Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
37. PERTEMUAN TAK SENGAJA.


__ADS_3

Pagi yang indah di hari libur benar-benar dimanfaatkan oleh Nadhifa untuk berkunjung ke panti, ia mengajak serta sang suami yang saat ini sudah terlihat tampan dengan pakaian kasualnya.


Mereka tiba di panti dengan beberapa kantong plastik yang berisi makanan ringan, wanita berhijab itu sengaja membuat brownies pandan untuk dibagikan pada adik-adik panti.


Tak hanya itu, Nadhifa dan Revan juga memberikan pakaian untuk mereka, setiap sebulan sekali mereka akan membelikan baju baru untuk mereka, bukan harga mahal yang jadi patokan mereka namun kenyamanan saat menggunakannya.


Kedatangan mereka disambut baik oleh penghuni panti, adik-adik kecil yang melihat langsung mendekat dan mencium tangan mereka.


Senyum Nadhifa terbit saat melihat adik-adiknya antusias menyambut kedatangannya, setiap hari libur Nadhifa dan Revan akan menyempatkan diri untuk berkunjung kesana.


"Bunda, ada kak Dhifa" seru anak kecil usia tujuh tahun dengan rambut di kuncir kuda.


Bunda Lastri keluar untuk menemui wanita yang sudah ia anggap seperti putri kandungnya, terlihat wajah penuh kebahagiaan Nadhifa saat melihat wajah bundanya.


"Bunda, Dhifa kangen" ucap Nadhifa saat pelukan hangat di berikan bunda Lastri padanya.


"Kan tiap Minggu kamu kesini" sahut bunda Lastri saat pelukan terlepas.


"Ayo duduk dulu" ucap Bunda Lastri meminta kedua pasangan itu untuk duduk di teras rumah seperti biasanya.


"Bunda ambilkan minuman dulu ya" bunda Lastri sudah berdiri untuk meninggalkan kedua tamunya.


"Gak usah repot bunda, biar Dhifa aja" sahut Nadhifa dan mulai memasuki panti usai berpamitan pada suaminya.


Revan memulai percakapan dengan wanita paruh baya yang sangat disayangi istrinya, ia bertanya mengenai keadaan panti dan kebutuhan mereka, mereka terlibat perbincangan serius hingga tak menyadari jika Nadhifa sudah datang dengan membawa nampan di tangannya.


"Ayo diminum dulu mas" ucap Nadhifa saat menyodorkan segelas minuman pada suaminya.


"Terima kasih" sahut Revan dan mulai meneguk minuman tersebut.


"Bunda juga minum" ucap Nadhifa saat melihat bunda Lastri yang hanya diam.


bunda Lastri tersenyum dan meneguk segelas minuman manis yang disuguhkan Nadhifa.


Tak lama dering ponsel terdengar dari dalam tas Nadhifa, wanita itu merogoh tasnya untuk melihat siapa yang menghubunginya.


"Zahra" ucap Nadhifa ceria.


Usai pamit pada kedua orang yang ada dihadapannya, Nadhifa mengangkat video call yang terhubung padanya.


"Dhifa" seru Zahra saat layar kacanya menampilkan sosok sahabat yang dirindukannya.


"Assalamualaikum" ucap Nadhifa memperingati sahabatnya yang saat ini sedang nyengir kuda.

__ADS_1


"Waalaikum salam, maklum Dhifa, aku udah kangen banget sama kamu" sahut Zahra.


"Bilangnya aja kangen, kemarin-kemarin aku telpon gak di angkat" cibir Nadhifa membuat Zahra tertawa.


"Maaf ya sahabat cantikku, kemarin aku sibuk banget bahkan buat tidur terbaring aja susah" ucap Zahra terkekeh geli mendengar ucapan yang terlontar dari mulutnya.


"Kamu sekarang ada dimana?" ucap Nadhifa.


"Lihat aja Dhifa, kamu gak kesini berapa lama? ini kan kamar aku" sahut Zahra cemberut yang hanya di balas tawa kecil oleh Nadhifa.


"Maaf lupa" ucap Nadhifa.


Mereka melanjutkan perbincangan, hingga panggilan terputus saat Zahra berkata akan bersiap-siap Karna Nadhifa mengajaknya jalan-jalan, tanpa pikir dua kali gadis cantik itu langsung menyetujuinya, sudah lama ia tak menghabiskan waktu bersama sahabatnya itu.


...


Revan dan Nadhifa sudah bersiap pergi, usai berpamitan pada bunda Lastri dan anak-anak panti, mereka berjalan untuk menaiki mobil Revan, tak lama Zahra datang dengan tas yang menggantung di pundaknya.


"Dhifa" seru Zahra saat melihat Nadhifa sudah bersiap memasuki kendaraan roda empat itu.


Nadhifa menoleh dan menghampiri sahabatnya, tak lupa mereka berpelukan untuk menyalurkan rasa rindu.


