Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
17. BERPAMITAN.


__ADS_3

Tamu yang datang satu persatu berpamitan pulang, begitu pula perias yang bertugas merias Nadhifa. Kini di panti hanya menyisakan keluarga kecil Bu Rahma, mereka masih menunggu Nadhifa yang sedang membersihkan makeup di bantu Zahra.


Mereka akan melakukan Sholat dhuhur berjamaah, mushola sudah kembali seperti semula, hiasan yang terpajang sudah dibersihkan, menyisakan beberapa orang pekerja untuk membereskannya.


Keluarga Bu Rahma dan orang-orang panti sudah bersiap, mereka sudah menempati posisi sholat, hanya menunggu Nadhifa yang masih berganti pakaian.


Tak lama Nadhifa datang bersama Zahra dengan menggunakan mukena putih, keduanya langsung menempati barisan sholat yang masih kosong.


Sholat Dhuhur pada hari yang berbahagia itu, di pimpin oleh ayah Rahman, setelah sholat mereka melanjutkan makan siang bersama, di atas karpet seperti biasa.


Nadhifa dan Zahra membantu bunda Lastri dan bunda Naya untuk menghidangkan makanan, ada berbagai menu yang sudah disiapkan.


Tidak lupa menyiapkan makanan untuk anak-anak panti, mereka makan siang bersama.


Setelah hidangan tertata, Nadhifa bermaksud duduk disamping bunda Lastri seperti biasa, tapi bunda Lastri mencegahnya.


"Duduklah disamping suamimu, dan layani kebutuhannya" tutur bunda Lastri lembut.


"I..iya bunda" ucap Nadhifa terbata.


Kemudian Nadhifa duduk disamping Revan, semua mata memandangnya membuat wajah Nadhifa semakin bersemu merah.


"Mas Revan mau makan apa?" Tanya Nadhifa pada suaminya yang juga menatapnya.


"Apa saja, apapun yang kamu ambilkan, aku pasti makan" jawab Revan tersenyum tipis.


Wajah Nadhifa semakin merona mendengar jawaban Revan.


"Mas Revan suka pedas?" Tanya Nadhifa lagi.


"Iya, lumayan" jawab Revan.


Lalu Nadhifa mengambil nasi dan daging rendang di piring Revan, mengisi gelas milik Revan dengan air putih, kemudian mengambil menu yang sama di piringnya.


Bu Rahma melihat Nadhifa yang perhatian pada Revan, membuat Bu Rahma tersenyum dan mengucapkan banyak syukur dalam hatinya.


Mereka makan dalam diam, saat sudah selesai Nadhifa dan Zahra membereskan piring dan gelas yang kotor, di sana sudah ada bunda Lastri dan bunda Naya yang siap mencuci semua.


Bu Rahma dan yang lain sebenarnya ingin membantu tapi dilarang bunda Lastri.

__ADS_1


Saat pekerjaan dapur sudah selesai, Bu Rahma dan keluarganya berpamitan untuk pulang, sekaligus membawa serta Nadhifa ke rumah mereka.


Ayah Rahman mengizinkan karna Sekarang Nadhifa adalah tanggung jawab Revan.


Nadhifa masuk kedalam kamar untuk mengemas pakaian dan barang pribadinya kedalam tas yang cukup besar, tapi Nadhifa masih menyisakan beberapa helai pakaian, untuk persiapan jika sewaktu-waktu dia menginap di sana.


Setelah dirasa cukup Nadhifa membawa tas tersebut keluar kamar dibantu Revan, dan Revan meminta tolong pada Reno untuk meletakkannya ke dalam bagasi mobil, tak lupa Nadhifa membawa kado pernikahan yang diberikan oleh Zahra saat tadi mereka berdua dalam kamar.


Didepan rumah sudah ada bunda Lastri, bunda Naya dan ayah Rahman yang mengantarkan Nadhifa.


"Bunda,ayah, Dhifa pergi dulu ya, Dhifa akan sering main kesini" ucap Nadhifa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya sayang, kapanpun kamu mau kesini, rumah ini selalu terbuka untukmu" ucap bunda Lastri tersenyum tulus.


