulu, hingga pria itu bisa tertidur dalam dekapan hangatnya.
Tak hanya itu, Revan juga memintanya untuk mengelus rambutnya supaya ia cepat terlelap, padahal biasanya Revan yang akan melakukan hal itu.
Ia hanya menyunggingkan senyum manisnya, menuruti permintaan suaminya, hingga akhirnya dia lupa untuk menyiapkan pakaian kerja suaminya.
Tak henti tersenyum kecil, ia tak menyadari seseorang mendekatinya dan melingkarkan kedua tangan di atas perut ratanya.
"Mas Re, kirain siapa?" ucap wanita itu sedikit tersentak, saat menyadari orang itu adalah suaminya, ia tak sungkan untuk meletakkan kedua tangan di atas punggung tangan suaminya dan mengelusnya pelan.
"Ayo mas, aku bantu siap-siap" ucap Nadhifa yang berusaha membalik tubuh, namun tak berhasil karena Revan lebih dahulu menahan pergerakannya.
"Biarkan seperti ini dulu" sahut Revan dan mulai memberikan ciuman singkat di pundak mulus istrinya.
Tak hanya itu, pria itu bahkan mengecup tengkuk istrinya dengan lembut membuat Nadhifa semakin malu, melakukannya berkali-kali hingga membuat wajah Nadhifa semakin memanas.
"Kamu wangi sekali" ucap Revan yang mengendus aroma mawar di rambut istrinya.
"Kamu kapan sucinya sayang?" bisik Revan agak serak tepat di telinga istrinya.
"Sabar mas, kurang beberapa hari lagi" sahut Nadhifa yang membuat Revan mengerucutkan bibir.
"Apa masih lama?" ucap Revan yang kembali mencium pundak istrinya.
"Biasanya lima hari lagi baru bersih" sahut Nadhifa yang membuat Revan semakin semangat mengecup tengkuk istrinya.
"Mas" ucap Nadhifa pelan, membuat Revan menghentikan kegiatannya.
"Ada apa?" tanya Revan yang merasa tak suka ada yang mengganggu kegiatannya itu.
"Ayo, aku bantu bersiap, nanti mas telat ke kantor" jawab Nadhifa, melepaskan pelukannya Revan membalik tubuh istrinya.
"Baiklah, kalau begitu berikan aku hadiah" ucap Revan dengan senyum menggoda.
"Hadiah apa?" tanya Nadhifa dengan jantung yang berdetak kencang.
__ADS_1
Menyodorkan pipinya, Revan memberi isyarat supaya Nadhifa mencium pipinya.
"Ayo sayang, di sini" ucap Revan.
Mengangguk malu, Nadhifa mendekat dan melakukan perintah suaminya, saat ia akan berlalu ternyata Revan menahan tangannya.
"Yang ini juga sayang biar gak cemburu" ucap Revan dan menepuk pipi yang lain.
Kembali menuruti perintah suaminya, Nadhifa benar-benar mencium pipi suaminya, hingga membuat Revan tersenyum senang.
"Ada yang ketinggalan sayang" ucap Revan saat Nadhifa ingin pergi dari sana.
"Apa lagi mas?" ucap Nadhifa yang masih menunduk menyembunyikan rona merah yang menghiasi wajahnya.
sungguh ia malu, namun ia berusaha menghilangkan rasa malu untuk menyenangkan hati suaminya.
"Di sini sayang" ucap Revan yang menunjuk bibirnya, membuat Nadhifa semakin malu.
"Mas Re, malu tau" sahut Nadhifa yang membuat Revan semakin gemas.
"Kalau kamu gak mau, aku gak jadi kerja, aku marah sama kamu" ancam Revan dengan wajah serius, tak lupa kedua tangan ia letakkan di depan dada untuk mendukung aktingnya, namun sepertinya Nadhifa tak menyadari jika suaminya hanya menggodanya.
"Baiklah, tapi mas Revan merem dulu ya" ucap Nadhifa polos yang di balas anggukan mantap oleh suaminya.
