Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
3.KESEHARIAN NADHIFA


__ADS_3

Pukul 03.00 WIB


Nadhifa sudah terbangun dari tidurnya, gadis itu membuka matanya secara perlahan, mengumpulkan kesadarannya.


Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi, membersihkan diri dan berwudhu' untuk melakukan sholat tahajjud seperti biasa.


Tak lupa ia melakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk atas pinangan Bu Rahma.


Usai sholat, gadis berhidung mancung itu menuju dapur untuk membantu bunda Lastri menyiapkan makanan untuk anak-anak panti.


Usai merapikan kunciran rambutnya, gadis itu melihat bunda Lastri sedang memotong ikan.


"Bunda sekarang mau masak apa ?" ucapnya.


"Bunda mau goreng ikan sama telur dadar " jawab bunda Lastri sambil membersihkan sisik ikan di wastafel.


Gadis itu mendekat dan memulai menyiapkan bumbu untuk menggoreng ikan , kemudian dia mengiris bawang dan beberapa udang untuk dicampurkan dengan telur.


Ikan yang sudah dipotong sudah dicampur dengan bumbu dan siap untuk digoreng


begitu pula telur dadar campuran udang.


Bunda Lastri menggoreng ikan dan telur dadar sedangkan Nadhifa membersihkan beberapa cabai rawit dan tomat untuk dijadikan sambal.


"Akhirnya semua sudah siap Bun". ucap Nadhifa lega.


"Iya sayang... Sekarang bangunkan adik-adik yang lain ya...!" pinta bunda Lastri beranjak pergi ke kamarnya untuk bersiap siap.


"Siap bunda..." Nadhifa bergegas menuju kamar adik-adik perempuannya dan mulai membangunkan mereka supaya mandi dan melakukan sholat subuh berjamaah di mushola depan rumah.

__ADS_1


Setelah mereka siap, Nadhifa pergi ke kamar untuk memakai mukenah dan menyusul yang lainnya ke Mushola.


...


Di mushola sudah terlihat adik-adik laki-laki yang siap untuk melakukan sholat, memang tempat tidur anak panti yang perempuan dan laki-laki terpisah.


anak-anak yang perempuan tidur bersama Nadhifa dan bunda Lastri sedangkan anak laki-laki tinggal di rumah ayah Rahman dan istrinya, bunda Naya.


Akan tetapi ketika sholat mereka semua berkumpul di mushola, seperti biasa sholat berjamaah dipimpin oleh ayah Rahman.


Usai sholat subuh anak-anak melanjutkan ngaji sampai matahari terbit.


...


" Ayo anak-anak kita makan..." ucap bunda Lastri.


Bunda Lastri menyiapkan makanan di depan rumah di atas tikar yang sudah di siapkan Nadhifa.


Bunda Lastri dan Nadhifa mulai sibuk menata makanan, ada seorang gadis kecil sudah siap dengan baju seragam di tubuhnya, tak lupa ransel sudah ia letakkan di mushola, gadis kecil itu duduk menunggu yang lainnya.


bunda Lastri melihatnya dan memanggilnya untuk mendekat.


"Ada apa bunda ...?" tanya gadis yang masih berusia delapan tahun itu.


"Tolong panggilkan ayah Rahman, bunda Naya dan anak-anak yang lain yaaa..." ucap bunda Lastri.


"Iya bunda..." gadis itu berlari kecil menuju rumah ayah Rahman.


Satu persatu mereka datang dan duduk bersama memulai sarapan pagi sebelum memulai aktivitas mereka .

__ADS_1


...


Setelah anak-anak berangkat sekolah, bunda Lastri dan Nadhifa bergegas membersihkan piring-piring yang kotor di bantu bunda Naya.


Ayah Rahman juga sudah berangkat ke sekolah, karena ayah Rahman adalah salah satu guru yang mengajar tak jauh dari sekolah yang berada dekat panti.


Selesai cuci piring, bunda Lastri dan bunda Naya bersiap siap pergi ke pasar untuk membeli beberapa sayuran dan ikan untuk di masak.


Kini di rumah itu hanya ada Nadhifa yang sedang membereskan rumah dan mencuci baju.


Saat pekerjaannya sudah selesai, Nadhifa kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan melakukan sholat dhuha.


Nadhifa duduk dengan tenang sambil membawa mushaf Alquran dan mulai membacanya.


Hati Nadhifa selalu merasa tenang ketika melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


...


Nadhifa duduk di ruang tamu, dia memikirkan tentang jawaban apa yang akan di berikan kepada Bu Rahma.


Semakin lama ia melakukan sholat istikharah, semakin kuat juga keinginan untuk menerima pinangan itu.


"Mungkin ini adalah jawaban atas sholat istikharah yang aku lakukan" ucap Nadhifa pelan.


Ia terlalu banyak menolak laki-laki yang datang meminangnya, bukannya pemilih tapi Nadhifa masih belum siap untuk pergi dari tempat yang sudah menaunginya sejak bayi.


Nadhifa menghela nafas panjang untuk melepaskan beban di hatinya,lebih dari dua puluh tahun dia hidup di panti itu.


Sangat berat rasanya meninggalkan panti itu apalagi meninggalkan bunda Lastri, yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2