
"I...ini?" ucap Nadhifa terbata, ia tak menyangka jika suaminya akan memberikan baju itu untuknya, ia sudah mengerti keinginan suaminya itu.
"Pakailah ini sayang, aku ingin melihatmu menggunakannya" ucap Revan mengelus rambut istrinya yang terurai.
Wajah Nadhifa merona membayangkan dirinya menggunakan baju tipis itu, ia sangat malu namun ia akan menggunakannya untuk membahagiakan suaminya.
"Baiklah, mas Re mandi saja dulu" ucap Nadhifa menunduk malu.
Revan mengangguk dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket, meninggalkan istrinya yang saat ini sedang memandangi lingerie berwarna merah menyala yang ada di tangannya.
Pria itu sudah terlihat segar, dada bidangnya terekspos sempurna di tambah tetesan air yang mengalir dari rambutnya yang masih basah membuatnya semakin terlihat seksi.
Nadhifa menunduk menyembunyikan rona merah yang menjalari Pipinya, ia bergegas memasuki kamar mandi usai Revan keluar.
Revan mengeringkan rambutnya, ia menunggu istrinya yang cukup lama berada di kamar mandi.
"Sayang" ucap Revan sambil mengetuk pintu kamar mandi yang terkunci, ia khawatir ada yang terjadi pada istrinya.
Pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok Nadhifa yang terlihat **** dengan memakai lingerie berwarna merah menyala, bagian tubuhnya yang hanya ditutupi kain transparan terlihat begitu menggoda.
Revan berkali-kali menelan ludah untuk tak menyerang istrinya tiba-tiba, ia menarik tangan istrinya dan membawanya untuk duduk di pangkuannya membuat Nadhifa kaget.
"Kamu cantik sekali sayang" ucap Revan dengan tangan yang sudah melingkari pinggang istrinya, ia dapat mendengar detak jantung istrinya karena posisi mereka begitu dekat.
"Dan seksi" imbuhnya dengan berbisik mesra, tepat di telinga istrinya.
Wajah Nadhifa semakin merona mendengar ucapan suaminya, ia memberanikan diri menatap wajah tampan pria yang sudah halal Untuknya.
"Mas Re suka?" ucapnya.
"Sangat" sahut Revan dengan suara yang mulai serak.
Tak dapat menahan diri lagi, Revan menarik tengkuk istrinya untuk mencium bibir merah alami yang sejak tadi menggodanya, ia menciumnya berkali-kali, ia semakin bergairah saat wanita di pangkuannya membalas ciumannya, semakin lama ciuman itu semakin panas dan menuntut sesuatu yang lebih jauh.
"Aku ingin, malam ini kamu yang memimpin" ucap Revan dengan nada yang begitu menggoda, ia memberikan gigitan kecil di telinga istrinya.
Nadhifa mengangguk malu, ia akan melakukan semua yang diminta suaminya, hingga kegiatan mereka berlanjut menjadi semakin panas.
"Aku suka sayang, besok lagi ya" bisik Revan usai keduanya membersihkan diri.
Nadhifa tak menjawab ia memilih untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah pada dada bidang suaminya yang selalu hangat, ia mengingat apa yang tadi ia lakukan.
Revan terkekeh melihat respon istrinya, ia mengeratkan pelukannya dan menghadiahkan ciuman di puncak kepala istrinya berkali-kali.
"Tidurlah, kau pasti lelah" ucapnya.
__ADS_1
...
"Gimana hubungan kamu sama kak Raihan?" ucap Nadhifa saat panggilan sudah terhubung dengan sahabatnya.
"Kak Raihan bilang mau melamar ku, tapi ia butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya" sahut Zahra dengan senyuman merekah yang dapat Nadhifa lihat di layar ponselnya.
"Alhamdulillah, jadi gak sia-sia dong aku ninggalin kamu sama dia di cafe" ucap Nadhifa terkekeh.
"Jadi kamu sengaja biarin aku pulang sama dia?" ucap Zahra yang terlihat kaget, ternyata hal itu sudah menjadi rencana sahabatnya.
"Kamu juga senang kan?" ucap Nadhifa mencibir sahabatnya yang kaget, tak lama ia kembali tertawa kecil.
"Ya ampun Dhifa, kamu gak tau waktu itu jantung aku berdetak gak karuan, rasanya aku pingin pingsan" sahut Zahra dengan wajah yang terlihat kesal.
