Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
68. MENGINAP


__ADS_3

Hari ini Revan dan Nadhifa sudah berada di dalam mobil, keduanya akan mengunjungi panti sekaligus melihat perkembangan baby Akbar.


Selama perjalanan Revan tak henti menawarkan segala macam makanan yang terjual di pinggir jalan, namun wanita hamil itu sedang tidak ingin makan apapun.


Tak butuh waktu lama keduanya sudah sampai di halaman panti, terlihat anak-anak disana sedang bermain di halaman rumah.


Tangan kanan Revan menggandeng tangan Nadhifa, sedangkan tangan satunya membawa sekantong plastik yang berisikan jajanan yang sempat Revan beli di jalan tadi.


Anak-anak yang melihat segera menghampiri mereka, Revan menyerahkan plastik yang ia bawa pada segerombolan anak kecil itu dan berpesan supaya mereka tidak berebutan.


Kedatangan mereka disambut hangat oleh bunda Lastri, bunda Lastri merengkuh tubuh Nadhifa dalam pelukannya lalu mereka memutuskan untuk duduk di teras rumah.


" Apa kabar kamu sayang?" Tanya bunda Lastri.


" Alhamdulillah Dhifa sehat bunda"


" Syukurlah kalau begitu, kamu tidak mual-mual?"


" Tidak bunda, malah Dhifa semakin suka makan" celetuk Revan membuat Nadhifa cemberut.


" Jangan cemberut, emang itu kenyataannya sayang"


Mendengar ucapan suaminya, Nadhifa semakin cemberut tapi bunda Lastri dan Revan kompak tertawa.


" Kenapa kalian tertawa?" Sergah Nadhifa.


" Kamu itu menggemaskan sayang" ucap Revan terkekeh.


" Bunda Naya dan ayah Rahman ada dimana bunda?" Tanya Nadhifa mengalihkan pembicaraan.


" Bunda Naya sama bunda Sari sedang ke pasar, kalau ayah Rahman pergi ke rumah temannya, katanya ada urusan" sahut bunda Lastri.


Nadhifa mengangguk paham, ia menyandarkan kepalanya di bahu Revan lalu mereka melanjutkan pembicaraan seputar panti dan kehamilan Nadhifa, bunda Lastri sangat senang setelah tahu jika ada dua janin di rahim Nadhifa.


" Dhifa mau makan sesuatu?" Tawar bunda Lastri.


" Tidak bunda, Dhifa mau ke rumah Zahra dulu ya, soalnya udah kangen banget sama baby Akbar"


" Iya, hati-hati"


Nadhifa dan Revan berjalan kaki menuju rumah Zahra, sesekali Nadhifa menjawab sapaan yang dilontarkan para tetangga.


Sampai di rumah Zahra, Nadhifa dan Revan mengucapkan salam hingga bibi Zahra datang dan mempersilahkan mereka untuk masuk.


" Tunggu disini dulu ya, bibi panggil Zahra dulu"


Nadhifa dan Revan kompak mengangguk, tak lama Zahra datang sambil menggendong tubuh Akbar yang terlihat sangat gemuk.


" Assalamualaikum jagoan Tante" ucap Nadhifa ceria.


" Waalaikum salam Tante Dhifa" sahut Zahra.


Bibi Zahra datang membawa minuman serta makanan ringan untuk mereka.


" Ayo di minum dulu, maaf seadanya"


" Bibi tidak perlu repot" ucap Nadhifa.


" Tidak apa-apa, kalau begitu bibi ke dapur dulu ya"


Nadhifa menghampiri Zahra dan meletakkan baby Akbar dalam gendongannya.


" Lihat rambut Akbar Tante, sekarang rambut Akbar lebih banyak" ucap Nadhifa membuat Zahra dan Revan tertawa.


" Rey mana?" Ucap Revan.


" Kak Raihan masih di kamar, baru bangun tidur" sahut Zahra.

__ADS_1


" Ayo, lagi ngomongin aku ya?" Ucap Raihan yang tiba-tiba duduk disamping Zahra.


" PD banget" ucap Zahra membuat Raihan tertawa.


Terdengar suara orang kentut membuat mereka semua terdiam lalu mereka tertawa saat tahu siapa pelakunya.


" Ya ampun, jagoan Tante ternyata yang kentut" ucap Nadhifa melihat wajah Akbar yang sejak tadi tertawa.


" Maaf Dhifa, dari tadi Akbar memang suka kentut"


" Tidak masalah"


...


Setelah puas bermain dengan baby Akbar dan bercerita banyak hal keduanya pulang ke rumah bunda Lastri, disana sudah ada bunda Naya dan ayah Rahman yang sedang duduk di Mushola.


Nadhifa hendak berlari untuk menghampiri mereka namun Revan menahan tangannya.


" Jangan lari sayang" tutur Revan lembut.


" Maaf mas, Dhifa lupa" sahut Nadhifa cengengesan.


Setelah sampai di hadapan bunda Naya dan ayah Rahman, Nadhifa langsung memeluk mereka bergantian.


" Gimana keadaan kamu sayang?" Tanya bunda Naya.


