Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
32. CEMBURU?


__ADS_3

" Dhifa"


Seruan itu semakin terdengar jelas saat pemuda yang Revan ketahui sebagai sekretarisnya ternyata mengenal istrinya.


"Kak Raihan" ucap Nadhifa saat pemuda itu berdiri di hadapannya.


Revan mengernyitkan dahi melihat keduanya yang seperti saling mengenal.


"Kalian saling kenal?" tanya Revan yang sudah tak dapat membendung rasa penasarannya.


"Iya mas, dulu dia pernah tinggal di panti seperti aku" jelas Nadhifa.


Revan mengangguk dan mulai menatap keduanya.


"Kak Raihan kerja disini?" ucap Nadhifa yang dibalas anggukan mantap oleh Rey.


"Dhifa, kamu ngapain disini?" ucap Rey yang tak menyadari jika kedua tangan mereka yang masih bertautan.


"Aku.." ucap Nadhifa terputus saat Revan menjawab pertanyaan Rey.


"Dia istriku Rey" jelas Revan yang sukses membuat Rey melongo.


"Jadi pak Revan sudah menikah?" tanya Rey yang mendadak seperti orang bodoh.


"Iya Rey, kamu ingat aku pernah ambil cuti?" tanya Revan yang kemudian mendapat anggukan mantap dari Rey.


Revan kemudian menjelaskan bahwa pernikahan mereka hanya diadakan secara sederhana, dan hanya mengundang sanak saudara dan teman terdekatnya.


Rey mengangguk dan mulai kembali menggunakan bahasa formal.


"Maaf pak, saya tidak tahu jika anda sudah menikah"


"Tak perlu sungkan seperti itu Rey" sahut Revan yang membuat Rey menghela nafas lega.


"Jadi anda mau pulang Bu, Dhifa?" ucap Rey yang kembali berbicara formal membuat Nadhifa terkekeh geli.


"Tak perlu berbicara seperti itu kak Raihan" ucap Nadhifa


"Aku jadi merasa sangat tua" tambah Nadhifa yang mengundang senyuman kecil di wajah suaminya.


"Tak perlu sungkan dengan istriku Rey, sebelum ia menikah denganku, ia terlebih dahulu berteman denganmu" ujar Revan.


"Berbicaralah seperti biasa" imbuh Revan yang membuat istrinya tersenyum.


Jujur saja Nadhifa merasa tak nyaman jika harus berbicara menggunakan bahasa formal dengan Raihan.


Rey mengangguk patuh dan membiarkan keduanya berlalu untuk menaiki lift yang akan membawa mereka ke lantai dasar kantor.


"Kau sudah mendapatkan kebahagiaanmu Dhifa, pak Revan adalah orang yang tepat untukmu" ucap Rey lirih.


"Bagaimana dengan aku, Dhifa? bahkan ungkapan cintaku tak pernah terbalaskan"tanya Rey pada dirinya sendiri.


...


Seperti biasa, para karyawan sesekali curi pandang untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh kedua orang yang menjadi fokus utama mereka.


Bukan hanya sekali, tapi untuk kedua kalinya mereka melihat Revan memperlakukan wanita itu dengan begitu lembut, berbeda dari Revan yang biasa mereka temui.


Wajah datar dan tatapan dinginnya membuat mereka menjadi segan sehingga tak ada yang berani mendekatinya.


"Hati-hati, pulanglah dengan selamat" ucap Revan saat keduanya sudah berada di depan mobil yang tadi digunakan Nadhifa.


"Iya mas, aku pamit pulang dulu ya" sahut Nadhifa dan mengecup punggung tangan suaminya.

__ADS_1


Menganggukkan kepala, Revan membiarkan istrinya memasuki mobil itu, sudah ada pak Ratno yang siap mengantarkan majikannya kemanapun.


"Hati-hati" ucap Revan saat Nadhifa membuka kaca mobil itu.


"Iya mas" sahut Nadhifa dan melambaikan tangannya saat kendaraan roda empat itu perlahan meninggalkan gedung bertingkat dihadapannya.


Kembali ke dalam kantor, Revan kembali memasang wajah datarnya, membuat para karyawan kembali merasakan segan untuk sekedar menyapa.


