
Bersyukur adalah hal yang harus dilakukan oleh manusia saat mendapatkan sesuatu yang diharapkan, seperti saat ini revan dan Nadhifa yang sedang menyiapkan acara untuk syukuran atas kehamilan Nadhifa yang sudah memasuki usia empat bulan, setelah sebelumnya mereka harus menunggu waktu lebih dari dua tahun untuk mendapatkan keturunan.
Di rumah di Rahma terlihat banyak sekali kerabat yang datang, mereka sengaja di undang untuk ikut mendoakan anggota baru keluarga mereka yang akan lahir.
Bukan hanya keluarga dari Bu Rahma saja, namun ada juga kerabat yang berasal dari ayah Revan yang bernama Aditya.
Mereka semua ikut bahagia saat mendengar kehamilan Nadhifa dan dengan senang hati datang di acara syukuran hari ini.
Nadhifa dan Revan baru saja keluar dari kamar, mereka berjalan menghampiri anggota keluarga yang sudah datang, tak lupa ucapan selamat ia dapatkan setelah bergabung bersama mereka.
Nadhifa duduk bersama si kembar dan Bu Rahma, ada juga sepupu perempuan Revan yang menceritakan masa-masa kehamilan mereka, Nadhifa terlihat dekat dengan mereka karna beberapa kali Revan pernah mengajaknya untuk berkunjung ke rumah mereka.
Usai memastikan istrinya duduk dengan nyaman Revan memilih untuk duduk bersama paman dan sepupu yang lain, mereka juga memberikan ucapan selamat untuk Revan karna dalam hitungan bulan ia akan menjadi seorang ayah.
"Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Satu persatu tetangga yang Revan undang kini mulai berdatangan, ia segera berdiri untuk menyambut kedatangan mereka dan mempersilahkan mereka untuk duduk di tempat yang sudah disediakan.
Hingga pada akhirnya seorang ustadz yang mereka tunggu sudah tiba di kediaman Revan.
" Maaf nak Revan, tadi ban mobil bapak bocor" sesal ustadz itu.
" Tidak apa-apa pak ustadz, silahkan masuk" sahut Revan ramah.
Akhirnya acara di mulai dengan khidmat, pak ustadz memimpin acara itu dengan bacaan alfatihah, ada dua qori' yang Revan undang untuk membaca surat Yusuf dan surat maryam dan ditutup dengan do'a yang pak ustadz bacakan.
Dalam kesempatan kali ini Pak ustadz juga memberikan nasehat untuk menjadi orang tua yang memberikan contoh baik pada anak-anaknya karna pada hakikatnya seorang anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya.
Setelah rangkaian acara selesai, semua tamu undangan dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang sudah disediakan, Revan dan beberapa sepupunya mengeluarkan bingkisan yang akan mereka bagi untuk undangan yang sudah datang.
Satu persatu undangan pamit pulang, tak lupa Revan menjabat tangan mereka.
" Terimakasih sudah berkenan hadir"
" Sama-sama nak Revan, kami pamit dulu, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Usai memastikan para tetangga sudah pulang, Revan masuk ke dalam rumah untuk berkumpul dengan keluarga besarnya.
Beberapa waktu kemudian keluarga besarnya juga pamit pulang, Bu Rahma meminta Revan untuk memasukkan bingkisan untuk mereka dan anggota keluarga yang tidak bisa hadir.
" Kami pamit pulang ya, nanti kalau bayinya sudah lahir, insyaallah kami akan berkunjung lagi" ucap salah satu paman Revan.
" Iya paman, terimakasih" sahut Revan.
Mereka satu persatu berpamitan pulang, Nadhifa dan yang lain melambaikan tangan saat mobil-mobil yang membawa mereka berlalu.
" Ayo, kita masuk" ajak Revan.
Nadhifa mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada pundak Revan, saat ini keduanya sedang duduk di sofa.
" Revan, ajak istrimu makan" ucap Bu Rahma.
" Kamu belum makan sayang?" Tanya Revan, Nadhifa hanya menggelengkan kepalanya.
" Aku suapin ya" ucap Revan membuat Nadhifa mengangguk senang.
" Tunggu disini, aku ambil nasinya dulu ya"
Revan berlalu meninggalkan Nadhifa sendirian di sana, sedangkan Bu Rahman dan yang lain sedang membereskan peralatan makan yang sudah digunakan.
" Mas Re, kenapa banyak banget?" Ucap Nadhifa.
" Bukannya kamu nanti yang makan ini semua" goda Revan membuat Nadhifa tertawa.
" Iya juga"
Benar saja yang Revan katakan, nasi di piring itu sudah habis tak bersisa.
" Lihatlah sayang, piringnya sudah bersih" ucap Revan.
Nadhifa tertawa mendengar ucapan suaminya, ia baru ingat jika Revan belum makan.
" Mas Re gak makan?"