" Alhamdulillah sehat bunda" sahut Nadhifa.


" Keadaan cucu nenek gimana?"


" Alhamdulillah mereka baik bunda"


" Mereka siapa?"


" Dhifa hamil anak kembar bunda" jelas Revan membuat ayah Rahman dan bunda Naya tersentak.


" Iya bunda" sahut Nadhifa tersenyum.


Bunda Naya kembali memeluk Nadhifa dengan erat, sedangkan ayah Rahman mengelus kepala Nadhifa dengan sayang.


" Jaga kandungan kamu dengan baik ya" ucap ayah Rahman.


" Iya ayah"


" Ayo duduk dulu" ajak bunda Naya.


" Mas Re, Dhifa mau nginap disini boleh?"


Revan mengangguk membuat Nadhifa sangat senang, wanita itu refleks memeluk Revan dengan erat membuat ayah Rahman berdehem pelan.


" Maaf ayah" ucap Nadhifa.


...


Revan sedang duduk di mushola bersama ayah Rahman membicarakan seputar pekerjaan dan berbagi pengalaman hidup, sedangkan Nadhifa sejak tadi bergelayut manja di tangan bunda Lastri membuat bunda Lastri terkekeh.


" Selain suka makan, ternyata kamu jadi manja ya" ucap bunda Lastri.


Nadhifa tersenyum mendengar ucapan bunda Lastri, ia sendiri tidak sadar jika sudah bersikap manja.


" Dhifa mau tidur sama bunda, boleh ya?"


" Suami kamu gimana?" Sahut bunda Lastri.


" Nanti Dhifa bilang sama mas Revan"


Bunda Lastri mengangguk dan membawa pisang goreng yang masih hangat untuk disajikan pada ayah Rahman dan Revan.

__ADS_1


" Mas Revan, Dhifa mau tidur sama bunda, boleh?"


Revan tersenyum mendengar ucapan istrinya, ia mengelus puncak kepala Nadhifa dengan lembut.


" Iya, tidurnya jangan terlalu malam"


" Bunda Naya mana ayah?"


" Ada di rumah" sahut ayah Rahman.


Tak lama bunda Naya datang menghampiri mereka dengan membawa ponsel di tangannya, rupanya wanita paruh baya itu sedang melakukan video call dengan putra tunggalnya.


" Ini, kamu bicara sendiri sama Dhifa" ucap bunda Naya.


" Assalamualaikum kak Arman" ucap Nadhifa setelah melihat wajah pria yang sudah ia anggap seperti kakaknya.


" Waalaikum salam, kakak dengar dari bunda kamu sedang hamil ya?"


" Iya kak, Alhamdulillah, gimana kabar kakak dan keluarga?" Sahut Nadhifa senang.


" Kami baik-baik Dhifa, kamu jangan terlalu capek, gak boleh stress juga"


" Iya kak"


Nadhifa melanjutkan pembicaraannya dengan istri dan anak Arman, tak lupa ia juga mengajak Revan untuk berkomunikasi dengan mereka.


...


Seperti permintaan Nadhifa saat ini ia tidur bersama bunda Lastri, sedangkan Revan ada di rumah bunda Naya.


Nadhifa meminta bunda Lastri untuk mengelus kepalanya.


" Kayak anak kecil aja" ucap bunda Lastri terkekeh.


" Biarin, kapan lagi Dhifa manja sama bunda" sahut Nadhifa.


" Bunda Sari tidur dimana bunda?"


" Tidur sama anak-anak"


Nadhifa mengangguk, bunda Lastri menceritakan tingkah lucu Nadhifa saat masih kecil membuat Nadhifa tertawa.


" Bunda masih ingat itu?"


Bunda Lastri mengangguk, wanita paruh baya itu kemudian memberikan nasehat seputar kehamilan dan berpesan supaya Nadhifa tidak malas melakukan ibadah.


Nadhifa hanya mendengarkan petuah bunda Lastri, ia menganggukkan kepalanya saat ia sanggup akan melakukannya.


" Kalau pagi, jangan lupa harus tetap ngaji, walaupun cuma sebentar" ucap bunda Lastri.


" Kenapa kamu diam saja?" Tanya bunda Lastri saat Nadhifa tidak merespon ucapannya.


" Dhifa kangen mas Revan" sahut Nadhifa.


Bunda Lastri tersenyum mendengar ucapan Nadhifa, bukankah ibu hamil itu yang ingin tidur bersamanya.


" Kamu mau tidur sama Revan? biar ibu antar ke sana"


Nadhifa menggeleng dan memeluk bunda Lastri.


" Malam ini Dhifa mau tidur sama bunda"


" Baiklah, ayo sekarang kamu harus tidur" ucap bunda Lastri tersenyum, wanita paruh baya itu masih setia mengelus kepala Nadhifa.


Tidak membantah ucapan bunda Lastri, Nadhifa memejamkan matanya yang terasa sangat mengantuk hingga tak lama iapun terlelap.


" Walaupun kamu bukan anak kandung bunda, tapi bunda tetap sayang kamu" ucap bunda Lastri lirih.

__ADS_1


__ADS_2