...


Usai membersihkan diri, Nadhifa mendatangi adik kembar suaminya yang saat ini masih sibuk melihat brosur berisi tentang universitas yang akan mereka pilih untuk


melanjutkan pendidikannya.


"Kalian sedang apa?" ucap Nadhifa usai mendaratkan tubuhnya duduk di sofa tunggal yang ada di ruangan yang sama dengan iparnya.


"Kami masih pilih universitas yang bagus kak" sahut Winda dan mulai membaca keterangan yang tertulis di brosur itu.


"Menurut kak Dhifa bagusnya yang mana?" ucap Windi, menyerahkan beberapa brosur universitas terbaik yang sudah mereka pilih sebelumnya, meminta Nadhifa untuk memberikan pendapatnya.


"Aku juga gak tau, tapi menurut aku ini sepertinya lebih bagus di antara yang lain" ucap Nadhifa seraya menyerahkan salah satu brosur universitas yang ia baca.


Keduanya mengangguk, dan kembali membaca keterangan yang bisa tercantum di kertas itu.


"Aku juga lebih condong ke universitas ini kak, tapi masih bingung soalnya semuanya bagus" ucap Winda dan diiyakan oleh saudari kembarnya.


"Aku juga" sambung Windi.


"Di manapun, kalian halus belajar dengan giat, supaya gak sia-sia Abang kalian mencari nafkah untuk masa depan kalian" ucap Bu Rahma yang tiba-tiba datang dan mendudukkan diri di samping anak kembarnya.


"Iya ma" sahut keduanya dengan patuh menerbitkan senyuman di wajah cantik wanita paruh baya itu.


Mereka melanjutkan pembicaraan, saling berbagi cerita saat masa sekolah dulu, hingga tak menyadari kedatangan orang yang berjasa bagi mereka.


"Waalaikum salam" sahut mereka serentak.


Mendekati sang mama, Revan mencium punggung tangan wanita pertama yang menjadi cintanya, tak lupa ia menghadiahkan kecupan di kening wanita yang tak lagi muda itu.


Kedua adik kembarnya juga tak lupa untuk mengecup punggung tangan Revan, seperti yang biasa mereka lakukan.


Berjalan pelan mendatangi istrinya, Revan menyambut uluran tangan Nadhifa yang ingin mencium punggung tangannya.


"Mas Revan, kok udah pulang?" ucap Nadhifa saat Revan menyerahkan tas kerja di tangannya.


"Alhamdulillah, semua pekerjaan sudah selesai" sahut Revan dan mulai duduk di sofa tunggal yang tadi ditempati istrinya.


"Aku buatkan minum dulu ya"


usai mendapatkan persetujuan dari suaminya, Nadhifa bergegas membuat teh hangat yang biasa Revan minum.


Takaran gula sudah Nadhifa sesuaikan dengan selera suaminya, hanya satu sendok teh yang ia letakkan ke dalam gelas itu.


Usai dengan pekerjaannya, Nadhifa menghampiri keluarga suaminya yang masih asyik bercengkrama, sesekali terdengar tawa renyah yang membuat suasana semakin hangat.


"Diminum dulu mas" ucap Nadhifa usai meletakkan segelas teh hangat di atas meja dihadapannya.


" Terima kasih" sahut Revan tulus dan mulai meneguk teh hangat itu sedikit demi sedikit.


Bu Rahma tak henti melebarkan senyumnya, melihat perhatian yang menantunya berikan kepada putra sulungnya itu.


Begitu pula si kembar yang juga merasa beruntung mempunyai kakak ipar yang baik dan penyayang.


"Baiklah, aku ke kamar dulu" ucap Revan setelah meneguk setengah teh hangat yang ada.

__ADS_1


"Ayo" ajak Revan pada wanita yang saat ini duduk disamping mamanya.


Wanita itu mengangguk dan berjalan di belakang Revan usai berpamitan pada mertua dan iparnya.


Menyamakan langkah suaminya, Nadhifa masih setia menenteng tas kerja itu hingga keduanya sampai di kamar Revan.


