
Nadhifa sedang berdiri di depan cermin, mengamati bentuk tubuhnya yang jauh berbeda dari bentuk aslinya, nampak beberapa bagian yang terlihat semakin membesar.
pintu kamar terbuka, ia mengalihkan perhatiannya pada seorang pria yang menghampirinya.
" mas Re udah pulang?" sapa Nadhifa saat Revan memeluk tubuhnya dari belakang.
" iya sayang" sahut Revan, pria itu mengecup tengkuk istrinya dan menghirup aroma tubuh Nadhifa yang sudah menjadi candu untuknya.
" mas, Dhifa gerah, pasti badan Dhifa bau" ucap Nadhifa tak enak, pasalnya semenjak hamil wanita itu selalu merasa kegerahan padahal suhu ruangan sudah dingin, bahkan wanita hamil itu lebih suka menggunakan gaun tidur tanpa lengan.
" kata siapa? buktinya aku suka" sahut Revan yang tak menghentikan aktivitasnya.
Nadhifa diam, menerima perlakuan Revan yang tidak berubah karna ia juga suka.
" apa baju tidurnya tidak muat lagi?" tanya Revan usai melepaskan pelukannya, pria itu menuntun Nadhifa untuk duduk di atas ranjang.
" tidak mas, masih muat" sahut Nadhifa tersenyum.
" aku kira bajunya tidak muat karena wajahmu terlihat sedih, ada apa sayang?" ucap Revan khawatir.
" tidak apa mas" elak Nadhifa.
" ayo katakan, jangan sungkan"
" apa mas Re gak bosan sama aku?" tanya Nadhifa yang mengundang kerutan di dahi Revan.
" kenapa kamu bertanya seperti itu?"
" tubuhku sudah tidak ramping seperti dulu mas, sekarang aku lebih terlihat seperti badut" sahut Nadhifa lirih.
Revan tersenyum dan menarik tubuh Nadhifa dalam pelukannya.
" jangan berpikiran negatif, aku tidak pernah mempermasalahkannya"
" tapi kenapa mas Re jarang menyentuhku?" tanya Nadhifa pelan usai Revan melepaskan pelukannya.
" bukannya aku tak mau menyentuhmu sayang, tapi aku takut kamu kelelahan" sahut Revan.
" benarkah?" tanya Nadhifa tak percaya.
" iya sayang, jangan berpikiran yang aneh-aneh, hatiku sudah aku serahkan padamu, jadi tak ada celah untuk wanita lain" ucap Revan serius membuat Nadhifa tertawa.
" kenapa kamu malah tertawa?"
" mas Re sekarang makin pintar gombal"
" itu bukan gombal sayang" ucap Revan meyakinkan.
" iya aku percaya, ayo aku bantu" Nadhifa melepaskan jas dan dasi yang melekat di tubuh Revan lalu ia melepaskan satu persatu kancing baju kemeja putih milih Revan.
tanpa babibu lagi Nadhifa segera memeluk tubuh Revan dan menghirup aroma tubuh itu dengan kuat.
" apa kamu begitu merindukanku?" ucap Revan terkekeh.
Nadhifa mengangguk, ia sesekali mencium dada bidang suaminya membuat Revan tertawa.
" sudah jangan menggodaku, katakan saja jika kamu mau" ucap Revan menggoda.
__ADS_1
Nadhifa melepaskan pelukannya, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghindari tatapan Revan.
" mas Re, bilang apa sih?" ucap Nadhifa dengan wajah yang sudah merona.
Revan tertawa semakin keras ia menuntun Nadhifa supaya duduk di pangkuannya.
" ayo lakukan, aku suka kamu yang agresif" bisik Revan tepat di telinga Nadhifa.
" dasar mesum" ucap Nadhifa setelah mendaratkan cubitan di perut keras suaminya.
...
Revan sedang gelisah, tadi malam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karna menemani Nadhifa yang juga sulit tidur, bukan karena mengantuk, tapi ia khawatir jika ada sesuatu yang terjadi pada istrinya.
" kamu beneran gak apa-apa?" tanya Revan lagi, sudah berkali-kali ia bertanya sesuatu yang sama.
" iya mas, aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir" sahut Nadhifa tenang.
tapi jawaban itu tak membuat Revan puas, ia menuntun istrinya untuk duduk disampingnya.
" tapi kenapa kamu gak bisa tidur dengan nyenyak?"
" badan aku tadi malam sakit semua mas, makanya sulit tidur" jelas Nadhifa.
" mau periksa ke dokter?" tawar Revan.
" tidak usah, aku baik-baik saja mas" tolak Nadhifa halus, akhirnya Revan menyerah.
" tapi kalau ada apa-apa kamu telpon aku ya" ucap Revan.
