Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
24. MENGUNJUNGI PANTI.


__ADS_3

Nadhifa telah selesai membantu Bu Rahma dan bik Minah membereskan meja makan, tak hanya itu Nadhifa juga mengambil alih pekerjaan bik Minah untuk mencuci piring, Nadhifa meminta bu Rahma dan bik Minah untuk duduk saja.


Usai berpamitan pada kedua wanita yang sedang asyik bercengkrama, Nadhifa melangkahkan kakinya untuk menghampiri suaminya ke dalam kamar.


Menolehkan kepala ke kanan dan kiri Nadhifa tak menemukan Revan ada di kamarnya, Nadhifa membuka pintu balkon, tapi tetap saja dirinya tak menemukan Revan.


"Mas Revan kemana ya?" gumam Nadhifa.


Pandangan Nadhifa mengarah pada suatu ruangan yang nampak kecil, merasa penasaran akhirnya Nadhifa memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan itu yang ternyata tak terkunci.


"Mas Revan" ucap Nadhifa pelan seraya mengedarkan pandangan ke seluruh pandangan, sehingga nampak Revan yang sedang sibuk dengan laptop di hadapannya.


Revan yang belum menyadari kedatangan Nadhifa, terus saja mengecek perkembangan perusahaan yang dikirimkan oleh Rey,sekretarisnya.


Secara perlahan Nadhifa berjalan mendekat dan berdiri di samping Revan, membuat Revan menyadari adanya orang lain di ruangan itu.


"Maaf mas, aku masuk tanpa izin" ucap Nadhifa pelan.


"Tak apa, duduklah" titah Revan tersenyum.


Nadhifa mengangguk dan menduduki kursi yang ada di hadapan Revan.


"Maaf Dhifa, sepertinya aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu" sesal Revan.


"Iya mas, aku mengerti" sahut Nadhifa lembut.


"Mas Revan mau minum apa ? biar Dhifa buatkan " tanya Nadhifa sopan.


"Buatkan teh hangat seperti biasa" jawab Revan.


"Baiklah, aku mau ke bawah dulu " ucap Nadhifa yang telah berdiri untuk membuatkan minuman.


Revan mengangguk membiarkan Nadhifa meninggalkan dirinya untuk berkutat dengan pekerjaan kantor yang beberapa hari tak di sentuhnya, bukannya Rey tidak bisa di andalkan, tapi ada beberapa hal yang harus mendapat persetujuan Revan selaku CEO di perusahaan.


Nadhifa membawa nampan yang berisi teh hangat permintaan Revan dan makanan ringan yang tersedia untuk menemani Revan mengerjakan pekerjaannya.


Nadhifa meletakkan nampan di atas meja secara hati-hati, dan mempersilahkan Revan untuk meminum teh buatannya.


"Kalau kamu bosan, di sana ada beberapa novel yang bagus" ucap Revan yang melihat Nadhifa yang terlihat mengantuk karna terlalu lama menunggu Revan.


"Di sebelah mana mas?" tanya Nadhifa antusias.


"Itu di rak nomer dua, di sana banyak koleksi novel milik Ranti" jawab Revan menunjuk rak buku yang berada tak jauh dari tempat duduk Nadhifa.

__ADS_1


"Iya, mas " jawab Nadhifa.


Ruangan kerja Revan cukup luas, selain itu juga ada sofa kecil yang hanya muat untuk dua orang yang terletak di salah satu pojok ruangan, sofa itulah yang di tempati Nadhifa untuk menunggu Revan.


Revan tersenyum saat melihat istrinya yang asyik memilah novel yang akan di bacanya, membiarkan Nadhifa yang fokus pada novel di tangannya, Revan memutuskan melanjutkan pekerjaannya.


Mengerjakan tugas dalam waktu yang cukup lama membuat tubuh Revan begitu lelah, mengarahkan pandangan, Revan mendapati istrinya yang tertidur pulas di sofa.


"Dhifa" ucap Revan mengelus lembut kepala Nadhifa membuat Nadhifa membuka matanya berkali-kali membuat Revan tersenyum gemas.


Istrinya memang begitu cantik meskipun baru bangun tidur, kecantikan Nadhifa tetap tak berkurang, Nadhifa menegakkan tubuhnya saat menyadari ternyata dirinya tertidur.


"Maaf mas, aku ketiduran" ucap Nadhifa.


"Tak masalah, ayo kita bersiap dulu sebentar lagi adzan dhuhur" titah Revan.


Nadhifa mengangguk dan meminta Revan untuk bersiap terlebih dahulu, sedangkan dirinya akan ke lantai dasar untuk meletakkan cangkir teh dan toples makanan ringan yang sebagian isinya sudah berkurang.


...


