
Mendapatkan kabar bahagia itu, Bu Rahma tak henti bersyukur bahkan air mata haru mengalir deras dari kedua matanya, ia sungguh tak menyangka Allah akan memberikan sesuatu yang sangat lama ia inginkan.
" Jadi Dhifa beneran hamil?" Tanya Bu Rahma.
" Iya ma, disini sudah ada dua cucu mama" sahut Revan mengelus perut Nadhifa.
" Alhamdulillah, terimakasih sayang" ucap Bu Rahma yang saat ini sudah memeluk Nadhifa.
" Iya ma, maaf mama harus menunggu waktu lama" sahut Nadhifa.
Bu Rahma menggeleng dan memeluk Nadhifa semakin erat.
" Jangan minta maaf, ini bukan kesalahan kamu"
" Sekarang kamu harus banyak istirahat, jangan terlalu lelah" pesan Bu Rahma.
" Iya ma" sahut Nadhifa.
" Ma, sebaiknya kamar Revan pindah ke bawah saja, biar Dhifa gak capek naik turun tangga" ucap Revan.
" Iya sayang, mama juga setuju, nanti mama minta bantuan bik minah dan si kembar buat mindahin barang-barang kalian" sahut Bu Rahma.
" Baiklah, kalau begitu Revan pamit ke kantor dulu ya, ada pekerjaan yang harus Revan selesaikan" ucap Revan.
Revan mendekati Nadhifa dan mencium kening Nadhifa dengan lembut.
" Aku ke kantor dulu sayang, ingat jangan terlalu lelah"
" Iya, mas Revan juga jangan lupa Istirahat juga" sahut Nadhifa yang memeluk tubuh Revan dengan erat.
" Iya, pasti sayang, aku berangkat dulu ya, kamu duduk disini saja" Revan mengelus puncak kepala Nadhifa.
Nadhifa mengangguk dan membiarkan Revan kembali ke kantor.
" Ma, Revan titip Dhifa ya" ucap Revan saat berada di hadapan Bu Rahma.
" Iya nak, kamu jangan terlalu capek juga" pesan Bu Rahma.
" Iya ma, Revan pamit dulu ya, assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Bu Rahma meminta Nadhifa duduk di sofa, sementara itu bik Minah masih menyiapkan kamar yang akan Nadhifa tempati.
" Kamu mau makan sesuatu?" Tanya Bu Rahma.
" Tidak ma, waktu mama hamil mas Revan gimana?"
" Waktu mama hamil Revan, mama seperti kamu, lebih suka makan dan paling anehnya lagi mama suka banget makan keju, padahal mama tidak suka" sahut Bu Rahma.
" Kenapa bisa seperti itu ya ma? aku juga baru ingat jika aku akhir-akhir ini suka banget makan jambu, padahal aku gak suka" tanya Nadhifa keheranan.
" Itu Karna pengaruh hormon kehamilan sayang, untung saja kamu tidak mual, jadi kamu bisa makan dengan benar" sahut Bu Rahma yang mengelus kepala Nadhifa.
" Mama kasih kabar bunda Lastri, dia pasti sangat senang" ucap Bu Rahma.
Nadhifa tersenyum, wanita itu mengambil ponselnya dan memberikannya pada Bu Rahma.
" Assalamualaikum bunda Lastri"
" Waalaikum salam, ini Bu Rahma?"
" Iya bunda, saya mau kasih kabar baik"
" Kabar baik apa ?"
" Nadhifa hamil Bun"
" Alhamdulillah Bu Rahma, apa Nadhifa ada di sana?"
" Iya bunda"
Bu Rahma memberikan ponsel itu pada Nadhifa.
" Apa benar yang Bu Rahma katakan sayang?" Tanya bunda Lastri.
