
Sore hari Revan sudah tiba di panti, ia segera melangkahkan kaki ke dalam usai menyapa ayah Rahman yang sedang duduk di Mushola.
" Mas Re, tumben udah pulang?" Sapa Nadhifa saat melihat suaminya.
" Iya, pekerjaan tidak terlalu banyak" sahut Revan.
Seperti yang sudah mereka sepakati sebelumnya, mereka akan pulang ke rumah Bu Rahma setelah Revan pulang kerja.
" Ayo kita pulang, barang-barang kita sudah Dhifa beresin" ucap Nadhifa.
" Baiklah, ayo" sahut Revan.
Pria itu membantu Nadhifa untuk membawa baju kotor mereka yang sudah Nadhifa letakkan dalam sebuah tas yang cukup besar.
" Bunda, ayah, Dhifa dan mas Revan pamit pulang dulu ya" ucap Nadhifa ketika berada di depan bunda Naya dan ayah Rahman.
" Iya, hati-hati di jalan ya, kalau ada waktu kalian menginaplah disini lagi" sahut ayah Rahman mengelus puncak kepala Nadhifa.
" Iya ayah" ucap Revan.
Mereka berdua melanjutkan langkah kaki sampai di depan rumah bunda Lastri.
" Kalian mau pulang sekarang?" Tanya bunda Lastri saat melihat Revan membawa sebuah tas.
" Iya bunda, Dhifa pamit pulang dulu ya" sahut Nadhifa memeluk bunda Lastri.
" Iya, hati-hati" pesan bunda Lastri.
" Bunda Sari, Dhifa pamit pulang ya" ucap Nadhifa pada wanita yang berdiri disamping bunda Lastri.
Usai bersalaman mereka berdua menghampiri anak panti untuk berpamitan tak lupa Nadhifa berpesan supaya mereka menjadi anak baik.
" Kak Dhifa pulang dulu ya" ucap Nadhifa.
" Iya kak" Sahut mereka serentak.
Saat berada di dalam mobil Nadhifa tersenyum membuat Revan keheranan.
" Dhifa, kamu kenapa?"ucapnya.
" Tadi Zahra telpon aku mas, dia marah-marah"
" Kenapa kamu malah tersenyum?"
" Zahra marah soalnya dia buka kado dari kita waktu ada kak Raihan, jadi ia malu banget mas" sahut Nadhifa yang sudah tak bisa menyembunyikan tawanya.
Revan geleng-geleng kepala mendengar ucapan Nadhifa.
" Bukankah kamu juga kayak gitu?" ucap Revan menggoda.
" Iya, makanya aku senang karna bukan aku saja yang seperti itu" sahut Nadhifa mendengus, ia kesal sekaligus malu karna Revan mengingatkan hal itu.
Revan tak menjawab, ia hanya mengelus puncak kepala istrinya karna tahu wanita itu sedang kesal namun semburat merah yang menghiasi pipi wanita itu membuat Revan gemas.
" Maaf, aku gak akan bahas itu lagi, oke" ucapnya ia menarik pelan hidung Nadhifa membuat Nadhifa memekik terkejut.
" Mas Re sakit tahu" ucapnya manja.
" Tenang saja, nanti akan aku sembuhkan" sahut Revan dengan senyuman penuh arti membuat Nadhifa tersenyum.
" Dasar, untung cinta" ucap Nadhifa.
...
Hari berganti hari tanpa terasa pernikahan Revan dan Nadhifa sudah berlangsung selama satu tahun.
malam ini terlihat begitu indah, saat bulan purnama menerangi bumi, bahkan bintang-bintang bertaburan menambah keindahan langit malam.
Terlihat dua orang insan manusia sedang berada di sebuah taman kecil, seorang pria menuntun wanitanya untuk mendekati sebuah meja yang sudah disiapkan sebelumnya.
Mata wanita itu tertutup kain, ia hanya pasrah saat pria dihadapannya memintanya untuk duduk.
" Sekarang kamu boleh buka mata kamu" bisik pria itu lembut.
Dengan tak sabar wanita itu membuka penutup matanya hingga ia dapat melihat dengan jelas beberapa lampu hias yang menggantung indah di sekitar bunga yang ada di sana.
Mengalihkan pandangannya, ia melihat sekelilingnya yang di penuhi dengan bunga mawar berwarna merah dan putih yang membentuk gambar hati.
Meja dihadapannya tak kalah indah, terdapat buket bunga mawar berwarna putih yang menarik perhatiannya.
" Mas ini..." Ucap wanita itu terbata, ia tak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini.
__ADS_1
Pantas saja suaminya ini memintanya untuk memakai pakaian baru dan berdandan secantik mungkin, ternyata pria itu sudah berencana memberikan surprise untuknya walaupun hanya di taman kecil di belakang rumah.
" Happy anniversary sayang" ucap pria itu seketika membuat wanita cantik disampingnya menangis haru.