Terbawa suasana, ia juga memejamkan mata menikmati sapuan lembut bibir Revan yang secara tak sadar sudah menjadi candu untuknya.
Melepaskan ciumannya, Revan memandangi wajah polos istrinya yang terlihat memerah, bahkan bibir istrinya masih terlihat masih basah membuat Revan ingin melakukannya lagi.
"Seperti itu yang benar sayang" ucap Revan yang sangat menyukai wajah istrinya yang merona.
"Mas Revan, udah aku malu" sahut Nadhifa.
Mengecup puncak kepala istrinya, Revan menurut saat Nadhifa memintanya untuk bersiap.
Membuka baju Koko yang dipakainya, Revan mulai memakai kemeja yang sudah disiapkan istrinya.
Ia tersenyum kecil, saat Nadhifa yang terlihat salah tingkah saat melihatnya bertelanjang dada.
Melepaskan sarung dan memakai celana kerja warna hitam dan mulai memakainya, ia mendekati Nadhifa dan meminta istrinya untuk membantu merapikan kancing kemejanya, yang hanya di balas anggukan dari wanita itu.
Usai memastikan pakaiannya sudah rapi, Revan menggandeng Nadhifa untuk turun ke bawah.
__ADS_1
"Ayo ke bawah, aku sudah lapar" ajak Revan.
...
"Maaf pak, tadi ada Bu Nina mencari anda" ucap Rey saat melihat atasannya datang.
Wajah Revan terlihat tak suka saat mendengar wanita itu datang mencarinya.
"Ada perlu apa dia kesini? bukankah perusahaan kita baik-baik saja" sahut Revan acuh.
"Saya tidak tau pak, beliau berkata ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada anda" tutur Rey.
"Baiklah Rey, terima kasih" ucap Revan dan mulai memasang wajah dingin nan datarnya lagi.
Memasuki ruangannya, Revan membuka berkas yang sudah disiapkan Rey sebelumnya, membacanya dengan teliti dan mulai mempelajarinya.
Pikirannya kembali tak fokus, saat memikirkan alasan salah satu pemegang saham di perusahaan mereka mendatanginya.
"Ada perlu apa Nina kesini?" ucap Revan yang mulai memijat pelipisnya.
"Sepertinya perusahaan tidak ada masalah" gumam Revan pelan.
Memutuskan kembali fokus pada setumpuk berkas yang ada di hadapannya, Revan mengerjakan tugasnya dengan kemampuan terbaiknya, karna ia tak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah percaya padanya.
Konsentrasinya terganggu, saat wanita yang dimaksud Rey sudah berdiri di hadapannya.
"Maaf ada perlu apa, Bu Nina?" ucap Revan yang berusaha berbicara sopan.
"Jangan terlalu kaku seperti itu Revan, aku hanya ingin mengunjungimu" sahut wanita itu dan mendudukkan diri di depan meja kerja Revan, tak lupa senyuman terbaik ia tampilkan untuk menarik perhatian pria di hadapannya.
Revan menatap malas wanita di hadapannya, ia tak menyukai wanita yang terlalu agresif seperti Nina.
"Maaf Bu Nina, seperti yang anda tau pekerjaan saya banyak, jadi saya tidak ada waktu untuk menerima kunjungan dari anda" ucap Revan penuh penekanan namun masih terdengar sopan.
Wanita itu mengepalkan tangannya mendengar kata yang terlontar dari mulut pria di hadapannya, ia merasa tersinggung karena secara tak langsung Revan mengusirnya.
Namun ia mencoba bersabar dengan menampilkan senyum terbaik yang ia punya, wanita itu berdiri bersiap untuk pergi.
"Baiklah pak Revan, saya pamit dulu, silahkan lanjutkan pekerjaan anda" ucap wanita itu dan berlalu meninggalkan Revan yang masih keheranan melihat tingkahnya.
"Sebenarnya apa mau wanita itu?"
__ADS_1
Melanjutkan pekerjaannya, Revan tak mau memikirkan sesuatu yang tidak penting seperti itu.