
Usai mencuci piring, Nadhifa minta izin bunda Lastri untuk menemui Zahra, wanita itu sudah merindukan sahabatnya padahal setiap Minggu mereka menghabiskan waktu bersama.
Zahra yang melihat kedatangan Nadhifa langsung memeluk erat tubuh sahabatnya, ia dapat melihat wajah Nadhifa yang tak secerah biasanya.
" kamu ada masalah?" ucap Zahra.
" gak ada, cuma senang banget bisa nginap di panti lagi" sahut Nadhifa tenang.
usai menemui paman dan bibi Zahra, kedua wanita itu berjalan memasuki kamar Zahra, Nadhifa melihat jika kamar Zahra masih tetap sama seperti dulu.
" gimana kelanjutan hubungan kamu sama kak Raihan?" ucap Nadhifa usai berbaring di atas ranjang.
" rencananya bulan depan kak Raihan mau kesini" sahut Zahra yang saat ini juga berbaring di samping Nadhifa.
" ciye, yang udah punya pasangan" ucap Nadhifa tertawa melihat wajah Zahra yang merona.
" ih Dhifa, jangan goda aku terus dong" ucap Zahra merajuk.
" biarin, kamu kan dulu juga godain aku" sahut Nadhifa yang tak mau kalah.
mereka tertawa bersama dan melanjutkan pembicaraan mereka, sesekali mereka tertawa saat ada sesuatu yang dirasa lucu.
" kamu disini berapa hari?" ucap Zahra.
" tiga hari, mumpung mas Revan ada kerjaan ke luar kota" sahut Nadhifa.
" iya juga sih, kak Raihan juga bilang kalau dia ada kerjaan di luar kota" timpal Zahra.
" itu kamu tahu"
Nadhifa terdiam memikirkan Revan, suaminya itu bahkan tidak menghubunginya, padahal Raihan masih sempat menghubungi Zahra untuk berpamitan.
Zahra yang melihat sahabatnya melamun langsung menyenggol lengan Nadhifa membuat wanita itu sedikit tersentak.
" ada apa Dhifa? sepertinya dari tadi kamu melamun terus.
" gak ada apa-apa" sahut Nadhifa, wanita itu kembali diam.
Zahra yang mendengar jawaban Nadhifa hanya mengangkat bahu, ia merasa bingung melihat sahabatnya yang seperti tak bersemangat.
" aku tahu, kamu pasti kangen kak Revan?" ucap Zahra.
Nadhifa mengangguk, ia membenarkan ucapan sahabatnya pasalnya ia memang merindukan suaminya.
setiap hari Nadhifa lalui bersama Revan, mulai dari bangun tidur sampai tidurnya lagi Revan selalu bersamanya.
Revan memang pergi ke luar kota bukan kali ini saja, tapi masalahnya Revan yang seperti mengacuhkannya dan tidak memberitahukan apapun membuat Nadhifa kecewa.
menepis rasa kecewanya, Nadhifa berpamitan untuk pulang ke panti terlebih dahulu.
...
__ADS_1
" kak" ucap Nadhifa pada seorang laki-laki yang sedang duduk di mushola bersama anaknya.
" loh, kamu ada disini?" ucap pria itu keheranan.
" iya kak, mumpung mas Revan masih ada kerjaan ke luar kota" sahut Nadhifa yang sudah memangku seorang balita laki-laki.
" oh iya, kakak belum ketemu sama suami kamu ya" ucap lelaki itu yang dibalas anggukan Nadhifa.
" waktu aku nikah kakak kan belum bisa pulang" ucap Nadhifa.
" maafin kakak ya" ucap lelaki itu penuh sesal.
" gak apa kak, lagi pula kak Amel lebih butuh kakak" sahut Nadhifa maklum.
tak lama datanglah seorang wanita muda yang merupakan istri dari laki-laki itu.
" Dhifa ada di sini juga?" ucap wanita itu.
" iya kak Amel, mumpung mas Revan masih kerja ke luar kota" sahut Nadhifa.
" maafin kakak ya, waktu kamu nikah mas Arman gak bisa datang" ucap wanita yang bernama Amel.
" gak masalah kak, yang penting keponakan aku lahirnya selamat" ucap Nadhifa dan mulai menyuapkan biskuit khusus balita pada anak kecil dalam pangkuannya.
Amel mengangguk dan mulai bercerita banyak hal pada Nadhifa.
pada waktu pernikahan Nadhifa, Arman dan Amel belum bisa pulang karna bertepatan dengan kelahiran putra pertama mereka.
...
sudah dua hari Revan bekerja ke luar kota tapi Nadhifa tidak tahu bagaimana keadaan suaminya itu, karna secara tak sengaja ponselnya tertinggal di rumah Bu Rahma.
