
Sesudah melakukan sholat berjamaah, Bu Rahma dan yang lain makan malam bersama, tersedia banyak menu makanan di meja.
"Ayo Dhifa, makan yang banyak yaaa !" pinta Bu Rahma.
"Iya Bu...em... maksudku mama" ucap Nadhifa tersenyum kecil, karna masih belum terbiasa mengubah panggilan pada Bu Rahma.
"Iya sayang, tidak apa" ucap Bu Rahma.
Nadhifa tersenyum dan mendekati kursi Revan.
"Mas Revan mau makan apa?" tanya Nadhifa lembut.
"Apa saja, yang kamu ambilkan akan aku makan" jawab Revan dengan tersenyum.
Bu Rahma tersenyum bahagia melihat interaksi keduanya, meskipun terlihat sangat canggung, tapi mereka berusaha saling dekat.
"Baik mas" sahut Nadhifa.
lalu Nadhifa mengambil nasi dan memasukkan lauk ke dalam piring Revan.
"Terima kasih " ucap Revan setelah Nadhifa selesai dengan pekerjaannya.
"Iya mas, sama-sama" jawab Nadhifa tersenyum malu karna semua keluarga sedang menatap keduanya.
"Kakak ipar, makanlah yang banyak ya" ucap Winda
Nadhifa mengangguk dan mengambil nasi dan lauk untuk dimasukkan kedalam piringnya.
Makan malam sudah selesai, si kembar berpamitan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Ranti dan suaminya juga pamit ke dalam kamar untuk istirahat apalagi Airin yang sudah tertidur pulas sejak tadi habis Maghrib, anak kecil itu mungkin sangat lelah karena terlalu aktif bermain.
Di ruang tamu, Bu Rahma masih menonton TV ditemani Revan dan Nadhifa, sesekali mereka berbicara ringan saat jeda iklan.
Bu Rahma melihat jam yang menunjukkan pukul 9 malam, diapun memerintahkan Revan dan Nadhifa untuk beristirahat.
Keduanya berjalan mengantar Bu Rahma kedalam kamarnya, memastikan Bu Rahma baik-baik saja.
Revan dan Nadhifa berjalan beriringan, menuju kamar mereka, sesekali Nadhifa melihat pemandangan yang terlihat dari atas tangga.
"Lihatlah ke depan Dhifa, nanti kamu bisa terjatuh" tutur Revan lembut.
"Oh iya mas, maaf" ucap Nadhifa menunduk.
"Aku tidak marah Dhifa, aku hanya tidak ingin terjadi apapun padamu" jelas Revan lalu menggandeng tangan Nadhifa.
Jantung Nadhifa berdetak kencang saat tangan Revan menuntunnya, telapak tangan Revan terasa Hangat dan membuat Nadhifa merasa tenang.
"Ayo kita istirahat" ajak Revan.
Nadhifa mengangguk dan mengikuti Revan yang sedang berbaring di atas ranjang.
Nadhifa merasa sangat canggung dengan posisi mereka yang berdekatan, apalagi mereka hanya berdua di kamar itu.
Nadhifa terdiam dan hanya melihat langit-langit kamar, berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Dhifa" panggil Revan lembut.
__ADS_1
"Iya, mas" jawab Nadhifa memandang wajah Revan yang begitu dekat dengannya.
"Aku tau, kita menikah tanpa didasari cinta" ucap Revan.
"Meskipun begitu, aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu" tambah Revan.
Nadhifa tersenyum mendengar ucapan Revan, Nadhifa tau Revan adalah laki-laki baik.
"Iya mas, aku percaya" jawab Nadhifa.
"Aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu mas" lanjut Nadhifa.
"Terima kasih " ucap Revan.
"Sama-sama" jawab Nadhifa.
mereka berdua terdiam, tak tau ingin berbicara apa.
"Apa warna kesukaanmu?" tanya Revan tiba-tiba.
"Sebenarnya aku suka warna abu-abu dan navy mas" jawab Nadhifa.
"Oh ya, jadi warna kesukaan kita sama" ucap Revan yang tak menyangka jika istrinya menyukai warna yang sama dengannya.
Pria tampan itu mengira jika istrinya akan menyukai warna pink atau warna cerah lain seperti wanita pada umumnya.
"Makanan favorit mas Revan apa ?" kali ini Nadhifa yang bertanya.
"Aku sangat menyukai opor ayam buatan mama" jawab Revan.
"Kalau begitu, aku akan meminta mama untuk mengajariku membuat opor ayam yang enak" cetus Nadhifa dengan menatap wajah tampan suaminya.
"Aku jadi tidak sabar ingin memakan opor ayam buatanmu, pasti sangat enak" goda Revan.
Nadhifa tersenyum malu mendengar godaan Revan.
"Kalau kamu, paling suka makan apa?" tanya Revan.
"Aku suka makanan yang berkuah bening mas" Jawab Nadhifa.
Revan mengernyitkan dahi mendengar jawaban istrinya, Nadhifa yang mengerti langsung menjelaskan pada Revan.
"Maksudku makanan yang berkuah bening mas seperti sayur bayam, sayur sop dan yang lainnya" jelas Nadhifa.
"Oh seperti itu, kalau begitu besok buatkan aku makanan seperti kesukaanmu itu" pinta Revan.