Nadhifa menghambur dalam pelukan bunda Lastri, memutar bola mata supaya air matanya tidak menetes, bunda Lastri mengelus punggung Nadhifa dengan lembut.


Nadhifa menguraikan pelukan dan menatap bunda Naya.


"Iya Dhifa, kamu bisa kesini kapan saja" tambah bunda Naya.


Nadhifa juga memeluk bunda Naya dengan erat karna kedua bundanya sangat berarti dalam hidupnya.


"Jadilah istri yang shalihah ya nak, turuti semua perintah suamimu, selama perintahnya bukan sesuatu yang dilarang" nasihat ayah Rahman sambil mengelus kepala Nadhifa yang dibalut hijab panjang.


"Iya ayah, bunda, terimakasih sudah merawat dan menyayangi Nadhifa selama ini" ucap Nadhifa tulus tak terasa air mata menetes di pipi mulusnya.


Revan yang berdiri di samping Nadhifa, mengelus punggung Nadhifa dengan lembut, seakan memberi tahu jika semuanya akan baik-baik saja.


Revan tersenyum kecil,saat Nadhifa menatapnya.


"Sudah jangan nangis, aku bisa mengantarmu main kesini kapan saja"hibur Revan.


"Terima kasih" ucap Nadhifa dengan tersenyum mendengar perhatian suaminya.


Kemudian Nadhifa memeluk Zahra yang berdiri di samping bunda Lastri.


"Pengantin baru, jangan lupakan sahabatmu yang cantik ini ya"ucap Zahra membuat Nadhifa tertawa kecil.


"Iya sahabatku yang cantik" ucap Nadhifa.

__ADS_1


Nadhifa melihat anak-anak yang berkumpul di mushola dan menghampiri mereka, Nadhifa berpamitan dengan mereka yang sudah hidup bersama bertahun-tahun.


"Kak dhifa, pergi dulu ya, kalian jangan nakal"pesan Nadhifa pada mereka.


"Iya kak, kita janji tidak akan nakal lagi, terima kasih sudah membantu merawat kami" ucap salah satu anak yang paling tua diantara mereka.


"Iya sayang, sama-sama, kakak titip ayah dan bunda ya" ucap Nadhifa lagi.


"Iya kak"jawab mereka serentak.


Kemudian mereka semua berpelukan dengan Nadhifa.


"Kak Dhifa, sering-sering main kesini ya" pesan salah satu gadis yang terlihat sedikit gemuk.


"Iya sayang, kakak akan sering main kesini"ucap Nadhifa mengelus kepala gadis itu.


Nadhifa menghampiri keluarga suaminya, usai mengucapkan salam, Bu Rahma dan saudara Revan yang lain menuju mobil disiapkan pak Ratno.


Sedangkan Revan dan Nadhifa, memasuki mobil yang disiapkan oleh Reno.


Mobil mereka melenggang meninggalkan wilayah panti, membawa kenangan indah yang tak mudah dilupakan oleh Nadhifa.


Di dalam mobil Revan menggenggam tangan Nadhifa, berusaha menghibur Nadhifa, memang tak mudah berpisah dengan orang yang hidup bersama kita apalagi sejak kita kecil, Revan tak mengatakan apapun, membiarkan Nadhifa tenang dulu.


Nadhifa memandang Revan yang masih setia menggenggam tangannya.


"Maaf " ucap Nadhifa tulus.


"Iya, tak apa" tutur Revan.


Kemudian Revan meletakkan kepala Nadhifa untuk bersandar di bahunya.


"Istirahatlah, kamu pasti lelah" ucap Revan.


Nadhifa hanya mengangguk, membiarkan tubuhnya bersandar di bahu laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu.


Reno melihat perhatian yang diberikan Revan kepada istrinya, membuat Reno tersenyum senang karna baru sekarang Revan bersikap lembut kepada seorang wanita selain mama dan adik-adiknya.


"Semoga kamu selalu bahagia bang, kamu adalah orang baik dan berhak mendapatkan wanita sebaik dan selembut Nadhifa"ucap Reno dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2