" ayo Dhifa, kamu makan" ucap bunda Lastri.
" iya bentar Bun, Dhifa mau main ke rumah Zahra, Dhifa mau nginep disana, boleh kan?" ucap Nadhifa setelah berdiri di hadapan bunda Lastri.
bunda Lastri mengangguk membiarkan Nadhifa bermalam di rumah Zahra.
Nadhifa sejak tadi hanya sibuk menyiapkan makanan untuk adik-adik, ia sampai tak memikirkan dirinya yang belum makan.
" jangan lupa makan ya" ucap bunda Lastri.
" iya bunda tenang aja" sahut Nadhifa dan berpamitan untuk ke rumah Zahra.
hanya Zahra Sahabatnya yang paling dekat, Nadhifa sebenarnya punya banyak teman, namun banyak yang sibuk dengan kehidupan masing-masing, mayoritas mereka pergi merantau mengikuti suami mereka.
di depan halaman, Nadhifa berpapasan dengan bunda Naya dan ayah Rahman.
" kamu mau kemana Dhifa?" ucap bunda Naya.
" aku mau ke rumah Zahra bunda" sahut Nadhifa.
__ADS_1
" kamu baik-baik saja kan nak? wajah kamu terlihat pucat" ucap ayah Rahman dan mendekati Nadhifa.
" iya ayah, Dhifa baik-baik saja, Dhifa mau nginap ke rumah Zahra mumpung Dhifa ada disini" sahut Nadhifa.
ayah Rahman mengangguk, ia meraih tubuh Nadhifa kedalam pelukannya, mencoba memberikan ketenangan pada wanita itu, Nadhifa mengerjapkan matanya menahan bulir air mata yang mengenang, wanita itu menghela nafas pelan.
setelah dirasa ia cukup kuat, Nadhifa melepas pelukan itu dan menatap pria paruh baya yang sudah ia anggap seperti ayah kandungnya.
" baiklah, kamu bersenang-senanglah di sana" ucap ayah Rahman mengelus kepala Nadhifa.
Nadhifa mengangguk dan mulai menjauhi mereka berdua.
ayah Rahman melihat ada kesedihan yang Nadhifa sembunyikan, wajah pucat Nadhifa membuat pria itu semakin khawatir, tapi ia melihat Nadhifa yang berusaha bersikap ceria seperti biasannya.
semoga firasat ayah salah nak, semoga kamu baik-baik saja. ucap ayah Rahman dalam hati.
bunda Naya juga melihat ada sesuatu yang disembunyikan Nadhifa, namun ia tidak ingin ikut campur, biarlah Nadhifa menyelesaikan masalahnya sendiri, ia akan bantu jika Nadhifa yang memintanya.
...
seorang gadis duduk di teras rumahnya dengan ponsel yang berada dalam genggamannya.
ia terlihat sibuk membalas calon pembeli yang menanyakan tentang barang-barang yang ia jual secara online.
hingga kedua matanya tak sengaja melihat sahabatnya yang sudah berdiri di hadapannya.
" Dhifa, kamu kesini lagi?" ucap Zahra seakan tak percaya.
" iya, aku mau nginep disini boleh kan?" sahut Nadhifa tenang.
" aku mau nginep, mumpung mas Revan belum jemput" imbuhnya.
" baiklah, aku senang karna malam ini aku tidak tidur sendiri" ucap Zahra.
" paman sama bibi kamu kemana?"
" paman sama bibi sedang pergi ke rumah saudara, ada yang sakit" jelas Zahra.
Nadhifa manggut-manggut mendengar penjelasan sahabatnya, mereka memasuki rumah itu bersama.
...
usai sholat isya' Zahra mengajak Nadhifa makan, namun wanita itu mengatakan jika ia masih kenyang dengan berat hati Zahra makan malam sendiri.
di dalam kamar Nadhifa termenung, ia berpikir apakah Revan akan menjemputnya, mereka belum pernah seperti ini sebelumnya.
wajah Nadhifa sudah terlihat pucat, Selama dua hari ini ia tidak berselera makan, ia terlalu sibuk memikirkan apa kesalahan yang dilakukan sampai Revan mendiamkannya.
saat Nadhifa ingin beranjak kepalanya terasa berputar-putar, ia mencoba mencari pegangan namun ia tak menemukannya hingga tubuhnya terjatuh bertepatan dengan Zahra yang membuka pintu kamarnya.
" ya Allah, Dhifa kamu kenapa?" ucap Zahra setengah berteriak, gadis itu menepuk pipi sahabatnya yang saat ini sudah tak sadarkan diri.
__ADS_1