Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
66. JADI ? DUA...


__ADS_3

Revan memandangi pergelangan tangannya, arlojinya menunjukkan pukul delapan malam saat ia berjalan keluar dari kantornya.


Teringat akan pesan istrinya, Revan melajukan mobilnya menuju kedai yang menjual martabak telur, tidak terlalu jauh hanya butuh waktu lima menit Revan sudah ada di tempat tujuannya.


Dua porsi martabak telur sudah Revan pesan, ia juga ingin mencicipi makanan itu, sepertinya sangat lezat.


Revan kembali melajukan kendaraannya untuk segera pulang, tak butuh waktu lama ia sudah sampai di halaman rumahnya.


Terlihat Nadhifa yang sedang menunggunya, jahe hangat untuk Revan sudah wanita itu siapkan.


Revan berjalan pelan menghampiri wanita yang saat ini tersenyum memandangnya.


" Mas Re sudah pulang?" Sapa wanita itu mengecup punggung tangan Revan.


" Iya, ini pesanan mu" sahut Revan.


Nadhifa menerima plastik yang Revan sodorkan dengan senang hati, ia segera membukanya, air liurnya seakan menetes membayangkan betapa lezatnya martabak telur yang ia inginkan.


" Terimakasih mas" ucap Nadhifa senang.


Revan hanya terdiam memandangi wanita yang saat ini sedang memakan martabak telur dengan lahapnya, bahkan wanita itu tidak menawarinya sama sekali.


" Enak sayang?" Tanya Revan.


Nadhifa hanya menganggukkan kepalanya, ia masih fokus untuk melahap makanan yang sejak kemarin ia inginkan.


" Makanlah yang banyak" ucap Revan mengelus kepala Nadhifa yang terbalut hijab.


" Mas Re mau?" Tanya wanita itu membuat Revan terkekeh karna raut wajah Nadhifa yang terlihat begitu lucu.


" Tidak, makannya pelan-pelan saja" sahut Revan membersihkan sisa makanan yang ada di bibir Nadhifa.


...


Keesokan harinya saat Nadhifa naik ke atas kamarnya, Revan mengajak Bu Rahma berbicara.


" Ada apa nak?" Tanya Bu Rahma.


" Menurut mama, Nadhifa aneh apa nggak?"


" aneh gimana?" Sahut Bu Rahma.


" Aneh ma, kemarin malam Dhifa makan dua porsi martabak telur sendirian, biasanya satu porsi saja dia tidak habis" jelas Revan.


" Mungkin dia lapar"


" Kalau cuma sekali Revan gak akan heran ma, ini sudah berkali-kali"


" Benarkah? Menurut mama gak ada yang aneh, mama lihat Dhifa kalau siang suka makan buah jambu, kemarin saja bik Minah beli satu kilo sekarang hanya sisa beberapa buah saja" ujar Bu Rahma.


" Apa? Buah jambu?" Tanya Revan tak percaya.


" Iya, memangnya kenapa sih?" Sahut bu Rahma.


" Ma, Dhifa itu tidak suka buah jambu" ucap Revan membuat Bu Rahma keheranan.


" tapi kemarin mama lihat Dhifa lahap banget makan jambu, apa mungkin..." Bu Rahma menggantung ucapannya membuat Revan bingung.


" Mungkin apa ma?"


" Sebaiknya kamu ajak Nadhifa periksa ke dokter" ucap Bu Rahma membuat Revan khawatir.


" Ma, jangan buat Revan khawatir"


" Menurut mama, mungkin saja Nadhifa sedang hamil soalnya mama dulu waktu hamil kamu suka banget makan keju, padahal mama kan gak suka" jelas Bu Rahma membuat Revan terdiam.


" Mama tidak menuntut kalian supaya cepat punya anak, tapi apa salahnya jika kamu ajak Dhifa cek ke dokter" lanjut Bu Rahma menepuk pundak Revan.


" Baiklah ma, semoga saja semua sesuai harapan kita" sahut Revan.


Revan melihat Nadhifa yang sudah turun membawa jas dan tas kerjanya, ia segera menghampiri istrinya.


" Ayo mas, aku antar ke luar ya"


Revan mengangguk dan berpamitan pada Bu Rahma, setelah itu Nadhifa memakaikan jas Revan dan merapikan dasi Revan yang terlihat kurang rapi.


" Nanti antar makan siang ke kantor ya" ucap Revan setelah mengecup kening Nadhifa.


" Iya mas, hati-hati" sahut Nadhifa usai mencium punggung tangan Revan.


