Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
53. SEBUAH KEPUTUSAN.


__ADS_3

Semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga sesuai dengan permintaan Revan, saat ini mereka sedang menantikan sesuatu penting yang akan pria itu katakan.


" Ada apa nak?" Tanya Bu Rahma.


Revan menghela nafas berat, ia menoleh pada Nadhifa yang duduk disampingnya dan dibalas anggukan oleh wanita itu.


" Aku akan mengatakan sesuatu, aku harap kalian semua akan memaafkan kesalahanku" ucapnya.


" Katakanlah nak, kami akan mendengarkannya" ucap Bu Rahma meyakinkan Revan.


" Sebenarnya saat ini perusahaan sedang mengalami masalah yang cukup serius, beberapa kerjasama yang sudah terjalin sebelumnya mengalami pembatalan kontrak, untuk menutupi kerugiannya aku terpaksa menjual pabrik yang ada di pusat dan bagian Utara, hanya pabrik kecil bagian selatan yang tersisa" jelas Revan.


" Dan aku juga sudah menjual tanah yang ada di kota X, maafkan Revan karna tidak meminta persetujuan dari mama" ucap Revan memandang wajah ibunya.


Bu Rahma tersenyum tulus, ia mendekati Revan dan mengelus punggung anaknya dengan lembut.


" Mama percaya semua yang kamu lakukan adalah hal yang terbaik, mama akan selalu mendukung semua keputusanmu nak" ucap Bu Rahma.


" Terimakasih ma, maaf sudah mengecewakan" sahut Revan penuh sesal.


" Tidak perlu minta maaf" ucap Bu Rahma.


" Untuk Winda dan Windi kalian tetap fokus belajar jangan pikirkan biaya, bang Revan akan mengusahakan agar kalian tetap melanjutkan pendidikan kalian" ucap pada kedua adik kembarnya.


" Abang tidak perlu khawatir, aku dan Windi masih punya tabungan, bahkan sampai kami lulus kuliah tabungan kami masih cukup bang" ucap Winda membuat Revan keheranan.


" Dapat dari mana?" Tanya Revan.


" Uang yang bang Revan kasih, tidak kami pakai semua, kami hanya pakai jika butuh saja bang , sisanya kami simpan di tabungan" jelas Windi.


" Kalian memang adik kembar abang yang pintar" ucap Revan penuh haru.


Nadhifa tersenyum haru melihat keakraban dalam keluarga itu, ia sangat beruntung bertemu dengan keluarga baik itu.


" Kamu juga jangan kepikiran mama, tabungan mama juga masih banyak" ucap Bu Rahma.


" Bukannya uang mama pakai buat arisan?" Ucap Revan.


" Arisan mama itu bukan kayak sosialita nak, bayarnya juga sedikit, mama ikut arisan supaya silaturahmi dengan teman-teman tetap terjaga" jelas Bu Rahma.


" Terimakasih ma" ucap Revan memeluk Bu Rahma yang berdiri di sampingnya.


Bu Rahma mengelus punggung Revan dengan lembut, anak sulungnya ini sudah banyak berjuang untuk keluarganya, bahkan Revan rela mencari nafkah disaat ia masih disibukkan dengan tugas kuliah.


" Kamu anak kebanggaan mama, mama yakin kamu bisa bangkit lagi" ucap Bu Rahma mencium puncak kepala putranya.


" Terimakasih ma" sahut Revan.


" Sekarang Revan akan menyelesaikan masalah di kantor" ucap Revan setelah pelukannya terlepas.


" Hati-hati di jalan ya" ucap Bu Rahma.

__ADS_1


" Ma, Dhifa mau ikut mas Revan ke kantor, boleh?" Ucap Nadhifa.


" Tentu saja, Revan pasti membutuhkanmu" sahut Bu Rahma tersenyum.


Usai berpamitan pada semuanya Revan menggandeng tangan Nadhifa menuju mobil, semalam mereka sepakat akan pergi ke kantor bersama.


Nadhifa ingin mendampingi Revan dalam keadaan apapun, ia ingin memberikan kekuatan meskipun tidak membantu banyak setidaknya ia bisa mengurangi beban pikiran suaminya.


Di dalam mobil keduanya berbincang ringan seperti biasa, semua permasalahan yang sedang terjadi sudah mereka bahas tadi malam.


Bahkan Nadhifa beberapa kali memberikan candaan supaya suaminya tidak sedih, ia sangat tahu membangun sebuah perusahaan itu bukanlah hal yang mudah dan pastinya sangat sulit bagi Revan untuk menghadapi masalah ini.


Keduanya tiba di kantor, Raihan menyambut kedatangan mereka dan mengarahkan mereka menuju aula yang biasa Revan gunakan untuk pertemuan.


Di sana sudah ada semua pegawai yang sudah berkerja di perusahaan itu mulai dari para karyawan, resepsionis, satpam, office boy dan office girl sudah menunggu kedatangan Revan.


Revan mengajak Nadhifa duduk di deretan kursi yang sudah tersedia bersama jajaran petinggi perusahaan setelah itu ia melangkahkan kakinya ke tempat yang sudah disiapkan.


