
Revan tak dapat berkata-kata saat dihadapannya berdiri tegap seorang pria yang sudah lama tak dijumpainya.
Wajah tampan dan penampilan yang terlihat berkelas masih melekat pada pria itu, pantas jika ia menjadi idola kampus di masanya.
Bukan hanya parasnya yang menawan namun kekayaan dan pangkat kedua orangtuanya membuat kaum hawa semakin menggilainya.
Usai menguasai perasaannya, Revan mempersilahkan pria itu dan seorang wanita yang berdiri di sampingnya untuk duduk.
Tak lupa ia juga memanggil pelayan untuk mendekat setelah kedua orang dihadapannya sudah memilih minuman yang akan menemani mereka melanjutkan pembicaraan seputar bisnis.
Sepertinya pria itu tak ingat padanya, Revan memulai basa-basi dan menjelaskan mengenai berkas yang sudah ia siapkan, dengan sebaik mungkin, ia juga menjelaskan tentang kerjasama yang pastinya akan menguntungkan kedua belah pihak.
Walaupun dulu ia mempunyai pengalaman buruk dengan pria itu, namun Revan berusaha menyingkirkan ego-nya dan melupakan hal kurang menyenangkan yang terjadi padanya.
"Apa kita saling mengenal sebelumnya? sepertinya wajah anda tidak asing" ucap pria itu.
"Iya, kita pernah kuliah di tempat yang sama" sahut Revan.
"Benarkah?" ucap pria itu seakan tak percaya.
pria itu mengernyitkan dahinya, ia berusaha mengingat siapa yang ada di hadapannya.
"Oh, jadi kau pria pecundang itu" ucap pria itu dengan senyum sinis yang menghias bibirnya.
Revan terdiam, ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosinya, sejak awal ia sudah memprediksi hal ini akan terjadi, pria di hadapannya pasti akan menghinanya seperti dulu.
"Anda benar" sahut Revan santai.
"Aku gak percaya seorang pecundang sepertimu bisa membangun sebuah perusahaan" ucap pria itu meremehkan kemapuan Revan.
"Semua bisa saja berubah" sahut Revan yang masih berusaha bersikap tenang.
Rey yang duduk disamping Revan hanya diam mendengar pembicaraan dua orang pimpinan di hadapannya itu, begitu pula dengan wanita yang menjadi sekertaris pria itu, ia bersikap profesional dan hanya melakukan perintah dari atasannya.
"Jika aku tau kau yang mengajukan kerjasama, maka aku tak akan menerimanya" ucap pria itu dengan pandangan remeh.
"Lagipula perusahaan kecil milikmu itu tidak sebanding dengan perusahaan milikku" ucapnya dengan nada yang terdengar begitu sombong.
Revan sangat geram mendengar ucapan pria itu, ingin sekali ia menghajarnya namun Revan bukanlah pria kasar, ia mencoba bersabar meredam emosinya dengan mengepalkan tangan yang ada di atas pahanya.
"Linda" ucap pria ketika sudah berdiri.
"Iya pak" sahut wanita itu, ia pun ikut berdiri di samping atasannya itu.
"Ayo kita pulang, kita tidak butuh kerjasama dengan perusahaan kecil" ucap pria itu dengan angkuhnya.
Wanita itu hanya menurut dan mengikuti langkah kaki bosnya, namun suara Revan menghentikan langkah mereka.
"Ingat tuan Dirga roda kehidupan itu berputar"
Pria itu hanya tersenyum sinis dan kembali melangkahkan kaki meninggalkan restoran itu.
"Apa bapak mengenal tuan Dirga?" ucap Rey yang sejak tadi menahan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Seperti yang kamu dengar Rey, aku dan dia pernah kuliah di tempat yang sama, sikapnya masih tetap sama, ia selalu menghina orang lain yang derajatnya lebih rendah darinya" sahut Revan.