" baiklah, aku berangkat ke kantor, kamu disini saja, kalau butuh sesuatu bisa panggil bik Minah" sahut Revan yang sudah mengecup kening Nadhifa berkali-kali.
" iya, mas Re hati-hati ya" sahut Nadhifa tersenyum.
" sekarang papa mau berangkat kerja, baby twins jagain mama ya, jangan buat mama capek" ucap Revan tepat di depan perut Nadhifa yang terlihat begitu besar.
...
Usai makan siang Nadhifa duduk di ruang tamu bersama Bu Rahma dan si Kembar yang kebetulan sedang libur kuliah.
" kamu sudah siapin keperluan saat nanti melahirkan?" tanya Bu Rahma.
" sudah ma, beberapa hari lalu sudah Dhifa siapkan" sahut Nadhifa tersenyum, ia mengelus perutnya dengan lembut.
" kapan baby twins lahir kak?" tanya Winda.
" menurut perkiraan dokter seminggu lagi" sahut Nadhifa.
mereka pun melanjutkan bercengkrama seperti yang biasa mereka lakukan, namun mereka seketika panik saat Nadhifa merintih.
" ma, sakit"
" sayang, kamu kenapa?" tanya Bu Rahma panik.
" perut Dhifa sakit ma" ucapan itu sukses membuat Bu Rahma dan yang lain semakin khawatir.
" sepertinya Dhifa mau melahirkan" ucap bik Minah yang kebetulan lewat.
__ADS_1
" bik Minah tolong panggilkan pak Ratno, Winda bantuin mama, Windi ambilkan tas yang ada di kamar Nadhifa" mereka segera melaksanakan instruksi Bu Rahma.
Sepanjang perjalanan mereka tidak ada bersuara, hanya terdengar suara rintihan tertahan dari mulut Nadhifa.
" ma, sakit ma" keluh Nadhifa.
" iya sayang, sabar" sahut Bu Rahma yang sesekali mengusap kening Nadhifa yang berkeringat.
Bu Rahma meminta Winda untuk segera menelpon Revan, namun setelah beberapa kali mencoba tetap tidak ada jawaban.
...
Disisi lain Revan sedang berada di salah satu restoran ternama, hari ini ia harus menemui tuan Vito untuk melanjutkan kerjasama yang pernah terjalin sebelumnya.
Di temani Raihan, ia sedang berusaha melaksanakan tugasnya dengan sebaik mungkin, Revan tidak mendengar dering yang berasal dari ponselnya karna ia lupa mengeraskan volumenya, apalagi ponselnya ia letakkan didalam saku jasnya.
" kenapa perasaanku tidak enak ya?" ucap Revan.
" mungkin Anda sedang grogi pak" sahut Raihan.
" mungkin saja"
tak lama orang yang mereka tunggu sudah datang, dengan sopan mereka menjabat tangan tuan Vito dan sekertarisnya.
" selamat siang tuan" sapa Revan dan Raihan.
" selamat siang" sahut tuan Vito.
setelah itu mereka melanjutkan pembicaraan dengan serius hingga dering yang berasa dari ponsel Raihan memecah konsentrasi mereka.
" maafkan saya tuan" sesal Raihan.
" tidak masalah, sebaiknya angkat telponnya, mungkin ada yang penting" ucap Dimas, sekertaris Vito.
" baik, permisi" tanpa membuang waktu Raihan mengangkat ponselnya, ia mengernyitkan dahi saat melihat nama Nadhifa terpampang di layar ponselnya.
" Assalamualaikum, ada apa Dhifa?"
" waalaikum salam kak, aku Winda, tolong kasih tahu bang Revan, kak Dhifa mau melahirkan saat ini kami sudah ada di jalan menuju rumah sakit" ucap Winda membuat Raihan terhenyak.
" iya, akan aku beritahu" sahut Raihan yang sudah kembali ke tempat semula dan membisikkan sesuatu di telinga Revan.
Mendengar keadaan istrinya yang tak baik-baik saja, Revan langsung bangkit dan menatap wajah Raihan dengan tatapan tak percaya, dengan segera ia meraih ponselnya dan nampak banyak sekali panggilan tak terjawab dari beberapa nomer berbeda, nampak sekali jika wajahnya sangat cemas.
" ada apa tuan Revan?" ucap tuan Vito penasaran.
" maafkan saya tuan, hari ini istri saya akan melahirkan jadi saya akan menyusul ke rumah sakit" sahut Revan.
" silahkan tuan Revan"
" sekali lagi maafkan saya tuan" ucap Revan
" tidak masalah, saya juga akan melakukan hal yang sama" sahut Vito.
Revan menepuk pundak Raihan.
" aku percayakan semua padamu"
__ADS_1