" Assalamualaikum" ucap Revan menyapa orang-orang yang sudah bekerja dengannya.


" Waalaikum salam" jawab mereka serentak.


" Sebelumnya saya minta maaf karna kedatangan saya terlambat, ada hal penting yang harus saya sampaikan pada kalian semua"


" Saya sangat berterimakasih atas dedikasi kalian di perusahaan ini, kalian sudah memberikan kemampuan terbaik untuk membantu mengembangkan perusahaan hingga secara perlahan akhirnya perusahaan ini bisa semakin besar"


Revan memejamkan matanya, ia tak tega jika hari mengatakan sesuatu yang pastinya akan membuat mereka kecewa.


Revan membuka mata dan ia dapat melihat kesedihan yang terpancar dari mata mereka.


" Maafkan saya, saya sudah gagal menyelamatkan perusahaan ini, percayalah saya sudah mengerahkan segala kemampuan saya"


Mereka terdiam mendengar penjelasan Revan, dan dapat mereka lihat wajah Revan yang juga sedih.


" Kalian jangan khawatir, saya sudah menyiapkan pesangon yang pantas dan gaji bulan ini tidak ada pemotongan, kalian akan mendapatkan gaji penuh seperti biasa" Pungkas Revan.


" Kalian bisa mendatangi bagian keuangan untuk mengambil hak kalian" lanjut Revan.


" Saya harap, kalian bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi"


" Pada kesempatan kali ini saya pribadi meminta maaf jika ada kata-kata atau perbuatan saya yang tak sengaja menyakiti kalian, dengan sepenuh hati saya minta maaf" ucap Revan.


" Itu saja yang bisa saya sampaikan, Terimakasih, assalamualaikum" ucap Revan sebelum turun.


" Waalaikum salam" sahut mereka serempak.


Semua pegawai meninggalkan ruangan itu dengan perasaan berkecamuk, mereka tak menyangka jika hal ini akan terjadi namun mereka tidak bisa menyalahkan Revan atas semua yang terjadi.


Mereka yakin Revan sudah berusaha semaksimal mungkin, karna mereka tahu jika Revan adalah orang yang profesional.


Sebagian mereka tak menyangka jika Revan mengumpulkan mereka untuk mengumumkan hal itu, bisa saja ia memberikan surat pemecatan.

__ADS_1


Dengan ini mereka yakin jika Revan adalah atasan yang baik dan pengertian dibalik wajah dingin dan datar yang biasa mereka lihat.


Dengan langkah pasti Revan menghampiri Nadhifa yang sudah berdiri menyambutnya,


Tak butuh waktu lama untuk Nadhifa menghambur dalam pelukan suaminya.


" Mas Re sudah melakukan yang terbaik" ucap Nadhifa.


" Aku sudah membuat mereka kecewa Dhifa"sahut Revan lirih.


" Tidak, mas Re sudah memberikan hak yang pantas buat mereka" hibur Nadhifa.


Revan melepaskan pelukannya dan melihat wajah istrinya yang tersenyum lembut padanya.


" Terimakasih sudah mendukung semua keputusanku" ucapnya tulus.


" Kembali kasih" sahut Nadhifa membuat Revan tertawa.


Raihan berdehem pelan hingga mereka berdua tersadar jika ada orang lain di ruangan itu.


" Maaf" ucap Revan.


" Tidak masalah pak Revan, jika anda berkenan kami ingin berbicara dengan Anda"ucap salah satu petinggi perusahaan itu.


" Baik, istri saya boleh ada disini?" Sahut Revan.


" Tentu saja pak, tidak masalah" ucap pria itu.


Mereka mengatakan jika akan tetap bekerja dengan Revan Walaupun keadaan perusahaan masih goyah namun mereka yakin jika Revan mampu bangkit kembali.


Mereka yakin dengan kemampuan yang dimiliki Revan karna sudah ada banyak bukti yang mereka dapatkan.


" Tapi saya tidak bisa memberikan gaji yang banyak untuk kalian" ucap Revan..


" Tidak masalah pak Revan, kami percaya pada kemampuan anda pak dan kami juga yakin ada seseorang dibalik semua hal yang terjadi pada kita saat ini" sahut salah satu dari mereka.


" Terimakasih atas kesediaan kalian, mohon kerjasamanya" ucap Revan tulus.


" Iya pak, kalau begitu kami pamit dulu"


Mereka satu persatu keluar menyisakan tiga orang di ruangan itu.


" Bagaimana denganmu Rey?" Tanya Revan pada Rey yang sejak tadi diam.


" Saya akan tetap menjadi sekertaris anda pak" sahut Rey.


Revan bersyukur karna masih ada banyak orang yang berhati baik dan bersedia membantunya.


Terdengar dering ponsel dari saku celananya dengan cepat Rey mengangkatnya.


" Assalamualaikum"

__ADS_1


" Apa?" Ucap Rey setengah berteriak membuat Nadhifa dan Revan tersentak.


__ADS_2