Tak butuh waktu lama ia segera menghambur dalam pelukan pria yang sudah setahun mendampingi hidupnya dengan segala kekurangan yang dimilikinya.
" Kenapa menangis?" Ucap pria itu lembut seraya mengusap kepala wanita itu.
" Aku terharu mas" sahut wanita itu jujur bagaimana tidak, sebulan sebelumnya pria dihadapannya itu sudah memberikan kejutan ulang tahun yang tak ia ingat sama sekali.
Revan merayakan ulang tahunnya dengan meriah di panti bersama orang-orang panti dan keluarga Revan yang lain.
Sekarang pria itu kembali memberikan kejutan yang tidak ia sangka karna beberapa hari terakhir suaminya bahkan seakan mengabaikannya.
" Maafin aku ya buat kamu sedih" ucap pria itu tulus.
" Mas Re jahat, aku sedih banget tau" sahut wanita itu memukul dada bidang suaminya.
Pria itu tersenyum selama tiga hari terakhir ia sengaja pulang larut malam, bahkan berangkat kerja lebih awal, sebenarnya ia tidak ingin seperti itu namun ia harus melakukannya.
" Maaf ya" ucap pria itu yang tak lain adalah Revan, ia menghadiahkan ciuman bertubi-tubi di kening istrinya.
" Aku gak bisa marah sama kamu mas" sahut wanita itu disela isak tangisnya.
Revan melepaskan pelukannya dan menghapus sisa air mata yang ada di pipi istrinya, Nadhifa.
" Sekarang kamu harus senyum yang manis, oke" ucap Revan.
Nadhifa mengangguk dan memberikan senyuman terbaiknya pada pria yang ada dihadapannya, ia bersyukur dipertemukan dengan Revan.
Revan tak pernah menyakitinya, kalaupun dia ada salah Revan hanya akan menghindarinya sementara hingga rasa kesalnya hilang dan akan kembali bersikap ramah seperti sebelumnya.
" Tunggu disini dulu ya" ucap Revan.
" Mau kemana?" Sahut Nadhifa.
" Sebentar" Revan berdiri dan berjalan mengambil sesuatu yang sudah ia siapkan.
Tak lama Revan datang dengan kue di tangannya, ia berjalan Pelan menghampiri istrinya yang saat ini menatap wajahnya dengan tatapan penuh cinta.
" Sekarang kita potong kuenya dulu ya" ucap Revan setelah meletakkan kue itu di atas meja.
" Iya, ini kan ulang tahun pernikahan kita jadi kita berdua yang potong kuenya" ucap Revan dan meletakkan tangannya di atas tangan istrinya untuk memotong kue itu.
Potongan kue Revan berikan pada istrinya dan Nadhifa melakukan hal yang sama.
" Setiap tahun, aku akan merayakan anniversary kita" tutur Revan.
" Gak perlu repot mas" sahut Nadhifa.
" Aku gak repot sayang, aku bahkan sangat bahagia bisa merayakannya hanya berdua denganmu, terimakasih sudah hadir di hidupku" ucap Revan mengecup punggung tangan istrinya yang sejak tadi ia genggam.
" Iya mas, terimakasih sudah menerimaku apa adanya" sahut Nadhifa tak kalah lembut, wanita itu juga mencium punggung tangan Revan dengan hormat.
" Aku janji akan merayakan anniversary kita setiap tahun, walaupun jika suatu saat kehidupan kita berubah aku akan tetap melakukannya" ucap Revan tulus.
" Aku tidak butuh perayaan mewah mas, bisa hidup denganmu aku sudah bahagia" sahut Nadhifa menatap wajah tampan suaminya itu.
" Ternyata istriku sekarang bisa gombal juga" ucap Revan terkekeh.
" Mas Re ngerusak momen romantis aja" ucap Nadhifa memalingkan wajahnya.
Revan tertawa kecil melihat respon istrinya.
" Kalau kamu menatapku seperti itu, aku takut tidak bisa menahan diri sayang" ucapnya serius karna memang itu yang ia rasakan.
" Baiklah suamiku, sekarang ayo kita makan, aku udah lapar" sahut Nadhifa membuat Revan tersenyum.
Keduanya melahap hidangan yang Revan siapkan hingga keduanya merasa cukup.
" Ayo kita kedalam, udara semakin dingin" ucap Revan.
" Yang beresin ini siapa mas?" Sahut Nadhifa.
" Tenang saja sayang"
Revan dan Nadhifa sudah tiba di dalam kamar, di atas ranjang sudah ada kado yang Revan persembahan untuk istrinya.
" Ini dari kamu mas?"
" Iya, kamu buka aja"
__ADS_1
Nadhifa mengambil sebuah kotak berwarna biru dan membukanya hingga ia melihat sebuah kotak kecil Merah, dengan perlahan ia mengambil kotak itu dan membuka isinya.
