Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
20. SUAMI YANG BAIK


__ADS_3

Suara adzan berkumandang membuat Nadhifa terbangun dari tidurnya, menolehkan kepala ke samping ternyata suaminya masih tertidur pulas, Nadhifa segera duduk dan membangunkan Revan.


"Mas Revan, sudah subuh mas" ucap Nadhifa sambil menepuk pelan lengan Revan.


Revan langsung membuka kedua matanya menatap wajah cantik istrinya.


"Iya terima kasih, aku akan ke kamar mandi dulu"


Usai bersiap mereka melangkah beriringan menuju mushola untuk melakukan sholat berjamaah bersama yang lain.


...


Di pagi hari yang cerah Nadhifa masih berada di dalam kamar, setelah mandi gadis cantik yang kini resmi menjadi istri seorang Revano Aditya terlihat sibuk mengeluarkan pakaian yang ia bawa dan akan meletakkannya di lemari berukiran kayu.


Revan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggosok rambutnya yang masih basah.


Melihat Nadhifa yang masih sibuk dengan pekerjaannya membuat Revan tersenyum, setelah menyisir rapi rambutnya pria itu meletakkan handuk di tempat biasa dan menghampiri istrinya yang masih terlihat sibuk.


Revan duduk disamping Nadhifa yang sedang melipat bajunya membuat Nadhifa kaget.


"Mas Revan , kirain siapa" ucap Nadhifa


"Kamu terlalu sibuk, sampai gak sadar aku duduk di sini" jawab Revan.


"Maaf mas" cicit Nadhifa.


"Tidak apa, ayo aku bantu" ucap Revan.


"Mas Revan duduk manis aja ya," balas Nadhifa.


Revan hanya mengangguk membiarkan istrinya melipat bajunya sendiri saat melihat Nadhifa yang sudah selesai melipat baju, Revan membuka lemari, terlihat tumpukan bajunya yang tersusun rapi di bagian kanan, sedangkan di bagian kiri sudah ada beberapa gamis baru dan hijab yang berwarna senada.


Nadhifa menghampiri Revan dengan setumpuk pakaian di tangannya, membuat Revan menyingkir dari depan pintu lemari.


"Pakaianku di letakkan di sebelah mana mas?" tanya Nadhifa yang melihat beberapa tumpukan gamis di sana.


Revan tidak menjawab, dia membantu Nadhifa meletakkan pakaian yang dia bawa di atas kasur dan mengambil salah satu gamis beserta hijab yang sudah tersimpan rapi di salah satu bagian lemari dan memberikannya pada Nadhifa.


"Cobalah" titah Revan.


"Ini punya siapa mas?" tanya Nadhifa.


"Ini semua untukmu, aku meminta bantuan mama dan Ranti untuk memilihkannya untukmu" jelas Revan.


"Kalau begitu, aku akan coba di kamar mandi dulu ya" ucap Nadhifa.


Revan mengangguk mengiyakan ucapan Nadhifa, selama Nadhifa di kamar mandi Revan membantu meletakkan tumpukan pakaian Nadhifa dengan hati-hati.


Nadhifa memandangi gamis yang ada di tangannya, terlihat cantik dan anggun membuat Nadhifa bersemangat untuk mencobanya.

__ADS_1


Apalagi saat melihat ada kombinasi warna navy pada gamis itu membuat Nadhifa mengembangkan senyumnya.


Nadhifa menghampiri Revan yang duduk di atas ranjang, dan memperlihatkan gamis yang ia pakai membuat Revan tersenyum lebar, ternyata pilihan mama dan adiknya sangat cocok untuk istrinya.


"Cantik " satu kata yang terucap dari bibir Revan membuat pipi Nadhifa bersemu merah.


"Terima kasih mas, gamisnya bagus" ucap Nadhifa gugup.


"Apa ukurannya sudah pas?" tanya Revan.


"Iya mas, ukurannya pas " jawab Nadhifa yang masih menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya yang kini merona.


"Baiklah kalau begitu, sekarang kamu pakai saja gamis itu " titah Revan.


"Iya mas" Nadhifa memasuki kamar mandi untuk meletakkan pakaian kotornya di sana.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Nadhifa bermaksud menata pakaiannya ke dalam lemari tetapi pakaian sudah tidak terlihat lagi.


"Aku sudah meletakkan pakaianmu didalam" ucap Revan yang mendapati wajah Nadhifa yang kebingungan.


"Terima kasih mas" ucap Nadhifa.


"Iya sama-sama" jawab Revan.


Nadhifa terlihat ingin melakukan sesuatu tapi urung ia lakukan saat melihat suaminya masih duduk disampingnya.


Nadhifa terdiam, ingin mengatakan sesuatu tapi dirinya merasa sangat malu.


