
Mendapat dukungan dari keluarga dan sahabatnya, Revan semakin semangat untuk kembali mengembangkan perusahaannya.
Seperti hari ini semua sahabatnya datang ke rumahnya saat Revan dan Nadhifa sedang duduk di taman belakang rumah.
Mereka datang untuk memberi dukungan pada Revan usai diberitahu Reno mengenai keadaan perusahaan Revan.
" Aku yakin kamu pasti bisa bangkit lagi Van" ucap Danu menepuk pundak Revan karna ia duduk disamping Revan.
" Iya, diantara kita semua hanya Revan yang sukses" tambah Dion.
" Semoga saja semua bisa kembali seperti semula" ucap Revan.
" Kita yakin jika kamu mampu Van" ucap Rio.
" Sebenarnya kita mau bantu, tapi kamu tahu sendiri kan jika keuangan kita pas-pasan" lanjut Rio.
" Tidak apa, mendapatkan dukungan dari kalian aku sudah senang" sahut Revan.
Tak lama Nadhifa datang membawa nampan di tangannya, tak lupa ia membawa makanan ringan untuk disuguhkan.
" Silahkan diminum" ucap Nadhifa, wanita itu duduk di samping Revan.
" Menurutku semua yang terjadi pada Revan sangat aneh" ucap Rio.
Semua mata menatap penasaran pada Rio selain Revan dan Nadhifa.
" Aneh bagaimana?" Sahut Danu.
" Kalian tahu kan selama ini perusahaan Revan baik-baik saja, tidak ada kasus apapun yang menyangkut perusahaan itu, tapi anehnya banyak klien yang membatalkan kerjasama tanpa alasan yang jelas" jelas Rio membuat kedua pria yang lain menganggukkan kepala tanda setuju.
" Apa kamu sudah menyelidikinya bro?" Tanya Dion.
Revan menghela nafas berat sebelum menceritakan semua pada sahabatnya, hingga saat kebenarannya terungkap semua sahabat Revan geram.
" Apa sih yang dia mau?" Ucap Rio.
" Dari dulu sifat arogannya tidak berubah" timpal Danu.
" Iya kalian tahu, dulu saja dia seperti itu apalagi sekarang saat ia sudah semakin jaya" sahut Dion malas.
" Udah tidak usah terlalu dipikirkan, jika memang rejeki pasti akan kembali" ucap Revan bijak.
" Ayo dimakan dulu" ucap Revan mempersilahkan sahabatnya untuk mengambil cemilan yang istrinya bawa.
...
Sebuah gedung yang tidak terlalu besar dipilih Revan untuk menjadi kantor barunya, sedangkan kantor lama sudah Revan jual untuk mengembalikan saham kepada pemiliknya.
beruntung saja aset-aset yang dimiliki Revan cukup banyak sehingga pria itu tidak perlu menjual rumahnya.
" Sebulan sudah berlalu Rey, tapi aku belum mendapatkan klien baru" ucap Revan frustasi.
__ADS_1
" Tolong panggilkan semua jajaran perusahaan kita untuk rapat" titahnya yang langsung dituruti Raihan.
Tak butuh waktu lama semuanya sudah berkumpul di ruang rapat seperti yang Revan inginkan.
" Assalamualaikum" ucap Revan.
" Waalaikum salam" sahut mereka serempak.
" Maaf sebelumnya, saya sudah mengganggu waktu kalian, hari ini saya akan mengatakan sesuatu yang penting"
" Sudah sebulan tapi saya belum berhasil mendapatkan klien jadi untuk itu saya tidak berhak meminta kalian untuk bertahan bekerja disini, anda berhak untuk mendapatkan pekerjaan lain yang tentunya lebih baik melihat kalian bekerja sangat baik disini"
" Saya tidak bermaksud memecat kalian tapi saya sadar jika kalian tidak mendapatkan apa-apa dengan bekerja dengan saya, kebutuhan hidup kalian harus tetap terpenuhi"
" Semuanya tergantung keputusan kalian" pungkas Revan.
Semua mendengarkan ucapan Revan dengan seksama sehingga mereka dapat memutuskan untuk tetap bertahan atau mencari pekerjaan di tempat lain.
" Baiklah, saya tunggu keputusan kalian tapi jangan khawatir jika perusahaan ini kembali bangkit saya akan menghubungi kalian dan akan saya tempatkan di posisi semula" ucap Revan yang mendapat anggukan persetujuan dari mereka.
...
Usai makan malam Revan dan Nadhifa pamit ke kamar untuk istirahat, pria itu merebahkan kepala di atas paha istrinya.
