
Zahra yang sedang panik menepuk-nepuk pipi Nadhifa dengan pelan, berharap sahabatnya itu cepat sadar.
usahanya berhasil saat Nadhifa membuka matanya dengan perlahan, ia kembali menutup mata saat merasa kepalanya masih terasa pusing.
" Dhifa, ayo kamu tiduran saja" ucap Zahra dan mulai menuntun Nadhifa ke atas ranjangnya.
Nadhifa hanya pasrah saat Zahra menuntunnya, ia masih memejamkan matanya saat merasa kepalanya masih terasa pusing.
" aku telpon dokter Adi ya?" ucap Zahra yang masih khawatir.
tanpa menunggu jawaban Nadhifa, Zahra langsung meraih ponselnya dan menghubungi dokter Adi yang selama ini memeriksa pamannya jika sakit.
" halo dok, bisa ke rumah saya sekarang" ucap Zahra.
" iya dok, di tunggu ya"
Zahra langsung duduk di samping Nadhifa, ia melihat Nadhifa yang masih terpejam.
" Dhifa, kamu kenapa?"
" kamu gak usah khawatir Zahra, aku hanya sedikit pusing" sahut Nadhifa.
tak lama dokter Adi datang, ia tak sendiri ada Arman yang berjalan di belakangnya.
" ya Allah, Dhifa kamu kenapa dek?" ucap Arman panik, ia tak menyangka jika yang sakit adalah Nadhifa.
" gak apa-apa kak, Dhifa hanya pusing" jawab Zahra yang berusaha menampakkan senyumnya.
" baiklah, kalau begitu saya periksa dulu ya" ucap dokter Adi dan mulai menjalankan tugasnya, tak lupa ia memberikan resep obat yang harus ditebus.
" Dhifa hanya kelelahan, tensi darahnya rendah, harus banyak istirahat" jelas dokter Adi pada Arman yang terlihat sangat cemas.
dokter Adi memberikan resep obat itu pada Arman dan ia pamit untuk pulang, untung saja rumah dokter Adi cukup dekat dengan rumah Zahra sehingga tak butuh waktu lama ia sudah sampai di sana.
Arman mengantar dokter Adi sampai di depan pintu dan ia segera bergegas untuk menebus obat yang harus diminum Nadhifa.
di dalam kamar Zahra membantu Nadhifa melepaskan hijabnya, tak lupa ia juga membuatkan bubur untuk Sahabatnya itu.
hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit Zahra sudah menyelesaikan masakannya, ia langsung memasuki kamar dan melihat sudah ada Arman di sana.
" Dhifa, kamu makan bubur ini dulu, baru minum obat" ucap Zahra.
" terimakasih Zahra, maaf merepotkan" sahut Nadhifa.
Zahra mengangguk dan memberikan semangkuk bubur yang masih hangat itu pada Arman.
" kamu harus makan ya" ucap Arman.
Nadhifa mengangguk patuh dan membuka mulutnya saat Arman menyuapinya namun hanya separuh bubur yang ia habiskan, rasanya ia sudah tak ingin melanjutkan makannya.
" sudah kak" ucap Nadhifa.
Arman mengangguk, ia memberikan mangkok itu pada Zahra dan mengambil obat yang sudah di ia beli di apotek.
__ADS_1
" ayo diminum dulu obatnya" ucap Arman, ia menyodorkan segelas air yang tersedia di atas nakas.
" kamu istirahat dulu ya" ucap Arman dan membantu Nadhifa berbaring.
" kak, jangan bilang-bilang sama ayah dan bunda ya" pesan Zahra saat Arman akan beranjak.
" baiklah, tapi kamu harus segera sembuh" sahut Arman, ia mengelus puncak kepala Nadhifa.
Nadhifa mengangguk, ia memejamkan matanya yang sudah terasa berat mungkin efek dari salah satu obat yang ia minum.