"Aku kira seiring berjalannya waktu ia akan berubah, namun lihatlah sekarang ia masih saja bersikap sombong" imbuhnya membuat Rey mengangguk setuju.
Mereka melanjutkan makan, karena memang keduanya belum makan siang, dan mereka memilih untuk kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan lainnya.
...
Revan tiba di rumah sebelum petang, kebetulan hari ini pekerjaannya tidak terlalu menumpuk hingga ia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya di rumah.
"Den Revan udah datang?" ucap bik Minah yang baru saja keluar dari dapur.
"Iya bik" sahut Revan.
"Den Revan mau minum teh?" ucap bik Minah yang berniat memasuki dapur lagi.
"Tidak usah bik, Revan mau ke atas" jawab Revan dan mulai melangkah memasuki kamarnya.
Ia melihat Nadhifa yang baru saja keluar dari kamar mandi, tetesan air wudhu masih terlihat jelas di wajah cantik itu.
"Mas Re udah pulang?" ucap Nadhifa dan mengecup punggung tangan Revan.
Revan mengangguk dan meraih kening istrinya untuk ia kecup.
"Kenapa gak bilang? Dhifa kan belum siapin minuman" ucap Nadhifa, mengambil alih tas di tangan suaminya dan meletakkan di tempat biasa.
"Pekerjaan tidak terlalu banyak, aku bisa melanjutkan disini" sahut Revan yang mulai membuka jas, melihat itu Nadhifa tak tinggal diam, ia mendekat dan membantu Revan hingga seluruh kancing kemeja suaminya itu sudah terbuka.
Nadhifa memasuki kamar mandi usai suaminya keluar, lalu mereka menuruni tangga untuk melakukan sholat berjamaah di mushola.
...
"Gimana mas? apa tadi kerjasama berjalan lancar?" ucap Nadhifa saat kedua sudah berbaring di atas ranjang.
"Aku gagal Dhifa, klien itu menolak kerjasama dengan perusahaan milikku" sahut Revan seraya tersenyum getir.
Nadhifa melihat Revan yang terlihat begitu kecewa, wanita tau jika orang yang tadi siang ditemui suaminya adalah salah satu pengusaha sukses, jika suaminya berhasil bekerjasama dengan orang itu maka perusahaan suaminya akan semakin jaya.
"Gak apa mas, mungkin belum rezeki" ucap Nadhifa berusaha menenangkan hati suaminya.
Dia menyentuh punggung tangan suaminya dan mulai mengelusnya dengan lembut.
"Mas Re pasti akan dapat klien yang lebih hebat lagi" imbuhnya membuat Revan tersenyum senang.
Pria itu mengangguk mantap, ia setuju dengan ucapan istrinya, ia hanya harus bekerja lebih baik lagi.
Meraih tubuh istrinya, Revan sesekali mencium puncak kepala istrinya dan menghirup aroma rambut istrinya, ia sangat beruntung mendapatkan Nadhifa yang selalu membuatnya selalu senang.
"Terima kasih" ucap Revan tulus.
Nadhifa mengangguk dan mulai memejamkan mata, tak lama butuh waktu lama Revan menyusul istrinya.
...
__ADS_1
Nadhifa terlihat bersemangat, ia akan mengunjungi kantor suaminya, tak lupa rantang makanan yang selalu ia bawa.
Usai meminta pak Ratno menunggu, Nadhifa memasuki gedung itu dan melihat suaminya sudah menunggunya.
"Mas Re udah nunggu dari tadi ya?" ucap Nadhifa yang sudah berada dekat dengan suaminya.
"Tidak, aku baru saja selesai pertemuan di luar, sekalian aku tunggu kamu" sahut Revan saat keduanya sudah berjalan menuju ruang kerja Revan.
Saat mereka berjalan seperti biasa para karyawan akan memperhatikan mereka, bukan tingkah romantis yang mereka tunjukkan, namun Revan yang terlihat begitu ramah saat bersama wanita itu, mereka menyimpulkan jika wanita itu adalah istri bos mereka, buktinya bukan hanya sekali ia ke kantor ini dan kedatangannya disambut hangat oleh bos mereka.