Tanpa ditanya pria itu menceritakan tentang keputusan yang sudah ia ambil, ia hanya menceritakan semua masalahnya pada Nadhifa Karna ia tak ingin membebani pikiran Bu Rahma, biarlah mamanya itu menikmati masa senjanya dengan bahagia.
Nadhifa mendengarkan penjelasan suaminya dengan seksama, sesekali Nadhifa mengelus rambut suaminya dengan lembut.
Revan membuka mata saat merasa posisi tidur tidak nyaman, ia baru sadar jika sejak tadi ia tertidur.
Revan mengangkat tubuh Nadhifa setelah melihat istrinya tertidur, dengan perlahan ia merebahkan tubuh Nadhifa di atas ranjang, mungkin istrinya sangat kelelahan sampai tidak sadar jika ada yang menggendongnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam berarti sudah dua jam mereka tertidur.
Revan mengecup kening istrinya cukup lama, ia berjanji tidak akan menyerah, ia akan melakukan usaha terbaiknya untuk mengembangkan perusahaan seperti sebelumnya.
" Seperti yang kamu katakan sayang, aku janji tidak akan menyerah" bisik Revan lembut, ia menarik tubuh istrinya dalam pelukannya.
Keesokan harinya, semua keluarga sedang menikmati hidangan yang tersaji di meja makan, suasana hening seperti biasa karna tidak ada yang berbicara.
Suara dering ponsel Revan terdengar cukup keras, tak butuh waktu lama pria itu merogoh saku celananya.
" Assalamualaikum Rey, ada apa?"
" Baiklah, secepatnya saya akan segera kesana" sahut Revan.
Usai panggilan berakhir, Revan kembali melahap makanan yang masih tersisa di piringnya.
" Aku pamit kerja dulu ya" ucap Revan setelah mereka selesai sarapan.
" Tunggu, aku antar mas Re ke depan ya" sahut Nadhifa.
__ADS_1
Keduanya berjalan memasuki kamar untuk mengambil jas dan dasi, setelah memastikan penampilan Revan sudah rapi mereka turun ke bawah.
" Ma, Revan berangkat kerja dulu ya" ucap Revan setelah mencium punggung tangan Bu Rahma.
" Iya hati-hati" sahut Bu Rahma.
Revan juga pamit pada adik kembarnya, tak lupa ia menasehati mereka supaya belajar dengan sungguh-sungguh.
" Mas Re hati-hati ya" ucap Nadhifa setelah mencium tangan suaminya.
" Iya sayang ,doakan aku ya" sahut Revan setelah mengecup kening istrinya.
...
Usai memarkirkan mobilnya, Revan sedikit berlari memasuki kantor barunya, ia mendapati Raihan yang sudah menunggunya.
" ada apa Rey?" ucap Revan setelah duduk di depan Raihan.
" ada kabar baik pak" sahut Rey menyematkan senyumnya membuat Revan penasaran.
" katakan!" titah Revan dengan tidak sabar.
" perusahaan VAROSKI GROUP ingin bekerja sama dengan anda pak" jelas Rey.
" kamu jangan bercanda Rey" sahut Revan tertawa getir, ia tak percaya karna perusahaan itu merupakan salah satu perusahaan besar yang ada.
" saya sebenarnya juga tidak percaya pak, tapi perwakilan dari VAROSKI GROUP benar-benar menghubungi saya" sahut Rey yang masih tidak memudarkan senyumnya.
" kapan kita bisa bertemu?" tanya Revan yang terlihat semangat, bagaimana tidak sudah banyak perusahaan yang menolak kerjasama dengan perusahaannya, tapi sekarang perusahaan besar seperti VAROSKI GROUP ingin menjalin kerjasama.
" mereka ingin bertemu anda nanti siang pak" sahut Rey.
" baiklah Rey, kita harus memanfaatkan peluang ini dengan sebaik-baiknya, kita harus bisa meyakinkan mereka" ucap Revan.
" baik pak" sahut Rey.
" kalau begitu aku ke ruanganku dulu" ucap Revan yang langsung beranjak ke ruangannya, ia merogoh ponsel di saku jasnya dan menelpon Nadhifa.
" assalamualaikum sayang" ucap Revan.
" waalaikum salam mas, ada apa?" sahut Nadhifa.
" doakan aku ya, ada salah satu perusahaan besar yang menghubungi Raihan, rencananya nanti siang kami akan bertemu" ucap Revan membuat Nadhifa ikut tersenyum.
" Alhamdulillah mas, semoga lancar ya" sahut Nadhifa.
" iya sayang, kalau begitu aku tutup telponnya ya"
"iya mas, assalamualaikum"
" waalaikum salam"
__ADS_1