Arman pamit pulang, namun ia berhenti saat melihat seorang pria duduk di teras rumah Zahra, wajah pria itu seperti tak asing.
" maaf, mau cari siapa?" ucap Arman.
" saya mau mencari Nadhifa" sahut pria itu.
Arman mengingat wajah pria yang sepertinya pernah ia lihat, ia baru sadar jika pria itu adalah suami Nadhifa.
" kamu suaminya Dhifa?" ucap Arman membuat Revan tersentak.
" maaf, apa kita saling kenal?" jawab Revan.
" oh ya, kita belum sempat berkenalan aku Arman anaknya bunda Naya dan ayah Rahman, Dhifa pasti sudah bercerita tentangku padamu ya" ucap Arman ramah.
Arman ikut duduk di samping Revan yang masih terlihat menggunakan pakaian kerjanya, namun penampilannya sudah tidak rapi.
Revan tersentak saat menyadari jika ia sudah berburuk sangka pada istrinya, ia bahkan memaki dirinya yang sudah melupakan cerita Nadhifa tentang kakaknya.
Arman adalah kakak sepersusuan Nadhifa, waktu kecil Nadhifa tidak mau minum susu formula hingga akhirnya ia menyusu pada bunda Naya yang saat itu sedang menyusui Arman yang sudah memasuki umur satu tahun.
" kamu baru datang kerja?" ucap Arman membuat Revan tersadar.
" iya, aku baru pulang dari luar kota, aku langsung kesini saat mendengar Nadhifa sakit" jelas Revan gugup.
" tidak perlu khawatir, kata dokter ia hanya kelelahan, aku juga sudah menyuruhnya minum obat sekarang ia pasti sudah tidur" ucap Arman.
Arman menyuruh Revan untuk masuk, karna yang dibutuhkan Nadhifa saat ini adalah suaminya.
Zahra mempersilahkan Revan masuk bahkan gadis itu sudah mengizinkan Revan jika ingin menginap di sana.
tadi ia melihat Revan sudah ingin masuk kedalam kamar waktu Nadhifa sedang makan, namun Revan pamit keluar saat melihat Nadhifa sedang disuapi oleh Arman.
dengan langkah gontai Revan memasuki kamar Zahra, di sana terlihat Nadhifa yang sedang terpejam.
secara perlahan Revan duduk di samping Nadhifa, ia mengelus rambut istrinya yang sangat ia rindukan tak lupa ia mengecup kening Nadhifa.
" maafkan aku sayang" ucap Revan pelan.
ia kemudian berbaring di samping Nadhifa merengkuh tubuh istrinya dalam pelukannya, ia bahkan mencium puncak kepala Nadhifa berkali-kali namun istrinya itu tak bergeming.
" maafkan aku sayang" ucap Revan, entah berapa kali ia mengucapkan kalimat itu hingga ia tak sadar sudah memasuki alam mimpi.
...
__ADS_1
Nadhifa merasa tubuhnya hangat seperti ada Revan yang memeluknya, ia membuka mata dan dapat ia lihat suami yang ia rindukan sudah ada dihadapannya, bahkan ia tertidur dalam pelukannya.
dengan perlahan ia mengelus pipi Revan, ia berharap jika yang sedang terjadi padanya bukanlah sebuah mimpi, ia begitu merindukan suaminya ini.
Revan mengerjapkan matanya saat merasa ada yang menyentuh pipinya, ia melihat wajah Nadhifa yang terlihat sangat dekat dengannya, ia bahkan dapat melihat mata Nadhifa yang sudah berkaca-kaca.
"maafkan aku mas" ucapnya dengan bulir air mata yang mengalir di sudut matanya.
Revan menggeleng, ia semakin merasa sangat bersalah, ia sudah mengacuhkan wanita yang sangat ia cintai, yang salah disini adalah dirinya bukan istrinya.
