
Mobil pengiring pengantin sudah berangkat, begitu pula mobil yang membawa Revan menuju panti.
Mobil pengantin yang dikendarai Revan sudah dihiasi dengan dengan pita dan bunga oleh para sahabatnya tadi malam.
Para Sahabat Revan sudah tiba sejak tadi pagi, membawa istri juga anaknya, mereka membawa kendaraan masing-masing.
Revan sudah terlihat tampan, tubuhnya juga terlihat gagah dalam balutan jas hitam, tak lupa juga peci yang sudah bertengger di kepalanya.
Bu Rahma dan saudara kandung Revan yang lain sudah duduk di mobil yang berbeda dengan Revan bersama pak Ratno yang siap mengantar kemanapun majikannya Pergi.
Keluarga besar Bu Rahma sudah memasuki mobil masing-masing, terdapat sepuluh mobil yang mengiringi mobil pengantin.
Di mobil Revan hanya ditemani oleh adik iparnya, Reno. Terlihat sekali jika Revan sangat gugup. Berkali-kali Revan mengatur nafasnya supaya rasa gugupnya hilang.
Reno yang melihat Revan berkeringat hanya tersenyum, karna dia juga pernah mengalami hal yang sama.
"Kenapa bang?Gugup ya?"tanya Reno.
"Iya, apakah dulu kamu juga seperti ini?" Tanya Revan sembari mengelap keringat yang menetes di dahinya dengan tisu.
"Iya bang" jawab Reno singkat.
Setelah itu tak ada percakapan diantara mereka, Reno yang masih fokus untuk menyetir, membiarkan Revan mengatasi gugupnya sendiri.
...
Di kamar panti, Nadhifa sudah terlihat cantik dan anggun dalam balutan kebaya berwarna putih, wajah ayunya sudah dipoles makeup yang membuatnya semakin menawan, di kepalanya sudah terdapat hijab putih dan hiasan kepala yang membuat Nadhifa semakin cantik.
Zahra yang menemani Nadhifa tak henti-hentinya memuji penampilan Nadhifa, yang terlihat begitu berbeda dari biasanya, karna Nadhifa tak pernah menggunakan makeup.
"Dhifa, kamu cantik banget, pasti nanti suami kamu langsung terpesona" puji Zahra.
Nadhifa yang mendengar ucapan sahabatnya itu hanya tersenyum, tak dapat dipungkiri jika dirinya memang terlihat berbeda dari biasanya.
"Terima kasih Zahra, kamu dari tadi selalu memujiku "ucap Nadhifa lembut.
"Tapi aku takut" tambah Nadhifa dengan ekspresi yang dibuat-buat
"Takut kenapa?"tanya Zahra penasaran.
"Aku takut nanti kepalaku terbang" jawab Nadhifa sambil terkekeh.
Zahra yang mendengar ucapan Nadhifa hanya cemberut, tak lama dia juga tertawa kecil.
Perias pengantin yang mendengar ucapan keduanya ikut tersenyum, dia merapikan peralatan makeup dan memasukkannya kedalam tas besar, tugasnya telah selesai dengan sempurna.
Kemudian perias itu berpamitan untuk keluar meninggalkan keduanya.
Nadhifa sungguh merasa sangat gugup melebihi acara pertunangan sebelumnya.
Berkali-kali Nadhifa membaca sholawat untuk mengatasi kegugupannya.
"Sebentar lagi, calon suamimu akan datang Dhifa" ucap Zahra membuat Nadhifa semakin gugup.
"Zahra, kali ini aku sungguh gugup" tutur Nadhifa jujur.
Zahra yang mendengar pengakuan sahabatnya itu, mengelus punggung tangan Nadhifa dengan lembut.
Pintu kamar terbuka menampilkan sosok yang begitu Nadhifa sayangi, bunda Lastri dan bunda Naya.
"Wah, sepertinya bidadari kalah cantik dari Nadhifa kita" goda bunda Lastri.
"Uya bunda, pasti nanti nak Revan gak bisa berpaling" tambah bunda Naya.
Wajah Nadhifa semakin merona mendengar ucapan kedua bundanya.
"Bunda, jangan godain Dhifa terus" Rajuk Nadhifa.
"Baiklah bidadari cantik, kamu tunggu disini saja ya" ucap bunda Lastri.
__ADS_1
"Nanti biar nak Revan yang mendatangimu kesini" tambah bunda Naya.