" Ini indah sekali mas" ucap Nadhifa setelah meihat isi dari kotak itu, sebuah kalung yang terlihat sangat indah, walaupun desainnya tidak mewah namun kalung itu nampak sangat elegan.
" Kamu suka?"
" Iya mas, terimakasih" ucap Nadhifa tulus.
Tanpa berkata Revan mengambil kalung itu dan memasangkannya di leher Nadhifa.
" Sekarang mana hadiahku?" Ucap Revan membuat Nadhifa serba salah.
" Maaf mas, Dhifa lupa" cicit Nadhifa.
" Tak apa, aku ada hadiah satu lagi untukmu" sahut Revan, pria itu mengambil kota biru tadi dan mengeluarkan isinya yang lain dan memberikannya pada Nadhifa.
Nadhifa terbelalak melihat sesuatu yang Revan sodorkan, ternyata ia begitu penasaran isi kotak kecil itu sampai lupa jika ada benda lain di kotak biru tadi.
" Ini" ucap Nadhifa ragu-ragu.
" Pakailah untuk malam ini sayang" ucap Revan berbisik di telinga Nadhifa membuat wanita itu merona.
" Aku akan sangat senang" imbuhnya.
Dengan malu-malu Nadhifa mengangguk dan dapat ia lihat wajah bahagia suaminya.
...
Sudah hampir seminggu Revan selalu pulang malam, perusahaannya saat ini sedang menghadapi masalah entah apa yang terjadi banyak perusahaan yang membatalkan kerjasama yang sudah disepakati sebelumnya.
" Sebenarnya apa yang terjadi Rey?" ucap Revan frustasi.
" Saya juga tidak tahu pak, saya hanya mendapatkan kabar jika mereka membatalkan kerjasama padahal semuanya berjalan lancar" sahut Rey yang tak kalah pusing, pasalnya ia setiap hari mendapatkan kabar pembatalan kontrak.
" Baiklah, sebaiknya kita pulang dulu, sudah terlalu larut, lanjutkan besok saja" ajak Revan.
" Baik pak"
Mereka berdua meninggalkan perusahaan dan pulang ke rumah masing-masing.
Tiba di rumah Revan mendapati istrinya sedang tertidur di sofa, padahal ia sudah menyuruh untuk tidak menunggunya.
Dengan perlahan Revan menghampiri Nadhifa dan bersiap menggendong tubuh istrinya namun seketika Nadhifa membuka matanya.
" Ya Allah maaf mas, Dhifa ketiduran" ucap Nadhifa penuh sesal.
" Tidak perlu minta maaf, ayo pindah ke kamar saja" ajah Revan menarik lembut tangan Nadhifa.
Tanpa membantah Nadhifa mengikuti langkah kaki suaminya, ia mendekati Revan dan membantu pria itu membuka kemejanya.
" Mas Revan mau mandi?" Ucapnya.
" Iya, tolong siapkan air hangat ya" pinta Revan.
Nadhifa mengangguk dan melakukan perintah Revan dengan senang hati, ia merasa jika yang ia lakukan belum seberapa jika dibanding dengan lelahnya Revan yang bekerja seharian.
Saat semuanya sudah siap, Nadhifa mempersilahkan Revan untuk segera membersihkan diri, ia mengambil kaos tipis yang biasa Revan gunakan dan meletakkan di atas ranjang.
Menahan rasa kantuknya, Nadhifa duduk di tepi ranjang menunggu suaminya selesai mandi.
" Aku bantu mas" ucap Nadhifa mengambil handuk yang ada di tangan Revan sesaat setelah pria itu keluar dari kamar mandi.
Revan menuruti permintaan istrinya, ia duduk di tepi ranjang dan membiarkan Nadhifa mengeringkan rambutnya.
" Sekarang mas Re istirahat ya, pasti lelah" ucap Nadhifa usai meletakkan handuk.
" Iya, aku lelah sekali Dhifa" sahut Revan, mengambil kaos yang disediakan Nadhifa dan mengenakannya lalu ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Nadhifa dapat melihat wajah kelelahan suaminya, ia dapat menerka jika ada masalah di perusahaan karna tak biasanya Revan pulang sampai tengah malam apalagi itu sudah terjadi selama bererapa hari.
Revan belum bercerita apapun padanya, ia tak akan memaksa Revan bercerita tapi ia akan melakukan kewajibannya dengan sebaik mungkin.
" Mau Dhifa pijit mas" tawar Nadhifa.
" Tidak perlu, kemarilah" titah Revan yang langsung dituruti Nadhifa.
" Aku hanya butuh kamu" ucap Revan membenamkan wajahnya dalam pelukan Nadhifa hingga ia dapat menghirup aroma tubuh istrinya yang terasa menenangkan.
" Tidurlah mas" ucap Nadhifa lirih, ia mengelus rambut Revan dengan lembut membuat Revan tertidur pulas.
Nadhifa mencium aroma shampo yang menguar dari rambut Revan hingga membuatnya ikut terlelap.
__ADS_1