Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
62. REVAN SAKIT.


__ADS_3

Nadhifa mengerjapkan matanya, biasanya Revan akan membangunkannya untuk sholat tahajud bersama, wanita itu mengarahkan pandangannya pada jam yang ada di atas nakas, kurang sepuluh menit lagi waktu sholat subuh.


" tumben mas Re gak bangun" ucap Nadhifa lirih.


Nadhifa mengelus pipi Revan dengan pelan namun Revan tidak kunjung bangun membuat Nadhifa khawatir, apalagi saat ini dahi Revan terasa hangat.


" mas" ucap Nadhifa yang masih setia membangunkan suaminya.


" Dhifa, ada apa?" sahut Revan parau.


" mas Re sakit ya?" tanya Nadhifa khawatir.


" tidak sayang, hanya sedikit pusing" sahut Revan yang memijit kepalanya.


Nadhifa membantu Revan duduk, kemudian ia memberikan segelas air putih yang ada di atas nakas pada Revan.


" mas Re minum dulu ya"


Revan mengambil gelas yang Nadhifa sodorkan padanya, dengan perlahan ia menyesapnya. Nadhifa meletakkan kembali gelas itu pada tempatnya.


Revan meletakkan kepalanya di atas paha istrinya, dengan lembut Nadhifa memijat kepala Revan berharap apa yang dilakukannya bisa mengurangi rasa sakit yang suaminya rasakan, Revan membalikkan tubuhnya untuk memeluk perut Nadhifa.


" masih sakit mas?"


" agak mendingan sayang" sahut Revan yang semakin mempererat pelukannya.


" sudah subuh?" tanya Revan.


" belum mas"


Revan terdiam dan kembali menikmati sentuhan Nadhifa di kepalanya, ia sangat suka sentuhan itu.


tak lama terdengar adzan berkumandang, Revan meminta Nadhifa untuk membantunya ke kamar mandi.


" mas Re sholat disini saja ya" ucap Nadhifa yang masih khawatir.


" aku tidak apa-apa sayang, jangan khawatir" sahut Revan.


" mas" ucap Nadhifa memelas, wanita itu masih mengkhawatirkan suaminya yang terlihat lemah.


" baiklah sayang, beritahu yang lain supaya tidak menungguku" sahut Revan pasrah, ia tak tega melihat wajah sedih istrinya.


Nadhifa mengangguk, ia turun ke bawah dan memberitahukan keadaan Revan kepada seluruh keluarga yang ada di mushola. Pada awalnya mereka khawatir tapi Nadhifa mengatakan jika Revan hanya butuh istirahat, setelah itu Nadhifa pergi ke dapur untuk membuatkan jahe hangat.


Dengan hati-hati Nadhifa membawa nampan ke atas kamar dan menghampiri Revan yang sedang duduk bersandar.


" mas Re, mau sholat sekarang?"


" iya sayang, bantu aku ya"


Nadhifa mengangguk, ia meletakkan nampan itu di atas nakas dan memapah tubuh Revan ke kamar mandi.


" tunggu disini saja sayang" ucap Revan saat keduanya tiba di depan pintu kamar mandi.


" tapi mas Re gimana?" sahut Nadhifa khawatir.


" aku tidak apa-apa sayang, aku masih bisa" sahut Revan mengelus kepala istrinya.


" baiklah mas, aku ambil baju dulu ya"


Revan mengangguk, secara perlahan ia memasuki kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Nadhifa sudah menunggunya di depan pintu, di tangannya sudah ada sarung dan baju Koko yang biasa Revan gunakan.


" mas, ini bajunya"

__ADS_1


Revan membuka pintunya dan mengambil baju yang Nadhifa serahkan padanya, setelah itu ia keluar dibantu Nadhifa sampai di atas sajadah tentunya tanpa bersentuhan kulit.


" kamu gak sholat sayang?"


" Dhifa lagi haid mas, Dhifa mau mandi dulu ya"


Revan mengangguk dan membiarkan Nadhifa membersihkan tubuhnya, ia sangat tahu meskipun sedang haid tapi Nadhifa terbiasa mandi sebelum matahari terbit.


Usai mandi Nadhifa mendapati Revan yang sedang bersandar dipinggir ranjang, dengan baju Koko yang masih dipakainya.


" masih pusing mas?"


" sedikit sayang, tidak perlu khawatir" sahut Revan lemah.


Nadhifa bergegas mengeringkan rambut dan menyisirnya lalu ia mengambil hijab instan di lemarinya.


" aku mau buatin mas Re bubur, mas Re tunggu disini ya"


Revan menggeleng, ia menarik Nadhifa supaya berbaring di sampingnya, ia tak ingin apapun saat ini.


" tidak sayang, temani aku disini saja"


" tapi mas Re harus makan" sahut Nadhifa lembut seraya mengecek suhu tubuh Revan.


" mas Re dahinya tambah panas, tadi mas Re mandi ya?" ucap Nadhifa khawatir.


" nggak sayang, aku cuma wudhu aja"


tak lama terdengar suara ketukan pintu, usai mendapatkan izin Revan, Nadhifa membuka pintu kamarnya.


" gimana keadaan Revan?" tanya Bu Rahma dengan membawa semangkuk bubur di tangannya.


