Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
22. CIUMAN PERTAMA.


__ADS_3

Revan dan Nadhifa tiba di rumah menjelang malam, mereka menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, tak lupa mampir di salah satu food court yang ada untuk mengisi perut yang sudah lapar.


Pulang berbelanja Revan mengajak Nadhifa untuk menghabiskan waktu senja di taman sekitar rumah, taman yang indah dipenuhi dengan berbagai jenis bunga yang tumbuh bermekaran, suasana sore hari yang menenangkan membuat mereka betah berlama-lama berada di sana.


Di taman itu mereka berbincang-bincang ringan, mencoba mengakrabkan diri, sesekali bertanya tentang sesuatu yang tidak diketahui, setelah dirasa cukup Revan mengajak Nadhifa untuk pulang.


Revan memarkirkan mobil di garasi dan mengeluarkan barang belanjaan mereka, di bantu Nadhifa, Revan membawa barang-barang mereka.


Bik Minah membuka pintu menyambut mereka, menawarkan bantuan tapi Revan menolak membuat bik Minah undur diri.


Di ruang tamu, terlihat Bu Rahma dan si kembar yang sedang duduk di atas sofa, bercengkrama sambil menonton TV.


Revan dan Nadhifa menghampiri mereka, dan berpamitan untuk naik ke kamar, setelah itu mereka berdua menaiki tangga dan bergegas membersihkan tubuh yang terasa sangat lengket.


Setelah mereka sudah siap, mereka langsung berjalan menuju mushola untuk melaksanakan sholat berjamaah seperti biasa.


...


Seusai makan malam, Revan dan Nadhifa berpamitan untuk memasuki kamar mereka.


Di dalam kamar Revan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sementara Nadhifa masih sibuk menata barang belanjaan yang baru mereka beli.


"Apa sudah selesai?" tanya Revan ketika Nadhifa menghampirinya.


"Sudah mas" jawab Nadhifa.


" lBaiklah, kalau begitu kamu ganti pakaian kamu dengan piyama yang tadi baru kamu beli" titah Revan.


Nadhifa mengangguk, mengambil salah satu piyama dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Setelah Nadhifa keluar, Revan memasuki kamar mandi dengan membawa piyama juga.


Nadhifa membuka hijab instan yang menutupi kepalanya, mendekati meja rias membuka ikatan rambut dan memulai menyisir rambut sebahunya yang begitu indah.


Tak lama pintu kamar mandi terbuka membuat Nadhifa tersentak, terlihat Revan berjalan mendekatinya.


Nadhifa menunduk malu, saat Revan sudah berdiri dibelakangnya.


Ketika menyadari sang istri yang sedang menunduk malu, Revan berjongkok didepan istrinya dan menyingkirkan helai rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya.


"Cantik " satu kata yang keluar dari mulut Revan seketika membuat pipi Nadhifa merona.


Tak dapat Revan pungkiri jika istrinya begitu cantik saat menanggalkan hijab di kepalanya, baru kali ini Revan melihat Nadhifa tanpa hijab membuat jantungnya berdetak kencang.


"Ayo tidurlah, sudah malam" ajak Revan.

__ADS_1


Nadhifa mengangguk dan ikut merebahkan diri di samping Revan, tubuhnya begitu letih setelah beberapa jam menghabiskan waktu berkeliling bersama Revan.


"Dhifa" ucap Revan pelan.


"Iya mas" sahut dhifa.


"Apa kamu lelah?" tanya Revan.


"Tidak mas, apa mas Revan lelah?" jawab Nadhifa.


"Tidak juga, aku malah senang bisa menghabiskan waktu berdua denganmu" jawab Revan membuat Nadhifa tersenyum malu.


"Apa kamu suka berjalan berdua denganku?" tanya Revan.


Nadhifa mengangguk membuat Revan tersenyum senang.


"Baiklah, aku akan sering mengajakmu jalan berdua" ucap Revan.


"Terima kasih mas" sahut Nadhifa.


Revan memandang wajah Nadhifa begitu intens membuat Nadhifa begitu gugup apalagi saat Revan mendekatkan tubuh pada Nadhifa.


Secara perlahan Revan membelai lembut pipi halus Nadhifa, membuat Nadhifa begitu malu, semburat merah menghiasi wajah cantiknya, saat Revan mengecup keningnya begitu lama, Nadhifa memejamkan mata menikmati lembut bibir Revan di keningnya.