Usai memastikan Revan sudah berangkat, Nadhifa duduk di samping Bu Rahma yang sedang menonton TV, tak lupa wanita itu mengambil buah jambu dan mengupasnya.


" Kata Revan, kamu gak suka jambu?" Tanya Bu Rahma membuat Nadhifa menoleh.

__ADS_1


" Iya ma, tapi gak tau kenapa, Nadhifa sekarang suka banget buah jambu"


Bu Rahma mengangguk, sepertinya dugaannya benar jika menantunya saat ini tengah berbadan dua, melihat dari cara makan Nadhifa yang sangat lahap Bu Rahma jadi semakin yakin.


Tak lama bik Minah mendekati mereka berdua dan berpamitan karna akan pergi ke pasar.


" Bik, beliin jambu lagi ya" pesan Nadhifa saat bik Minah akan keluar rumah.


" Iya non" sahut bik Minah.


...


Seperti yang Revan inginkan, saat ini Nadhifa sudah berada di kantornya dengan membawa rantang berisikan menu makan siang yang selalu menggugah selera.


" Ayo mas, kita makan" ajak Nadhifa.


" Banyak banget" sahut Revan yang baru menyadari jika makanan yang Nadhifa bawa ternyata cukup banyak.


" Iya mas, Dhifa lapar banget, padahal sebelum ke sini Dhifa sudah makan buah" sahut Nadhifa yang masih fokus mengeluarkan makanan yang ia bawa.


Usai mencuci tangannya, Revan duduk di samping Nadhifa, ia segera melahap ayam goreng dan tumis kangkung yang Nadhifa bawa, namun istrinya itu hanya menatap makanan di depannya.


" Kenapa?"


Nadhifa hanya menggeleng saat menjawab pertanyaan suaminya.


" Katakan saja, ada apa?"


" Aku mau disuapin" sahut Nadhifa lirih.


Revan tersenyum mendengar ucapan istrinya, ia segera mendekati Nadhifa dan menyodorkan sesuap nasi dengan tangannya.


" Baiklah, ayo buka mulutmu"


Wajah Nadhifa berbinar mendengar ucapan suaminya, dengan segera ia membuka mulutnya hingga sesuap nasi sudah mendarat di mulutnya.


" Enak?" Tanya Revan.


" Iya mas, suapi aku lagi ya" pinta Nadhifa membuat Revan tersenyum.


" Iya, tapi kamu harus suapin aku juga"


Nadhifa mengangguk dan menyuapkan makanan untuk Revan, keduanya makan siang dengan romantis meskipun dengan menu sederhana tapi tak mengurangi rasa cinta yang tumbuh di hati keduanya.


" Sudah mas"


" Kamu jangan pulang dulu, Aku mau mengajakmu ke suatu tempat, tunggu disini aku mau sholat dulu" ucap Revan.


" Iya mas, aku suruh pak Ratno pulang aja ya" sahut Nadhifa.


...


Nadhifa hanya berjalan di samping Revan dengan wajah kebingungan, pasalnya saat ini Revan membawanya ke rumah sakit.


" Mungkin teman mas Re ada yang sakit" ucap Nadhifa dalam hati.


Sebenarnya Nadhifa sudah bertanya pada Revan namun suaminya itu hanya tersenyum.


Dengan langkah pasti keduanya sampai di depan ruangan dokter kandungan, Nadhifa menjadi sedih, mungkin suaminya ingin melakukan program kehamilan seperti sebelumnya.


" Jangan sedih" bisik Revan seraya mengeratkan genggamannya.


Nadhifa hanya tersenyum kecil, ia pasrah saja saat Revan mengajaknya masuk ke dalam hingga mereka berdiri di hadapan dokter wanita itu.


" Selamat siang dok"


" Selamat siang tuan dan nyonya, silahkan duduk"


" Baiklah tuan, apa ada keluhan?" Tanya dokter itu.


" Saya ingin memeriksakan istri saya"


" Tapi mas, aku tidak hamil" bantah Nadhifa, karna memang itu yang dia rasa.


" Sebenarnya saya curiga jika istri saya sedang hamil dok, akhir-akhir ini dia sedikit aneh" sahut Revan membuat Nadhifa melotot.


Revan terkekeh saat melihat raut wajah Nadhifa, ia mengelus kepala Nadhifa dengan sayang.


" Jangan marah dulu, oke"


" Baiklah, nyonya apakah anda tidak merasa melakukan hal yang aneh?" Tanya dokter itu pada Nadhifa.


" Sebenarnya iya dok, akhir-akhir ini saya sangat suka makan dan saya jadi lebih sedikit manja" Sahut Nadhifa.