" Nanti saja, yang penting kamu dan baby twins kenyang"
" Terimakasih papa"
Revan tersenyum saat mendengar panggilan baru Nadhifa, ia segera meminta Nadhifa untuk istirahat di kamar.
" Kalian sholat di kamar saja, kasihan Dhifa pasti capek" ucap Bun Rahma.
" Iya ma, kami ke kamar duluan" sahut Revan.
...
Usai sholat Revan membantu Nadhifa untuk memakai baju tidurnya, ternyata kancing piyama itu tidak terkancing dengan sempurna.
" Mas, baju tidurku tidak muat lagi" keluh Nadhifa.
__ADS_1
Revan tertawa mendengar ucapan istrinya, ia melihat lagi ternyata perut istrinya terlihat semakin membuncit, Revan baru menyadari jika pipi Nadhifa sudah seperti bakpao.
Nadhifa cemberut melihat respon suaminya.
" Mas Re kenapa tertawa?"
" Istriku semakin imut"
" Imut apanya,? bilang aja aku kayak badut" sahut Nadhifa ketus, Revan yang mendengar ucapan Nadhifa tertawa terbahak.
" Tidak sayang, kamu beneran imut, aku suka lihat kamu kayak gini" hibur Revan.
" Aku tidak masalah, yang penting kamu dan baby twins sehat-sehat saja" imbuh Revan membuat Nadhifa tersenyum.
" Suamiku, memang yang terbaik"
" Kancing bajunya dilepas saja ya, pasti perut kamu sesak"
" Iya mas"
" Besok setelah dari panti kita belanja baju baru, oke"
Nadhifa mengangguk patuh, ia kemudian berbaring dibantu Revan.
" Assalamualaikum baby twins, baik-baik disana ya" ucap Revan setelah membaringkan tubuhnya tepat di hadapan perut Nadhifa yang membuncit.
" waalaikum salam papa, papa juga harus sehat" sahut Nadhifa mengelus rambut Revan.
" Alhamdulillah ya mas, acaranya berjalan lancar"
" Iya sayang, Sekarang kamu tidur ya" ucap Revan setelah berbaring disamping Nadhifa.
Nadhifa mengangguk, ia meletakkan tangan Revan di atas rambutnya, Revan yang mengerti maksud Nadhifa langsung mengelus rambut istrinya seperti biasa.
" Tidurlah yang nyenyak sayang" bisik Revan lirih, tak lupa ia mendaratkan kecupan di kening Nadhifa.
...
Keesokan harinya Revan dan Nadhifa sudah berada di panti, begitu pula Bu Rahma dan adik-adik Revan yang lain juga ikut kesana.
" Ayo bantu mama bawa barang-barang ke sana" ucap Bu Rahma.
Dengan sigap Reno, Ranti, dan si kembar membawa masing-masing satu plastik besar berisikan beberapa kotak makanan yang akan mereka bagikan pada penghuni panti dan para tetangga.
Airin sejak tadi menggandeng tangan Nadhifa membuat wanita hamil itu tertawa.
" kenapa Airin dari tadi pegang tangan Tante?"
Revan yang mendengar celoteh keponakannya ikut tertawa, ia mengacak rambut Airin dengan gemas.
" Tante Dhifa tidak akan jatuh, kan ada om dan Airin yang jaga" ucap Revan.
" Iya dong kan ada Airin, ayo jalan, yang lain sudah sampai di sana" ucap Airin yang menunjuk ke arah bunda Rahma dan yang lain.
Mereka bertiga berjalan hingga tiba di Mushola, disana sudah ada bunda Lastri dan Yang lain.
" Aura ibu hamil sangat terlihat ya" ucap bunda Lastri.
" Iya bunda Lastri benar, ayo kesini peluk bunda dulu" timpal bunda Naya.
Tanpa membuang waktu Nadhifa menghampiri mereka berdua, ia mengecup punggung tangan kedua malaikat yang sudah bersedia merawat dan menganggapnya seperti anak sendiri, lalu ia memeluk mereka berdua dengan erat.
" Ayah ada dimana?"
" Tadi masih ke kamar mandi" sahut bunda Naya.
" Dhifa apa kabar?" Sapa bunda Sari.
" Alhamdulillah baik bunda" sahut Nadhifa setelah mengecup punggung tangan bunda Sari, ia juga memeluk bunda Sari.
Tak lama ayah Rahman datang menghampiri mereka, Nadhifa menghampiri pria yang sudah ia anggap seperti ayah kandungnya, ia mengecup punggung tangan pria paruh baya itu dengan takdzim dan memeluknya dengan erat.
" Anak ayah, apa kabar?" Ucap ayah Rahman setelah melepaskan pelukannya.
" Alhamdulillah Dhifa baik-baik saja"
" Dhifa kangen sama ayah" ucap Nadhifa yang kembali memeluk tubuh ayah Rahman dengan erat membuat ayah Rahman terkekeh.