Nadhifa mengangguk mengiyakan, dan membiarkan Zahra menemaninya.
Bunda Lastri dan bunda Naya berpamitan untuk keluar karena sebentar lagi keluarga Bu Rahma akan segera sampai.
Nadhifa duduk terdiam di tempat tidurnya, di temani oleh Zahra, tak henti dia berdoa supaya acara berjalan dengan lancar.
Terdengar suara sambutan untuk mempelai pria membuat tangan Nadhifa semakin dingin, Zahra berdiri dan mengintip melalui jendela.
"Sepertinya calon suamimu sudah tiba" ucap Zahra.
Nadhifa hanya diam sembari meremas kedua tangan,bibirnya tak henti membaca sholawat.
...
Revan sudah duduk di depan meja akad, tangan Revan tak kalah dingin, keringat dingin menetes membasahi wajah tampannya, pria yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya itu sesekali mengelap keringat, tak lupa berdoa untuk kelancaran akad nikahnya,
Tamu laki-laki duduk dibelakang Revan, sedang tamu perempuan seperti biasa menempati rumah panti.
Tak menunggu waktu lama penghulu datang beserta petugas KUA ditemani ayah Rahman, membuat Revan semakin gugup.
Setelah dirasa Revan cukup tenang, ayah Rahman meminta penghulu untuk melaksanakan akad nikah, karna wali Nadhifa yang tidak diketahui, jadi ayah Rahman yang menjadi wali hakim untuk Nadhifa.
Suasana hening ketika Penghulu menjabat tangan Revan.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Nadhifa Aulia dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Nadhifa Aulia dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" ucap Revan lantang tanpa keraguan apapun.
"Bagaimana para saksi?"tanya penghulu.
"Sah" jawab para saksi.
Semua merasa sangat lega, apalagi Revan, berkali-kali ia mengucapkan syukur dalam hati.
Tak terasa Nadhifa meneteskan air mata,
"Jangan nangis Dhifa, nanti make-upnya luntur Loh" ucap Zahra.
Nadhifa tersenyum mendengar ucapan Zahra, dan mengamini doa yang dibacakan oleh penghulu yang terdengar dari pengeras suara.
Setelah selesai Revan dipersilahkan untuk menemui calon istrinya, tak henti-hentinya para sahabat Revan menggoda Revan membuat wajah Revan memerah.
Mereka mengantar Revan untuk menemui Nadhifa di dalam kamar.
Terdengar ketokan di pintu, membuat Zahra berdiri dan membuka pintu dan mempersilahkan Revan untuk menemui Nadhifa.
Setelah menutup pintu, Revan berjalan perlahan menghampiri Nadhifa yang sedang duduk di atas tempat tidur, terlihat Nadhifa yang sedang menunduk.
"Assalamualaikum" ucap Revan.
"Waalaikum salam" jawab Nadhifa pelan tanpa memandang wajah tampan suaminya.
Revan duduk disebelahnya Nadhifa membuat Nadhifa semakin gugup.
"Nadhifa" ucap Revan pelan.
"Iya" jawab Nadhifa meremas kedua tangannya.
Revan tersenyum melihat Nadhifa yang terlihat gugup, sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama tapi dia mencoba untuk melawannya.
Revan menggenggam tangan Nadhifa yang terasa dingin dengan kedua tangannya membuat jantung Nadhifa semakin berdetak tak karuan.
Gadis yang baru saja resmi menjadi seorang istri merasa seperti tersengat aliran listrik saat Revan menyentuh tangannya karna inilah saat pertama kali ada seorang laki-laki yang menyentuhnya.
"Kenapa kamu menunduk? Apakah wajahku kurang tampan?" Tanya Revan.
Nadhifa mendongakkan kepala, dan memberanikan diri menatap wajah tampan suaminya.
__ADS_1
"Maaf, aku sungguh gugup" ucap Nadhifa pelan.
Revan tersenyum, akhirnya dia bisa melihat istrinya dari jarak yang begitu dekat, wajah yang akhir-akhir ini selalu dirindukannya, apalagi hari ini Nadhifa terlihat begitu cantik.
"Iya tak apa" ujar Revan.
Nadhifa memberanikan diri mencium punggung tangan Revan, yang dibalas Revan dengan mengelus puncak kepala Nadhifa dengan lembut.
Revan mengangkat dagu Nadhifa, membuat wajah Nadhifa terlihat sangat jelas dihadapannya, Revan menatap wajah cantik Nadhifa dengan lekat, Revan mendekati Nadhifa dan mengecup kening Nadhifa cukup lama membuat Nadhifa semakin malu.