" Iya bunda, doain Dhifa supaya selalu sehat"
" Iya sayang pasti, kamu jangan terlalu lelah ya, jangan banyak pikiran juga"
" Iya bunda"
" Ya sudah, kalau gitu kamu istirahat saja"
" Iya bunda, assalamualaikum"
Nadhifa mematikan ponselnya usai bunda Lastri menjawab salam, ia tersenyum melihat Bu Rahma yang saat ini tak henti tersenyum.
Bik Minah datang dan memberi tahukan jika kamar yang akan Nadhifa tempati sudah siap.
Nadhifa berjalan menuju kamar itu bersama Bu Rahma, karna Bu Rahma bersikeras ingin mengantarkan Nadhifa sampai ke kamar, sebenarnya Nadhifa agak sungkan diperlakukan seperti itu, namun ia menghargai apa yang Bu Rahma lakukan.
" Terimakasih ma" ucapnya setelah ia berbaring di atas ranjangnya.
" Iya sayang sama-sama, kamu istirahat saja ya, kalau butuh sesuatu kamu bisa panggil mama atau bik Minah"
Nadhifa mengangguk dan membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya, ia mengelus perutnya yang baru ia sadari ternyata agak besar.
" Alhamdulillah ya Allah, terimakasih engkau telah memberikan buah hati kepada kami" ucap Nadhifa lirih, setetes air mata haru mengalir di wajahnya.
...
Sementara itu sejak memasuki kantor wajah Revan tak henti tersenyum, hal itu mengundang tanya di hati karyawan yang melihatnya.
__ADS_1
Bahkan Revan membalas sapaan mereka dengan senyum berkembang, sungguh berbeda dari biasanya.
" Rey, bawakan berkas yang harus kita selesaikan ke ruanganku" ucap Revan setelah berada di hadapan Raihan.
" Iya pak" sahut Raihan dengan patuh, ia segera membawakan berkas yang Revan maksud.
Tok...tok...tok...
" Masuk saja Rey" sahut Revan.
" Ini berkas yang bapak minta" ucap Raihan.
" Iya Rey, terimakasih"
" Bapak terlihat sangat senang, kalau saya boleh tahu ada apa pak?" Tanya Raihan.
" Hari ini saya senang sekali Rey, Dhifa hamil, baru saja kami pergi ke dokter" sahut Revan yang tak henti tersenyum.
" Jadi Nadhifa hamil?"
" Iya Rey, saya senang sekali"
" Alhamdulillah pak, selamat bapak akan menjadi seorang ayah" ucap Raihan yang tak kalah senang.
" Iya Rey, terimakasih"
" Kalau begitu, saya pamit keluar dulu pak, permisi" ucap Raihan yang mendapatkan anggukan dari Revan.
...
Usai sholat isya, seluruh keluarga Bu Rahma sudah ada di sana, mereka berbincang-bincang ringan di ruang keluarga, bahkan Ranti serta suami dan anaknya sudah berada di rumah Bu Rahma.
" Jadi di perut Tante sudah ada adik bayi?" Tanya Airin yang sejak tadi mengelus perut Nadhifa.
" Iya sayang, tapi adik bayinya masih kecil"
" Kata mama adik bayinya ada dua"
" Iya sayang"
" Wah Airin mau punya dua adik bayi, Airin sudah tidak sabar mau main sama adik bayi" ucap Airin dengan polosnya.
" Iya sayang, Airin harus jadi anak yang baik biar adik bayinya juga baik" sahut Nadhifa yang mendapatkan anggukan dari gadis kecil itu.
" Kak Dhifa, jangan terlalu lelah ya" ucap Winda.
" Iya tenang saja, dari tadi kakak cuma tiduran aja" sahut Nadhifa terkekeh.
" Kak Dhifa juga gak boleh stress, kalau mau apa-apa jangan sungkan bilang sama kami" ucap Windi.
Nadhifa mengangguk, ia sangat senang, semua orang ikut berbahagia atas kehamilannya, ia merasa beruntung ada di tengah-tengah mereka.