Nadhifa membuka matanya setelah Revan mengakhiri kecupannya, membuat mata mereka berpandangan dengan jarak yang begitu dekat.


Begitu pula Nadhifa yang memandangi wajah tampan suaminya, wajah tampan yang dihiasi dengan bulu halus disekitar rahang kokohnya, mata teduh yang selalu membuat Nadhifa tenang saat memandangnya, membuat Nadhifa secara tak sadar mengusap lembut pipi suaminya.


Mendapat perlakuan seperti itu membuat Revan mengusap lembut bibir merah yang sejak tadi menggodanya.


"Boleh?" tanya Revan.


Pertanyaan Revan membuat jantung Nadhifa berdegup lebih kencang dari sebelumnya.


Nadhifa mengangguk, mengizinkan suaminya melakukan apapun yang diinginkan, wajar saja jika hal itu terjadi bagi sepasang pengantin baru seperti mereka.


Nadhifa memejamkan mata ketika Revan mulai mendekati wajahnya, dan mencium lembut bibirnya.


"Untuk malam ini cukup seperti ini saja" ucap Revan setelah mengakhiri ciumannya, sebagai seorang pria normal, tentu saja Revan menginginkan sesuatu yang lebih, tetapi melihat respon tubuh Nadhifa yang tegang membuat Revan mengurungkan niatnya, dia takut jika istrinya merasa tertekan, biarkan semua berjalan secara alami tanpa paksaan.


Nadhifa mengangguk, Revan mendekati istrinya, membawa istrinya tertidur dalam pelukannya.


"Tidurlah" ucap Revan lembut.


"Iya mas" jawab Nadhifa.

__ADS_1


Revan berkali-kali mengecup puncak kepala istrinya itu, menghirup wangi rambut istrinya yang menenangkan, membuat Nadhifa merasa sangat senang mendapat perlakuan lembut dari Revan.


Nadhifa tersenyum di pelukan Revan, sesekali menghirup parfum maskulin suaminya, wangi tubuh Revan membuat Nadhifa merasa tenang, apalagi pelukan Revan yang begitu hangat membuat Nadhifa begitu nyaman.


...


"Mas Revan gak kerja?" tanya Nadhifa pada Revan yang duduk disampingnya.


"Tidak Dhifa, aku sudah mengosongkan waktu untuk satu Minggu, jadi masih ada waktu kosong untuk beberapa hari lagi" jawab Revan sambil menyeruput teh hangat.


"Baik, kalau begitu aku pamit ke dalam dulu ya mas" pamit Nadhifa.


"Iya, hati-hati"


Nadhifa meninggalkan Revan yang masih menikmati suasana pagi yang indah di depan rumahnya ditemani kicauan burung yang bersahutan.


Sudah lama Revan tidak mempunyai waktu untuk bersantai seperti ini, beberapa tahun ini Revan disibukkan dengan urusan kantor yang semakin hari semakin padat.


Nadhifa menghampiri Bu Rahma yang sedang sibuk di dapur bersama bik Minah, terlihat ibu mertuanya itu sedang membuat adonan kue.


"Ma, boleh Dhifa bantu" ucap Nadhifa.


"Boleh, sayang. Ayo sini bantu mama" sahut Bu Rahma.


Mereka bertiga sibuk membuat kue, sesekali mereka berbagi resep untuk membuat kue yang enak.


Aroma pandan yang tercium dari salah satu brownies menggugah selera, bik Minah mengeluarkan loyang dari dalam oven, dengan lembut bik Minah meletakkan brownies yang sudah matang ke dalam nampan kecil.


Bu Rahma memotong brownies itu, tak lupa krim dan keju untuk menambah cita rasa dari brownies pandan itu.


"Aromanya enak sekali ma" tutur Nadhifa.


"Iya sayang, ayo bawakan beberapa potong untuk Revan, kebetulan Revan sangat menyukai brownies pandan ini" titah Bu Rahma.


Nadhifa mengangguk dan menghampiri Revan dengan brownies pandan yang ia bawa.


"Mas Revan" ucap Nadhifa saat mendekati suaminya.


"Apa itu?" tanya Revan saat melihat Nadhifa membawa sebuah piring di tangannya.


"Tadi aku bantuin mama dan bik Minah di dapur, tadi kita buat brownies pandan" jawab Nadhifa.


"Kalau begitu, ayo kita coba" ajak Revan dengan semangat.


" Iya mas" sahut Nadhifa.

__ADS_1


Mereka menikmati brownies pandan dengan begitu lahap.


__ADS_2