Nadhifa memejamkan mata, merasakan sentuhan hangat Revan di keningnya.
"Ayo kita keluar, keluarga kita sudah menunggu" ajak Revan sambil menggenggam tangan kanan Nadhifa dengan lembut.
Nadhifa tersipu melihat perlakuan manis Revan, Nadhifa hanya mengangguk dan membiarkan suaminya menggenggam erat tangannya.
Mereka berjalan menghampiri keluarga besar Revan, tak henti-hentinya para tamu menggoda pengantin baru itu.
Revan tersenyum mendengar ucapan mereka, sedangkan wajah Nadhifa semakin merona.
Saat sudah sampai Revan menyalami Bu Rahma, Nadhifa melakukan hal yang sama.
Nadhifa juga menyalami adik-adik suaminya itu, tak lupa menyapa Airin, keponakan cantik Revan.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat akad untuk menandatangani surat nikah.
Revan memasangkan cincin kawin di jari manis istrinya, begitu pula Nadhifa memasangkan cincin kawin di jari Revan dengan gugup.
Fotografer mendekati keduanya meminta mereka untuk menunjukkan surat nikah dan memamerkan cincin kawin yang sudah melingkari di jari manis keduanya. Saat dirasa sudah pas, fotografer mengambil beberapa gambar.
Ranti mengambil buku nikah keduanya, dan menyimpannya membiarkan keduanya untuk melanjutkan acara selanjutnya.
Setelah itu mereka berjalan menuju depan rumah panti yang sudah dihias, membiarkan para tamu menyalami mereka berdua dan mengabadikan momen tersebut dengan foto.
Revan tak melepaskan tangan Nadhifa yang digenggamnya membuat Nadhifa semakin malu.
Bu Rahma mendekati Revan dan menyerahkan mahar pernikahan yang tersimpan dalam sebuah wadah transparan yang sudah dihias dengan sangat indah.
Revan menerima dan menyerahkan mahar tersebut pada istrinya, Momen tersebut tak lupa diabadikan oleh fotografer.
Semua tamu menghampiri mereka dan mengucapkan selamat, dan diakhiri dengan foto bersama.
Setelah tamu sudah selesai, akhirnya sahabat Revan menghampiri Revan dengan pasangan dan anak masing-masing.
"Akhirnya sahabat kita yang tampan ini sudah nikah" celetuk Danu.
"Selamat ya bro, jangan lupa bikin Revan junior" tambah Rio.
Semuanya terkekeh mendengar ucapan Rio.
"Udah jangan digodain terus pengantin barunya, lihatlah pengantin wanitanya semakin malu" ucap istri Dion.
Tak lupa ucapan selamat dan doa dipanjatkan mereka untuk pengantin baru itu, mereka juga mengabadikan momen dengan foto bersama.
Keluarga inti Bu Rahma juga tak kalah semangat untuk foto bersama kedua mempelai, apalagi si cantik Airin yang begitu semangat.
Begitu pula bunda Lastri,bunda Naya,ayah Rahman dan anak-anak panti yang menghampiri mereka dengan ucapan selamat.
Saat semua orang selesai, fotografer mengarahkan pengantin baru itu untuk foto berdua.
Revan tersenyum kecil melihat Nadhifa yang begitu canggung untuk berdekatan dengannya, Revan mendekati Nadhifa dan membisikkan kata-kata di telinga Nadhifa.
"Rileks saja Dhifa, berikan senyuman terbaikmu" bisik Revan.
Nadhifa tersenyum manis mendengar ucapan suaminya, membuat wajahnya terlihat bertambah cantik.
Mereka berdua mengikuti arahan fotografer mulai dari Nadhifa yang mencium punggung tangan Revan, Revan yang mencium kening Nadhifa dengan lembut mengundang seluruh tamu semakin semangat menggoda pengantin baru.
Mereka berdua diarahkan dengan berbagai pose yang membuat jantung keduanya berdetak kencang.
__ADS_1
Apalagi saat Revan diarahkan untuk menatap Nadhifa dari dekat, dengan kedua tangan yang melingkari pinggang ramping Nadhifa, tangan Nadhifa juga diarahkan untuk diletakkan didepan dada bidang Revan membuat keduanya gugup tapi keduanya tersenyum manis membuat hasil gambarnya terlihat sangat bagus.