__ADS_1


" Kapan terakhir anda menstruasi?" Tanya dokter itu.


Nadhifa terdiam dan mengingat-ingat kapan terakhir ia menstruasi.


" Sudah cukup lama dok, saya lupa, mungkin hampir dua bulan yang lalu" sahut Nadhifa.


Dokter wanita itu hanya menganggukkan kepalanya.


" Sepertinya kecurigaan suami anda benar"


" Tapi saya sudah biasa telat datang bulan dok" ucap Nadhifa.


" Untuk lebih pastinya, ayo ikut saya"


Dokter itu meminta Nadhifa untuk berbaring dan menyingkap gamis yang Nadhifa pakai setelah tubuh bagian bawah Nadhifa tertutupi dengan selimut warna putih bergaris.


Dokter itu mengoleskan sebuah gel di perut Nadhifa dan mengarahkan sebuah alat di perut Nadhifa.


Revan duduk menemani Nadhifa, pria itu memperhatikan apa yang dokter itu lakukan.


" Sepertinya ucapan suami anda benar" ucap dokter itu tersenyum membuat Revan ikut tersenyum, walaupun pria itu tidak tahu arti dari gambar di monitor yang ada dihadapannya.


Mata Nadhifa membulat saat mendengar ucapan dokter itu.


" Maksud dokter saya benar-benar hamil?"ucap Nadhifa dengan suara bergetar.


" Iya nyonya, lihatlah bahkan disini ada dua kantung janin" ucap dokter itu.


" Dua? Jadi..." Sahut Revan dengan suara yang tak kalah bergetar.


" Iya tuan, kalian akan memiliki dua orang bayi sekaligus"


" Alhamdulillah mas" ucap Nadhifa yang tak sadar sudah meneteskan air matanya, wanita itu melihat wajah Revan yang ternyata juga basah.


" Alhamdulillah sayang, akhirnya Allah mengabulkan doa kita, disini sudah ada buah hati kita" sahut Revan yang mengelus perut Nadhifa.


" Iya mas" Nadhifa mengelus rambut Revan.


Revan mencium kening Nadhifa dengan lembut, hal itu selalu membuat Nadhifa merasa tenang.


" Terimakasih" bisik Revan.


" Berapa usia kehamilan istri saya dok?"


" Menurut pemeriksaan saya, usia kandungan istri anda sudah memasuki Minggu ketujuh"


" Alhamdulillah, jadi dia sudah lama ada disini" sahut Revan yang mengelus perut Nadhifa, membuat Nadhifa tersenyum.


" Tapi kenapa saya tidak mual seperti ibu hamil yang lain dok?"


" Tidak semua ibu hamil mual, ada juga yang seperti anda, jadi jangan terlalu khawatir, ingat anda tidak boleh terlalu lelah, perbanyak istirahat dan makanlah makanan yang bergizi"


Dokter pun memberikan pengetahuan seputar kehamilan, tak lupa ia juga menyarankan supaya Nadhifa memeriksakan kehamilannya tiap bulan.


...


Di dalam mobil Revan tak henti memeluk dan mengecup kening Nadhifa membuat Nadhifa terkekeh.


" Mas, kalau kayak ini terus, kapan kita pulangnya?"


" Sebentar lagi ya, aku masih ingin seperti ini" sahut Revan.


Nadhifa menurut saja karna ia juga senang diperlakukan seperti itu.


Revan mengelus perut Nadhifa dengan lembut dan mengarahkan kepalanya untuk berbicara dengan buah hatinya.


" Jangan nakal ya, kasihan mama" ucapnya membuat Nadhifa tertawa kecil.


" Terimakasih mas, sudah setia menemaniku" ucap Nadhifa tulus.


" Iya sayang, sama-sama" sahut Revan.


Revan sudah kembali mengemudikan mobilnya menuju rumah, ia akan mengantarkan istrinya pulang lalu kembali ke kantor karna masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Sepanjang perjalanan Revan tak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Nadhifa, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk mengemudikan mobilnya, sesekali ia mencium punggung tangan Nadhifa.


" Aku antar kamu pulang ya, aku mau kasih tau kabar bahagia ini sama mama" ucap Revan membuat Nadhifa mengangguk setuju.


" Kamu mau makan sesuatu?" Tanya Revan saat melewati kedai makanan yang berjejer di pinggir jalan.


" Tidak mas, aku masih kenyang" sahut Nadhifa tersenyum.


" Kalau kamu mau minta sesuatu jangan sungkan, bilang saja ya" ucap Revan mengelus puncak kepala Nadhifa.

__ADS_1


__ADS_2