" Dasar anak manja"
" Biarin"
Mereka tertawa mendengar ucapan Nadhifa, lalu Bu Rahma membagikan makanan yang ia bawa pada anak-anak panti, tak lupa ia juga meminta bantuan mereka untuk membagikannya pada tetangga dekat panti.
" Punya Zahra biar Dhifa dan mas Re aja yang antar kesana" ucap Nadhifa.
...
Usai membagikan makanan di panti, keluarga Bu Rahma akhirnya memutuskan untuk langsung pulang, sedangkan Revan dan Nadhifa sedang berada di pusat perbelanjaan untuk membeli baju tidur yang Nadhifa inginkan.
" Udah, ini aja sayang?"
" Iya mas"
__ADS_1
" Baiklah, ayo kita bayar dulu" Revan menggandeng tangan Nadhifa dengan mesra.
Usai membayar barang belanjaan mereka, keduanya memutuskan untuk mampir si restoran karna saat ini ibu hamil sudah kelaparan.
" Mau makan apa sayang?"
" Dhifa mau menu seafood mas" sahut Nadhifa.
" Baiklah, aku punya kenalan penjual Seafood yang enak disini"
" Ayo, aku sudah tidak sabar" ucap Nadhifa yang menarik tangan Revan.
Setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka tiba di restoran yang Revan maksud, keduanya berjalan menuju meja yang masih kosong.
Revan memberikan buku menu pada istrinya.
" Kamu mau makan apa sayang?"
" Menurut mas Re, makanan paling enak disini apa?"
" Kalau aku sering pesan ini" sahut Revan menunjuk sebuah gambar yang terdapat di buku itu.
" Kalau gitu, aku pesan itu aja" putus Nadhifa.
Revan akhirnya memanggil pelayan dan memesan menu yang sudah dipilih, butuh beberapa lama hingga pelayan itu kembali membawa pesanan mereka.
" Silahkan dinikmati" ucap pelayan itu usai menata menu di atas meja.
" Terimakasih" sahut Revan, sedangkan Nadhifa menatap makanan itu dengan tatapan lapar.
" Aku suapin ya" tawar Revan.
Nadhifa mengangguk senang, ia membuka mulutnya saat Revan menyodorkan potongan daging kepiting padanya.
" Enak sayang?"
" Iya mas, mas Re juga harus makan"
" Iya"
Revan kembali menyuapkan makanan untuk Nadhifa dan dirinya sendiri, butuh beberapa waktu hingga menu di atas meja itu sudah tandas tak tersisa.
" Alhamdulillah" ucap Nadhifa.
" Masih kurang?"
" Kalau makan lagi nanti Dhifa gak bisa jalan mas" Revan tertawa mendengar ucapan istrinya.
Akhirnya Revan memanggil pelayan untuk meminta bill, namun seorang pria yang datang menghampiri Revan.
" Apa kabar pak Revan?"
" Alhamdulillah baik, jangan panggil bapak kamu bukan karyawanku lagi" sahut Revan.
" Ini istri anda ?" Ucap pria itu kaku.
" Iya, Dhifa kenalkan dia Rudi, dulu dia jadi sekertaris ku" jelas Revan.
Nadhifa tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya di dada.
" Saya Nadhifa, istri mas Revan"
" Sepertinya sebentar lagi Anda akan jadi seorang ayah" ucap Rudi.
" Alhamdulillah, istri saya sedang hamil" sahut Revan tersenyum.
Saat Revan hendak membayar, rudi melarangnya.
" Tidak perlu bayar, anggap saja ini hadiah dari saya" ucap Rudi.
" Terimakasih, semoga usahamu semakin sukses" sahut Revan.
" Mas, aku cariin kamu ternyata ada disini" ucap seorang wanita yang tiba-tiba berdiri disamping rudi.
" Nina" ucap Revan membuat wanita itu menoleh.
" Tuan Revan, anda disini?" Sapa Nina.
" iya" sahut Revan datar.
" biar aku tebak, dia istrimu?" ucap Nina melihat Nadhifa, Revan hanya mengangguk mengiyakan.
" kenalkan aku Nina, rekan kerja tuan Revan" ucap Nina mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Nadhifa.
Dengan senyum berkembang Nadhifa menyambut uluran tangan wanita itu.
" saya Nadhifa, istrinya mas Revan"
" kebetulan sekali kita bertemu disini, ini undangan pernikahan kami, sebenarnya besok kami akan mengantarkannya ke kantor tuan Revan" ucap Nina, ia segera mengeluarkan undangan yang ia letakkan di dalam tasnya, tertera nama Revan berserta istri yang tertulis disana.
Nadhifa menerimanya dengan senang hati, ia lalu memasukkan undangan itu ke dalam tasnya.
" kami usahakan datang" ucapnya.
__ADS_1