Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
7.KEPUTUSAN NADHIFA


__ADS_3

Setelah mempersilahkan Bu Rahma dan Revan masuk, bunda Naya pamit izin ke rumahnya untuk memanggil ayah Rahman.


Tak lama ayah Rahman datang dan duduk disamping istrinya itu, sementara Nadhifa dari tadi hanya menundukkan kepalanya.


Revan memperhatikan Nadhifa dengan seksama, dia berfikir apa yang menyebabkan Nadhifa terus menunduk.


'Apa aku terlihat jelek ya?'ucap Revan dalam hati.


Tak lama terdengar suara bunda Lastri dan bunda Naya menawarkan jajanan dan kue-kue pada Bu Rahma dan Revan.


Pria yang terlihat selalu tampan itu tersenyum mengiyakan tawaran bunda Lastri, lalu mengambil kue kering kesukaannya, kue yang berbahan dasar kacang.


Setelah lama berbasa-basi, ayah Rahman mulai menanyakan jawaban Nadhifa, bunda Lastri yang duduk disampingnya menyentuh tangan Nadhifa dengan lembut, mencoba meyakinkan jawaban yang akan diberikan oleh Nadhifa.


"Apapun jawaban kamu, kami akan terima sayang, jadi kamu tak perlu khawatir ya" dengan tersenyum bunda Lastri mengucapkan kata-katanya.


Gadis cantik yang menggunakan gamis berwarna biru tua itu menghirup nafas kemudian menghembuskannya pelan.


Mengangkat kepala, melihat bunda Lastri, bunda Naya, ayah Rahman kemudian mengalihkan pandangannya pada dua orang yang sedang menunggu jawabannya.


" Bismillahirrahmanirrahim, insyaallah saya menerima pinangan ini." ucap Nadhifa dengan tegas.

__ADS_1


"Alhamdulillah" ucap mereka serempak,


Revan memandang Nadhifa sekilas kemudian tersenyum kecil, Nadhifa langsung menundukkan pandangannya lagi.


"Terima kasih sayang, kamu sudah mau menerima pinangan ini" ucap Bu Rahma dengan senyum, dia sangat bahagia karena gadis yang diimpikan untuk menjadi menantu akhirnya menerima pinangannya.


'Alhamdulillah ya Allah... akhirnya Nadhifa menerima pinangan ini, semoga dia bisa menjadi istri yang baik untuk putraku ya Allah.' ucap Bu Rahma dalam hati, tak terasa air matanya menetes di pipi, Revan yang melihatnya langsung mengusap pipi mamanya Dengan lembut.


"Mama kenapa nangis? tanya Revan.


"Mama hanya terlalu senang sayang, akhirnya Nadhifa mau menerima pinangan ini." Bu Rahma tersenyum tulus.


Selama ini penilaiannya pada Revan memang tidak salah bahwa Revan adalah laki-laki yang lembut dan sangat menyayangi ibunya, pasti dia akan menyayangi istrinya dengan baik juga.


"Bagaimana hubungan mereka selanjutnya?" ayah Rahman memecahkan keheningan diantara mereka.


"Kalau saya, ingin mereka meresmikan hubungan mereka secepatnya" ucap Bu Rahma tersenyum dan memegang tangan putranya itu.


Revan hanya tersenyum kecil, menggenggam tangan mama dengan erat.


"Apapun keputusan mama aku akan ikut ma"ucap Revan tulus.

__ADS_1


Sudah lama Revan tidak melihat mamanya bahagia seperti malam itu, dia akan melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan sang mama.


Mama yang telah membesarkannya dan adik-adiknya dengan penuh kasih sayang, tidak pernah mengeluh walaupun harus menjadi orang tua tunggal setelah kecelakaan yang menimpa papanya.


"Bagaimana kalau kita lakukan acara lamarannya Minggu depan saja?" tanya Bu Rahma tersenyum lebar.


"Kalau kami terserah dari pihak laki-laki saja Bu" jawab ayah Rahman.


"Iya Bu Rahma, lebih cepat lebih baik" ucap bunda Lastri.


"Niat baik harus segera dilaksanakan" tambah bunda Naya.


Akhirnya mereka sepakat untuk melakukan acara lamaran Minggu depan.


Setelah itu Bu Rahma menyerahkan amplop coklat pada bunda Lastri, seperti biasa uang itu digunakan sebagai bantuan untuk anak-anak panti.


Bu Rahma pamit undur diri disusul oleh Revan di belakangnya, ayah Rahman dan Yang lain mengantarkan mereka ke depan rumah.


Setelah mengucapkan salam Bu Rahma dan Revan berlalu dan masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil bu Rahma terus saja tersenyum, Revan yang melihat hanya menggelengkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2