Revan dan Nadhifa sudah berada di dalam mobil, sesudah berpamitan pada Bu Rahma , Revan bergegas melajukan mobilnya menuju panti karna melihat Nadhifa yang sudah tak sabar berkunjung ke sana.


Perjalanan mereka diiringi dengan candaan ringan yang dilontarkan Revan untuk mencairkan suasana antara mereka, karna Revan tahu jika istrinya itu termasuk perempuan yang pemalu.


Revan selalu terpana melihat senyum manis Nadhifa yang selalu di tampakkan di hadapannya, rasanya hati Revan begitu menghangat saat berhasil membuat Nadhifa tersenyum.


Nadhifa mengangguk sembari mengedarkan pandangan karna merasa pernah berkunjung ke tempat itu.


Nadhifa berjalan di samping Revan dengan tangan yang saling bertautan, membuat Nadhifa begitu malu, meskipun mereka pernah melakukan hal yang lebih tapi tetap saja rasa malu Nadhifa tidak bisa hilang begitu saja.


Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka, dan mempersilahkan untuk duduk sembari menunggu makanan yang sudah dipesan.


"Mas Revan, apa kita pernah kesini sebelumnya?" tanya Nadhifa yang masih penasaran.


"Iya, waktu dulu pulang dari butiknya Tante Wina" jelas Revan.


"Oh, pantas saja aku merasa tidak asing dengan tempat ini" ucap Nadhifa.


Tak lama seorang pria paruh baya datang dengan beberapa bungkusan di tangannya, wajahnya tak henti tersenyum melihat siapa yang datang.


"Nak Revan, apa kabar?" tanya pak Tarjo, pemilik kedai martabak manis langganan Revan.


"Alhamdulillah baik" jawab Revan.

__ADS_1


Mereka berbincang ringan, pak Tarjo tak henti menggoda Revan saat mendengar kabar jika Revan sudah menikah, membuat Nadhifa tersenyum malu.


Usai berpamitan Revan menggenggam tangan Nadhifa seperti biasa, dengan bungkusan plastik yang ia letakkan di tangan yang lain.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju panti, senyuman tak henti menghiasi wajah cantik Nadhifa membuat Revan geleng-geleng kepala melihat Nadhifa yang begitu senang.


"Terima kasih mas " ucap Nadhifa tiba-tiba.


"Untuk apa ?" tanya Revan dengan mengernyitkan dahinya karna tak mengerti maksud ucapan istrinya.


"Untuk semua mas, mas Revan sudah menerima aku, walaupun asal usul keluargaku tidak jelas" ucap Nadhifa dengan senyuman tulus yang menghiasi wajahnya.


Revan mengelus sayang kepala Nadhifa dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih memegang kendali kendaraan roda empat yang dinaikinya.


"Tidak masalah, bagaimanapun masa lalu kamu akan aku terima" ucap Revan lembut.


Nadhifa mengangguk membiarkan Revan untuk kembali fokus melajukan kendaraannya.


...


Nadhifa dan Revan sudah berdiri di depan pintu panti, Nadhifa meletakkan martabak manis di kursi kayu yang ada di teras panti.


Ketukan pintu dan ucapan salam Revan dan Nadhifa membuat bunda Lastri yang sedang bersantai, bergegas membukakan pintu.


Mendapati Nadhifa dan Revan di hadapannya, bunda Lastri tak dapat menyembunyikan rasa senangnya, bunda Lastri menghambur memeluk Nadhifa erat.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Bunda Lastri.


"Alhamdulillah, kami baik Bu" jawab Revan.


Bunda Lastri tersenyum, melihat wajah Nadhifa yang menampilkan senyuman, membuat bunda Lastri yakin jika ia tak salah menyerahkan Nadhifa menjadi istri seorang Revan.


"Kak Lastri, ada tamu ya?" ucap seorang wanita yang menampakkan diri di hadapan mereka.


"Iya, ayo perkenalkan ini Nadhifa yang pernah aku ceritakan padamu" ucap bunda Lastri.


"Iya kak, ternyata Nadhifa lebih cantik dari foto yang pernah saya lihat" ucap wanita itu.


"Perkenalkan bunda, saya Nadhifa dan ini suami saya, Revan". ucap Nadhifa.


Revan tersenyum mendengar Nadhifa yang memperkenalkan dirinya sebagai suaminya, membuat hatinya menghangat.


"Perkenalkan Dhifa, saya Sari"

__ADS_1


"Kalau begitu, aku pamit ke dalam dulu ya" ucap bunda Sari.


Mereka mengangguk membiarkan wanita itu pergi, kemudian melanjutkan perbincangan di antara mereka, sesekali mereka tertawa saat mendengar kelakuan anak panti yang menggemaskan.


__ADS_2