" mas Revan bilang masih pusing ma, badannya juga masih panas" sahut Nadhifa dan mempersilahkan Bu Rahma masuk ke kamar.


" gimana keadaanmu nak?" tanya Bu Rahma yang sudah duduk di samping Revan.


" mama sudah buatin bubur, kamu makan dulu ya" ucap Bu Rahma mengelus rambut Revan.


" maaf ma, seharusnya Dhifa yang buat buburnya" sesal Nadhifa.


" tidak apa sayang, Revan kalau sakit emang manja, dia pasti ngelarang kamu ke bawah kan?"


" mama" ucap Revan manja.


" udah jangan mengelak, sekarang kamu makan dulu buburnya, sebentar lagi dokter Hendra akan kesini" sahut Bu Rahma.


Revan mengangguk, Bu Rahma memberikan semangkuk bubur itu pada Nadhifa menyuruh Nadhifa untuk menyuapi Revan.


" ayo mas, buka mulutnya"


Revan menuruti permintaan istrinya, hanya beberapa suapan Revan meminta Nadhifa berhenti.


" kok cuma sedikit mas?"


" nanti lagi"


Nadhifa meletakkan mangkuk buburnya lalu mengambil jahe hangat yang sempat ia buat tadi dan memberikan minuman yang masih hangat itu pada Revan.


tak lama dokter Hendra datang bersama si kembar, semuanya menyingkir membiarkan Revan diperiksa terlebih dahulu.


" ini obat yang harus ditebus, Revan harus banyak istirahat, jangan terlalu lelah" pesan dokter paruh baya itu.


" iya dok, terimakasih" ucap Revan tersenyum.


Bu Rahma mengantarkan dokter Hendra sampai ke depan rumah, tak lupa mengucapkan terimakasih karna bersedia datang padahal waktu masih sangat pagi.

__ADS_1


si kembar mendekati Revan, mereka berdua memeluk Revan dari kedua sisi.


" Abang harus cepat sembuh" ucap Winda.


" iya, kalian jangan khawatir" sahut Revan mengelus kepala kedua adiknya.


kemudian si kembar pamit keluar karna mereka akan berangkat kuliah, sedangkan Bu Rahma juga pamit karna mau menebus obat Revan di apotik terdekat.


kini di kamar itu hanya ada Revan dan Nadhifa, Revan sudah berbaring di ranjang ditemani Nadhifa yang sudah mengelus rambutnya.


" perut kamu gak sakit?" tanya Revan.


" tidak mas, kemarin siang nyerinya" sahut Nadhifa.


Revan mengerti, ia meminta Nadhifa mengambil ponselnya.


" biar aku yang nelpon kak Raihan, mas Re istirahat saja"


Nadhifa mengambil ponsel Revan dan mencari nomor telepon Raihan.


" assalamualaikum kak" ucap Nadhifa setelah telpon tersambung.


" hari ini mas Revan sakit, jadi belum bisa ke kantor"


" hanya kelelahan kak"


" Dhifa minta tolong, kak Raihan urus pekerjaan mas Revan dulu ya"


" terimakasih kak, assalamualaikum"


suara ketukan pintu terdengar, Nadhifa membuka pintu dan mendapati Bu Rahma yang sudah membawa kantung plastik yang berisi obat Revan.


" Revan, minum obatnya dulu" tekan Bu Rahma pada Revan, pasalnya Revan sangat sulit minum obat.


" iya ma" sahut Revan lemah.


Nadhifa membuka obat itu satu persatu dan memberikannya pada Revan, dengan enggan Revan meminum obat itu walaupun harus menutup hidungnya.


usai memastikan Revan minum obat, Bu Rahma bergegas keluar membiarkan Revan beristirahat tak lupa ia berpesan pada Nadhifa untuk sarapan.


" maaf ya, aku kalau sedang sakit emang manja" ucap Revan.


" tidak apa-apa mas"


" kalau kamu mau sarapan ke bawah gak apa-apa, aku disini saja" ucap Revan.


" tidak, aku akan menunggumu tidur dulu, jangan pikirkan aku, sekarang mas Re harus istirahat" tolak Nadhifa.


" baiklah, berikan obatku dulu" sahut Revan membuat Nadhifa bingung.


" obat apa? bukannya mas Re udah minum obat?" sahut Nadhifa polos.


Dengan isyarat Revan menyentuh bibirnya, meminta Nadhifa untuk menciumnya, wajah Nadhifa sudah memerah.


" mas Re, sakit tetap aja mesum"


" kalau kamu gak mau, aku gak akan tidur" ancam Revan.


" baiklah" sahut Nadhifa pasrah, sebenarnya Nadhifa sangat malu untuk mencium Revan karna selama ini Revan yang selalu menciumnya terlebih dahulu.


Dengan perlahan Nadhifa mendekati Revan dan memberikan kecupan singkat di bibir Revan.


" kurang lama sayang" sahut Revan manja.


wajah Nadhifa semakin merona, ia kembali mencium bibir Revan cukup lama membuat Revan tersenyum senang.

__ADS_1


" terimakasih istriku, aku yakin besok pasti sudah sembuh" ucap Revan membuat Nadhifa semakin malu.


" sekarang mas Re harus tidur, oke" ucap Nadhifa saat Revan sudah masuk dalam pelukannya, Nadhifa kembali mengelus rambut Revan.


__ADS_2