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam" sahut mereka serempak.
" Mas Re udah pulang?" Tanya Nadhifa.
" Iya sayang" sahut Revan setelah mengecup kening Nadhifa.
" Kalian ada Disini?" Tanya Revan saat melihat Ranti dan keluarga kecilnya ada disana.
" Iya bang, tadi mama kasih kabar jadi kami langsung kesini" sahut Ranti.
Mereka berbincang-bincang ringan, sesekali tertawa saat mendengarkan cerita Ranti saat hamil Airin.
...
Semua keluarga sudah memasuki kamar masing-masing, begitu pula Revan yang sudah berada di kamarnya.
" Tumben kamu gak minta sesuatu?" Ucap Revan.
" Gak tau mas, aku cuma kangen aja sama mas Re" sahut Nadhifa yang saat ini meletakkan jas dan tas kerja Revan.
" Mas Re jangan mandi dulu ya" ucap Nadhifa.
" Baiklah sayang, terserah kamu saja" sahut Revan, saat ini Nadhifa sudah membuka kemeja yang membalut tubuh Revan.
Nadhifa memeluk tubuh Revan dengan erat membuat Revan terkekeh, ibu hamil memang aneh.
" Aku suka tubuh mas Re, wangi"
" Benarkah?"
" Iya mas, aku suka" sahut Nadhifa yang tak melepaskan pelukannya, bahkan wanita hamil itu semakin merapatkan tubuhnya, ia menghirup aroma tubuh Revan yang membuatnya merasa tenang, tak lupa ia memberikan kecupan-kecupan kecil pada dada bidang Revan.
" Sudah sana, mas Re mandi, bau tau" ucap Nadhifa membuat Revan tertawa.
" Bukannya tadi kamu yang gak bolehin aku mandi?" goda Revan.
" Iya juga sih, udah sana mandi, aku tunggu disini"
" Baiklah istriku yang cantik, aku mandi dulu" ucap Revan seraya mencium bibir Nadhifa sekilas membuat wanita itu tersentak.
" Dasar suami mesum"
Revan tertawa mendengar ucapan istrinya, ia segera membersihkan tubuhnya yang sejak tadi terasa lengket.
Butuh waktu hampir sepuluh menit bagi Revan untuk membersihkan tubuhnya, sekarang tubuhnya sudah benar-benar segar.
" Aku bantu mas" ucap Nadhifa mengambil alih handuk yang Revan pegang.
Wanita itu menggosok rambut Revan dengan hati riang membuat Revan tersenyum.
__ADS_1
" Sudah, mas Re duduk di sini dulu"
Nadhifa meletakkan handuk itu pada tempatnya dan kembali menghampiri Revan yang saat ini sedang berbaring.
" Mas Re capek?"
" Tidak sayang, ada apa?"
" Gak apa-apa, cuma nanya aja" sahut Nadhifa membuat Revan tersenyum lalu pria itu mengajak Nadhifa untuk berbaring disampingnya.
" Aku tadi beli susu hamil rasa coklat seperti yang kamu mau, sudah aku taruh di dapur"
" Iya mas, terimakasih" ucap Nadhifa.
" Hari ini aku senang sekali" ucap Revan.
" Iya mas, aku juga bahagia" sahut Nadhifa tersenyum membuat Revan ikut tersenyum.
" Mas Re benar, Allah sudah merencanakan takdir yang baik untuk kita, kita hanya perlu bersabar" imbuh wanita itu.
" Iya sayang, ini adalah bagian dari ujian rumah tangga kita, setiap pasangan akan mempunyai masalah masing-masing, ada yang diuji dengan harta, mertua dan ada yang seperti kita, jadi sebagai manusia kita harus melakukan yang terbaik dan jangan pernah menyerah" ucap Revan panjang lebar.
" Jadi tambah cinta sama kamu mas" ucap Nadhifa yang membuat Revan tertawa.
" Benarkah?"