"Ayo kita berangkat" ucap Revan dan mulai mendudukkan diri di balik kursi kemudi.


Perjalanan menuju mall kali ini didominasi percakapan antara dua orang wanita, mereka melampiaskan rasa rindu dengan bercerita seperti yang biasa mereka lakukan.


Sedangkan Revan hanya mendengarkan percakapan mereka, ia lebih fokus untuk mengemudikan kendaraan itu supaya cepat sampai di tempat tujuan.


Usai memarkirkan mobil, Revan berjalan di belakang dua wanita itu, mungkin lebih tepatnya ia menjaga kedua wanita itu dari orang jahat yang bisa ada di mana saja.


Suara dering ponsel Revan terdengar saat mereka akan memasuki sebuah toko pakaian.


"Aku angkat telpon dulu ya" ucap Revan dan bergegas untuk menjauh dari mereka.


Nadhifa dan Zahra mengangguk, mereka memilih untuk melihat-lihat gamis yang terpajang cantik di dalam toko.


"Aku ada kerjaan sebentar, kamu sama Zahra lanjutkan saja belanjanya, nanti aku kabari lagi" ucap Revan saat ia sudah berada di hadapannya kedua wanita itu.


"Iya mas, hati-hati" ucap Nadhifa yang dibalas Revan dengan mengusap puncak kepalanya.


Revan meninggalkan kedua wanita itu untuk menemui Rey yang saat ini sudah ada dalam perjalanan menuju tempat yang sudah ia sepakati.


Usai kepergian Revan, Zahra tak henti menggoda sahabatnya yang saat ini wajahnya sudah seperti tomat.

__ADS_1


"Duuuh, lihat kalian bikin aku pingin nikah" ucap Zahra.


"Makanya, kalau udah ada calon gak usah lama-lama, pacaran setelah menikah itu lebih indah" sahut Nadhifa.


Zahra mengangguk membenarkan ucapan sahabatnya.


"Apa kamu bahagia Dhifa?" ucap Zahra.


" Alhamdulillah, Allah mempertemukan aku dengan pria yang baik dan Sholeh" sahut Nadhifa dengan senyum manisnya.


Kedua wanita itu sudah keluar dari toko pakaian dengan paper bag yang berisi hijab yang mereka inginkan, sekarang keduanya sudah ada di dalam toko buku yang ada tak jauh dari tempat yang mereka kunjungi sebelumnya.


"Pujaan hati kamu gimana?" sahut Nadhifa sambil memilih buku-buku yang akan ia beli.


Zahra tak menjawab, ia ingin bercerita namun ia bingung ingin memulainya dari mana.


"Do'akan saja Dhifa, semoga Allah memberikan pria baik untukku" sahut Zahra dan ikut memilih beberapa buku yang ia inginkan.


...


Revan memasuki salah satu cafe yang ada di pusat perbelanjaan itu, ia memilih untuk duduk di sudut ruangan dan memesan minuman sembari menunggu Rey yang akan segera tiba.


Tak lama pemuda itu sudah sampai dengan berkas yang sudah ia bawa, ia melihat sudut ruangan seperti yang Revan katakan hingga ia menemukan pria tiga puluh tahun itu sedang menikmati segelas cappucino dingin.


" maaf pak, saya mengganggu hari libur anda" ucap Rey setelah duduk di kursi yang berhadapan dengan Revan.


"Tak apa Rey, saya mengerti" sahut Revan dan menerima berkas yang sekretarisnya ajukan.


Tak lupa pria tiga puluh tahun itu menyuruh Rey untuk memesan minuman dan makanan ringan untuk menemani obrolan mereka selanjutnya.


Mereka melanjutkan pembicaraan masalah bisnis, mengenai kerjasama yang akan mereka tangani, hingga akhirnya mereka menyelesaikan pekerjaan mereka.


Dering ponsel terdengar dari dalam saku Revan, pria itu mengambil benda itu dan mulai mengangkat panggilan yang masuk.


"Mas Revan ada dimana?" ucap Nadhifa setelah mengucapkan salam.


"Aku ada di lantai satu, di White Cafe " sahut Revan.


Revan memutuskan panggilan usai istrinya mengatakan akan menyusul kesana, istrinya tidak akan kesulitan untuk mencarinya karna Revan selalu mengajak Nadhifa kesana.


Tak menunggu waktu lama kedua wanita itu sudah memasuki cafe yang Revan maksud, Revan yang sudah melihat kedatangan istrinya melambaikan tangan supaya istrinya menghampirinya.


Nadhifa dan Zahra berjalan menghampiri Revan, di hadapan Revan ada seorang laki-laki yang sedang menyusun berkas yang sudah mereka bahas.

__ADS_1


Nadhifa langsung duduk di samping Revan, namun Zahra masih berdiri terpaku saat melihat laki-laki yang duduk di meja yang sama dengan suami sahabatnya.


__ADS_2