"Ayo masuk" ucap Revan ketika sampai di depan ruang kerjanya.
"Kak Raihan mana mas?" ucap Nadhifa yang penasaran karna biasanya ia akan melihat pria itu jika memasuki ruang kerja suaminya.
"Rey masih makan siang di luar, aku sebenarnya sudah menawarkan untuk makan bersama namun ia menolak karna takut mengganggu kita" sahut Revan yang sudah terduduk di sofa, tak lupa pria itu membuka jas yang ia kenakan.
Dengan telaten Nadhifa menyiapkan makan siang, ia juga mengambil air mineral yang memang tersedia di ruangan itu.
Revan yang memang sudah lapar langsung melahap hidangan yang sudah disiapkan Nadhifa, membuat senyuman terbit di wajah cantik wanita itu, ia merasa senang karna Revan selalu menyukai masakannya.
...
Pulang dari kantor suaminya, Nadhifa mampir di sebuah toko untuk membeli pesanan ipar kembarnya, mereka meminta Nadhifa untuk membelikan barang yang mereka butuhkan.
Usai memilih, Nadhifa berjalan menuju meja kasir namun tak sengaja ia menabrak seorang wanita cantik yang berpenampilan sangat seksi.
Untuk sesaat Nadhifa mengagumi wanita cantik itu, kulit seputih salju dan tubuh yang terlihat indah membuatnya semakin menawan, namun kecantikannya luntur saat kata-kata pedas itu terlontar dari bibir berwarna merah menyala miliknya.
"Jalan itu pakai mata" ucapnya dengan nada tinggi.
Ia sangat marah karna ia sempat terjatuh saat Nadhifa menabraknya, orang yang ada di sana mengalihkan perhatian pada mereka berdua saat mendengar suara wanita itu.
"Maaf, saya sungguh tak sengaja" ucap Nadhifa tulus, ia memang menyadari kesalahannya, terlalu sibuk melihat-lihat ia sampai tak sengaja menabrak wanita itu.
"Dasar wanita kampung" umpat wanita itu, ia mengibaskan tangannya pada gaun yang digunakan, tak ada kotoran yang menempel membuat orang yang ada di sana geleng-geleng kepala melihat kelakuan wanita itu.
"Ada apa sayang?" ucap seorang pria yang baru saja datang, pria itu langsung berdiri di samping wanitanya.
"Wanita kampung itu jalan gak pakai mata" ucap wanita itu terlihat sangat marah, ia menunjuk wajah Nadhifa dengan telunjuknya.
"Sudahlah, lebih baik kita pergi, aku masih ada urusan penting" sahut pria itu yang ingin segera pergi dari tempat itu, karna semua mata melihat perlakuan istrinya yang memang selalu berlebihan.
"Awas kamu melakukan kesalahan padaku lagi" ancam wanita itu sebelum meninggalkan toko itu.
Nadhifa hanya mengangguk mengiyakan, ia membayar barang yang sudah ia beli, seorang wanita seumuran dengannya mendekati Nadhifa.
"Maaf nona, kami tadi tak bisa membantu karna mereka adalah investor besar di toko kami" ucap salah satu pegawai yang ada di sana, sebenarnya ia sangat jengah melihat sikap wanita itu yang sangat sombong namun ia tak bisa melawan karna ditempat itulah ia mencari nafkah.
Kejadian seperti ini bukan hanya sekali, wanita itu sudah sering memarahi pegawai Karna kesalahan yang tak seberapa.
"Tidak apa, tadi memang salah saya" ucap Nadhifa seraya menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayar belanjaannya.
"Terima kasih nona, sekali lagi maaf" ucap pegawai itu dengan tulus dan di balas anggukan oleh Nadhifa.
__ADS_1