Nadhifa semakin tertawa melihat ekspresi sahabatnya yang terlihat begitu kesal.
"Jangan marah sahabatku yang cantik, lihatlah sekarang hubungan kalian jadi semakin dekat, kan?" ucap Nadhifa.
Zahra mengangguk setuju atas ucapan yang terlontar dari sahabatnya, tak dapat dipungkiri jika dirinya memang sudah terjerat dengan jaring cinta yang Raihan buat.
"Ya sudah, aku tunggu kabar baiknya ya" ucap Nadhifa sebelum mematikan panggilannya.
...
"Kenapa mas Re raba-raba kening aku?"
"Aku kira kamu sakit" sahut Revan tenang.
"Aku baik-baik saja mas" ucap Nadhifa.
"Tadi kamu senyum-senyum sendiri, aku kirain kamu sakit" sahut Revan.
Nadhifa membelalakkan matanya saat mengetahui maksud suaminya, ia meraih perut keras suaminya dan mencubitnya.
"Ih, mas Re jahat" ucap Nadhifa cemberut.
Revan tersenyum ia mendekati istrinya dan menggelitik perut istrinya, hingga membuat Nadhifa tertawa terbahak-bahak.
"Udah mas, capek" ucap Nadhifa yang sibuk mengatur nafasnya yang naik turun.
Revan melakukan hal yang sama, ia juga kelelahan karna istrinya juga membalas menggelitik perutnya.
Nadhifa menceritakan tentang perkembangan hubungan antara Zahra dan Raihan, Revan menganggukkan kepala saat mengerti penyebab istrinya tersenyum sendiri.
"Sayang" ucap Revan.
__ADS_1
"Ada apa?" sahut Nadhifa.
Revan menyodorkan sebuah tiket pesawat pada istrinya, membuat Nadhifa bingung.
"Aku mau ngajak kamu bulan madu, maaf sekarang baru sempat" ucap Revan menerbitkan senyuman di wajah cantik istrinya.
"Kerjaan mas Re gimana?" sahut Nadhifa, ia takut bulan madunya mengganggu pekerjaan suaminya.
"Aku sudah menyelesaikannya" jawab Revan.
"Baiklah, aku akan menyiapkan pakaian kita" Nadhifa meraih koper dan membuka lemari untuk memilih baju yang akan dibawa.
"Berapa hari mas?"
"Hanya tiga hari, gak apa-apa kan?" sahut Revan.
"Tak masalah mas" ucap Nadhifa dan mulai menata baju yang akan mereka gunakan untuk tiga hari.
Revan mendekati Nadhifa, ia mengambil beberapa lingerie yang ada.
"Mas Re, kok bawa ini ?" ucap Nadhifa malu.
"Kita kan mau bulan madu sayang" sahut Revan santai, pria itu memasukkan semua lingerie yang ada ke dalam koper.
...
Keesokan harinya, Revan dan Nadhifa sudah berada di bandara, hanya Bu Rahma yang mengantarkan mereka, karna si kembar masih kuliah, begitu pula Ranti yang menghadiri pesta pernikahan teman suaminya.
"Jangan lupa buatkan cucu buat mama ya" pesan Bu Rahma saat keduanya sudah bersiap check in.
"Insyaallah ma, mohon doanya" sahut Revan sedangkan istrinya hanya mengangguk malu.
Bu Rahma melambaikan tangan saat Revan dan Nadhifa perlahan meninggalkannya, tak lupa doa ia panjatkan untuk kebaikan pasangan itu.
Di dalam pesawat, Revan dan Nadhifa sudah duduk di kursi penumpang, Revan meminta Nadhifa untuk duduk di kursi samping jendela supaya wanita itu bisa melihat pemandangan yang bisa dilihat.
Nadhifa secara tak sadar mencengangkan lengan Revan saat pesawat yang mereka tumpangi mulai bergerak, ini kali pertama untuknya jadi ia merasa sedikit takut.
"Tak perlu takut sayang, ada aku" ucap Revan, pria itu mengelus kepala istrinya yang di balut hijab.
Nadhifa menoleh dan tersadar jika ia mencengkram lengan suaminya.
"Maaf mas aku gak sengaja" ucapnya.
"Tak apa" sahut Revan.
__ADS_1