" Iya mas, aku beruntung sekali menjadi istrimu mas"
Revan mengarahkan kepalanya tepat di hadapan perut Nadhifa, ia mengangkat baju tidur Nadhifa hingga perut wanita itu nampak di hadapannya.
" Assalamualaikum anak-anak papa, apa kabar?" Ucap Revan mengelus perut Nadhifa.
Nadhifa tertawa mendengar ucapan suaminya, ia mengelus rambut Revan dengan sayang.
" Anak-anak kita pasti bangga mempunyai seorang ayah sepertimu mas"
" Iya, mereka pasti juga bangga mempunyai ibu sepertimu sayang" sahut Revan, pria itu mencium perut Nadhifa berkali-kali membuat Nadhifa tertawa karena geli.
" Aku tidak sabar ingin lihat perutmu membesar, pasti lucu"
" Mas Re kira aku badut" sahut Nadhifa cemberut membuat Revan terkekeh.
" Mama tidak boleh marah sama papa, nanti papa nangis" ucap Revan menirukan suara anak kecil.
Nadhifa tertawa mendengar ucapan suaminya, ia kembali mengelus kepala Revan.
Revan membenarkan posisi tidurnya, kini ia sudah berhadapan dengan Nadhifa.
" Aku mencintaimu mas" ucap Nadhifa.
" Aku lebih mencintaimu dan anak-anak kita sayang" sahut Revan lirih, pria itu mengecup bibir Nadhifa dengan lembut membuat Nadhifa merasa sangat dicintai.
" Sekarang kita harus tidur" ucap Revan.
Nadhifa menyentuh tangan Revan dan meletakkan di atas kepalanya.
" Mas Re elusin rambutku ya"
...
Keesokan harinya setelah Revan berangkat kerja, Nadhifa memasuki kamarnya, ia berniat akan sholat Dhuha dan mengaji seperti biasanya, namun saat ia akan ke kamar mandi ponselnya yang ada di atas nakas berdering, dengan segera ia mengangkatnya.
" Assalamualaikum Mahmud" ucap Nadhifa pada Zahra di seberang telepon.
" Waalaikum salam bumil, apa kabar?"
" Alhamdulillah baik"
" Selamat ya bumil, aku senang sekali, semalam kak Raihan udah kasih kabar tentang kehamilanmu" ucap Zahra membuat Nadhifa tersenyum.
" Iya Zahra, Alhamdulillah, Allah memberikan aku kesempatan menjadi seorang ibu"
" Pokoknya kamu tidak boleh capek, jangan stress juga ya"
" Iya Mahmud, kamu perhatian sekali, aku jadi kangen pengen ketemu"
" Bumil bisa gombal juga ya?"
Nadhifa tertawa mendengar ucapan Zahra.
" Jagoanku mana?"
" Sebentar ya" ucap Zahra memutuskan sambungan teleponnya.
Tak lama ponsel Nadhifa kembali berdering, rupanya zahra melakukan video call.
" Assalamualaikum jagoan Tante" sapa Nadhifa pada Akbar, anak dari Raihan dan Zahra.
"Waalaikum salam Tante" sahut Zahra menirukan suara anak kecil.
" Uluh cakep banget, jagoan Tante sudah makan apa belum?"
" Sudah dong tante, lihat tubuh Akbar jadi tambah gemuk" sahut Zahra membuat Nadhifa tertawa.
" Rambut Akbar belum tumbuh juga?"
Zahra tertawa mendengar pertanyaan Nadhifa.
" Tumbuhnya cuma sedikit, tapi mendingan daripada kemarin-kemarin"
" Alhamdulillah kalau gitu, besok aku mau kesana seperti biasa, udah kangen banget sama baby Akbar" ucap Nadhifa.
" Iya Tante Dhifa, Akbar juga kangen sama Tante" sahut Zahra.
__ADS_1
" Kalau begitu aku matikan telponnya ya, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"