"Ada apa ? katakan saja, tidak perlu takut" tanya Revan dengan mengelus pipi Nadhifa membuat jantung Nadhifa berdetak kencang.


"Bisakah mas Revan keluar terlebih dahulu" ucap Nadhifa pelan karena takut menyinggung suaminya.


"Memangnya ada apa?" tanya Revan yang masih penasaran mengenai sikap istrinya.


"Aku.. aku mau meletakkan pakaianku dulu mas" ucap Nadhifa.


"Tidak apa Dhifa, aku akan menunggumu" jawab Revan.


Nadhifa semakin bingung, ingin mengatakan yang sebenarnya tapi dia malu, Nadhifa melirik koper yang terletak di atas ranjang, terlihat pakaian dalamnya yang masih terletak di sana.


Revan yang memperhatikan Nadhifa ikut melihat arah pandangan istrinya yang tertuju pada sebuah koper dan Revan dapat melihat isi dari koper tersebut, membuat Revan tersenyum kecil saat menyadari jika istrinya sedang malu.


"Baiklah,aku akan mencari udara segar di balkon kamar, kamu selesaikan pekerjaanmu, kalau sudah selesai kamu panggil saja" titah Revan dengan mengelus hijab istrinya itu.


"Iya mas" jawab Nadhifa.


sepeninggal Revan, Nadhifa bergegas menata pakaian dalam miliknya dan meletakkannya di tempat yang cukup tersembunyi.


Nadhifa meletakkan bedak bayi, deodorant dan parfum yang biasa dia pakai di atas meja rias, tak ada peralatan makeup karena Nadhifa memang tidak terlalu suka, hanya ada madu yang Nadhifa letakkan pada sebuah botol parfum.

__ADS_1


setelah meletakkan kopernya di tempat yang sama dengan koper Revan, Nadhifa menghampiri Revan yang berdiri di pinggir pagar balkon.


"Mas Revan, aku sudah selesai" ucap Nadhifa yang membuat Revan berbalik.


"Baiklah" jawab Revan dan menggenggam lembut tangan Nadhifa membuat wajah Nadhifa merona.


Nadhifa berjalan disamping Revan, tak lama saat melewati meja hias Revan berhenti membuat Nadhifa bertanya-tanya.


Revan melihat meja rias yang masih terlihat kosong, membuat Revan mengernyitkan dahinya.


"Ada apa mas?" tanya Nadhifa.


"Kamu tidak membawa peralatan makeup ?" tanya Revan yang merasa heran, namun pertanyaan itu membuat Nadhifa takut.


"Tidak mas" jawab Nadhifa dengan menundukkan kepala.


"Kenapa?" tanya Revan yang masih penasaran.


"Karena aku gak suka pakai makeup" jelas Nadhifa yang belum berani menatap wajah suaminya.


Revan mengangkat dagu Nadhifa dengan lembut, ia ingin melihat secara jelas wajah istrinya membuat Nadhifa semakin ketakutan dan memejamkan matanya.


Saat menyadari ekspresi Nadhifa yang terlihat ketakutan, Revan menghela nafas dan mengelus pelan pipi Nadhifa.


"Dhifa, bukalah matamu" ucap Revan lembut.


Nadhifa membuka matanya dan melihat wajah suaminya secara dekat, mata teduhnya seakan membuat Nadhifa tenang.


"Apa kau takut padaku?" tanya Revan.


"Aku hanya takut mas Revan kecewa padaku, karena sebagai seorang wanita aku tidak bisa menggunakan makeup" ucap Nadhifa polos.


"Aku tidak akan marah hanya karena hal itu Dhifa" ujar Revan tersenyum lembut.


"Jika kamu mau, kita bisa membelinya" tambah Revan.


"Naaf mas, tapi aku tidak suka pakai makeup" jawab Nadhifa.


Revan mengangguk mengerti ucapan istrinya, dalam hati Revan bersyukur mendapatkan istri Solehah dengan kecantikan wajah alaminya.


"Kalau mas Revan ingin, Dhifa akan belajar berdandan untuk mas Revan" ucap Nadhifa membuat Revan tersenyum simpul.


" Jadilah diri kamu sendiri, aku tidak menuntut apapun darimu, cukup jadilah istri yang baik untukku" jawab Revan bijak membuat Nadhifa tersenyum manis.


Nadhifa mengangguk dan membiarkan Revan menggandeng tangannya menuruni tangga.


"Meskipun tanpa makeup, wajahmu sangat cantik Dhifa" bisik Revan di telinga Nadhifa membuat Nadhifa tersenyum kecil dengan pipi yang merona.


Revan yang menyadari perubahan wajah istri cantiknya, ia tersenyum kecil dan mengeratkan genggaman pada tangan Nadhifa.

__ADS_1


__ADS_2