Revan membaringkan tubuhnya di atas ranjang, membiarkan sepatu dan kaos kaki yang ia pakai masih terbalut di kakinya.


Merasa begitu lelah, Revan memejamkan matanya hingga ia tersentak saat ada yang membuka sepatunya.


"Gak perlu sayang, aku bisa sendiri" ucap Revan yang merasa tak enak saat melihat wanita itu dengan sabar membuka sepatunya.


Ia dengan cepat bangun dari tidurnya, ia menyentuh kedua tangan wanita itu.


"Kamu istriku sayang, bukan pembantu" ucap Revan saat melihat tatapan penuh tanya dari wanita itu.


"Iya mas, aku tau, makanya aku bantu" sahut Nadhifa yang masih menampilkan senyum manisnya.


Membuka kaos kaki yang sejak tadi ia pakai, Revan meminta Nadhifa untuk mengambilkan baju dan handuk yang akan dia gunakan untuk membersihkan diri.


"Aku mandi dulu ya" ucap Revan saat Nadhifa sudah kembali dengan pakaian yang ia minta.


Nadhifa mengangguk dan membiarkan suaminya untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu, ia mengambil piyama yang akan ia pakai.


Tubuh Revan sudah kembali segar, bulir air yang mengalir di wajah tampannya membuat jantung Nadhifa berdegup kencang.


Tak dapat ia pungkiri jika suaminya begitu tampan, apalagi dengan wajah yang masih terlihat segar membuat wajah itu semakin menawan.


"Aku ke kamar mandi dulu mas" ucap Nadhifa saat Revan sudah keluar dari kamar mandi.


Revan mengangguk dan mulai mengeringkan rambut dengan handuk kecil yang disiapkan istrinya.


"Bantu aku" ucap Revan setelah Nadhifa keluar dari kamar mandi, wajahnya juga terlihat segar.


Mengangguk dan mulai menyapukan handuk itu di rambut suaminya yang masih setengah basah, Nadhifa tak menyadari jika sejak tadi suaminya itu memperlihatkan tingkah lakunya melalui kaca yang ada di meja rias di hadapannya.


Menghentikan gerakan tangan istrinya secara tiba-tiba membuat Nadhifa sedikit kaget.


"Terima kasih" ucap Revan yang hanya di balas anggukan oleh istrinya itu.


Meletakkan handuk di tempat biasanya, Nadhifa kembali mendekati suaminya yang sudah bersiap untuk tidur.


"Kemari" ucap Revan, menepuk kasur di sebelahnya seakan menyuruh Nadhifa untuk berbaring disampingnya.


Wanita itu hanya menurut dan mulai mendekati suaminya, sedikit tersentak saat Revan tiba-tiba menariknya ke dalam pelukannya.


"Ceritakan tentang Rey padaku?" ucap Revan saat Nadhifa menatapnya.


"Rey siapa?" sahut Nadhifa yang masih kebingungan.


"Tadi yang ketemu kamu di kantor" jelas Revan.


"Oh kak Raihan, memangnya kenapa?" tanya Nadhifa yang masih tak mengerti alasan Revan bertanya seperti itu.


"Pokoknya kasih tau aku, sedekat apa hubungan kalian sebelumnya?" ucap Revan sedikit kesal saat istrinya masih belum menjawab pertanyaannya.


"Oh, jadi mas Re cemburu?" goda Nadhifa saat menyadari jika suaminya tengah merasa cemburu, sebelumnya Revan belum pernah bersikap seperti itu hingga membuat Revan terlihat menggemaskan.


"Siapa yang cemburu?, aku hanya penasaran saja" sahut Revan ketus dan membalikkan tubuh untuk membelakangi istrinya, Revan tak menyadari wajah istrinya yang menahan tawa.


"Beneran gak mau tau?" ucap Nadhifa yang mulai melingkar tangannya di pinggang suaminya.


"Kalau gak mau kasih tau, ya udah gak apa-apa" sahut Revan yang masih terdengar ketus.

__ADS_1


Nadhifa tersenyum dan mengeratkan pelukannya, membuat sedikit demi sedikit senyuman kecil muncul di bibir Revan.


__ADS_2