" ini bukan salah kamu sayang, disini aku yang salah" sahut Revan dengan suara yang tertahan.
ia merengkuh tubuhnya istrinya semakin dekat hingga ia dapat mencium aroma wangi dari rambut Nadhifa.
dapat ia rasakan jika istrinya tubuh istrinya itu sedang bergetar, tak lama terdengar isakan yang membuatnya merasa sakit, hampir satu tahun menjalani rumah tangga bersama, baru kali ini ia mendengar istrinya menangis.
Revan menghapus air mata yang menetes di pipinya, ia menepuk punggung istrinya supaya lebih tenang.
pria melepaskan pelukannya saat Nadhifa sudah berhenti menangis hanya sesekali isakan kecil yang terdengar dari mulut wanita itu.
" aku yang seharusnya minta maaf sayang, seharusnya aku tidak mendiamkan mu" ucap Revan tulus, terlihat wajah itu begitu menyesal.
Nadhifa mengelus pipi Revan dengan sayang
" kalau aku ada salah katakan padaku mas, agar aku bisa memperbaikinya".
Revan mengangguk, ia sangat menyesal karena sudah mengacuhkan istrinya.
" waktu itu aku sedang marah, aku melihatmu di mall bernama laki-laki lain bahkan Kalian terlihat sangat dekat, kamu juga tak sungkan untuk berdekatan dengannya" jelas Revan.
" padahal waktu itu kamu pamit untuk ke panti, namun aku melihatmu di sana sedang berbahagia bersama orang lain, aku merasa seperti ditipu olehmu" lanjutnya.
Nadhifa mendengarkan penjelasan suaminya dengan tenang, ia tak ingin menanggapi semuanya dengan emosi, hampir setahun menikah dengan Revan belum pernah pria itu menyakitinya.
" lanjutkan mas" pinta Nadhifa.
" saat tiba di rumah sebenarnya aku sangat ingin bertanya padamu, namun bayangan saat kamu memeluk pria itu membuatku marah sehingga tak sadar aku mengacuhkan mu"
" sampai akhirnya, keesokan harinya aku harus pergi keluar kota, aku sudah melihat pesan mu namun saat aku akan membalasnya ternyata ada kecelakaan di depan mobilku, aku dan Rey bergegas turun untuk membantu korban"
" aku kembali ke dalam mobil dan mengetik balasan padamu, aku juga minta maaf atas sikapku padamu namun kamu tak kunjung membalasnya"
" aku meminta Rey untuk mempercepat pekerjaanku, aku ingin segera menemui mu dan menjelaskan semuanya padamu hingga akhirnya semua pekerjaan sudah aku selesaikan tadi siang, aku meminta Rey untuk cepat kembali namun saat tiba di panti bunda Lastri mengatakan jika kamu ada disini" ucap Revan panjang lebar, ia sesekali mencium puncak kepala istrinya dengan sayang.
" saat aku akan masuk ternyata kamu sedang makan disuapi oleh pria itu, aku merasa sangat kecewa dan aku keluar untuk menenangkan diri terlebih dahulu, aku tak ingin menyakitimu lagi, hingga akhirnya pria itu mengatakan padaku jika dia adalah Arman, seseorang yang pernah kamu ceritakan padamu, aku merasa sangat bodoh sayang, seharusnya aku bertanya padamu dulu" ucap Revan.
" aku adalah suami yang bodoh sayang, maafkan suamimu ini" ucap Revan menyesal, tak terasa setetes air mata mengalir di pipinya.
" udah mas Re, jangan sedih aku sudah memaafkan mu mas" ucap Nadhifa tulus ia menghapus air mata Revan dan menyentuh punggung tangan Revan mengecupnya berkali-kali.
" kamu adalah pria yang baik, suami terbaik untukku" ucap Nadhifa.
Revan tersenyum mendengar ucapan tulus istrinya, ia memeluk tubuh istrinya itu dengan erat.
__ADS_1
" terimakasih sayang"