"Apa mas Revan akan suka?" tanya Nadhifa ragu.
"Tenang saja Dhifa, aku pemakan segala" jawab Revan terkekeh geli.
Nadhifa tersenyum saat mendengar jawaban suaminya itu, mereka melanjutkan pembicaraan sampai tengah malam, Nadhifa yang sangat mengantuk tak sadar jika dirinya sudah terlelap membiarkan Revan berbicara sendiri.
Revan yang menyadari tak ada jawaban dari Nadhifa, akhirnya membalikkan tubuhnya menghadap pada Nadhifa, ternyata istrinya itu sudah tertidur pulas dengan hijab yang masih menempel di kepalanya.
Revan mengangkat kedua bibirnya tersenyum melihat wajah damai Nadhifa yang tertidur, entah mengapa Revan merasa sangat tenang saat melihat wajah polos istrinya itu, pria itu juga tak tau, dirinya merasa senang saat ada Nadhifa di sampingnya.
Berawal dari pertemuan pertama mereka di panti, Revan sudah tertarik dengan Nadhifa. berbeda saat Revan dikenalkan Bu Rahma dengan anak temannya.
__ADS_1
Revan juga tak dapat memungkiri jika jantungnya berdegup kencang saat bersama Nadhifa, namun Revan berusaha untuk bersikap biasa saja, menyembunyikan kegugupannya supaya dirinya bisa mengenal lebih jauh istrinya.
Ia mengangkat salah satu tangannya untuk mengelus pucuk kepala istrinya, Revan mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening istrinya cukup lama.
Pria tampan itu mengambil selimut untuk menutupi tubuh wanita yang sudah menjadi istrinya, karena takut istrinya akan kedinginan, Revan juga membaringkan tubuhnya di samping Nadhifa.
"Aku akan berusaha mencintaimu Dhifa, dan aku akan berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu" ucap Revan pelan.
Tak lama Revan juga ikut terlelap karena matanya juga sangat mengantuk.
...
Nadhifa membuka kedua matanya dengan malas, melirik jam yang terletak di atas meja, terlihat pukul jam 3 dinihari.
Nadhifa bangun untuk melaksanakan sholat tahajud seperti biasa, Nadhifa melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk wudhu.
Saat keluar dari kamar mandi, Nadhifa melihat Revan yang sudah terduduk di pinggir ranjang, ia merasa tidak enak, mengira jika dirinya membuat suaminya terbangun.
Nadhifa mendekati ranjang dan berdiri di samping Revan.
"Naaf, jika tidur mas Revan terganggu karena aku" ucap Nadhifa menunduk.
"Kamu tidak salah Dhifa, aku sudah terbiasa bangun pada jam seperti ini" tutur Revan mengelus kepala Nadhifa yang dibalut hijab panjangnya.
Nadhifa tidak menyangka jika suaminya juga terbiasa melakukan sholat tahajud juga, dalam hati Nadhifa sangat bersyukur karna dipertemukan dengan Revan dan keluarganya yang baik.
"Apa kamu mau kita sholat bersama? " tanya Revan.
"Iya mas, kalau mas Revan bersedia" jawab Nadhifa menunduk malu.
"Baiklah aku akan ke kamar mandi dulu, tunggu sebentar ya" ucap Revan berlalu meninggalkan Nadhifa dan mengambil sarung dan baju koko yang tersimpan di tempat biasa.
Seperti kemarin sore Nadhifa menggelar karpet dan sajadah untuk dirinya sendiri dan Revan, suaminya.
Mereka sholat bersama, merasakan kedamaian yang mereka dapatkan saat mengadukan segala masalah pada yang maha kuasa, dalam hati pengantin baru itu berdoa meminta di jadikan keluarga sakinah mawadah warahmah.
Sesudah sholat Revan membalik tubuhnya menghadap Nadhifa, Nadhifa mengambil punggung tangan Revan untuk dicium, Revan juga mengelus kepala Nadhifa.
"Doakan aku, supaya menjadi suami yang baik untukmu" ucap Revan setelah Nadhifa mencium punggung tangannya.
"Aku juga mas, ingatkan aku jika aku salah ya" pinta Nadhifa.
Revan mengangguk, dalam hati Revan bersyukur dipertemukan dengan seorang gadis baik hati, tak hanya parasnya yang indah tapi Revan juga yakin jika hati Nadhifa juga baik.
Revan merebahkan kepalanya di atas sajadah yang masih terbentang, membuat Nadhifa geleng-geleng kepala.
"Kenapa mas Revan tidur disini?" tanya Nadhifa.
"Aku sangat mengantuk Dhifa" jawab Revan dengan memejamkan matanya.
Nadhifa mengangguk membiarkan Revan tertidur, gadis itu teringat jika semalam dirinya tertidur terlebih dahulu.
"Mas Revan, maaf semalam aku ketiduran" ucap Nadhifa merasa bersalah.
"Iya tak apa, aku mengerti, pasti kamu sangat mengantuk" jawab Revan dengan membuka kedua matanya.
Nadhifa tersenyum karena Revan mau mengerti dirinya, kemudian Revan mengajak Nadhifa untuk berbaring di sampingnya, Nadhifa menuruti ucapan suaminya karena dirinya merasa masih mengantuk,tak lama keduanya terlelap.
__ADS_1